Berdasarkan data dan pengalaman mengajar di MTsN Bangkalan selama ini, sebagian besar siswa kelas IX mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal persamaan kuadrat. Permasalahan yang diambil pada penelitian ini adalah apakah dengan menggunakan Pembelajaran Berbalik (Reciprocal Teaching) ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal-soal pada pokok bahasan persamaan kuadrat?
Tujuan penelitian ini adalah (1)untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX A MTs N Bangkalan melalui pembelajaran berbalik, (2) untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar siswa, Subyek penelitian adalah siswa kelas IX A MTs N Bangkalan tahun pelajaran 2006/2007 yang terdiri dari 42 siswa. Prosedur tindakan kelas ini ditempuh dalam 3 siklus, setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Langkah-langkah setiap pembelajaran terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Cara pengambilan data dalam penelitian dengan pengamatan dan tes formatif setiap siklus. Sebagai tolak ukur keberhasilannya adalah apabila hasil belajar matematika siswa kelas IX A MTsN Bangkalan dalam menyelesaikan soal persamaan kuadrat akan mengalami peningkatan dari pencapaian rata-rata sebelumnya yaitu menjadi minimal 7,00, dan secara kalsikal banyaknya siswa yang memperoleh nilai ≥ 7,00 minimal 75%.
Hasil pengamatan selama penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan kreativitas belajar. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil tes formatif setiap siklus. Pada siklus I nilai rata-rata 6,43, siswa yang memperoleh nilai ≥ 7,00 sebanyak 22 orang dengan presentase 52,38%. Pada Siklus II nilai rata-rata 6,81, siswa yang memperoleh nilai ≥ 7,00 sebanyak 31 orang dengan presentase 73,81%. Pada siklus III nilai rata-rata 7,62, siswa yang memperoleh nilai ≥ 7,00 sebanyak 38 orang dengan presentase hasil belajar secara klasikal 90,48%.
Simpulan yang dapat diambil setelah melakukan penelitian adalah bahwa pembelajaran matematika dengan pembelajaran berbalik (Reciprocal Teaching) Dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX A MTsN Bangkalan khususnya pada pokok bahasan persamaan kuadrat dan dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar siswa.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang, dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan maka diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Mata pelajaran matematika perlu disampaikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.
Pada kenyataannya oleh sebagian besar siswa khususnya tingkat dasar bahwa pelajaran matematika dianggap merupakan pelajaran yang menakutkan dan sulit untuk dipelajari, meskipun diakui bahwa matematika berguna bagi kehidupan manusia, namun banyak orang belum bisa merasakan manfaatnya, kecuali dalam berhitung praktis.
Dari permasalahan di atas, jika ditarik benang merahnya maka diantara penyebabnya adalah sebagai berikut.
1. Salahnya paradigma tentang pembelajaran matematika. Banyak guru yang berpedoman bahwa pembelajaran matematika adalah sekedar penularan rumus contoh soal dan latihan memecahkan masalah. Padahal dalam matematika sendiri sebenarnya dituntut proses mental yang mampu memberikan andil besar pada kepribadian siswa, seperti tanggung jawab, disiplin, jujur dan lain-lain.
2. Proses pembelajaran yang monoton. Banyak guru mengetahui tentang metode pengajaran, namun bisa dikatakan metode-metode tersebut hanyalah sebagai pengetahuan belaka, sedangkan dalam penerapannya sangat sedikit sekali dilaksanakan. Bisa dikatakan metode yang acap kali digunakan adalah ceramah dan penugasan, penggunaan metode yang monoton ini menjadikan anak jenuh dalam mengikuti pelajaran.
3. Tuntutan kurikulum. Hal ini bisa dikatakan sebagai dasar dari segala permasalahan guru, hampir pasti dikatakan jika penyebab diatas ditanyakan kepada guru maka jawabannya adalah tuntutan kurikulum mengejar nilai Ujian Nasional. Hal ini akan mengakibatkan banyak lulusan mempunyai banyak pengetahuan tetapi miskin dalam kemampuan berpikir, dan miskin dalam hal kepribadian, termasuk berjiwa penakut, kurang berani mengambil kesimpulan dan kurang berani bertanggung jawab atas tindakan yang telah dilakukan.
Berdasarkan data dan pengalaman mengajar di MTsN Bangkalan selama ini, sebagian besar siswa kelas IX mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal persamaan kuadrat. Hal ini dapat dibuktikan dengan rendahnya hasil belajar siswa, baik dilihat dari nilai hasil tes formatif maupun tes sumatif. Nilai sumatif kelas IX MTsN Bangkalan Tahun Pelajaran
2005/2006 semester I dan semester II berturut-turut niali terendah 4,50 dan
4,75 sedang nilai rata-rata 5,40 dan 5,50, rata-rata yang diperoleh lebih rendah jika dibanding rata-rata mata pelajaran lain. Sedangkan untuk nilai tes formatif khususnya persamaan kuadrat nilai terendah 5,00 dan nilai rata-rata 6,25, hal ini terjadi hampir setiap tahun. Diharapkan dengan pengalaman guru melalui pembelajaran berbalik (Reciprocal Teaching) hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.
