PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH ( PROBLEM POSING ) DALAM UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS BERTANYA SISWA

abstraks: 

Dalam menghadapi era globalisasi, yang diiringi dengan perkembangan IPTEK yang sangat pesat, maka seseorang dituntut untuk mampu memanfaatkan informasi dengan baik dan cepat. Untuk itu dibutuhkan Sumber Daya Manusia ( SDM ) yang berkualitas dan bernalar tinggi serta memiliki kemampuan untuk memproses informasi sehinga bisa digunakan untuk mengembangkan IPTEK. Oleh karena itu UNESCO -APNIEVE SOURCE BOOK ( 1997 ) menetapkan empat pilar utama penndidikan untuk menghadapi abad ke 21, yaitu : (1) Learning to know, (2) Learning to do, (3) Learning to be, (4) learning to live together, yang kemudian dilengkapi menjadi learning to live to gether in peace and harmoni ( Gerardus polla, 2002 : 46 ).

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Dalam menghadapi era globalisasi, yang diiringi dengan perkembangan IPTEK yang sangat pesat, maka seseorang dituntut untuk mampu memanfaatkan informasi dengan baik dan cepat. Untuk itu dibutuhkan Sumber Daya Manusia ( SDM ) yang berkualitas dan bernalar tinggi serta memiliki kemampuan untuk memproses informasi sehinga bisa digunakan untuk mengembangkan IPTEK. Oleh karena itu UNESCO -APNIEVE SOURCE BOOK ( 1997 ) menetapkan empat pilar utama penndidikan untuk menghadapi abad ke 21, yaitu : (1) Learning to know, (2) Learning to do, (3) Learning to be, (4) learning to live together, yang kemudian dilengkapi menjadi learning to live to gether in peace and harmoni ( Gerardus polla, 2002 : 46 ).
Dengan mempertimbangkan tujuan pendidikan tersebut, maka matematika harus mampu menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan daya nalar siswa dan dapat menigkatkan kemampuan dalam mengaplikasi matematika untuk menghadapi tantangan hidup dalam memecahkan masalah.
Namun dalam kenyataannya cukup banyak siswa yang tidak menyukai pengajaran matematika, bahkan sering mereka membenci matematika. Dalam benak mereka, matematika itu merupakan mata pelajaran yang sangat sukar dan sulit dimengerti.
Untuk mengatasi masalah tersebut, siswa selalu dituntut untuk aktif dalam belajar terutama dalam hal bertanya. Bertanya merupakan salah satu kegiatan utama dalam mencapai tujuan pembelajaran matematika di sekolah. Semakin aktif siswa bertanya dan memahami tentang pelajaran, maka semangat belajarnya akan termotifasi dan meningkat.
Hasil pengamatan dari tempat PPL dan informasi yang diperoleh dari beberapa guru matematika di MA Annajah, selama ini terdapat beberapa masalah dalam pembelajaran matematika yaitu : (1). Siswa kurang atau tidak aktif bertanya di dalam pembelajaran mateatika. Hal ini diduga karena kurangnya minat dan motivasi siswa terhadap mata pelajaran matematika dan siswa tidak memiliki keberanian untuk bertanya kepada guru tentang hal-hal yang kurang jelas yang diajarkan oleh guru serta guru belum mampu mengembangkan semangat dan motivasi beajar siswa.
Di samping itu guru tidak memberikan penekanan kepada siswa supaya aktif bertanya sehingga dapat memecahkan masalah dalam pembelajaran matematika. (2). Pembelajaran hanya berpusat kepada guru. Hal ini berkaitan dengan metode yang digunakan guru, yaitu pembelajaran yang kurang berorientasi pada siswa, siswa hanya mencatat dan mendengarkan serta melakukan kegiatan sesuai perintah guru, sehingga menyebabkan siswa kurang aktif dalam mengajukan pertanyaan ( bertanya ).
Dengan memperhatikan hal tersebut, seorang guru dituntut untuk dapat memilih metode yang lebih mengaktifkan siswa dalam pembelajaran sehingga siswa yang tidak / kurang mengerti, mau bertanya kepada guru atau teman.
Salah satu alternatif / metode yang akan dicoba untuk dapat meningkatkan aktivitas dan motivasi siswa untuk belajar matematika yaitu melalui pembelajaran berdasarkan masalah ( Problam Posing ). Menurut tim penelitian tindakan metematika ( 2002 : 2 ) diartikan sebagai membangun atau membentuk permasalahan, pada metode ini menekankan kemampuan membuat soal sendiri dan menyelesaikannya.
Berdasarkan dari beberapa kenyataan di atas, maka peneliti akan mencoba menggunakan Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah ( Problem Posing ) dalam upaya meningkatkan aktivitas bertanya siswa dan pemahaman konsep turunan fungsi.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan diatas maka permasalahan yang ingin dicapai dalam permasalahan ini adalah : Apakah dengan penerapan model pembelajaran Problem Posing dapat meningkatkan aktivitas bertanya dan pemahaman konsep turunan fungsi siswa kelas XI IPS di MA Annajah Sesela Gunug sari Tahun Pelajaran 2007 / 2008 ?

1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1.3.1. Untuk meningkatkan aktivitas bertanya siswa melalui penerapan model pembelajaran problem posing.
1.3.2. Untuk meningkatkan pemahaman siswa pada konsep turunan fungsi melalui penerapan model pembelajaran problem posing.

1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.4.1. Manfaat Teoritis
a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengembanagan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa,
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan turunan fungsi.
1.4.2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi guru dalam pelaksanaan pembelajaran matematika dengan penerapan pendekatan problem posing.

b. Bagi Peneliti
Sebagai umpan balik bagi peneliti dalam proses belajar mengajar bidang studi matematika.
c. Bagi sekolah
Dengan penelitian ini dapat meningkatkan kualitas sekolah melalui peningkatan hasil belajar siswa.

1.5. Definisi Operasional
Untuk menghindari adanya penafsiran ganda terhadap beberapa istilah yang akan di gunakan dalam penelitian ini maka perlu di definisikan istilah-istilah sebagai berikut :
1.5.1. Pembelajaran Problem Posing
Pembelajaran problem posing adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat masalah ( soal ) sendiri dan menjawab dengan baik secara individu maupun kelompok.
1.5.2. Aktivitas Bertanya Siswa
Aktivitas bertanya siswa adalah kegiatan bertanya selama proses pembelajaran di kelas.
1.5.3. Pemahaman Konsep
Pemahaman merupakan kemampuan untuk menangkap arti dari apa yang terjadi, kemampuan untuk menerjemahkan dari suatu bentuk ke bentuk yang lain dalam kata-kata, angka maupun inter prestasi berbentuk pelajaran, ringkasan dan prediksi serta hubungan sebab akibat ( Suhaena dalam Satriawan, 2006 : 11 ). Sedangkan konsep adalah suatu ide abstrak yang memungkinkan orang untuk mengklasifikasikan apakah suatu objek tertentu merupakan contoh atau bukan contoh dari ide abstrak tersebut ( Robert M, Gagne dalam Buku Materi Pelatihan Terintegrasi Matematika, 2005 : 14 ) jadi pemahaman konsep memberikan pengertian bahwa konsep yang diajarkan pada siswa bukan sebagai hafalan saja melainkan juga harus di pahami sehingga dapat memecahkan masalah siswa akan menggunakan aturan – aturan yang berdasarkan pada konsep yang telah dipahami dan diselesaikan dengan baik dan benar.
1.5.4. Turunan Fungsi
Turunan fungsi didefinisikan sebagai laju perubahan fungsi sesaat yang di notasikan dengan definisi ini, maka memenuhi rumus persamaan : untuk turunan fungsi f(x) pada x = a sebesar berlaku

