METODE TANYA JAWAB DALAM PENGAJARAN KEWARGANEGARAAN PADA SMP NEGERI IO BANDA ACEH

abstraks: 

Persoalan perhatian atau motivasi erat kaitannya dengan minat yang ada pada setiap siswa. Minat biasanya tumbuh apabila ada sikap ingin tahu terhadap sesuatu yang belum diketahui dan ia tumbuh tidak secara tiba-tiba atau spontan, melainkan tumbuh sebagai akibat dari partisipasi, pengalaman, dan kebiasaan-kebiasan pada waktu belajar atau bekerja.
Oleh karena itu masalah minat ini tidak dapat dipisahkan dengan perhatian atau motivasi dalam proses belajar mengajar. Tanpa ada minat perhatian atau motivasi tidak mungkin ada dengan begitu saja.
Dalam proses belajar mengajar, guru dituntut harus lebih banyak menguasai cara-cara membangkitkan suasana belajar keaarah timbulnya minat atau motivasi siswa. Dengan kata lain tugas guru dalam proses belajar mengajar, selain memberikan pengetahuan dan mendidik juga sebagai motivator.
b. Aktifitas
Dalam proses belajar mengajar Geografi dan Kependudukan adanya penekanan pada segala aktifitas siswa baik dalam berfikir maupun dalam bertindak. Dengan penekanan pada prinsip ini siswa dapat berfikir sendiri dan berbuat sendiri, hasilnya pun akan lebih baik dari pada dipaksa terus menerus oleh guru. Dalam kaitan ini Ny. Roestiyah NK. Mengemukakan sebagai berikut :
Penerimaan pelajaran dengan aktifitas sendiri, kesan itu tidak akan berlalu dengan begitu saja tetapi di pikirkan, diolah kemudian dikeluarkan lagi dalam bentuk yang berbeda. Atau anak akan bertanya, mengajukan pendapat, menim,bulkan diskusi dengan guru. Dalam berbuat anak dapat menjalankan perintah, melaksanakan tugas, membuat grafik dan diagram, serta mengambil inti sari dari pelajaran yang disajikan oleh guru. Bila anak menjadi pasrtisipan yang aktif, maka ia memiliki ilmu pengetahuan itu dengan baik, dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Upgrade member special indoskripsi :
username [fajarmirah] dengan skripsi yang berjudul [ METODE TANYA JAWAB DALAM PENGAJARAN KEWARGANEGARAAN PADA SMP NEGERI IO BANDA ACEH] jurusan [pendidikan kewarganegaraan]

BAB TIGA
METODE DISKUSI DALAM PENGAJARAN
GEOGRAFI DAN KEPENDUDUKAN

Dalam bab tiga ini akan diuraikan beberapa masalah yang ada hubungannya Penggunaan metode diskusi dalam pengajaran Geografi dan Kependudukan, diantaranya "Ruang Lingkup dan Materi Pengajaran Geografi dan Kependudukan, materi yang baik diajarkan lewat metode diskusi, prosedur pelaksanaan metode diskusi, dan dampak metode diskusi terhadap belajar siswa.

A. Ruang Lingkup dan Materi Pengajaran Geografi dan Kependudukan
Sebagaimana mata pelajaranl lain, Geografi dan Kependudukan memiliki ruang lingkup dan materi pengajaran tersendiri. Secara garis besar ruang lingkup dan materi pengajaran Geografi dan Kependudukan berisi tentang interaksi manusia dengan lingkungan, dan diajarkan kepada anak didik mulai Sekolah Dasar (SD) hingga SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi. Pengajaran Geografi dan Kependudukan di SD hanya menyangkut soal-soal yang ada di sekitar anak didik dan sanggup di tanggapi pikirannya.
Pengajaran Geografi dan Kependudukan di tingkat sekolah Menengah Tingkat Pertama (SLTP), sudah agak diperjelaskan lagi sebagai salah satu sub bidang studi pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Oleh karena itu Garis-Garis Besar Program Pengajaran dan Kurikulumnya belum dipisahkan. Dalam satu kurikulum dimuat tiga mata pelajaran di dalamnya, yaitu Geografi dan Kependudukan, Ekonomi Koperasi serta Sejarah, dan tiga mata pelajaran ini mata pelajaran IPS dan juga dikenal sebagai ruang lingkup pengajaran IPS, dengan tujuan pengajarannya adalah, " untuk mengembangkan cara berpikir kritis dan kreatif siswa dalam hubungan manusia dan lingkungannya.
Secara umum, ruang lingkup dan materi pengajaran Geografi dan Kependudukan sebagai salah satu sub bidang studi IPS di SLTP berkisar tentang, " Gejala-gejala Sosial yang teramati, yang dapat mengungkapkan masalah-masalah sosial." Sedangkan jumlah matei yang akan dari kelas satu hingga kelas tiga adalah sebanyak lima belas pokok bahasan (untuk lebih jelas lihat lampiran satu).
Di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), runag lingkup dan materi pengajaran Geografi dan Kependudukan lebih luas jangkauannya dibandingkan dengan jangkauan pengajarannya di SLTP. Hal ini sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik, sehingga apa yang telah dituangkan dalam kurikulum GBPP untuk SLTA selalu berbeda dengan apa yang dipelajari di SLTP.
Status mata pelajaran Geografi dan Kependudukan di SLTA adalah sebagai mata pelajaran inti dan diajarkan untuk semua program pilihan yang ada di SLTA. Pengajarannya dimulai pada semester tiga hingga semester enam dengan jumlah pokok bahasan yang akan diajarkan sebanyak tujuh belas pokok bahasan. Tujuan diantaranya akan diajarkan di kelas dua semester III dan IV, dan semua pokok tersebut yang diajarkan di kelas dua dikenal dengan Geografi Regional Indonesia dan Geografi Sosial atau manusia. Sedangkan sepuluh pokok bahasan lagi diajarkan di kelas tiga pada semester V dan VI, dan pokok bahasan ini dikenal dengan Geografi Fisik. (Lihat lampiran dua).
Berdasarkan uraian tersebut di atas, jelas bahwa ruang lingkup materi pengajaran Geografi dan Kependudukan berkisar tentang " pembahasan Geografi Regional Indonesia, dan Geografi Umum yang terdiri dari geografi fisikdan geografi sosial atau geografi manusia.
Dengan berpedoman kurikulum dan GBPP pada umumnya materi yang terdapat didalamnya dapat diajarkan dengan metode diskusi, disamping dapat juga di gunakan berbagai metode yang lain. Sebagai salah satu sub bidang studi IPS maka kebanyakan dari materi nya itu bersunber dalam masyarakat serta hubungannya dengan lingkungan hidup. Oleh sebab itu dalam menampilkan contoh-contoh, hendaknya dapat dipilih yang langsung ada hubungan dengan dan terdapat di sekitar siswa.
Materi pengajaran Geografi dan Kependudukan yang diajarkan di sekolah, baik di SLTP maupun SLTA, adalah sebagaimana tersusun dalam kurikulum dan GBPP 1984. GBPP dan kurikulum tersebut disusun oleh tim penyusun yang telah ditunjuk, untuk menjadi pedoman guru dalam setiap proses belajar mengajar.

