pembinaan santri di dalam pondok pesantren

abstraks: 

Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui pola pembinaan santri yang dilakukan di dalam pondok pesantren dan pola interaksi santri dengan santri dan pola interaksi santri dengan pembina serta pola interaksi santri dengan komunitas li luar lingkungan pondok pesantren.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan dasar penelitian studi kasus dan tipe penelitian deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi yang menjadi objek penelitian itu, sedangkan penentuan sampel dilakukan secara proposive sampling yaitu informan yang dipilih secara sengaja dengan pertimbangan bahwa informan yang dipilih dianggap mampu memberikan informasi yang dibutuhkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pembinaan santri di pondok pesantren menggunakan 3 (tiga) macam kurikulum, yaitu kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional dan kurikulum dari Departemen Agama serta kurikulum yang dibuat sendiri lewat rapat internal pihak pondok pesantren, hal itu disebabkan oleh karena pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidakan diharuskan ikut sistem pendidikan yang bersifat kompetensi dan bukan sekedar belajar tentang agama Islam saja dan hal inilah yang menjadikan pondok pesantren sebagai tempat yang sangat bagus sebagai tempat menggali ilmu bagi sebagian orang.
Dilihat dari segi pola pembinaan yang dilakukan di pondok pesantren sangat jauh dari apa yang dituduhkan berbagai komunitas terhadap pondok pesantren karena di pondok pesantren para santri hanya belajar sebagaimana layaknya sekolah-sekolah umum dan yang membedakan karena dipondok pesantren santri diajari untuk lebih memahami ajaran-ajaran agama Islam sampai keakar-akarnya dengan metode pengajaran adalah metode tradisional seperti wetonan, sorogan dan bandongan dan tetap menggunakan metode modern seperti teaching dan learning. Dan bahasa yang digunakan di dalam pondok pesantren adalah bahasa arab dan bahasa inggris
Sedangkan dari segi pola interkasi santri dengan santri terlihat seperti layaknya saudara kandung, pola interaksi santri dengan pembina terlihat layaknya seperti interaksi seorang ayah dengan anak, ibu dengan anak, dan pola interaksi santri dengan komuitas luar pondok pesantren hanya sebatas pada penjual dan pembeli, dan pada program binaan desa baik yang merupakan kegiatan santri maupun kegiatan pembina..