1.6. Lingkup Penelitian
Lingkup penelitian bertujuan mambatasi hal yang akan di bahas untuk memperlancar pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan. Adapun lingkup penelitian ini adalah :
1.6.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MA Annajah Sesela Gunungsari tahun pelajaran 2007 / 2008.
1.6.2. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 2 MA Annajah Sesela Gununasari tahun pelajaran 2007 / 2008.
1.6.3. Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini terbatas pada penerapan pembelajaran model problem posing dan konsep turunan fungsi.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori
2.1.1. Pengertian Belajar
Untuk memperoleh pengertian yang obyektif tentang belajar terutama belajar di sekolah, perlu dirumuskan secara jelas pengertian belajar. Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan oleh para ahli psikologi pendidikan.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Pengertian belajar dapat didefinisikan yaitu suatu proses usaha yang diakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Adapun berbagai teori belajar misalnya oleh Koffka dan Kohler dari jerman bahwa belajar adalah adanya penyesuaian pertama yaitu memperoleh response yang tepat untuk memecahkan problem yang dihadapi. Adapun teori belajar menurut R Gagne bahwa belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku serta penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari interuksi ( Slameto, 2003 : 9 ).
Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu benmtuk perubahan prilaku yang relatif menetap ( Abdurrahman, 2003 : 38 ).

2.1.2. Hasil Belajar
Pengertian hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari apa yang terjadi dari kegiatan belajar baik di kelas, di sekolah maupun diluar sekolah. Untuk mengetahuai apakah pelajaran yang dilakukan berhasil atau tidak dapat di tinjau dari proses pengajaran itu sendiri dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Pengajaran dikatakan berhasil jika terjadi perubahan pada diri siswa yang terjadi akibat belajar. Hasil belajar dapat di ketahui dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru
Bloom dalam Winata dan Rosida ( 1996 : 177 ) menggambarkan hubungan antara hasil belajar dengan faktor-faktor belajar sebagai berikut :

KARAKTERISTIK SISWA PENGAJARAN HASIL BELAJAR

( Gambar 1. Hubungan antara hasil belajar dengan faktor-faktor belajar )
Dari gambar tersebut jelas bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh keadaan kognitif dan afektif pada waktu belajar, kualitas pengajaran yang diterima tentunya di pengaruhi oleh cara pengelolah proses interaksi kelas oleh guru lebih lanjut gambar tersebut juga memperlihatkan adanya tiga macam hasil belajar yaitu pengetahuan ( kognitif ), kecepatan belajar yang ada hubunganya dengan kecepatan belajar individual serta hasil belajar afektif.
Hasil belajar afektif ada lima tingkatan, seperti yang dirumuskan olek Krthwohl dalam Winata dan Rosida ( 1996:186) adalah penerimaan penanggapan, penghargaan, pengorganisasian dan penghayatan hasil belajar baik kognitif maupun afektif lebih menekankan pada fungsi otak dalam mengelola informasi tetapi jhasil belajar afektif juga menekankan dirinya pada pengembangan fungsi perasaan dan sikap, dimana perasaan sikap seseorang sebagai suatu hasil belajar.

2.1.3. Metode Berdasarkan Masalah ( Problem Posing )
Metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui di dalam mengajar, mengajar itu sendiri menurut I gn.s. Ulih Bukit Karo Karo dalam Slameto (2003:65) adalah menyajikan bahan pelajaran oleh orang kepada orang lain agar orang lain itu menerima, menguasai dan mengembangkannya.
Problem posing menurut tim penelitian tindakan matematika (2003 : 2) diartika sebagai membangun atau membentuk permasalahan. Pembelajaran dengan pendekatan problem posing ( pengajuan soal ) pada intinya adalah meminta siswa untuk mengajukan soal / masalah. Masalah yang diajukan dapat berdasarkan pada topik yang luas dan soal yang sudah dikerjakan atau pada informasi tertentu yang diberikan oleh guru ( Sukarma, 2004 : 52 ).
Sedangkan menurut Suyanto problem posing merupakan istilah dalam bahasa inggris, sebagai padanan katanya digunakan istilah “ Pembentukan soal “ arti dari pembentukan soal adalah perumusan soal atau mengerjakan soal dari situasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum ketika atau setelah pemecahan masalah ( Darnati, 2004 : 4 ).
Pembentukan atau pembuatan soal mencakup dua macam kegiatan yaitu : 1). Pembentukan soal baru atau pembentukan soal dari situasi atau pengalaman sendiri dan, 2). Pembentukan soal yang sudah ada ( Tim Penelitian Tindakan Matematika, 2002 : 2 ).
Metode berdasarkan masalah ( problem posing ) memberikan kesempatan peserta didik berperan aktif dalam mempelajari, mencari dan menemukan sendiri informasi / data untuk diolah menjadi konsep, prinsip, teori atau kesimpulan. Metode ini digunakan guru bersama dengan penggunaan metode lain, contohnya metode diskusi yaitu suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa ( kelompok-kelompok siswa ) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif atas pemecahan masalah ( Hasibuan Dkk, 2004 : 20 ).
Di samping itu dalam pembelajaran di kelas antara metode diskusi dan metode berdasarkan masalah mempunyai kesamaan, yaitu siswa membuat soal sendiri dan mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah. Jadi dengan menggunakan metode berdasarkan masalah guru tidak memberikan informasi dulu, tetapi informasi diperoleh siswa setelah memecahkan masalah, sehingga aktifitas siswa untuk bertanya akan selalu dibutuhkan guna mengetahui alternatif masalah tersebut.

