Jon Kartago Lamida, Pengembangan Perangkat Lunak Pengelola Data Kehadiran Pegawai Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Jakarta Menggunakan Java dan RFID, Skripsi, Jakarta: Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Jakarta, Januari 2008.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah sistem perangkat lunak (software) pengelola data kehadiran pegawai. Perangkat lunak ini akan mengotomasi proses pengelolaan data kehadiran 3 jenis pegawai, yaitu karyawan, dosen dan pejabat jurusan. Proses pendataan kehadiran memanfaatkan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) yang terdiri dari komponen tag RFID dan RFID reader. Perangkat lunak akan dikelola oleh seorang admin yang bertugas mengelola sistem, seperti menginput data, mengatur koneksi hardware, mengatur database dan melakukan shutdown. Seorang pejabat jurusan juga berwenang mengakses secara khusus sistem untuk mengeset perijinan pegawai yang berhalangan hadir. Selain untuk proses absensi, pegawai dapat memanfaatkan sistem untuk menampilkan statistik absen pegawai. Setiap akses terbatas ke software dibatasi dengan menggunakan password login.
Proses penelitian terdiri dari dua tahap, yaitu penelitian hardware dan penelitian software . Penelitian hardware mempelajari berbagai karakteristik RFID seperti jenis, cara kerja dan jarak bacaan. Tahap penelitian software akan mengembangkan perangkat lunak yang dijelaskan di atas menggunakan metode unified process. Proses penelitian akan diakhiri dengan pengintegrasian hardware dengan software dan pengujian.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perangkat lunak ini dapat dimanfaatkan untuk otomasi manajemen kehadiran pegawai semisal di Jurusan Elektro Universitas Negeri Jakarta.
Kata Kunci: Perangkat Lunak, RFID.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tuntutan akan kehadiran perangkat lunak identifikasi otomatis semakin tinggi di dunia modern saat ini. Kebutuhan implementasi tadi merentang luas, mulai dari kebutuhan pendataan kehadiran karyawan di kantor, kartu akses kendali (access control) untuk memasuki ruangan khusus, kartu kredit, smart card, kartu tol, dan kartu multi guna lainnya. Sebagian dari implementasi ini sudah diwujudkan namun masih memiliki peluang untuk perbaikan dan pengembangan.
Contoh peluang pengembangan lebih lanjut dari sistem identifikasi yang ada adalah pada sistem manajemen kehadiran, semisal di kantor. Kebutuhan produktivitas kerja yang cukup tinggi membuat banyak kantor memperjakan banyak pegawai. Sebagai tenaga yang mendapat bayaran, pegawai dituntut untuk memenuhi tanggung jawab pada perusahaan dengan melakukan pekerjaan yang menjadi kewajibannya dengan sebaik mungkin. Salah satu wujud awal pemenuhan tanggung jawab tersebut adalah dengan hadir di tempat kerja pada jadwal yang ditentukan. Kehadiran inilah yang kemudian menjadi salah satu cara menilai penunaian kewajiban pegawai oleh para pemegang kebijakan. Setelah penunaian kewajiban baru perusahaan memenuhi hak pegawai, misal dengan pembayaran gaji. Pegawai yang tidak memenuhi kewajiban akan mendapat konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
Pencatatan kehadiran sering dikenal dengan istilah absensi. Pada awalnya, kebutuhan absensi dipenuhi secara manual semisal dengan menulis di buku catatan. Hal ini hanya efektif dilakukan jika individu yang akan diabsen berjumlah sedikit. Pada penerapan nyata saat kebanyakan lingkungan memiliki banyak item yang perlu dicatat, absensi manual sulit diandalkan. Otomasi pun mulai banyak dilakukan seiring dengan penemuan-penemuan baru di bidang teknologi. Contoh sistem absensi yang populer di masa lalu adalah absensi dengan menggunakan kartu berlubang (punched card). Setiap karyawan memiliki kartu absensi yang harus dimasukan ke dalam mesin setiap datang atau pulang ke dan dari tempat kerja. Mesin yang berupa mesin mekanik kemudian memberi tanda semacam stempel atau lubang pada kartu berdasar jam kedatangan dan kepulangan pada haari bersangkutan. Kartu-kartu ini kemudian harus direkapitulasi manual untuk pengolahan data.