BAB I
PENDAHULUAN
1.LATAR BELAKANG MASALAH.
Pondok Pesantren merupakan suatu komunitas tersendiri, di mana kiai, ustadz, santri dan pengurus pondok pesantren hidup bersama dalam satu kampus, berlandaskan nilai-nilai agama Islam lengkap dengan norma-norma dan kebiasaan-kebiasaannya sendiri, yang secara eksklusif berbeda dengan masyarakat umum yang mengitarinya. Pondok Pesantren juga merupakan suatu keluarga yang besar dibawah binaan seorang kyai atau ulama di bantu oleh ustadz, semua rambu-rambu yang mengatur kegiatan dan batas-batas perbuatan : halal-haram, wajib-sunnah, baik-buruk dan sebagainya itu berangkat dari hukum agama islam dan semua kegiatan dipandang dan dilaksanakan sebagai bagian dari ibadah keagamaan, dengan kata lain semua kegiatan dan aktivitas kehidupan selalu dipandang dengan hukum agama Islam.
Pada kenyataannya pondok pesantren dengan fungsinya sebagai lembaga pendidikan Islam juga berfungsi sebagai tempat penyiaran agama Islam dimana para santri (santriwati/santriwan) dididik untuk bisa hidup dalam suasana yang bernuansa agamis, maka dari itu pondok pesantren memiliki tingkat integritas yang tinggi dengan masyarakat sekitarnya dan menjadi rujukan moral/perilaku bagi masyarakat umum.
Masyarakat umum memandang pondok pesantren sebagai komunitas khusus yang ideal terutama dalam bidang kehidupan moral/perilaku. Dan bahkan pondok pesantren dianggap sebagai tempat mencari ilmu dan mengabdi, tetapi pengertian ilmu menurut mereka tampak berbeda dengan pengertian ilmu dalam arti science. Ilmu bagi mereka, ilmu dipandang suci dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ajaran agama. Mereka selalu berfikir dalam kerangka keagamaan, artinya semua peristiwa empiris dipandang dalam struktur relevansinya dengan ajaran agama.
Namun dalam beberapa tahun terakhir ini berita dan opini terorisme, baik di media cetak maupun media elektronik, pondok pesantren di klaim sebagai sarang teroris, tempat dimana para teroris digembleng dan dididik. Contoh kasus dengan ditangkapnya AMROZI seorang santri yang lugu dari desa tenggulun, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa timur sebagai pelaku pengeboman di Bali dan sebelumnya muncul kepermukaan bahwa ABU BAKAR BA’ASYIR (pimpinan pondok pesantren Al-Mukmin ngruki, Solo) terlibat dalam pengeboman tersebut.
Dengan adanya fenomena seperti halnya diatas pondok pesantren kemudian di obok-obok dengan tuduhan-tuguhan seperti yang ada dalam media massa. Pertanyaaan kemudian “Apakah proporsional mencurigai "asal-usul" institusi pendidikan seorang pelaku kejahatan seraya membuat kesimpulan yang sifatnya mutlak? “
Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash dalam pengamatan penulis sebagai salah satu pondok pesantren dan sekaligus salah satu lembaga pedidikan yang ada di Indonesia (ini tidak bersifat ilmiah) dalam kehidupan sehari-hari terlihat semua berjalan seperti apa yang diinginkan oleh pihak pengurus pondok pesantren, mereka hidup dalam nuansa yang islami, pola interaksi diantara para penghuni pondok pesantren terlihat sangat ramah dan semua berpedoman pada aturan yang telah disepakati.
Namun, dalam pengamatan penulis di sisi lain sebagian besar dari alumni pondok pesantren ini setelah meninggalkan pondok pesantren dan memasuki dunia baru yaitu dunia perguruan tinggi (mahasiswa) dengan serta merta kemudian dengan gampang melepas identitas mereka sebagai santri yang kemudian mencoba berbagai macam kehidupan dalam pergaulan yang ada dilingkungan baru mereka tanpa ada pertimbangan bahwa mereka adalah alumni pondok pesantren yang seharusnya menyiarkan dakwah agama Islam dan menjadi suri teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
Berdasarkan uraian diatas penulis kemudian tertarik untuk meneliti dan untuk mengetahui lebih jauh tentang pondok pesantren, maka peneliti memberi judul dari penelitian ini : PEMBINAAN SANTRI REMAJA DI DALAM PONDOK PESANTREN (Study Kasus Pada Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar)
2.RUMUSAN MASALAH.
Pondok pesantren di samping berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal juga berfungsi sebagai tempat penyiaran dakwah Islam, dan wadah pembinaa remaja yang ternyata dalam realitas kehidupan banyak menimbulkan pertanyaan tentang kehidupan internal mereka sendiri.
Berkaitan dengan uraian dalam latar belakang masalah di atas, maka penulis memberikan batasan/rumusan masalah sebagai berikut :
1.Bagaimana pola pembinaan santri (remaja) di pondok pesantren ?