Menurut Menon dalam Sukarma ( 2004 : 52 ) langkah –langkah pengajuan soal dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu :
1. Berikan kepada siswa soal cerita tanpa pertanyaan, tetapi semua informasi yang diperlukan untuk memecahkan soal tersebut ada, tugas siswa adalah membuat pertanyaan-pertanyaan berdasarkan informasi yang ada pada soal,
2. Guru menyeleksi sebuah topik dan meminta siswa membentuk kelompok dan diberi tugas untuk membuat soal cerita sekaligus jawabannya, sebelum tugas tersebut didiskusikan di masing-masing kelompok dan kelas,
3. Siswa diberi soal dan diminta untuk mendaftar sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan masalah, sejumlah permasalahan di seleksi dari daftar untuk diselesaikan.
Seperti pada metode-metode mengajar lainnya, model problem posing memiliki kelebihan dan kelemahan, adapun kelebihan-kelebihannya antara lain :
a. Siswa dapat berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pembelajaran yaitu siswa membuat soal dan menyelesaikannya,
b. Mendidik siswa berpikir secara sistematis,
c. Mendidik siswa tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan,
d. Mampu mencari berbagai jalan dari suatu kesulitan yang dihadapi,
e. Akan mendatangkan kepuasan tersendiri bagi siswa jika soal yang dibuat tidak mampu diselesaikan oleh kelompok lain,
f. Siswa akan terampil menyelesaikan soal tentang materi yang diajarkan,
g. Siswa berkesempatan menunjukkan kemampuannya pada kelompok lain.
Sedangkan kelemahan-kelemahannya antara lain :
a. Pembelajaran model problem posing membutuhkan waktu yang lama,
b. Agar pelaksanaan kegiatan dalam membuat soal dapat dilakukan dengan baik perlu ditunjang oleh buku yang dapat dijadikan pemahaman dalam kegiatan belajar terutama membuat soal.
( Tim Penelitian Tindakan Matematika dalam Akhyar, 2002:14 ).
Dengan memperhatikan kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan metode berdasarkan masalah tersebut, dapat dilihat semakin meningkat aktivitas bertanya akan semakin tinggi pula percaya diri ( PD ) siswa untuk menghadapi maslah. Bertanya atau mengajukan masalah merupakan awal intelektual untuk merangsang pikiran, mendobrak wawasan yang kaku, sempit dan merupakan aktivitas yang mencerdaskan.
2.1.4. Aktivitas Bertanya
Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari “ bertanya “, bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam memecahkan masalah, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :
2.1.4.1. Mengali informasi, baik administrasi maupun akademik,
2.1.4.2. Mengetahui tingkat pemahaman siswa,
2.1.4.3. Membangkitkan respon pada siswa,
2.1.4.4. Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa,
2.1.4.5. Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru,
2.1.4.6. Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertranyaan dari siswa,
2.1.4.7. Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
( Suarna. Dkk, 2006 : 123 ).
Kegiatan bertanya dalam pembelajaran di kelas dapat dilihat pada aktifitas belajar, bertanya dapat diterapkan : Antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antar siswa dengan orang lain yang di datangkan ke kelas dan sebagainya. Aktifitas bertanya juga ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam kelompok ketika menemukan kesulitan, ketika mengamati dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan itu akan membutuhkan dorongan untuk bertanya bila siswa diberikan kesempatan bertanya, lebih-lebih “ diharuskan “ mengajukan pertanyaan tentang kesulitan dan ada kemungkinan berbagai macam pertanyaan muncul dari pertanyaan yang bermakna sampai pertanyaan yang sekedar memenuhi permintaan atau sekedar bertanya. Untuk mengawali dan membiasakan mereka bertanya memerlukan kesabaran dalam menunggu pertanyaan yang diajukan siswa guna mengetahui hal-hal yang belum diketahui siswa.
Adapun indikator aktifitas bertanya siswa, di susun berdasarkan pendapat Usman ( 2008 : 75 ) yang ditinjau dari dua segi sebagai berikut :
1. Pertanyaan menurut maksudnya antara lain :
a. Pertanyaan permintaan,
b. Pertanyaan retoris,
c. Pertanyaan mengarah / menuntu,
d. Pertanyaan menggali.
2. Pertanyaan menurut Taksonomi Bloom
a. Pertanyaan pengetahuan,
b. Pertanyaan pemahaman,
c. Pertanyaan penerapan,
d. Pertanyaan sintesis,
e. Pertanyaan evaluasi.

2.1.5. Turunan Fungsi
A. Pengertian Turunan Fungsi
1. Laju Perubahan Fungsi
Y

x
0 a a + h

Sebuah fungsi di gambarkan di atas setiap terjadi perubahan nilai maka akan selalu berubah kecuali = konstanta. Misal perubahan dari titik A ke B, x berubah dari xA = a sehingga xB = a + h, maka berubah dari sehingga . Perubahan ini akan memiliki laju rata-rata dengan definisi :

Sehingga secara umum perubahan dari x = a ke x = a + h berlaku : (1)
Jika diamati pada gambar di atas maka persamaan (1). Merupakan besaran yang menyatakan gradien ( kemiringan ) dari garis AB. Persamaan (1). akan menjadi menarik untuk mendekati 0, berarti titik B mendekati titik A ( hampir berhimpit ) maka laju perubahan fungsi rata-rata dapat menjadi laju perubahan fungsi di titik A ( ) dan di berinama laju perubahan fungsi sesaat. Laju perubahan fungsi sesaat di definisikan sebagai limit dari untuk n mendekati nol.

2. Pegertian Turunan Fungsi
Turunan fungsi didefinisikan sebagai laju perubahan fungsi sesaat dan dinotasikan , dengan definisi ini maka memenuhi rumus persamaan (2). yaitu :
(3)
Untuk turunan fungsi pada x = a sebesar berlaku (4)
Turunan fungsinya juga memiliki notasi lain, yaitu sehingga berlaku atau
(5)

B. Rumus-rumus turunan fungsi aljabar
1. Turunan fungsi
Untuk menentukan bentuk umum turunan fungsi dapat digunakan bantuan penjabaran dengan binomium Newton. Penjabarannya sebagai berikut :

Dengan menggunakan penjabaran binomium Newton dan rumus umum turunan fungsi dapat diperoleh analisis berikut :

, maka berlaku hubungan jika ,
maka (6)
2. Turunan jumlah dan selisih fungsi
Fungsi dapat dianggap sebagai fungsi gabungan, yaitu penjumlahan dua fungsi misal dan , maka . Dengan persamaan umum turunan fungsi ini dapat ditentukan sebagai berikut: jika , maka
Dari hasil penurunan diatas dapat disimpulkan bahwa pada penjumlahan dan pengurangan fungsi berlaku :

a. Jika ,
maka
b. Jika
Maka
3. Turunan Perkalian dan Pembagian Fungsi
Fungsi dapat diuraikan dengan mengkuadratkan dan kemudian mengalikan sehingga penentuan turunan fungsinya dapat menggunakan persamaan (6) dan (7) tetapi jika pangkatnya tinggi penyelesaiannya akan rumit. Untuk mempermudah, f(x) dapat dianggap sebagai perkalian fungsi, yaitu dengan dan dengan menggunakan turunan fungsi diperoleh maka turunan :
Persamaan pembilang dalam limit dapat ditambahkan sehingga menjadi :

Dari hasil penurunan terakhir ini dapat di simpulkan bahwa :
a. Jika f = u x v, maka
b. Jika maka
4. Turunan Fungsi
Penentuan turunan fungsi dapat diambil contoh dengan menggunakan persamaan dan sehingga diperoleh :