B. Materi Yang Baik Didiskusikan
Tidak semua materi atau topic dalam suatu mata pelajara tepat diajarkan dengan satu metode saja dan sebaliknya tidak semua metode interaksi edukatif tepat utuk digunakan dalam mengajar satu materi atau topic mata pelajaran tertentu.untuk menggunakan suatu metode tertentu pula. Ada meteri pengajaran yang memiliki ciri-cirinya cocok diajarkan lewat penggunaan beberapa metode, seperti meteri atau pokok bahasan /sub pokok bahasan "Pengaruh Bentuk Bumi Terhadap Corak Kehidupan Wilayah Tertentu" . Pokok bahasan ini diajarkan untuk siswa SMA kelas dua semester III melalui penggunaan metode diskusi, Tanya jawab, widyawisata dan resitasi(penugasan). Namun ada juga meteri yang hanya diajarkan lewat satu metode saja, akan tetapi pengajaran lewat satu metode bukanlah merupakan satu patokan khusus, sekalipun memiliki cici-cirinya cocok untuk satu metode saja. Karena yang dianggap satu metode adalah metode yang di utamakan, sedangkan metode yang lain digunakan sebagai pelengkap, sebagai contohpengajaran misalnya pengajaran pokok bahasan "Kerjasama Dengan Yang tergabung dalam ASEAN".Dalam pengajaran pokok bahasan ini, metode yang paling diutamakan adalah metode ceramah, akan tetapi disamping itu kita akan menggunakan metode diskusi lewat pertanyaan yang perlu dipecahkan secara bersama dengan siswa.
Dalam proses belajar mengajar Geografi dan Kependudukan metode merupakan salah satu alat, cara atau srategi untuk mewujudkan proses belajar mengajar tersebut. Salah satu metode yang digunakan sebagai alat belajar mengajar adalah diskusi. Metode ini digunakan untuk mentransfer materi yang memiliki cirri-cirinya sesuai dengan sifat-sifatnya yang terdapat pada metode diskusi. Dalam kaitan ini Conny Semiawan menjelaskan sebagai berikut :
Persoalan yang patut didiskusikan hendaknya memiliki ayarat-syarat :
1. Menarik perhatian siswa
2. Sesuai dengan tingkat perkembangan siswa,
3. Memiliki lebih dari satu kemungkinan pemecahan atau jawanan, bukan kebenaran yang tunggal,
4. Pada umumnya tidak mencari mana jawaban yang benar melinkan mengutamakan perbandingan dan pertimbangan.

Dengan demikian jelaslah bahwa, materi-materi yang baik didiskusikan dalam sub bidang studi Geografi dan kependudukan adalah sebagaimana syarat-syarat yang telah dikemukakan diatas. Oleh karena itu setiap guru bidang studi selain harus menguasai materi juga harus menguasai sifat materi yang selaras dengan suatu metode. Bila materi dan sifat-sifatnya telah dikuasai, sudah tentu dapat memudahkanya dalam menentukan metode yang tepat.
Biasanya guru yang kurang menguasai materi seta sifat-sifat materi yang hendak diajarkan, menyebabkan kurang pula ia menguasai sejumlah metode. Sebaliknya semakin banyak seorang guru menguasai materi makai bebas pula ia menggunakan pendekatan (metode/alat).
Dengan memahami bentuk dan sifat-sifat materi Geografi dan Kependudukan dapat memudahkan kegiatan mengajar terutama dalam menetukan metode yang tepat, seperti memahami sifat dan bentuk materi yang cocok diajarkan dengan metode diskusi, tentu lebih baik bila dalam proses belajar mengajar diutamakan penggunaan metode tersebut. Mengutamakan satu metode dapat digunakan akan tetapi ada metode yang lebih cocok digunakannya.
Bila dilihat GBPP Geografi dan Kependudukan yang tersedia, baik yang tersedia untuk SLTP maupun yang tersedia untuk SLTA, maka pada umumnya dapat diajarkan lewat metode diskusi. Karena sebagai salah satu sub bidang studi dalam Ilmu Pengetahuan Sosial(IPS), Geografi dan Kependudukan banyak materinya memiliki ciri-ciri yang selaras dengan metode diskusi. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya materi dalam GBPP, ditapkan metode diskusi sebagai metode yang harus digunakan dalam proses belajar mengajar.
Dari beberapa uraian diatas, dapat di ambil suatu kesimpulan bahwa metode diskusi dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk mencapi tujuan pengajaran Geografi dan Kependudukan.
C. Prosedur Pelaksanaan Metode Diskusi
Dalam pelaksanaan suatu metode belajar mengajar banyak factor yang harus diperhatikan, di antaranya factor murid, tujuan, materi dan alat. Metode yang dipilih hendaknya harus didukung oleh factor-faktor tersebut. Hal ini dapat menentukan efektifitas dan efesiensi hasil ang akan dicapai.
Selain factor murid, tujuan, meteri dan alat, pelaksanaan metode menurut ketentuannya juga dapat menentukan baik buruknya hasil yang dicapai. Prosedur pelaksanaan metode mengajar berupa ketentuan-ketentuan yang bersifat umum seperti mengikuti prinsip pengajara. Begitu juga dalam pelaksanaan metode mengajar harus mengukuti prinsipnyasebagai salah satu presedur, dalam hubunganini Engkoswara mengemukakan pendapat Tb. Bachtiar Rifai sebagai berikut :
Ada 5 prinsip yang menjadi pedoman pelaksanaan metode mengajar :
1. Azas maju berkelanjutan (Continuous Progress) yang artinya memberi kemungkinan kepada siswa untuk mempelajari sesuatu sesuai dengan kemampuannya.
2. Penekanan pada belajar sendiri, artinya anak-anak diberikan kesempatan untuk mempelajari dan mencari sendiri bahan pelajaran lebih banyak lagi dari pada yang diberikan oleh guru.
3. Bekerja secara team, dimana anak-anak dapat mengerjakan suatu pekerjaan yang memungkinkan anak-anak bekerja sama.
4. Multidisipliner, artinya memungkinkan anak-anak untuk mempelajari sesuatu meninjau dari berbagai sudut, misalnya masalah rambut gondrong dapat dilihat dari kesehatan, keindahan atau pandangan orang lain.
5. Fleksibel dalam arti dapat dilakukan menurut keperluan dan keadaan.