2.Bagaimana pola interaksi sosial santri dengan santri, santri dengan pembina dan santri dengan komunitas diluar lingkungan pondok pesantren ?
3.TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN.
1.TUJUAN PENELITIAN.
Adapun tujuan dari penelitian adalah sebagai berikut :
1.Untuk mengetahui pola pembinaan santri (remaja) di dalam pondok pesantren.
2.Untuk mengetahui pola interaksi sosial santri dalam lingkungan pondok pesantren dan di luar lingkungan pondok pesantren.
2.KEGUNAAN PENELITIAN.
1.Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi pembaca guna lebih mengetahui dan mengkaji tentang kehidupan di pondok pesantren.
2.Hasil penelitian ini untuk memperkaya kepustakaan tentang kehidupan santri.
3.Hasil penelitian ini untuk menjadi rujukan dan komparansi penelitian lain yang berhubungan dengan penelitian ini.
4.DEFENISI OPERASIONAL.
Adapun beberapa pengertian yang berhungan dengan penelitian ini yaitu:
1.Remaja : Yang dimaksudkan adalah pada masa umur 12-21 tahun untuk perempuan dan umur 13 – 22 tahun untuk laki-laki
2.Pondok Pesantren : Lembaga pendidikan, dan penyiaran agama Islam, tempat pelaksanaan kewajiban belajar dan mengajar dan pusat pengembangan jamaah (masyarakat) yang diselenggarakan dalam satu tempat pemukinan sebagai pusat pembinaan dan pendidikannya. Dengan berlandaskan nilai-nilai agama Islam lengkap dengan norma-norma dan kebiasaan-kebiasaannya sendiri, yang secara eksklusif berbeda dengan masyarakat umum yang mengitarinya.
3.Santri : Orang-orang yang sedang berada dibawah didikan para ustadz dan ulama serta bermukim di pondok pesantren.
5.KERANGKA KONSEPTUAL.
Peranan pendidikan yang berkaitan dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada manusia. Pendidikan adalah proses mengajar dan belajar pola-pola kelakuan dan ilmu pengetahuan manusia menurut apa yang diharapkan oleh masyarakat untuk sesuatu yang lebih baik kedepan.
Institusi/lembaga pendidikan dikaitkan dengan berbagai fungsi. Dalam kaitan ini ahli sosiologi yang membedakan antara fungsi manifest dan fungsi laten. Menurut Horton dan Hunt fungsi manifest institusi pendidikan adalah antara lain, mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah, mengembangkan bakat perorangan demi kepuasan pribadi maupun bagi kepentingan masyarakat, melesarikan kebudayaan, menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi dan sebagainya. Dan fungsi laten institusi pendidikan adalah yang tercantum dalam kurikulum sekolah.
Pondok pesantren sebagai salah satu institusi/lembaga pendidikan mempunyai peranan yang cukup penting dan mendidik/membina manusia, khususnya generasi muda. Pembinaan (Pendidikan) dalam pondok pesantren sangat tergantung dari para pembina atau pengasuh, mengingat pendidikan adalah bidang Pembangunan Nasional. Olehnya itu tujuan yang di emban oleh para pembina pondok pesantren harus mengacu kepada tujuan pendidikan nasional. Secara tegas dan jelas Tujuan Pendidikan Nasional dirumuskan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1978 dan diatur oleh Undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II ayat 4.
Pada hakekatnya tujuan pendidikan itu adalah membentuk manusia yang bertanggung jawab kepada diri sendiri dan lingkungannya, bangsa, dan Negara serta agamanya. Lebih jauh tujuan pendidikan adalah membentuk manusia bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan agar dapat melanjutkan pembangunan bangsa.
Dengan demikian, pendidikan nasional berarti mengarah pada pembentukan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya, baik menyangkut kecerdasan, budi pekerti maupun keterampilan. Pendidikan dirasakan penting tidak hanya karena kemampuannya mencetak cendekiawan dalam pengertian intelektual, melainkan juga lebih dari itu karena outputnya yang nyata dalam mendorong peningkatan bidang ekonomi dan pemerintahan.
Namun di sisi lain kita saksikan, remaja muslim dewasa ini ternyata banyak yang terbius oleh pola kehidupan barat yang kafir. Mereka tidak lagi terikat dengan aturan-aturan Allah, kecuali hanya sedikit. Itupun kalau sesuai dengan keinginan mereka dan dianggap menguntungkan. Berapa banyak di antara mereka yang terjerumus ke lembah kemaksiatan tanpa sedikit pun memperhatikan peringatan agama yang dapat menyelamatkan mereka dari lembah dosa dan maksiat itu.
Ironisnya, terkadang mereka melakukan kesalahan tersebut dengan sadar. Tidak jarang sebagian dari mereka melakukannya dengan mengetahui bahwa perbuatan mereka itu diharamkan oleh agama Islam. Pergaulan bebas, minum-minuman keras juga tidak hanya melanda remaja yang belajar di sekolah-sekolah umum, tetapi juga mempengaruhi para pelajar di sekolah-sekolah yang berlabelkan Islam.