Maka turunannya adalah :

, dari contoh ini dapat di generalisasikan sehingga berlaku rumus jika , maka
(9)
2.2. Kerangka Berpikir
Dalam proses belajar mengajar tradisional, guru mendominasi kegiatan siswa selalu pasif dan tidak aktif bertanya, sedangkan guru aktif bahkan segala inisiatif datang dari guru. Aktivitas anak terbatas pada mendengar, mencatat dan menjawab bila guru memeberika pertanyaan tetapi siswa tidak bertanya meskipun belum mengerti terhadap materi yang telah diajarkan. Proses belajar mengajar seperti ini jelas tidak mendorong siswa untuk beraktivitas dalam mengajukan pertanyaan.
Dalam pembelajaran matematika diperlukan pengetahuan dan pemahaman guru yang baik, tentang matematika sebagai wahana pendidikan sehingga proses pembelajaran berjalan sesuai dengantujuan yang ingin dicapai. Untuk itu guru tidak lepas dari berbagai macam pendekatan, metode dan strategi dalam pembelajaran. Selama ini metode pembelajaran yang di gunakan oleh guru adalah masih dominant menggunakan metode ceramah, sedangkan bentuk masalah yang diberikan kepada siswa adalah masalah pemberian tugas atau pekerjaan rumah ( PR ). Namun pelaksanaan pekerjaan rumah ( PR ) kurang efektif, karena dalam pelaksanaannya kadang dikerjakan oleh orang lain. Hal ini kurang memotivasi siswa untuk belajar matematika. Untuk itu perlu dilakukan suatu teknik baru dalam pemberian masalah / soal untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pembelajaran matematika khususnya pada pokok bahasan turunan dan untuk mengaktivkan siswa untuk bertanya dalam pembelajaran, perlu dilakukan proses pembelajaran yang lebih baik yaitu dengan memperhatikan perlembangan anak didik dan dengan metode dan pendekatan pembelajaran yang tepat.
Model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah ( problem posing ) dimana model pembelajaran ini menekankan kemamapuan siswa dalam aktif membuat soal dan dapat mengerjakan soal yang diberikan oleh guru atau kelompok yang lain dengan cara diskusi. Selama penjelasan didepan kelas guru, guru memberikan penjelasan materi agar lebih dapat membantu siswa dalam memahami konsep matematika. Setelah guru memberikan penjelasan maka siswa di suruh untuk membentuk kelompok diskusi dan menekankan agar aktif bertanya baik dalam bentuk soal dengan kelompok sendiri maupun dengan kelompok yang lain.
Problem posing dengan menggunakan pembentukan kelompokan diskusi menjadi menarik karena dalam pwelaksanaannya siswa dapat menunjukan kemampuannya kepada siswa yang lain. Selama proses diskusi dengan kelompoknya siswa akan menjadi aktif dalam bertanya dan menyampaikan ide / gagasannya. Siswa yang mampu menjawab soal dari guru atau kelompok yang lain akan merasa bangga dan senang, sedangkan siswa yang belum bisa mengerjakan soal akan merasa tertantang sehingga akan termotivasi untuk lebih giat lagi dalam belajar dan pada akhirnya akan meningkatkan pemahaman matematika siswa pada konsep turunan.

2.3. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah dugaan sementara dari permasalahan penelitian berdasarkan implikasi kerangka berpikir ( Materi Pelatihan Terintegrasi Matematika, 2005 : 8 ). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa hipotesis adalah dugaan sementara yang mungkin benar dan juga salah. Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat dirimuskan sebagai berikut : “ Diduga penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah ( problem posing ) dapat meningkatkan aktivitas bertanya siswa dan pemahaman konsep turunan fungsi siswa kelas XI IPS MA Annajah Sesela Gunungsari tahun pelajaran 2007 / 2008 “.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas ( class room action research ), yang pada hakikatnya merupakan penelitian yang dilakukan pada saat mengajar di kelas dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

3.2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan adalah suatu metode atau cara untuk mencari jawaban dari rumusan masalah ( Suharsimi, 2002 : 23 ). Pendelatan dari suatu penelitian tergantung dari gejala yang akan di teliti, apakah gejala itu dia rancang khusus untuk di selidiki atau gejala yang diteliit telah ada secara wajar.
Dalam penelitian ini gejala yang di teliti dan timbul secara sengaja maka pendelatan yang digunakan adalah pendekatan pembeajaran berdasarkan masalah ( problem posing ). Pembelajaran problem posing dapat diartikan dengan siswa membuat soal yang mirip dengan soal buatan guru dan mampu menyelesaikannya secara kelompok atau individu.

3.3. Tempat dan Waktu Penelitian
3.3.1. Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPS MA Annajah Sesela Gunungsari.
3.3.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2007 /2008.

3.4. Rencana Penelitian
Adapun rencana penelitian yang dimaksud adalah berupa tindakan baik dari kegiatan guru maupun kegiatan siswa selama proses pembelajaran. Proses pembelajaran digunakan tindakan berulang ( siklus ) yang direncanakan dalam beberapa siklus, dimana materi dalam penelitian ini adalah turunan fungsi.
Pelaksanaan siklus bisa dikatakan berhenti apabila proses pembelajaran dan hasil evaluasi sudah sesuai dengan skenario pembelajaran, sedangkan pelaksanaan tindakan bisa berlanjut ( siklus II ) apabila proses pembelajaran belum sesuai dengan skenario pembelajaran dan hasil evaluasi belum sesuai dengan ketuntasan yang diharapkan.
Dari masing-masing siklus tersebut dapat dilakukan tahapan-tahapan sebagai berikut :
3.4.1. Tahap Perencanaan Tindakan
Dalam tahap perencanaan dilakukan kegiatan sebagai berikut :
a. Penelitian mensosialisasikan pembelajaran metode problem posing pada guru matematika,
b. Menyiapkan rencana proses pembelajaran ( RPP ) atau skenario pembelajaran (SP),
c. Menyiapkan lembaran observasi
d. Menyiapkan Lembar Kerja Siswa ( LKS )
e. Menyusun / menyiapkan soal tes hasil belajar.
3.4.2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah disusun sebagai berikut :
3.4.2.1. Tahap pendahuluan dengan rincian sebagai berikut :
a. Mengabsen kehadiran siswa,
b. Menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa,
c. Memberikan apersepsi,
d. Membentuk kelompok secara ideal antara 5-6 orang berdasarkan tingkat kepandaian.
3.4.2.2. Tahap pengembangan dengan rincian sebagai berikut :
a. Memberikan LKS kepada siswa,
b. Siswa mengerjakan LKS dan mencari rumus-rumus / teori – teori yang berkaitan dengan yang dinyatakan melalui diskusi, sementara guru membimbing sambil melihat keseriusan siswa dan aktifitas bertanya,
c. Memberikan siswa untuk melakukan tanya jawab tentang LKS yang dibahas.