Berdasarkan kutipan tersebut, bahwa pelaksanaan metode diskusi dalam proses belajar mengajar sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut. Oleh karena itu prinsip tersebut adalah salah satu ketentuan dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai metode mengajar. Disamping itu ada beberapa hal lagi yang menjadi ketentuan dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai metode belajar.
1. Perumusan Tujuan
Tujuan adalah sesuatu yang akan ditempuh melalui berbagai kegiatan kegiatan manusia. Setiap kegiatan mempunyai tujuan tertentu. Untuk lebih jelas kemana arah tujuan serta apa yang akan dicapai dalam suatu kegiatan, maka tujuan itu harus ditetapkan.
Dalam proses pendidikan dan pengajaran tujuan dapat diartikan, " sebagai suatu usaha untuk memberi rumusan hasil yang diharapkan dan siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajar."
Oleh karena itu untuk melihat tercapai tidaknya suatu tujuan dalam proses pendidikan dan pengajaran dapat dilihat dari hasil yang dicapai dari prose situ. Untuk dapat dilihat hasil itu, maka harus ada rumusan tujuan yang jelas. Karena dengan tujuan yang jelas dapat menimbulkan kemudahan dalam menentukan cara yang ditempuh atau alat, penilaian dan dapat menjadi pedoman praktis bagi guru atau murid atau siswa. Dalam kaitan ini Sadirman AM mengemukakan beberapa dal tentang perlunya rumusan tujuan :
1. Jika suatu pekerjaan atau tugas tidak disertai dengan tujuan yang jelas dan benar, maka akan sulitlah untuk memilih dan merencanakan bahan dan strategi yang hendak ditempuh atau dicapai.
2. Rumusan yang baik dan terinci akan mempermudah pengawasan dan penilaian hasil belajar sesuai dengan dengan harapan yang dikehendaki dari subjek belajar.
3. Perumusan yang benar akan memberikan pedoman bagi siswa/subjek belajar dalam menyelesaikan materi dan kegiatan belajar.

Maka berdasarkan alasan-alasan tersebut, perumusan tujuan dalam proses belajar mengajar perlu mempertimbangkan berbagai komponen yang terlibat dalam proses tersebut. Salah satu komponen yang terlibat dalam proses belajar mengajar adalah metode, yang diantaranya adalah metode diskusi.
Sebelum kita bicarakan masalah perumusan tujuan pengajaran lewat penggunaan metode diskusi, maka terlebih dahulu dapat kita lihat untuk tujuan-tujuan apa metode diskusi digunakan dalam proses belajar mengajar.
Adapun tujuan-tujuan metode diskusi dalam poses belajar mengajar adalah sebagai berikut :
1. Memupuk anak untuk berani mengeluarkan pendapat tentang sesuatu persoalan secara bebas.
2. Supaya anak berpikir sendiri, tidak hanya menerima pelajaran dari guru saja.
3. Memupuk perasaaan toleran, memberi kesempatan dan menghargai pendapat orang lain.
4. Melatih anak-anak untuk menggunakan pengetahuannya yang telah diperolehnya.

Berdasarkakn tujuan-tujuan tersebut diatas, dapat kita simpulkan bahwa penggunaan metode diskusi dalam proses belajar mengajar Geografi dan Kependudukan adalah untuk melatiih siswa dalam mengeluarkan pendapat, berpikir sendiri, kerja sama antar siswa, dan paling penting lagi adalah siswa dapat mengeluarkan pendapatnya berkenaan dengan pengetahuan yang telah menjadi miliknya.
Setelah kita mengetahui tujuan penggunaan metode diskusi dalam proses belajar, maka untuk selanjutnya kita dapat merumuskan tujuan instruksional atau tujuan pengajaran. Dalam setiap perumusan tujuan pengajaran atau tujuan instruksional khusus (TIK) harus selalu ada kaitannya dengan tujuan pendidikan nasional, institusional, kurikulum dan tujuan tujuan instruksional umum (TIU).
Contoh TIK : Setelah proses belajar mengajar berlangsung, siswa diharapkan dapat menyebutkan batas-batas wilayah Negara kesatuan Indonesia.
Dalam rumusan TIK diatas, telah terkandung unsur tujuan pendidikan nasional, yaitu dari kata menyebutkan. "Dapat menyebutkan" adalah ukuran kecerdasan yang dituntut dalam rumusan pendidikan nasional.
Begitu juga unsure-unsur tujuan lain, bila tujuan institusional, maka unsure-unsurnya sebagaimana yang dikehendaki oleh lembaga tersebut. Dalam rumusan tujuan kurikulum ada kata memahami dan dalam rumusan TIU ada kata misalnya mengenal. Kemudian bila dalam rumusan TIK tersebut diatas ada kata menyebutkan, yang diartikan bahagian dari memahami dan mengenal. Karena bila siswa yang diharapkan telah dapat menyebutkan sudah tentu mereka telah memahami dan mengenal sebagaimana yang diharapkan dalam rumusan kurikulum dan TIU.
Sedangkan dalam perumusan tujuan instruksional itu sendiri ada pedoman khusus yang harus dipedomani. Dalam hal ini team Didaktik Metodik, kurikulum IKIP Surabaya, mengemukakan :
Dalam menyusun/merumuskan tujuan Instruksional khusus perlu diperhatikan pedoman/ketentuan atau criteria sebagai berikut:
1. Merumuskan tujuan tersebut pada perubahan tingkah laku murid
2. Memperkhusus tujuan tersebut dalam bentuk yang lebih kongkrit dan terbatas,. Maksudnya dari beberapa pola tingkah laku, hanya salah satu jenis saja yang dipilih supaya mudah diukur dan dinilai dengan dengan item-item test.
3. Memperhatikan kondisi selama tingkah laku itu berlangsung, dan memanfaatkan tujuan tersebut bagi kebutuhan murid secara riil.
4. Menentukan standar minimal yang diharapkan dari tingkah laku tersebut.