Berdasarkan uraian di atas mendorong penulis untuk mengadakan penelitian tentang bagaimanakah cara meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX A MTs N Bangkalan pada pokok bahasan persamaan kuadrat melalui pembelajaran berbalik (Reciprocal Teaching)”.
B. Definisi Operasional
Agar tidak terjadi salah penafsiran dalam memahami istilah yang dipakai dalam penelitian ini, maka diberikan definisi-definisi sebagai berikut.
1. Meningkatkan adalah suatu usaha untuk menjadikan sesuatu menjadi lebih baik.
2. Hasil adalah akibat, kesudahan dari suatu tujuan dan sebagainya (Tim penyusun KBBI, 2001:391). Hasil belajar matematika adalah akibat dari suatu aktivitas yang ditunjukkan dengan nilai tes pada setiap siklus.
3. Persamaan kuadrat adalah persamaan dengan pangkat tertinggi variabelnya dua. Bentuk umum persamaan kuadrat adalah: ax2 + bx + c = 0 dimana
a, b, c, ? R dan a ? 0.
4. Pembelajaran Berbalik (Reciprocal Teaching) pada prinsipnya hampir sama dengan tutor sebaya. Siswa mempelajari materi secara mandiri. Dalam hal ini guru menunjuk siswa yang dianggap mampu untuk menyajikan materi seperti kalau guru mengajarkan materi tersebut. (Amin Suyitno 2005 : 5).
C. Permasalahan
Beradasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan, maka permasalahan yang ingin dikaji adalah apakah dengan menggunakan Pembelajaran Berbalik (Reciprocal Teaching) ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal-soal pada pokok bahasan persamaan kuadrat bagi siswa kelas IX A semester II MTs N Bangkalan.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IX A MTs N Bangkalan melalui pembelajaran berbalik;
2. untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar siswa;
3. memperoleh cara yang tepat dan efektif dalam menerapkan pembelajaran berbalik.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberi manfaat kepada berbagai pihak, terutama siswa, guru dan sekolah.
1. Bagi siswa:
a. Hasil belajar siswa kelas IX A dalam mata pelajaran matematika meningkat.
b. Memberi motivasi siswa dalam belajar matematika.
c. Penerapan pembelajaran berbalik (Reciprocal Teaching) dapat dikembangkan atau diterapkan pada siswa di kelas-kelas lain.
2. Bagi guru:
a. Meningkatkan kreativitas guru dalam pengembangan materi pelajaran.
b. Sebagai bahan masukan guru untuk meningkatkan kemampuan dalam mentransfer materi pelajaran terhadap siswa.
c. Guru memiliki kemampuan penelitian tindakan kelas yang inovatif.
3. Bagi sekolah:
a. Dapat meningkatkan proses belajar mengajar di sekolah.
b. Menciptakan sekolah sebagai pusatnya ilmu pengetahuan.
c. Dapat merangsang guru-guru lain untuk memperbaiki pembelajaran yang diterapkan.
F. Sistematika Penulisan Skripsi
Secara garis besar penulisan skripsi ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu : bagian awal skripsi, bagian isi skripsi, dan bagian akhir skripsi.
1. Bagian Awal
Pada bagian awal penulisan skripsi ini memuat halaman judul, abstrak, halaman pengesahan, halaman motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi dan daftar lampiran.
2. Bagian Isi
Pada bagian isi penulisan skripsi ini terdiri dari 5 (Lima) bab, yaitu sebagai berikut.
a. Bab I : Pendahuluan
Dalam bab I berisi tentang latar belakang masalah, definisi operasional, permasalahan, tujuan penelitian dan sistematika penulisan skripsi.
b. Bab II : Landasan Teori dan Hipotesis
Dalam bab II berisi tentang landasan teori (pengertian belajar, prinsip- prinsip belajar, pengertian mengajar, faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya proses mengajar dan belajar, pembelajaran berbalik dan materi), kerangka berpikir dan hipotesis.
c. Bab III : Metode Penelitian
Pada bab III berisi tentang lokasi penelitian, subyek yang diteliti, prosedur kerja dalam penelitian, sumber data dan cara pengambilan data, serta tolok ukur keberhasilan.
d. Bab IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan
Dalam bab IV berisi tentang pelaksanaan pada siklus I, siklus II, siklus III dan selanjutnya dibahas hasil penelitian tersebut.
e. Bab V : Penutup
Dalam bab V berisi simpulan dari hasil penelitian dan saran-saran yang diajukan.
3. Bagian Akhir
Pada bagian akhir penulisan skripsi ini terdiri dari daftar pustaka yang digunakan sebagai acuan dan lampiran-lampiran yang melengkapi uraian pada bagian isi skripsi.