Dengan berjalannya waktu, pada beberapa tahun terakhir sistem absensi sidik jari mulai populer digunakan. Integritas data yang tinggi, yaitu pendataan tidak bisa dititipkan, menjadi keunggulan utama sistem absensi ini. Pendataan yang sudah berbasis komputer juga telah membuat rekapitulasi data dapat dilakukan otomatis. Salah satu kekurangan sistem ini yang cukup mengganggu adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengenali sidik jari. Satu kali identifikasi memakan waktu 5 hingga 10 detik. Itupun jika identifikasi berhasil dilakukan tepat satu kali. Hal ini terjadi karena ternyata tidak semua jari ‘layak dibaca’.1 Pengguna sistem identifikasi sidik jari sulit untuk langsung sukses terdata oleh sistem dengan cepat saat menaruh jarinya pada sensor. Pada kebanyakan kasus, pengguna harus meletakkan jarinya pada
sensor beberapa kali karena sistem kesulitan mengenali sidik jari dari database yang dimiliki. Kesulitan ini biasanya terjadi karena jari pengguna atau sensor yang kotor. Kesulitan ini sering membuat antrian panjang orang-orang yang harus melakukan absen saat jam datang atau jam pulang, terutama pada kantor dengan banyak karyawan .2
Dari uraian permasalahan absensi tadi, berikut akan diuraikan perkembangan teknologi identifikasi yang berkaitan dengan kebutuhan sistem absensi. Sampai saat ini, ilmuan-ilmuan telah mengembangkan beberapa teknologi dalam sistem identifikasi. Teknologi-teknologi itu diantaranya adalah kartu magnetik, barcode, identifikasi sidik jari seperti contoh di atas, identifikasi kornea mata, optical character recognizion (OCR), pengenal ucap (voice recognizion), pengenal wajah (face recognizion), Radio Frequency Identification (RFID) dan sebagainya.3 Setiap teknologi tersebut memiliki domain fungsi spesifik dengan masing-masing kelebihan dan kekurangannya. Tujuan yang ingin dicapai oleh teknologi identifikasi adalah mengenali objek melalui sifat, karakter atau data yang dibawa.
Dari beberapa teknologi identifikasi, RFID menjadi teknologi yang menarik perhatian saat ini. Seperti halnya penemuan-penemuan lain, RFID memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut Lahiri (2005), kelebihan-kelebihan yang dimiliki RFID adalah identifikasi yang dapat dilakukan dilakukan tanpa kontak fisik (Contactless), data dapat ditulis ulang (rewritable data), transmisi data tidak harus tegak lurus dengan pembaca (absence line of sight), kapasitas data yang luas, mendukung
pembacaan banyak pembawa data (support for multiple tag reads), fisik yang kokoh dan dapat melakukan tugas pintar (smart task).4 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh RFID menawarkan banyak kemungkinan pengembangan sistem identifikasi. Berbeda dengan sistem identifikasi sidik jari yang hanya didedikasikan untuk absensi, RFID dapat diterapkan untuk penerapan-penarapan yang lebih luas. RFID dapat digunakan dalam sistem parkir, sistem kartu ATM di bank dan sebangainya. Dalam penerapannya, RFID akan diintegrasikan dengan perangkat lunak yang mengelola data hasil identifikasi.
Perkembangan teknologi informasi telah menawarkan berbagai metode pengembangan perangkat lunak dengan beragam bahasa pemrograman. Pemanfaatan komputer yang sangat pesat diantaranya dipicu oleh juga pesatnya perkembangan perangkat lunak. Setiap perangkat lunak dirancang untuk dapat menjawab kebutuhan pengguna. Pengembangan perangkat lunak yang digunakan dalam otomasi sistem identifikasi juga harus dapat menjawab kebutuhan pengguna. Untuk mencapai jawaban atas kebutuhan tersebut harus dipilih kombinasi bahasa pemrograman dan perangkat keras yang tepat untuk menghadirkan sistem dengan sedikit kekurangan.
Dari ratusan bahasa pemrograman yang pernah ada5, hanya beberapa bahasa pemrograman saja yang dapat diterima industri perangkat lunak. Dengan menimbang efisiensi dan efektivitas pengerjaan perangkat lunak, bahasa pemrograman yang dibutuhkan saat ini idealnya memenuhi beberapa syarat. Syarat-syarat itu diantaranya Handal berarti bahwa bahasa pemrograman yang dipilih harus mampu menghasilkan software berkualitas yang juga handal dan memenuhi kebutuhan dan menjawab permasalahan pengguna software. Mudah berarti bahwa bahasa pemrograman tersebut harus mudah dipelajari dan memiliki sedikit kompleksitas yang tidak perlu. Di tengah gempuran teknologi-teknologi informasi yang sangat pesat seperti sekarang, kemudahan mempelajari suatu teknologi baru adalah syarat yang sangat penting. Portabel berarti bahwa software yang dihasilkan suatu bahasa pemrograman dapat dijalankan di banyak platform atau mesin. Populer berarti bahwa bahasa pemrograman tersebut adalah bahasa yang banyak digunakan saat ini terutama di dunia industri teknologi informasi. Kepopuleran biasanya akan cukup menjamin kualitas. Sesuatu yang berkualitas biasanya akan