Metode diskusi sebagai salah satu alat mengajar disamping berbagai alat yang lain, maka dalam rumusan tujuan-tujuan pengajaran lewat penggunaannya juga harus mengikuti ketentuan-ketentuan tersbut diatas. Merumuskan tujuan pengajaran berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut berarti kita mengikuti prosedur yang benar dalam mengajar.
2. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Diskusi
Salah satu prosedur pelaksanaan metode diskusi adalah melaksanakan langkah-langkah secara sistematis dan benar. Dengan pelaksanaan langkah secara tepat siswa dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik, yang kemudian akan mempengaruhi hasil yang ingin di capai lewat penggunaan metode diskusi.
Sebagai salah satu metode interaksi edukatif, metode diskusi dapat dipergunakan untuk semua jenis mata pelajaran atau bidang studi. Baik dalam pengajaran IPS maupun dalam pengajaran IPA, metode diskusi dapat dipergunakan sebagai salah satu alat pengajaran, dengan suatu ketentuan bahwa setiap materi yang hendak diajarkan dengan metode diskusi sebaiknya materi tersebut memiliki cirinya yang sesuai dengan tuntutan metode.
Ada empat langkah yang perlu ditempuh oleh setiap guru yang menggunakan metode diskusi. Keempat langkah tersebut telah dikemukakan pada bahagian yang lalu. Namun pada bahagian ini penulis kemukakan poin-poinnya saja, yaitu persiapan/perencanaan, pelaksanaan, flow up dan evaluasi.
3. Sarana dan Fasilitas Penunjang
Sarana adalah "segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan, seperti alat dan media". Sedangkan fasilitas adalah " segala sesuatu yang dapat memudahkan perkara".
Dengan demikian, yang dimaksud dengan sarana dan fasilitas penunjang dalam pembahasan ini adalah segala sesuatu yang dapat dipakai untuk menunjang proses belajar mengajar di sekolah, baik melalui penggunaan metode diskusi maupun melalui penggunaan metode yang lain.
Dalam proses belajar mengajar sarana dan fasilitas penunjang dapat diartikan sebagai alat atau media yang digunakan untuk menunjang pengajaran Geografi dan Kependudukan, baik secara kelompok maupun individu. Salah satu pengajaran secara kelompok adalah pengajaran lewat penggunaan metode diskusi. Dalam menggunakan metode ini cukup baik bila digunakan berbagai jenis media atau alat untuk penunjang proses belajar mengajar. Oleh karena itu Dr. Arief S. dkk., mengemukakan sebagai berikut :
Media dapat digunakan decara kelopok, kelompok itu dapat berupa kelompok kecil dengan anggota 2 s/d 8 orang, atau berupa kelompok besar yang beranggotakan 9 s/d 40 orang. Media yang dirangcang untuk digunakan secara kelompok juga butuh buku pentunjuk. …… Keuntungan belajar menggunakan media secara berkelompok ialah bahwa kelompok itu dapat berdiskusi tentang bahan yang sedang dipelajari. Diskusi dapar dilakukan baik sebelum maupun sesudah merekan menggunakan media itu.Media yang digunakan secara kelompok harus memenuhi beberapa prasyarat.
a. Suara yang disajikan oleh media itu harus cukup jelas dan keras, sehingga semua anggota kelompok dapat mendengarnya.
b. Gambar atau tulisan oleh media itu harus cukup besar, sehingga dapat dilihat oleh semua anggota kelompok itu.
c. Perlu ada alat penyaju yang dapat memperkeras suara dan proyektor.

Berdasarkan kutipan tersebut di atas, dapat kita ambil suatu kesimpulan, bahwa media atau alat dapat menunjang proses pengajaran secara berkelompok, baik itu kelompok kecil maupun kelompok besar, seperti satu kelas (ruang maksimal 40 orang siswa ). Media yang digunakan untuk mengajar secara kelompok harus mengukuti ketentuan tersebut di atas, dan merupakan suatu ketentuan khusus.
Dari berbagai jenis media atau alat pengajaran, secara umum dapat dikelompokkan pada tiga bahagian yaitu :
a. Bahan-bahan Cetak atau Bacaan (Suplementari materialt) .
Kelompok media ini meliputi :
- Berupa bahan-bahan bacaan, seperti buku-buku, komik, majalah, bulletin, folder periodical (berkala) pampletan dan lain sebagainya. Bahan ini semua lebih mengutamakan kegiatan membaca atau penggunaan simbol-simbol kata dan visual.
b. Media audio-Visual
Kelompok media audio –visual ini banyak jenisnya, karena terbagi pada dua bahagian yaitu bahagian yang dapat didengar saja (audio) dan dilihat (visual) dan bagian media yang memiliki keduanya, yang disebut "media audio-visual, seperti Televisi di tambah Vidio Casett dan Film bersuara" .
Menurut Ny. Roestiyah NK. , audio visual sebagai media atau alat pendidikan dapat diklarifikasikan dalam 4 jenis sebagai berikut :
1) Alat- alat visual yang dapat dilihat :
Misalnya Film strip, transparances, micro projection, papan tulis, gambar chart, grafik, poster dan lain-lain.
2) Alat-alat auditif yang didengar, mesalnya record radio, rekaman pada tape dan lain-lain.
3) Alat yang dilihat dan didengar, seperti Film, Tv dan lain-lain.
4) Benda-benda tiga dimensi, seperti bak pasir, koleksi diorama, medel, benda asli, contoh-contoh benda tiruan, topeng, boneka, peta dan globe pameran, mesium sekolah dan lain sebagainya.