Walhasil, kondisi umum remaja muslim sekarang ini sangat mengkhawatirkan. Mereka begitu terbius dengan pola kehidupan yang didakwahkan negara-negara barat. Jangankan untuk dakwah, melaksanakan kewajiban yang paling pokok seperti shalat saja terkadang sulit. Pola hidup hedonis, permisif (serba boleh), lepas dan bebas tanpa aturan, sudah merasuk mereka dan merusak masa depan mereka.
Pada masa remaja memang disinilah puncaknya kenakalan yang dilakukan manusia semasa hidupnya. Kenakalan tetaplah kenakalan. Dan ini disebabkan karena keisengan remaja, gengsi yang tinggi dan rasa ingin tahu yang berlebihan. Mereka bersemboyan bahwa tidak mencoba tidak akan dapat. Kalau orang tua berbuat berdasarkan pikiran dan remaja berbuat tanpa memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, akibatnya mereka sering gagal sehingga tidak jarang kita dengar remaja frustasi yang dapat menimbulkan kenakalan baru yang lebih parah lagi, misalnya remaja yang mula-mula merokok untuk menghilangkan rasa pusing dan beralih ke alkohol/minuman keras lalu narkoba dan sejenisnya. Dan mereka juga tidak suka mendiskusikan masalah mereka dengan orang tua mereka dan bahkan bersifat tertutup dengan orang tua mereka, tetapi justru mereka lebih suka mendiskusikan dengan teman se-nasib mereka.
Dalam dunia remaja itu sendiri dewasa ini telah diperhadapkan pada suatu zaman kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, sosial dan kebudayaan, dan hampir diseluruh bidang terjadi perkembangan atau dapat dikatakan remaja sekarang ini telah berada di zaman modern.
Harapan kita semua seiring dengan perkembangan zaman hendaknya dapat berpengaruh positif pada kita khususnya pada remaja kita. Namun pada kenyataannya, sebagian kecil dengan adanya kemajuan-kemajuan diseluruh bidang itu terpengaruh pada hal-hal positif malahan kebanyakan terpengaruh pada hal-hal yang kita tidak inginkan bagi remaja-remaja kita atau terpengaruh pada hal-hal negatif, misalnya :
1.Terjadinya tawuran/perkelahian antar pelajar.
2.Terjadinya penyalagunaan narkotika dan sejenisnya di kalangan remaja.
3.Pergaulan bebas bagi remaja pria dan wanita yang akhirnya dapat menimbulkan hal-hal yang sifatnya negatif. Dan sebagainya.
Ketertutupan remaja mengakibatkan semakin renggangnya hubungan orang tua dan anak. Keharmonisan keluarga menjadi hilang, kesan rumah tangga berantakan, perhatian yang diharapkan dari orang tua terbang melayang angannya, kasih sayang yang dicaripun sirna di telan kesibukan oang tua. Akibatnya anak mencari kasih sayang dan perhatian diluar rumah dengan jalan pacaran yang bila tidak dikendalikan dapat melahirkan pergaulan bebas.
Keadaan remaja yang memprihatinkan itu tidak boleh ditanggapi dengan cara pesimis, terkecuali kalau kita mau berpaling dari tanggung jawab. Sikap seperti itu tentu tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan jelas-jelas bertentangan dengan pandangan agama Islam. Seorang muslim, termasuk remaja, bertanggung jawab terhadap keberlangsungan aturan-aturan Islam dalam kehidupan, jangan sampai diterlantarkan dan menimbulkan kebobrokan kualitas kehidupan.
Pondok pesantren modern Al-Ikhlash yang berkedudukan di desa lampoko, kecamatan campalagian, kabupaten Polewali Mandar sebagai salah satu institusi/lembaga pendidikan yang menganut nilai-nilai agama Islam yang kaya akan kaidah khusus akan mempengaruhi perilaku remaja dalam segala situasi dan kondisi yang dihadapinya, suatu tuntutan nyata dalam pendidikan di pondok pesantren yang tidak sama dengan sekolah-sekolah lainnya.
Selain itu pondok pesantren modern Al-Ikhlash dengan latar belakang keislamannya, tentu akan membentuk prilaku santri dan akhirnya mempengaruhi pola kehidupan santri dalam melakukan aktivitas kesehariannya. Karena pondok pesantren pada dasarnya selalu menanamkan rasa percaya pada diri sendiri, bersifat mandiri, sederhana, dan mempunyai rasa solidaritas yang tinggi.
Sebagaimana kita ketahui bahwa kenakalan remaja merupakan fenomena sosial yang perlu diperhatikan dan mesti ditanggulangi oleh semua pihak, terutama pihak pengelola pendidikan. Namun keunikan bagi pesantren yang sampai saat ini belum pernah kita dapatkan adanya perkelahian antara santri pondok pesantren yang satu dengan pondok pesantren yang lain. Hal ini menunjukkan kemampuan pembina atau pengasuh suatu pondok pesantren dalam membina santrinya.