3.4.2.3. Tahap penerapan dengan rincian sebagai berikut :
a. Memberikan tugas kelompok kepada siswa untuk membuat soal yang serupa dengan soal yang di LKS,
b. Mengarahkan sebelum memulai mengerjakan soal latihan dengan menekankan kepada siswa supaya bertanya jika menemukan kesulitan dalam membuat soal,
c. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau menggali informasi yang dihadapi siswa,
d. Memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan siswa,
e. Mengecek kembali pemahaman siswa terhadap soal yang telah dibuat oleh siswa,
f. Setelah waktu yang ditentukan untuk membuat soal, guru menyuruh siswa kembali ketempat duduk semula,
g. Guru memberikan usulan-usulan / komentar dengan pemberian penekanan tentang soal-soal yang telah dibuat oleh siswa berdasarkan kelompoknya.
3.4.2.4. Penutup dengan rincian sebagai berikut :
a. Siswa membuat rangkuman dan kesimpulan dengan bimbingan guru,
b. Siswa diberi PR,
c. Guru menyampaikan kepada siswa tentang materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya.
3.4.3. Tahap Observasi dan Evaluasi
Kegiatan observasi dilakukan secara kontinyu setiap kali berlangsungnya pelaksanaan tindakan dengan mengamati aktifitas bertanya siswa dan kegiatan guru dalam proses belajar mengajar evaluasi dilakukan setelah akhir setiap siklus dengan memberi tes berbentuk essay yang dikerjakan secara individual selama dua jam pelajaran.
3.4.4. Tahap Refleksi
Pada tahap ini peneliti bersama guru mengkaji kekurangan dan hambatan yang muncul untuk mendapatkan alternatif pemecahan masalah yang terbaik dari tindakan yang telah diberikan dengan memperhatikan hasil observasi dan evaluasi. Untuk memperbaiki kelemahan yang muncul pada siklus pertama, maka diadakan penyempurnaan segala tindakan pada siklus berikutnya.
Pada siklus II ini akan diadakan perbaikan-perbaikan berdasarkan hasil siklus I.

3.5. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian, data-data penelitian diambil dengan menggunakan instrumen penelitian yaitu :
3.5.1. Skenario Pembelajaran,
3.5.2. Lembar Observasi Penelitian.
Instrumen penelitian ini dirancang oleh peneliti untuk mengetahui data mengenai aktifitas bertanya siswa dan kegiatan guru dalam proses belajar mengajar ( PBM ) digunakan beberapa indikator melalui lembar observasi.
3.5.3. Tes Hasil Pemahaman
Instrumen ini disusun oleh penelitiyang disetujui guru matematika dengan berpedoman pada kurikulum dan buku paket, untuk mengetahui hasil pemahaman belajar siswa digunakan instrumen berupa tes. Jenis soal tes yang digunakan adalah dalam bentuk essay ini dibuat guna mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan siswa dalam menguasai materi yang telah disampaikan.

3.6. Teknik Pengumpulan Data
3.6.1. Sumber Data
Sumber data berasal dari siswa kelas XI IPS 2 di MA. Annajah Sesela Gunungsari dan seorang guru bidang studi matematika.
3.6.2. Jenis Data
3.6.2.1. Data hasil observasi,
3.6.2.2. Data hasil pemahaman belajar siswa

3.6.3. Cara Pengambilan Data
3.6.3.1. Data tentang aktifitas bertanya siswa didapat dari lembar observasi,
3.6.3.2. Data hasil pemahaman belajar siswa diperoleh dengan cara memberikan tes evaluasi atau ulangan pada siswa.

3.7. Teknik Analisa Data
3.7.1. Aktivitas bertanya siswa
Data aktivitas bertanya dianalisis dengan cara sebagai berikut :
3.7.1.1. Menemukan skor yang diperoleh siwsa, skor setiap individu tergantung banyaknya aktifitas bertanya yang dilakukan siswa dari sejumlah indikator yang diamati, yaitu :
a. Skor 5 diberikan jika siswa mengajukan pertanyaan paling sedikit 4 kali pada deskriptor yang tersedia,
b. Skor 4 diberikan jika siswa mengajukan pertanyaan sebanyak 3 kali pada deskriptor yang tersedia,
c. Skor 3 diberikan jika siswa mengajukan pertanyaan sebanyak 2 kali pada deskriptor yang tersedia,
d. Skor 2 diberikan jika siswa mengajukan pertanyaan sebanyak 1 kali pada deskriptor yang tersedia,
e. Skor 1 diberikan jika siswa tidak pernah mengajukan pertanyaan sebanyak pada deskriptor yang tersedia.

3.7.1.2. Menghitung skor aktifitas bertanya siswa dengan rumus :

Keterangan : M : Skor rata-rata aktivitas bertanya siswa
Xi : Skor aktivitas masing-masing bertanya siswa
N : Banyaknya siswa.
3.7.1.3. Menentukan Mi dan SDi dengan rumus sebagai berikut :
Mi = ½ ( skor tertinggi + skor terendah
SDi = 1/3 Mi
Keterangan : Mi : Mean ideal ( angka rata-rata )
SDi : Standar deviasi ideal.
Kriteria aktivitas bertanya dicari dengan rumus :
Sangat aktif

Mi + 1,5 SDi
Aktif
Mi + 0,5 SDi
Cukup aktif
Mi – 0,5 SDi
Kurang aktif
Mi – 1,5 SDi
Sangat kurang aktif
( Nurkencana dan Sumartana, 1990 : 103 ).

Kriteria keberhasilan tindakan, apabila aktivitas bertanya siswa minimal berkualifikasi cukup aktif.
3.7.2. Hasil Pemahaman Belajar
Hasil pemahaman belajar yang diperoleh siswa dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan mencari ketuntasan individu dan ketuntasan klasikal. Untuk mengetahui pemahaman hasil belajar siswa tersebut digunakan criteria sebagai berikut :
3.7.2.1. Ketuntasan Individu
Setiap siswa dalam proses belajar mengajar dikatakan tuntas / paham secara individu terhadap materi pelajaran yang disajikan apabila siswa mampu memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 65.
3.7.2.2. Ketuntasan Klasikal
Ketuntasan klasikal dihitung dengan rumus :
, dengan KK menyatakan ketuntasan klasikal, X menyatakan jumlah siswa yang meperoleh nilai ? 65 dan Z menyatakan jumlah siswa. Sesuai dengan petunjuk teknik penilaian, kelas dikatakan tuntas secara klasikal terhadap materi pelajaran yang disajikan jika ketuntasan klasikal mencapai ? 85 %.