c Sumber-Sumber Masyarakat

Jenis media atau alat pendidikan ini lebih cocok digunakan untuk proses belajar mengajar lewat metode diskusi dan metode-metode di lar kelas lainnya, seperti metode karya wisata, survey masyarakat, proyek pelayanan masyarakat dan lain-lain.
Kelompok media ini untuk metode diskusi dapat digunakan melalui tahap-tahap atau langkah-langkah pelaksanaanya. Mesalnya, : Sebelum prose belajar mengajar lewat metode diskusi di dalam kelas dimulai, terlebih dahulu siswa ditugaskan untuk mempersiapkan bahan-bahan yang perlu ditampilkan dalam diskusi. Bahan-bahan yang dikumpulkan itu berupa data-data yang diambil dalam masyarakat, misalnya mengenai mata pencaharian, keadan wilayah, jenis kehidupan dan lain sebagainya yang berhubungan dengan topic pembicaraan dalam diskusi. Kemudian data yang terkumpulkan itu, siswa akan membawa dalam kelas untuk berdidkusi, baikdengan guru maupun dengan sesama siswa.
Dari tiga kelompok media pengajaran yang telah disebutkan diatas, ada dua jenis media atau alat yang khusus sangat dibutuhkan untuk proses belajar mengajar Geografi dan Kependudukan. Alat yang dimaksud itu adalah, peta dan globe, yang merupakan bahagian dari benda-benda tiga dimensi. Peta dan globe dapat dipakai dalam mengajar Geografi dan Kependudukan, baik lewat penggunaan metode diskusi maupun lewat berbagai macam metode yang laian.
Peta dan globe adalah alat yang biasanya dipergunakan dalam rangka pengejaran Geografi dan Kependudukan. Oleh karena itu tujuan penggunaan alat-alat tersebut senantiasa disesuaikan dengan tujuan pengajaran Geografi dan Kependudukan ( Ilmu Bumi ).

Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai peta dan globe dalam pengajaran Geografi dan Kependudukan berikut ini dapat dijelaskan satu per satu.
(1) . Peta
Yang dimaksud dengan peta adalah suatu penyajian visual atas permukaan bumi. Bumi yang dimaksud meliputi tanah dan air. Peta adalah gambarab rata permukaan bumu yang lazimnya memberikan berbagai keterangan tentang bumu berupa garis, simbul, data dan warna.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat diambil suatu kesumpulan, bahwa yang dimaksud dengan peta adalah suatu alat atau media yang memberi gambaran tentang bumi yang sangat dubutuhkan dalam pengajaran Geografi dan Kependudukan. Oleh karena itu peta dapat dikatakan sebagai alat atau media khusus dalam proses belajar mengajar Geografi dan Kependudukan.
Bila peta tersibut dipergunakan untuk mengajar dan belajar Geografi dan Kependudukan, siswa akan lebih mudah memahami tentang bumi ini sebagai tempat huni manusia dan tujuan pengajaran ini akan lebih mudah tercapai. Peta merupakan salah satu alat yang mutlak diperlukan khususnya dalam pengajaran Geografi dan Kependudukan.
Dalam pelaksanaan metode diskusi peta dipergunakan sebagai alat penunjang pengajaran. Banyak hal yang perlu dibantu dengan peta, bila siswa belajar Geografi dan Kependudukan lewat metode diskusi, paling tidak siswa dapat menjelaskan hal-hal berkenaan dengan berbagai persoalan, baik yang menyangkut letak suatu daerah, relif maupun masalah kependudukan dimuka bumi ini.
Dalam proses belajar mengajar Geografi dan Kependudukan, peta mempunyai fungsi-fungsinya tersendiri. Menurut Oemar Hamalik tujuan penggunaan peta dalam pengajaran Geografi dan Kependudukan adalah sebagai berikut :
a) Memungkinkan para siswa untuk mengerti posisi dari kesatuan politik, daerah kepulauan dan sungai-sungai.
b) Memberikan keterangan tentang wilayah, jarak arah bentuk luas dan hubungan-hubungan.
c) Melengkapi orientasi pengertian dan pengalaman tentang berbagai daerah yang luas dan yang bergerak.
d) Memberikan bahan diskripsi.
e) Melengkapi suatu dasar visual guna perbandingan dan perkembangan.
f) Memberikan pengertian untuk mempelajari regional.
g) Merangsang minat terhadap penduduk dan pengaruh geografis.
h) Memungkinkan para siswa memperoleh gambaran tentang imigrasi dan distribusi penduduk, tumbuh-tumbuhan, kehidupan hewan dan kebudayaan .

(2) . Globe
" Secara singkat globe disebut sebagai model dari bumi atau suatu bumi tiruan dalam bentuk yang kecil ".
Dalam proses pengajaran Geografi dan Kependudukan, gobe mempunyai fungsi yang tidak berbeda dengan penggunaan peta, yaitu untuk memperlihatkan dan menjelaskan permukaan bumi pada siswa. Menurut Oemar Hamalik fungsi globe adalah sebagai berikut :
…..Dengan demikian globe dapat digunakan dan berfungsi sebagai peta dunia dalam mengajarkan pengertian-pengertian astronomi, mendomonstrasikan bentuk dan gerakan bumi, dan merangsang kelompok siswa untuk belajar dan melakukan berbagai kegiatan belajar.