menjadi populer dan sesuatu yang populer adalah karena kualitas. Kemudian, dalam pengembangan perangkat lunak yang semakin kompleks saat ini, pembangunan biasa tidak dimulai dari dasar namun menggunakan blok-blok yang sudah ada. Terminologi yang berkaitan dengan hal itu adalah software reuse dan avoid reinvent the wheel. Software reuse adalah penggunaan ulang struktur perangkat lunak yang sudah ada untuk membangun perngakat lunak baru. Struktur yang sudah ada tadi biasanya berupa pustaka-pustaka atau class progam. Dengan menggunakan pustaka yang sudah tersedia, pengembang pernagkat lunak tidak perlu harus memulai dari dasar dalam pengembangan yang disebut dengan jargon reinvent the wheel tadi (menemukan kembali roda). Pendekatan software reuse ini umumnya diimplementasikan dalam paradigma pemrograman yang disebut dengan object oriented programing (OOP). Sebagian besar bahasa pemrograman populer saat ini menggunakan paradigma tersebut. Dalam penerapan lebih spesifik, pustaka berwujud library pemrograman tadi, Application Programming Interface (API) dan template. Dari uraian di atas, Java adalah salah satu bahasa pemrograman yang hampir ideal memenuhi persyaratan keunggulan tadi. Lebih lanjut mengenai keunggulan bahasa pemrograman Java, Gossling dan McGilton menyetakan karakter-karakter bahasa bahasa pemrograman Java sebagai berikut:
1. Simple
2. Architecture neutral
3. Object oriented
4. Portable
5. Distributed
6. High performance
7. Multithreaded
8. Robust
9. Dynamic
10. Secure
Dari karakteristik tersebutlah salah satu penyebab populernya Java. Demikian pula yang menguatkan alasan penulis menggunakan Java dalam penelitian ini. Deskripsi karakteristik di atas dan elemen Java lainnya akan diuraikan lebih lanjut di Bab II
Dari uraian yang telah diberikan, melalui skripsi ini penulis ingin menjawab permasalahan otomasi manajemen kehadiran Pegawai dengan mengembangkan perangkat lunak pengelola data kehadiran pegawai menggunakan RFID. Perangkat lunak ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pemangku kebijakan dalam mengambil keputusan berkaitan dengan kinerja pegawainya. Perangkat lunak akan dikembangkan menggunakan bahasa pemrograman Java. Skenario demonstrasi penerapan sistem ini mengambil tempat Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Jakarta.
B. Identifikasi Masalah
Dari uraian latar belakang, dapat dikenali adanya beberapa masalah dalam penelitian:
1. Bagaimana proses pengembangan perangkat lunak yang dapat mengelola data kehadiran dari perangkat keras sistem identifikasi RFID?
2. Apa keunggulan-keunggulan RFID sehingga menjadi teknologi yang layak digunakan dalam perangkat lunak tadi?
3. Apa saja urutan-urutan yang dilakukan dalam pengembangan hardware
sistem tersebut?
4. Apa bahasa pemrograman yang tepat untuk perangkat lunak tersebut?
5. Bagaimana prinsip kerja perangkat lunak pengelola data kehadiran ini?
C. Pembatasan Masalah
Melihat luasnya lingkup permasalahan, pembatasan masalah pun penting untuk dilakukan. Penelitian ini akan dibatasi pada proses pengembangan hardware identifikasi menggunakan RFID dan proses pengembangan perangkat lunak pengelola data kehadiran. Pengembangan hardware akan membangun rangkaian sistem identifikasi dengan menggunakan IC RFID ID-12. Beberapa karakteristik teknologi RFID berkaitan dengan perancangan sistem seperti masalah jarak bacaan dan pembacaan lebih dari satu tag juga akan menjadi bahan kajian. Pengembangan perangkat lunak meliputi desain tahap awal pra-pengkodean, penulisan kode hingga pengujian akhir dan integrasi dengan hardware. Meskipun pembuatan software bisa menggunakan beragam bahasa pemrograman, dalam penelitian ini penulis menggunakan Java. Semua hal di luar konteks uraian tadi ada di luar lingkup penelitian.
D. Perumusan Masalah
Dari proses deskripsi latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah maka perumusan masalah yang perlu dijawab dapat diuraikan sebagai berikut:
Bagaimana proses dan cara mengembangkan Perangkat Lunak Pengelola Data Kehadiran Pegawai Pegawai Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Jakarta menggunakan Java dan RFID?
E. Tujuan Umum Penelitian
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan sebuah Perangkat
Lunak Pengelola Data Kehadiran Pegawai dan menghasilkan satu prototipe yang dapat didemonstrasikan.
F. Kegunaan Penelitian
Beberapa kegunaan dari penelitian ini diantaranya:
a. Mengembangkan Perangkat Lunak Pengelola Data Kehadiran Pegawai yang dapat dimanfaatkan, khususnya di Jurusan Elektro Universitas Negeri Jakarta.
b. Bahan demonstrasi dalam perkuliahan rekayasa perangkat lunak atau rekayasa sistem.
c. Referensi awal yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian lebih lanjut dalam bidang pengembangan sistem informasi, perangkat lunak atau teknologi RFID.