SKEMA KERANGKA KONSEPTUAL

6.METODE PENELITIAN
A.DASAR DAN TIPE PENELITIAN.
Penelitian ini akan mengungkapkan bentuk-bentuk seperti apa pembinaan santri di pondok pesantren, dan interaksi sosial santri baik ketika mereka ada dalam lingkungan pondok pesantren maupun ketika mereka ada di luar pondok pesantren serta pola interaksi mereka (santri) dengan guru/pembina mereka di pondok pesantren.
Tipe penelitian yang digunakan bersifat deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan menggambarkan data dan fakta-fakta yang terjadi di lokasi penelitian. Sedangkan dasar penelitian adalah study Kasus.
B.WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN.
Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan mei sampai bulan juni 2007. Sesuai dengan judul dari penelitian ini maka lokasinya ditetapkan di Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Sulawesi Barat khususnya diwilayah Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar dengan pertimbangan pondok pesantren tersebut adalah salah satu lembaga pendidikan yang merupakan sebagai wadah pembinaan santri remaja dan pondok yang lebih bersifat modern dan salah satu pondok pesantren yang cukup diminati masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di pondok pesantren bahkan ada dari berbagai daerah di Indonesia seperti Kalimantan, Jawa, Sulawesi Tenggara (Buton).
C.PENENTUAN INFORMAN
Informan ditentukan secara Profosif Sampling yaitu informan dipilih secara sengaja dan informan yang dianggap mampu memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Dan informan yang terpilih ada 8 (Delapan) orang dimana dari delapan informan tersebut dipilih dengan klasifikasi kelas III Tsanawiah dan kelas III Aliyah yang terdiri dari 2 putra dan 2 putri masing kelas dan untuk Aliyah satu (1) putri dan satu (1) putra yang sekolah di pondok pesantren mulai dari tingkat Tsanawiah hingga Aliyah dan satu (1) putra dan satu (1)putri yang sekolah langsung pada tingkat Aliyah, Tsanawiah/SLTPnya di luar pondok pesantren. Sedangkan pada kelas III Tsanawiah 2 putra dan 2 putri seperti pada tabel berikut ini.
Tabel 1.1
Tabel Rincian Informan
INFORMAN JENIS KELAMIN TOTAL
PUTRA PUTRI
Kls III Tsanawiah
Kelas III Aliyah 2
2 2
2 4
4
Jumlah 4 4 8

D.SUMBER DATA.
Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari :
a.Data primer.
Data ini diperoleh melalui obsevasi dan wawancara mendalam yang berpedoman pada pedoman wawancara dan apa yang dibutuhkan sesuai dengan penelitian yang diinginkan.
b.Data Sekunder.
Data ini diperoleh dari penelaahan pustaka (Library Riset) dan data dari instansi terkait dengan penelitian ini.
E.TEKNIK PENGUMPULAN DATA.
Penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data untuk keperluan penelitian ini yaitu :
a.Observasi Terbatas.
Observasi Terbatas adalah mengadakan pengamatan langsung pada obyek yang diteliti dan mungkin untuk memberi penilaian pada obyek penelitian. Dimana di observasi adalah semua kegiatan santri sehari-hari dengan cara melihat-lihat sambil mencatat apa-apa yang dilakukan santri yang berkaitan dengan penelitian ini.
b.Indept Interview (Wawancara mendalam)
Karena penelitian yang digunakan menggunakan dasar penelitian study kasus, maka pengumpulan data dengan wawancara secara mendalam dianggap paling tepat, karena dimungkinkan untuk mendapat informasi secara detail dari obyek yang diteliti. Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan yang berpedoman pada daftar pertanyaan yang sudah disusun sebelumnya. Wawancara ini berlangsung dari tanggal 10 Juli 2007-21 Juli 2007, wawancara biasa dilakukan di masjid, di asrama, di wisma pembina, dan di rumah salah satu penduduk.
F.TEKNIK ANALISA DATA.
Seluruh hasil penelitian yang telah dikumpul ataupun diperoleh dalam penelitian ini akan dianalisa secara kualitatif yaitu dengan cara menggambarkan masalah secara jelas dan mendalam yang kemudian hasil dari penggambaran tersebut diinterpretasikan sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan.
Adapun analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan lapangan. Sedangkan penyajian data adalah kegiatan penyajian sekumpulan informasi dalam bentuk teks naratif yang dibantu dengan matrik, tabel, grafik, jaringan dan bagan yang bertujuan mempertajam pemahaman peneliti terhadap informasi yang diperoleh. Penarikan kesimpulan adalah mencari arti, pola-pola, penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat dan proposisi. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan cermat dengan melakukan verifikasi berupa tinjauan ulang catatan-catatan lapangan sehingga data-data yang ada teruji validitasnya.

Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Special Member dapat mendownload data yang ada di download area.
NB: Ada kemungkinan data yang diposting di website ini belum ada filenya, karena dikirim oleh member biasa dan masih menunggu konfirmasi dari member yang bersangkutan. Untuk memastikan data ada atau tidak silahkan login di download area.

CARI CONTENT WEB :

FREE JOURNAL UNTUK MELENGKAPI REFERENSI KARYA ILMIAH ANDA, FREE? KLIK DISINI
HOT DOWNLOAD MAKALAH, FULL PAPER? KLIK DISINI
PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI
INGIN KULIAH S2 JARAK JAUH? KLIK DISINI




Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuannya

Design by xactive -