Sebagai pendudukung metode diskusi, globe memang memiliki suatu kelemahan dibandingkan dengan penggunaan peta. Kelemahan tersebut adalah, dalam proses belajar mengajar globe tidak dapat melayani siswa dalam bentuk kelompok yang lebih besar, akan tetapi globe hanya dapat melayani siswa dalam jumlah satu sampai dengan delapan orang atau dalam bentuk suatu kelompok kecil untuk satu buah globe.
Tujuan penggunaan globe adalah "untuk mempertunjuk permukaan bumi yang susungguhnya, jarak pada suatu titik, menunjukkan skala-skala yang menunjukkan jarak dan route dari pada lingkungan yang luas"
Peta dan globe merupakan media yang diandalkan dalam pengajaran Geografi dan Kependudukan, baik lewat penggunaan metode diskusi maupun metode yang lain. Namun demikian dalam proses belajar mengajar ini kita tidak boleh mengabaikan media yang lain, sepeti buku-buku paket, televise, radio, film, dan lain sebagainya. Dalam kaitan ini Oemar Hamalik menjelaskan sebagai berikut :
Pengajaran geografi tidak cukup dengan hanya mempergunakan peta dan globe saja. Sebaiknya gunakanlah alat-alat lainnya, seperti gambar-gambar slide, buku-buku bacaan, film, bahkan dianjurkan agar pengajaran Geografi dan Kependudukan ini dilengkapi pula dengan kegiatan kehidupan bermasyarakat dengan jalan karya wisata, berkemah dan sebagainya.

Dari beberapa uraian dan kutipan diatas, dapat disimpulkan, bahwa peta dan globe serta beberapa media lainya sangat mendukung proses-proses belajar mengajar Geografi dan Kependudukan lewat penggunaan metode diskusi.
4. Sistem Penilaian dan Tindak Lanjut
Sistem penilaian atau disebut juga evaluasi adalah bahagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiataan belajar mengajar. Baik bruknya atau berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar dapat dilihat melalui hasil evaluasi yang dilaksanakan pada akhir kegiatan belajar mengajar.
Evaluasi adalah suatu usaha penilaian terhadap suatu proses atau kegiatan. Dalam kaitan ini Ny. Roestiyah NK, memberikan beberapa batasan pengertian evaluasi sebagai berikut :
a. Evaluasi adalah suatu proses memahami atau memberi arti mendapatkan dan mengkomunikasikan suatu informasi bagi petunjuk pihak-pihak pengambil keputusan.
b. Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data sualuasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan stabilitas siswa, guna mengtahui sebab akibat dan hasil belajar siswa, yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.
c. Dalam rangka pengembangan sistim instruksional evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk menilai seberapa program telah berjalan seperti yang telah direncanakan.
d. Evaluasi adalah suatu alat untuk menentukan apakah tujuan pendidikan dan apakah proses dalam pengembangan ilmu telah berada di jalan yang diharapkan.

Berdasarkan kutipan tersebut di atas, dapat disimpulkan, bahwa evaluasi adalah suatu sistim penilaian yang bertujuan untuk memperoleh ingormasi yang dibutuhkan dalam pengembangan sisitem pendidikan dan pengajaran atau untuk mendapat umpan balaik bagi kepentungan guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran. Dalam kaitan ini Ny.Roestiyah NK,. Menyebutkan beberapa tujuan pelaksanaan evaluasi atau penilaian, adalah sebagai berikut :
Evaluasi dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut, :
a. Memperoleh hasil yang diperlukan untuk meningkatkan produktifitas, sreta efektifitas belajar siswa.
b. Memperoleh bahan feed back (umpan balik)
c. Memperoleh informasi yang diperlukan untuk memperbaiku, dan menyempunakan kegiatan mengajar guru.
d. Memperoleh informasi yang diperlukan untuk memperbaiki, menyempurnakan serta mengembangkan program.

Oleh karena itu masalah penilaian merupakan salah satu komponen yang tidak dapat diabaikan dalam proses pendidikan dan pengajaran, ia suatu ketentuan yang dapat memberikan dan pengajaran, ia suatu ketentuan yang dapat memberikan gambaran tentang baik buruknya atau berhasil atau tidaknya proses pengajaran yang telah dijalankan. Tentang baik buruk atau berhasil tidaknya itu, dalam pendidikan dan pengajaran dapat dinyatakan melaluai dua system penilaian umum, yaitu baik buruknya hasil yang dinyatakan dengan nilai kualtatif dan baik buruknya hasil dinyatakan dengan nilai kuantitatif. Sehubungan dengan uraian tersebut di atas, T. Raka Joni menjelaskan sebagai berikut :
….Pemolaian bisa digambarkan sebgai suatu proses dimana kita mempertimbangkan suatu barang atau gejala dengan mempergunakan patokan-patokan tertentu, patokan mana mengandung pengertian baik tidak baik, memadai tidak memadai, memenuhi syarat tidak memenuhi syarat dan sebagainya.Dengan perkataan lain, kita mengadakan "value judgement". Pertimbangan yang dimaksud itu bukan saja mencakup pertimbangan-pertimbangan yang berbentuk atau bertolak dari informasi-informasi kuantitatif (misalnya divan yang panjangnya 1,60 m, tidak cuku[ niat saya, karena tinggi saya 1,77 m.),akan tetapi juga meliputi pertimbangan-pertimbangan dengan patokan-patokan non kualitatif (seperti anak itu sopan, anak itu rajin belajar, anak itu cantik dan sebagainya.).