3.8. Indikator Kerja
Yang menjadi indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah pencapaian hasil belajar dan aktifitas bertanya siswa dengan ketuntasan sebagai berikut :
3.8.1. Keberhasilan penelitian ini dilihat dari hasil pemahaman belajar siswa yaitu apabila siswa telah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal minimal 85 %, serta mencapai ketuntasan individu dengan nilai ? 65 pada saat evaluasi yang akan dilihat pada hasil evaluasi,
3.8.2. aktivitas bertanya siswa dikatakan meningkat jika aktivitas bertanya siswa pada siklus II lebih besar dari siklus I minimal berkategori cukup aktif.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman konsep dan aktivitas bertanya siswa pada sub pokok bahasan limit fungsi aljabar siswa kelas….MA. Annajah Gunungsari.
Adapun rincian pelaksanaan dan hasil penelitian ini dapat diuraikan dalam bagian-bagian berikut.

4.1.1. Hasil Penelitian Siklus I
1. Pelaksanaan
Pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar sebagian siswater lalu sibuk mencari alternatif dalam membuat soal dan bertanya pada guru, serta ada pula siswa yang sibuk sendiri tanpa memeperhatikan penjelasan guru, selain itu suasanakelas menjadi agak gaduh karena siswa di beri kebebasan untuk bertanya oleh guru pengajar.
2. Hasil Observasi
Hasil observasi terdiri atas dua bagian yaitu hasil observasi guru dan siswa serta hasil observasi aktivitas bertanya siswa
a) Hasil Kegiatan Guru Dan Siswa
Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan pada saat pembelajaran siklus I adalah guru mengecek kehadiran siswa dilanjutkan dengan penjelasan tentang pembelajaran model problem posing. Setelah itu siswa diberi kesempatan untuk bertanya dalam diskusi membuat soal, sementara siswa yang lainnya menanggapi dan guru memberikan penguatan.
Dari hasil observasi yang diperoleh melalui lembar observasi hasil pengamatan yang dilakukan,didapatkan bahwa proses pembelajarannya belum sesuai dengan yang diharapkan. Data lengkap hasil observasi kegiatan giru dan siswa pada siklus i dapat dilihat pada lampiran 8.
Adapun kekurangan-kekurangan yang dilakukan guru dan siswa pada saat melakukan tindakan pembelajaran siklus I antara lain:
1. Keterampilan guru masih kurang dalam mengelola kelas, sehingga banyak siswa yamg ribut terutama pada deretan belakang dan banyak siswa yang berbicara sendiri pada saat guru menyampaikan materi pembelajaran.
2. Guru kurang memotivasi siswa dan kurang membiumbing siswa atau krelompok yang pasif sehingga dalam proses belajar banyak siswayang kurang antusias.
3. masih kurangnya aktivitas bertanya siswa dalam mengajukan pertanyaan maupun pendapat dalam mengerjakan soal dari kelompok lain.
4. Guru kurang memberi dorongan dan memancing siswa untuk bertanya sehingga siswa kurang aktif bertanya terhadap hal-hal yang belum di ketahui selama proses membuat dan menjawab dari kelompok lain.
5. Kegitan merangkum materi pada akhir pertemuan dilakukan tergesa-gesa serta belum terlaksanasesuai dengan yang diinginkan.
b. Hasil begiatan aktivitas bertanya siswa
Dari hasil observasi aktivitas bertanya yang dilakukan pada siklus I, siswa seluruhnya pernah mengajukan pertanyaan, tetapi ada beberapa siswa yang bertanya tidak pada konsep materi atau bertanya hanya sekedar.selengkapnya lihat lampiran 9.
Data hasil aktivitas bertanya siswa yang diperoleh dengan data kualitatif adalah siswa yang sangat aktif ( SA ) bertanya adalah ……………siswa, sedangkan siswa yng aktif ( A ) bertanya adalah ……….siswa, cukup aktif ( CA )adalah ………siswa, kurang aktif ( KA )adalah ………siswa dan sangat kurang aktif ( SKA)adalah ………..siswa. Sedangkan skor rata-rata aktivitas bertanya siswa adalah ……….
Dengan memperhatikan skor rata-rata aktifitas bertanya siswa sebesar……. Tersebut , maka berdasarkan kriteria penggolongan aktivitas bertanya siswa yang di tetapkan, aktivitas bertanya siswa dalam pembelajaran siklus I tergolong cukup aktif. Data selengkapnya dapat di lihat pada lampiran …..

Tabel 4.1. Ringkasan hasil observasi aktivitas bertanya siswa pada siklus I
No Indikator Yang Diamati Skor
1 Pertanyaan Permintaan
2 Pertanyaan Retoris
3 Pertanyaan Menggarahkan / Menuntun
4 Pertanyaan Menggali
5 Pertanyaan Pengetahuan
6 Pertanyaan Pemahaman
7 Pertanyaan Penerapan
8 Pertanyaan Sintesis
9 Pertanyaan Evaluasi
10 Pertanyaan – pertanyaan yang tidak termaksud 1-9 tetapi berkaitan tentang materi
Total Skor
Rata-rata
Kategori

3. Hasil Evaluasi Pemahaman Belajar Siswa
Setelah selesai proses pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah direncanakan, pada siklus I akan dilakukan evaluasi siswa di beri evaluasi dalam bentuk tes tertulis. Data lengkap tentang hasil evaluasi pemahaman hasil belajar siswa siklus I dapat dilihat pada lampiran………
data ringkasan tentang hasil pemahaman belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini.

Tabel 4.2. Ringkasan data hasil evaluasi pemahaman belajar siswa siklus I
Nilai tertiggi
Nilai terendah
Nilai rata-rata
Jumlah siswa yang mengikuti evaluasi
Banyaknya sisw yang tuntas
Banyaknya siswa yang tidak tuntas
Presentase ketuntasan

Dari tabel di atasdapat dilihat bahwa nilai rata-rata siswa adalah…..%. tes evaluasi hanya di ikuti oleh……siswa dari 34 siswa dan terdapat .siswa yang tuntas belajar, sehingga ketuntasan belajar pada siklus I adalah ……%. Nilai ini masih kurang dari 85 %. Jadi kesimpulan bahwa pada pelaksanaan siklus I belum mencapai ketuntasan belajar seperti yang tertera pada kurikulum yaitu 85 % siswa yang memperoleh nilai minimal 65 pada saat evaluasi, dengan demikian perlu diadakan perbaikan pada siklus II.
4. Refleksi
berdasarkan hasil observasi yang diperoleh selama pelaksanaan siklus I, hasil evaluasi belajar belum tercapai. Sedangkan aktivitas bertanya tergolong kategori cukup aktif . dalam kontes ini maka refleksi yang dimaksud untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang terjadi dan selanjutnya diadakan perbaikan maupun penyempurnaan dalam pelaksanaan siklus selanjutnya yaitu siklus II.