Secara umumkedua system penilaian yang dikemukakan di atas, dapat digunakan sebagai suatu system penilaian terhadap hasil proses belajar mengajar Geografi dan Kependudukan lewat metode diskusi. Namun yang lebih tepat untuk penilaian ini adalah system penilaian "kualitatif", karena tingkah laku yang diharap dari proses nelajar mengajar lewat metode diskusi lebih bersifat kualitatif, seperti melatih siswa untuk salang berkerjasama, mengeluarkan pendapat dan lain yang sulit dinilai dengan nilai angka.
Bertolak dari tujuan dan system penilaian dalam proses belajar mengajar, maka dalam usaha pelaksanaan system penilaian dapat dilakukan melaluai dua system. Adapun system penilaian yang dimaksud, dikemukakan oleh Nana Sujana, adalah system "Criterion Referenced dan Norm Referenced Test", merupakan system penilaian yang dapat digunakan dalam pendidikan dan pengajaran.
a. Norm Referenced Test
"Norm referenced Test adalah system penilaian yang menitik beratkan status individu di dalam kelompok" .
Standar yang dipergunakan dalam sistemini adalah standar kelompok dan individu. Dengan demikian system penilaian norm referenced test dapat dipergunakan sebagai alat penilaian kegiatan belajar mengajar lewat metode diskusi.
Dalam melaksanakan system penilaian corm referenced test terhadap proses belajar mengajar lewat metode diskusi, dapat dilakukan melalui pemberian nilai terhadap kelompok dan individu.
Biasanya suatu proses belajar mengajar lewat metode diskusi, terutama diskusi kelas, terlebih dahulu siswa disiapkan melalui pembentukan kelompok-kelompok kecil dalam suatu kelas. Setiap kelompok beranggotakan lebih kurang empat sampai dengan delapan orang berarti dalam satu kelas maksimal terdiri dari lima kelompak kecil dengan pokok bahasab masing-masing kelompok berbeda-beda.
Dari lima kelompok kecil yang ada dalam satu kelas, mereka tampil satu kelompok-satu kelompok dan saling berusaha untuk menjadi yang terbaik. Dalam kaitan ini guru bersangkutan harus bertindak sebagai penilai untuk menentukan kelompok mana yang pantas mendapat nilai terbaik, nilai sedang dan nilai ternda.
Contoh : Dalam satu kelas maksimu ada siswa sebanyak 40 orang dan dibagi menjadi 5 kelompok kecil, jadi setiap kelompok 8 orang siswa. Kelima kelompok tersebut berdiskusi dengan cara satu-satu kelompok maju kedepan kelas dan membawa pokok bahasan masing-masing kelompok. Dalam kaitan ini guru menjankan tugasnya sebagai penilai dan sampai kepada kelompok terakhir, guru telah memberi skor kepada masing-masing kelompok yang terdiri kelompok A, B, C, D dan kelompok E, adalah sebagai berikut :
Kelompok A. dengan skornya = 90
B. dengan skornya = 60
C. dengan skornya = 80
D. dengan skornya = 70
E. dengan skornya = 65
Kemudian dalam penilaian hasil proses belajar mengajar guru tidak hanya memberi nilai terhadap kelompok saja, tetapi fuga harus dapat menilai secara individu, karena sitiap individu dalam satu kelompok tidak sama kemampuan yang dimilikinya. Nilai individu lebih objektif dibandingkan dengan nilai kelompok.
Untuk mendapatkan nilai indivudu dalam satu kelompok diskusi, ada segi-segi kemampuan yang dapat dinilai ketika diskusi sedang berlangsung, seperti kemampuan berbicara dalam kelompok (keaktifan/kreatif ), kerja sama (toleran ) dan tugas-tugas lai secara individu (bila ada ), contoh cara panilaian individu dalam diskusi :
Sijoni anggota kelompok A, ia mendapat skor untuk masing-masing kemampuan tersebut di atas :
- Kemampuan berbicara dalam kelompok skornya = 80
- Toleran = 85
- Lain-lain = 80

Dengan demikian nilai si Joni dalam kelompok A adalah 80 + 85 + 80 =245 : 3 = 81,67 ditambah dengan nilai kelompok dan dibagi dua sama dengan nilai individu.
( 81,67 + 90 =171,67 : 2 =85,84 ), jadi nilai si Joni secara individu adalah 85,84 dan nilai individu tidak sama dan tergantung dari kemampuannya di dalam kelompok.

Perlu diketahui bahwa untuk menilai proses belajar mengajar melalui metode kelompok, guru tidak perlu menyusun alat test esay dan multipelchos, akan tetapi cukup dengan alat test pengamatan saja. Test pengamatan adalah test yang dilakukan melalui pengamatan seorang penilai.
b. Berbeda dengan norm referenced test, pada Criterion Referenced Test, menggunakan standar umum, seperti sudah atau belumnya siswa mencapai tujuan proses belajar mengajar yang telah ditetapkan, bukan pada prestasi kelompok. Dengan demikian system penilaian ini kurang cocok dengan metode diskusi. Akan tetapi system tersebut lebih cocok untuk menggukur proses belajar mengajar secara umum.
Setiap hasil penilaian proses belajar mengajar hendaknya diberitahukan kepada siswa, baik nilai itu memuaskan atau tidak. Hal ini dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan tindakan terhadap diri sendiri, seperti dapat berusaha untuk mempertahankan prestasi lam yang sudah baik, memperbaiki bila belum memuaskan dan lain sebagainya yang mengarah pada kemajuan diri siswa di dalam kelas. Dalam kaitan ini Arikonto menjelaskan menjelaskan sebagai berikut :
Dengan diadakan penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Hasil yang diperoleh siswa ada dua kemungkinan :
a. memuaskan
Jika siswa memperoleh hasil memuaskan, dan halitu menyenangkan, tentu kepuasan ini ingin diperoleh lagi pada kesempatan lain. Akibatnya siswa akan mempunyai motivasi yang cukup besar untuk belajar lebih giat, agar lain kali lebih memuaskan lagi……
b. Tidak memuaskan
Jika siswa tidak puas dengan hasil yang diperolehnya ia akan berusaha lagi agar lain kali kendala itu jangan terulang lagi, maka ia selalu bekerja giar. Namun demikian keadaan sebaliknya dapat terjadi. Ada beberapa siswa yang lemah kemauannya, akan menjadi putus asa dengan hasil yang kurang memuaskan….
Guru akan mengerahui apakah metode yang digunakan itu sudah tepat atau belum. Jika sebahagian besar siswanya memporoleh nilai jelek…., Mungkin hal ini disebabkan oleh pendekatan metode yang kurang tepat. Apabila hal itu benar, Maka guru harus mawas diri dan mencoba metode lain dalam mengajar.