4.1.2. Hasil Penelitian Siklus II
1. Pelaksanaan Tindakan
proses pembelajaran pada siklus II dilaksanakan pada satu kali pertemuan. Materi yang di bahas adalah sama seperti pada siklus I. karena materi tersebut belum memenuhi ketuntasan materi. Sedangkan kegiatan belajar mengajar pada sijklus ini sudah sesuai dengan skenario pembelajaran serta lebih kondusif , serius dan suasana kelas semakin semangat dalam bertanya.
2. Hasil Obserasi
a. Hasil observasi kegiatan guru dan siswa
Hasil observasi kegiatan guru selama pembelajaran siklus II sudah mengalami perbaikan –perbaikan berdasarkan hasil refleksi pada siklus sebelumnya dan kegiatan pembelajarannya sudah berjalan seperti yang diharapkan, tetapi masih ditemukannya kekurangan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yaitu guru tidak memperhatikan alokasi waktu sehingga dalam merangkum kesinpulan terlalu tergesa-gesa. Sementara itu siswa sudah bisa membuat ssoal walaupunmasih ada kesalahn-kesalahan kecil yang dilakukan, tetapi siswa tetap selalu aktif menerima pelajaran dan menjawab soal dari kelompok lain. Data lengkap hasil observasi kegiatan guru dan siswa dapat dilihat pada lampiran……..

b. Hasil observasi kegiatan aktivitas bertaya siswa
Aktivitas bertanya siswa pada siklus II telah mengalami peningkatan walaupun masih berkategori cukup aktif, ini dilihat karena siswa sangat antusias untuk bertanya, selengkapnya dapat dilihat pada lampiran …….
Siklus II dilakukan observasi aktifitas bertanya siswa. Data lengkapn tentang hasil / analisis aktivitas bertanya siswa selama pemberian tindakan pada siklus II dapat dilihat pada lampiran …… jumlah skor aktifitas bertanya siswa berdasarkan hasil observasi adalah..,sehingga diperoleh rata-rata skor aktifitas bertanya siswa adalah……… sedangkan rincian untuk aktivitas bertaya siswa diperoleh siswa yang sangat aktif ( SA ) adalah……siswa, aktif (A) adalah…….siswa, Cukup Aktif (CA) adalah……..siswa, kurang aktif( KA ) adalah…siswa, dan yang sangat kurang aktif adalah…………siswa.
Pada siklus II skor aktifitas bertanya siswa meningkat menjadi ……… nilai ini berada pada interval…………… menurut kriteria penggolongan aktivitas bertanya siswa yang telah ditetapkan sebelumnya maka skor rata-rata aktivitas bertanya siswa pada siklus II tergolong ……….

Tabel 4.3.Ringkasan hasil observasi aktivitas bertanya siswa pada siklus II
No Indikator Yang Diamati Skor
1 Pertanyaan Permintaan
2 Pertanyaan Retoris
3 Pertanyaan Menggarahkan / Menuntun
4 Pertanyaan Menggali
5 Pertanyaan Pengetahuan
6 Pertanyaan Pemahaman
7 Pertanyaan Penerapan
8 Pertanyaan Sintesis
9 Pertanyaan Evaluasi
10 Pertanyaan – pertanyaan yang tidak termaksud 1-9 tetapi berkaitan tentang materi
Total Skor
Rata-rata
Kategori

3. Hasil Evaluasi pemahaman belajar siswa
sama seperti pada siklus I, pada siklus II juga akan dilakukan evaluasi siswa diberi evaluasi dalm bentuk tes tertulis sesuai dengan skenario yang telah direncanakan. Data lengkap tentang hasil evaluasi pemahaman belajar siswa pada siklus II dapat dilihat pada lampiran …….. Data ringkasan tentang hasil pemahaman belajar siswa pada siklus II dapat dilihat pada tabel 4.4 di bawah ini

Tabel 4.2. Ringkasan data hasil evaluasi pemahaman belajar siswa siklus II
Nilai tertiggi
Nilai terendah
Nilai rata-rata
Jumlah siswa yang mengikuti evaluasi
Banyaknya sisw yang tuntas
Banyaknya siswa yang tidak tuntas
Presentase ketuntasan

Dari tabel 4.4 di atas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata siswa adalah ……….% dari 31 siswa yamg mengikuti tes evaluasi terdapat ……. orang siswa yang tuntas belajar, sehingga ketuntasan belajar pada siklus II adalah…...%nilai menunjukkan bahwa telah memenuhi syarat ketuntasan belajar yaitu 85 % siswa mendapat nilai 65. sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa ketuntasan belajar klasikalsudah tercapai.
5. Reffleksi
Dari hasil yang diperoleh pada siklus II adalah rata-rata nilai kelas ……… dengan ketuntasan sebesar ……….. dan kategori aktifitas bertanya siswa tergolong cukup aktif. Dari hasil penelitian yang dilakukan ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan aktifitas bertanya siswa dan pemahaman dalam pembelajaran matematika dengan penerapan model problem posing pada pokok bahasan turunan fungsi.

Adapun perbaikan-perbaikan yang dilakukan pada siklus II antara lain :
1) Guru sudah meberikan rambu-rambu/langkah –langkah alternative membuat soal
2) Pada pembelajaran siklus I siswa kurang memperhatikan penjelasan guru pada saat menyampaikan materi pelajaran, hal ini disebabkan karena sebagian besar siswa asyik mencatat dan ribur dengan temannya terutama dibangku bagian belakang . untuk itu pada siklus ini guru sudaah memberikan waktu yang cukup bagi siswa untuk mencatat sehingga pada saat menyampaikan materi siswa tidak ada yang mengcatat ataupun mengerjakan pekerjaan yang lain dan mengatur siswa yang rebut agar suasana kelas lebih kondusif .
3) Untuk lebuh mengaktifkan siswa atau kelompok yang pasif, guru telah memprioritaskan untuk memberi penjelasan yang belum dipahasmi secara individual maupun kelompok dan lebih menekankan kepada hal-hal yang penting agar siswa lebih mengingatnya.
4) Ada beberapa kelompok yang belum dapat membuat soal dan menjawab soal yang diberikan. Untuk mengatasi hal itu, guru sudah mengarahkan dan membimbing setiap kelompoknya baik dalam membuat soal maupun menmjawab soal atau membahas soal yang tidak bisa dikerjakan.
5) Pelaksanaan kegiatan merangkum materi sudah dijalankan dengan baik karena guru telah memperhatikan alokasi waktu untuk setiap langkah pembelajaran yang dilakukan
Dari tindakan siklus II yang ternyata syarat yang ditetapkan oleh kurikulum sudah tercapai. Namun mengingat ada beberapa siswa yang nilainya masih dibawah target, maka perlu perhatian dan penanggulangan khusus dari guru bidang studi yang bersangkutan misalkan memberikan bimbingan belajar , bimbingan pribadi dan bimbingan social sesuai dengan ,masalah yang dihadapi siswa.