Berdasarkan kutipan tersebut, maka dalam pemberian bilai kepada siswa, nilai yang diberikan itu hanya dapat menipu siswa dalam proses belajar mengajar.
Melalui penilaian kita dapat mengetahui apakah proses yang sudah dijalankan itu telah berhasil atau belum, dan bila belum maka perlu ada suatu tindakan baik berupa perbaikan siguru dalam mengajar dan siswa selaku objek mengajar.
Bila dalam pelaksanaan metode diskusi, hasil yang diperoleh dari penggunaanya menunjukkan kurang memuaskan, maka dituntut perbaikan-perbaikan, di antaranya melalui mengurangi atau menanggulangi kelemahan-kelemahan yang mungkin timbul dalam penggunaan merode diskusi.
D. Efek Metode Diskusi Terhadap Belajar Siswa
Setiap proses belajar mengajar, baik di dalam kelas mupun di luar kelas, tidak dapatterlepas dari penggunaan berbagai metode, ada yang menggunakannya secara berfariasi dan ada juga yang menggunakannya hanya satu metode saja dalam melaksana proses. Hal itu memang sangat tergantung pada kemampuan guru dalam menguasai metode mengajar. Karena setiap guru harus berasumsi, bahwa tidak ada metode yang susuai untuk semua tujuan pengajaran, oleh karena itu akan lebih baik hasil belajar bila guru dapat menggunakannya secara berfariasi.
Metode apapun yang digunakan dalam proses belajar mengajar, tujuannya adalah untuk merobah tingkah laku siswa ke taraf yang lebih sempurnadari semula. Oleh karena itu metode yang diterapkan oleh guru sangat menentukan berhasil atau tidaknya perubahan yang diharapkan terjadi pada siswa. Dalam kaitan ini Jusuf Djajadisastra mengemukakan sebagai berikut :
Pada pihak guru kita lihat suatu usaha untuk menimbulkan perubahan pada siswa, sedangkan pada siswa sendiri kita lihat suatu keinginan untuk berubah atau merubah diri. Oleh sebab itulah pengetahuan tentang metode-metode mengajar atau metodogi pengajaran sangat diperlukan oleh para pendidik. Berhasil tidaknya siswa dalam belajar sangat bergantung pada tepat atau tidakanya siswa dalam belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakanoleh guru.

Berdasarkan kutipan tersebut di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa menggunakan berbagai metode dalam proses belajar mengajar, adalah untuk merubah atau membuat siswa agar siswa lebih cepat berhasil.
Sebagai salah satu metode mengajar, metode diskusi dapat merubah tingkah lakusiswa sesuai dengan sifat-sifat yang terkandung di dalamnya, dalam kaitan ini Ny. Roestiyah NK., menegaskan sebagai berikut :
Mengajar dengan metode diskusi berarti :
1. Dapat mempertinggi prestasi siswa secara individi.
2. Dapat mempertinggi kegiatan kelas sebagai keseluruhan dan kesatuan.
3. Dapat mengembangkan rasa sosial mereka, karena dapat saling membantu dalam memecahkan soal, mendorong rasa kesatuan.
4. Memberi kemungkinan untuk saling mengemukakan pendapat.
5. Menanam rasa demokratis.
6. Memperluas pandangan.
7. menghayati kepemimpinan bersama- sama.
8. membentuk mengembangkan kepemimpinan.

selain beberapa perubahan yang akan terjadi pada setiap siswa yang belajar lewat metode diskusi, seperti tersebut diatas. Di samping itu Fred Percival menegaskan, " Metode diskusi juga dapat menumbuhkan sikap percaya diri bagi setiap anggota diskusi "
oleh karena itu metode wajar sekali digunakan sebagai salah satu metode mengajar Geografi dan Kependudukan.
Selain memeliki sifat-sifat positif, metode diskusi juga memiliki sifat negative yang harus diwaspadai kemungkinan terjadinya. Sifat negatif yang dimaksud adalah, seperti pemborosan waktu. Dalam hubungan ini Jusuf Djajadisastra menegaskan, "Diskusi yang mendalam memakan waktu yang banyak. Orang tidak boleh merasa dikejar-kejar wakatu selama ia berdiskusi. Perasaan dibatasi waktu hanya menimbulkan kedangkalan diskusi yang hasilnya tidak bermanfaat."
Siswa yang pendiam dan pemalau serta yang pikirannya agak kurang, tidak dapat belajar seiring dengan siswa yang lain yang agak pandai, dengan kata lain siswa yang bodoh akan terus tertingal. Dalam kaitan ini Jusuf Djajadisastra menegaskan, " pembicaraan dalam diskusi mungkin adan didominasi oleh siswa-siswa yang berani dan biasa berbicara. Siswa yang pemalu dan yang biasa pendiam tidak akan menggunakan kesimpatan untuk kesempatan untuk berbicara"
Selain dapat menyebabkan pemborosan waktu dan tidak seiring sejalan antara siswa yang cerdas dengan siswa yang bodoh, metode diskusi juga dapat menilkan rasa permusuhan atau sukuisme dan hal semacam ini dapat menyebabkan suasana menjadi kacau. Dalam kaitan ini Jusuf Djajadisastra menegaskan sebagai berikut :
Rasa permusuhan "kelompokisme", merasa bahwa dirinya atau kelompaknya lebih pandai dan serba tahu, mengangap kelompok lain rendah, remeh, atau lebih bodoh, mengkin saja tumbuh dalam metode diskusi. Faktor-faktor semacam ini dapat menimbukan perpecahan kelas dan suasana kelas yang tidak sehat.

Dari beberapa uraian tersebut di atas, dapat dita ambil suatu kesimpulan, bahwa metode diskusi dalam proses belajar mengajar dapat menyebabkan perubahan yang bersifat positif dan negative. Oleh karena itu dalam pelaksanaanya guru harus lebih menguasai metode tersibut, sehingga proses belajar mengajar akan lebih efektif dan efesien.

.

5.

6.


Untuk dapat melihat dan mendownload file skripsi lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Member Special dapat mendownload SELURUH file content yang ada di website ini. Daftarkan diri anda segera. UNLIMITED ACCESS

Google

PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI



Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuannyadi sini

Design by xactive -