4.2. Pembahasan
Berdasarkan analisis data pemberian tindakan pada siklus I menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas sebesar…….. dengan persentase ketuntasan sebesar …….. ini berarti ketuntasan belajar siswa belum tercapai sesuai dengan yang ditetapkan oleh kurikulum, ini sebabkan oleh kurangnya kesiapan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dengan penggunaan model problem posing.
Pada pelaksanaan siklus I, selama penyampaian materi banyak siswa yang tidak memperhatikan pelajaran guru karena mereka sasyik menyatat dan rebut dengan temannya terutama yang duduk pada deretan bangku di bagian belakang , kurangnya komunikasi dan kerjasama antar anggota kelompok selama diskusi dalam membuat soal dan menjawab soal dari kelompok lain dan kurangnya keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat dan bertanya tentang hal-hal yang belum dimengerti, serta masih terdapatnay kelompok yang belum bisa membuat ataupun menyelesaikan soal dari kelompok lain, padahal selama kegiatan penyampaian materi guru sudah memberikan banyak contoh soal yang beragam. Diakhir pertemuan saat penarikan kesimpulan dilakukan dengan tergesagesa karena keterbatasan waktu.
Disamping itu pula skor rata-rata aktivitas bertanya siswa yangtergolong ……… dikarenakan pada saat malaksanakan kegiatan balajar mengajar , guru kurang memanncing siswa untuk bertanya sehingga siswa kurang memberi ide-ide atau pendapatnya dalam mengerjakan dan membuat soal diskusi dan di sissi lain guru terlalu tergesa-gesa dalam memberikan kesempatan siswa untuk bertanya , karena itu untuk mengawali dan membiasakan mereka untuk bertanya memerlukan kesabaran dalam menunggu pertanyaan yang diajukan siswa guna memenuhi hal-hal yang belum diketahui siswa. Dengan demikian guru perlu mengambil dan melaksanakan tindakan yang positif dalam mrnghadapi keadaan proses belajar mengajar siswa selama didalam kelas.
Berdasarkan analisis data, pemberian tindakan pada siklus I menunjukkan bahwa rata-rata kelas aktivitas bertanya siswa sebesar……….. dengan kategori……., sementara itu hasil belajar siswa pada siklus I belum dikatakan memenuhi tuntutankurikulum. Untuk mengatasi banyaknya kekurangan-kekurangan selama pelaksanaan siklus I guru melakukan perbaikan-perbaikan dalam pembelajaran pada siklus berikutnya dan meningkatkan hal-hal yang dianggap kurang. Untuk itu guru harus lebih mengaktif kan siswa terutama dalam bertanya dan diskusi membuat dan menjaweab soal sesuai dengan refleksi pada siklus I , maka pada siklus II akan dilakukan tindakan yang merupakan penyempurnaan dan perbaikan terhadap kekurangan-kekurangan yang muncul pada siklus I.
Pembelajaran pada siklus II diberikan perbaikan berdasarkan refleksi pada siklus sebelumnya. Adapun perbaikan –perbaikan yang dilakukan pada siklus ini adalah guru menekankan, memberi motivasi dan mengarahkan kepada siswaagar lebih berani bertanya dalam bentuk apapundan dapat menafsirkan, mengamati dan mengkomunikasi pendapatnya tampa rasa malu dan memberikan bimbingan yang lebih intensif kepada masing-masing kelompok yang belum bisa membuat dan menjawab soal dari kelompok lain atau membahas bersama-sama soal yang tidak bisa diselesaikan oleh kelompok lain. Dan yang lebih utama dalam mempresentasikan hasil jawaban soal dari kelompok lain, siswa menyelesaikannya didepan papan tulis supaya bisa terjadi diskusi antara kelompok yang membuat soal dengan kelompok yang mengerjakan soal, sementara itu guru menjadi penengah diantara kelompok-kelompok diskusi siswa.
Pada pelaksanaan siklus II, hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan dari siklus sebelumnya yaitu terdapat nilai rata-rata kelas sebesar …….. dengan ketuntasan belajar …. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar telah tercapai sesuai dengan tuntutan kurikulum. Sedangkan untuk aktivitas bertanya siswa adalah mencapai skor rata-rata ……… berdasarkan criteria penggolongan aktivitas bertanya siswa., maka aktivitas bertanya siswa …………. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor rata-rata aktivitas bertanya siswa walaupun masih tergolong cukup aktif
Adapun skor total masing-masing indicator yang terendah terdapat pada indicator…sedangkan indicator yang mempunyai skor tertinggi adalah indicator……….sebesar ……… dan indicator ………………
Denagn demikian selama pelaksanaan tindakan yang dilakukan selama dua siklus ini terlihat bahwa terjadi peningkatan hasil pemahaman belajar dan aktifitas bertanya siswa selama kegiatan penbelajaran. Adapun kegiatan peningkatan ini dapat dilihat dari kenaikan hasil pemahaman dan aktifitas bertanya siswa tiap siklusnya. Sementara itu untuk pelaksanakan model problem posing dengan cara diskusi kelompok diperoleh bahwa penggelompokkan dengan anggota kelompok 5-6 orang sangat efektif karena dipilih berdasarkan kepandaioan siswa. Hal ini bisa dilihat dengan berkurangnya tingkat kesalahan siswa selama diskusi membuat dan menjawab soal .

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Surabaya : Usaha Nasional.
Damari, Ari. 2005. Mari Belajar Matematika untuk SMA dan MA Kelas XI. SIC : Surabaya.
Darmati, Euis Tati. 2001. Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar Melalui Pendekatan Problem Posing Pada Pembelajaran Matematika. Pelangi Pendidikan Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional Vol 4 No 1.
Depdiknas. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Matematika. Jakarta : Depdiknas.
Noormandiri, B K. Sucipto, Endar. 2000. Matematika SMU Untuk Kelas 2, Jakarta : Erlangga.
Nurkencana, W dan Sunartana, PPN. 1990. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya : Usaha Nasional.
Pola, Geradus. 2001. Upaya Meningkatkan Pengajaran Matematika Yang Menyenagkan. Pelangi Pendidikan Jakarta . Departemen Pendidikan Nasional Vol 4 No 2.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta : Jakarta.
Suarna Dkk. 2006. Pengajaran Mikro Pendekatan Praktis Dalam Menyiapkan Pendidik Profesional. Surabaya : Tiara Wacana.
Suharsini, Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Bumi Aksara.
Siroj, Rusdy A. Junaidi, Iwan. Zuriani, Emmy. Rohmad. Mulyono. 2005. Matematika Untuk Kelas XI Program Ilmu Sosial dan Bahasa. Semarang : PT. Begawan Ilmu.
Usman, U. 2008. Menjadi Guru Professional. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Tim Peneliti Tindakan Matematika, 2002. Meningkatkan Kemampuan Siswa Menerapkan Konsep Matematika Melalui Pemberian Tugas Problem Posing Secara Berkelompok. Pelangi Pendidikan. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional Vol 5 No. 2 : 1-7.


Untuk dapat melihat dan mendownload file skripsi lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Member Special dapat mendownload SELURUH file content yang ada di website ini. Daftarkan diri anda segera. UNLIMITED ACCESS

Google

PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI



Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuannyadi sini

Design by xactive -