ABSTRAK
Tisnoherawati Nanik. 2004. Pengaruh Penggunaan Peralatan KIT IPA dalam
Pembelajaran IPA terhadap Prestasi belajar IPA Siswa Kelas VI
Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Purworejo Kota Pasuruan.
Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, (II) Drs.
H. Sugeng Pradikto, M.Pd
Kata Kunci: Peralatan Kit IPA, Prestasi Belajar, Pasuruan
Lingkungan kelas sebaiknya senantiasa menyenangkan bagi siswa untuk
belajar dan berpartisipasi dalam proses-proses intelektual dan sosial di dalamnya.
Penggunaan kit IPA yang baik merupakan salah satu prasarana bagi terjadinya
interaksi belajar mengajar yang baik dalam rangka meningkatkan kualitas proses
dan hasil belajar.
Berdasarkan hal di atas, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan:
1. Mengetahui apakah ada perbedaan signifikan pada prestasi belajar IPA
siswa SD yang diajar dengan Kit IPA dengan prestasi belajar IPA siswa
SD yang diajar tanpa Kit IPA;
2. Mengetahui apakah ada perbedaan signifikan pada prestasi belajar IPA
siswa SD dengan motivasi belajar tinggi yang diajar dengan Kit IPA
dengan prestasi belajar IPA siswa SD yang diajar tanpa Kit IPA;
3. Mengetahui apakah ada perbedaan signifikan pada prestasi belajar IPA
siswa SD dengan motivasi belajar rendah yang diajar dengan Kit IPA
dengan prestasi belajar IPA siswa SD yang diajar tanpa Kit IPA.
Penelitian menggunakan jenis penelitian experimental, dengan teknik acak
sederhana. Subyek penelitian adalah siswa sekolah dasar negeri kelas VI di
Kecamatan Purworejo Pasuruan. Sampel adalah siswa kelas VI SD Tembokrejo
1 dan 2. Variabel bebas yang digunakan adalah pembelajaran IPA dengan KIT
dan pembelajaran tanpa KIT IPA. Variabel dependen adalah prestasi belajar IPA.
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Peningkatan mutu pendidikan dirasakan sebagai suatu kebutuhan
bangsa yang ingin maju. Dengan keyakinan, bahwa pendidikan yang bermutu
dapat menunjang pembangunan di segala bidang. Oleh karena itu, pendidikan
perlu mendapat perhatian yang besar agar kita dapat mengejar ketinggalan di
bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang mutlak kita perlukan untuk
mempererat pembangunan dewasa ini. Karena itu pendidikan yang bermutu
perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Guru memegang peranan strategis terutama dalam upaya membentuk
watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang
diinginkan. Dari dimensi tersebut, peranan guru sulit digantikan oleh yang
lain. Dipandang dari dimensi tetap dominan sekalipun teknologi yang dapat
dimanfaatkan dalam proses pembelajaran berkembang amat cepat. Hal ini
disebabkan karena ada dimensi-dimensi proses pendidikan, atau lebih khusus
lagi proses pembelajaran, yang diperankan oleh guru yang tidak dapat
digantikan oleh teknologi.
Sejauh ini dalam masyarakat kita yang multikultural dan
multidimensional, peranan teknologi untuk menggantikan tugas-tugas guru
masih kecil. Mungkin pada 10 – 15 tahun yang akan datang, peranan teknologi
dalam proses pembelajaran akan bertambah besar . Meskipun demikian, fungsi
1
2
guru tidak akan bisa seluruhnya dihilangkan sebagai pendidik dan pengajar
bagi peserta didiknya.
Guru berada di Sekolah, Guru berada di Masyarakat
Sejak dahulu hingga sekarang, guru dalam masyarakat Indonesia
terutama di daerah-daerah pedesaan amat penting sekalipun status sosial guru
di tengah masyarakat sudah berubah. Guru dengan segala keterbatasannya
terutama dari segi status sosial ekonomi tetap dianggap sebagai pelopor di
tengah masyarakatnya.
Dengan kenyataan tersebut, maka konsep guru yang tugasnya hanya
mengelola proses belajar mengajar di kelas tidak diperlukan lagi sekarang.
Guru bukan hanya mendidik para siswa di sekolah, melainkan juga guru bagi
masyarakat mereka memainkan peranan kunci dalam berbagai kegiatan
kemasyarakatan, misalnya menjadi ketua RT, ketua RW, ketua LKMD, panitia
kegiatan, ketua tim ini, dan banyak lagi yang lain.
Contoh yang paling menonjol adalah dalam kegiatan Pemilu. Panitia
pemungutan suara di pedesaan juga di perkotaan banyak diisi oleh para guru
yang memang tersebar di semua pelosok tanah air hingga ke desa-desa
terpencil.
Tugas dan kepercayaan tersebut timbul karena di pedesaan guru
dianggap sebagai kelompok terpelajar dan ditokohkan oleh masyarakat.
Mereka juga senantiasa bersikap kooperatif dan akomodatif terhadap
kebijakan pemerintah serta aspirasi yang tumbuh dalam masyarakatnya.
3
Sulit dibayangkan apa yang akan terjadi bila, misalnya semua guru di
tanah air yang jumlahnya mendekati dua juta itu tiba-tiba secara serempak
menyatakan tidak mau terlibat dalam semua kegiatan dan peran-peran
kemasyarakatan yang dimainkannya selama ini. Berapa pula nilai kerugian
ekonomi dan ketidak pastian sosial yang timbul dan mesti ditanggung oleh
pemerintah dan masyarakat ? Bila sudah sampai ke titik ini, sulit untuk
menghitung nilai dari jasa dan pengorbanan para guru.
Sayangnya, hal-hal seperti ini masih kurang diangkat dalam berbagai
pembicaraan tentang guru. Tidak diragukan lagi, semua itu membuktikan
bahwa dalam setiap kegiatan kemasyarakatan, guru selalu memegang peranan
di tengah karena prakarsa-prakarsa kepeloporannya. Yang unik, prakarsa dan
peranan kunci para guru tersebut justru muncul dalam kondisi keterbatasan
status sosial ekonominya.
Guru Zaman Dahulu, Guru Zaman Sekarang
Bila dibandingkan dengan keadaan pada sekitar 40 – 50 tahun lalu,
peranan guru di zaman sekarang sudah amat berbeda. Kalau dulu guru
dianggap sebagai orang yang banyak tahu dan untuk itu masyarakat datang
kepada guru, sekarang guru melebur diri dalam masyarakat, dan mengambil
prakarsa secara proaktif dalam berbagai kegiatan ke masyarakatan. Guru tidak
lagi duduk di singgasana yang terhormat dan menikmati status kultural guru
yang memang saat itu amat tinggi.
Kebetulan pula di masa lalu jumlah guru masih langka dan umumnya
berasal dari keluarga status sosial ekonomi yang relatif baik. Sekarang, guru
4
berasal dari semua strata sosial ekonomi dengan latar belakang yang lebih
beragam : mulai anak petani, pekerja, pedagang, pegawai negeri sipil, prajurit
ABRI, direktur, hingga anak profesor dan jendral.
Sebagaimana kita ketahui, pembangunan pendidikan nasional kita
secara besar-besaran dimulai pada tahun 1970-an memberikan penekanan
pada pemer ataan dan perluasan kesempatan kepada anak untuk memperoleh
pendidikan, disamping pada mutu dan relevansi. Konsekuensinya, jumlah guru
harus ditambah sehingga jumlahnya membengkak, terutama guru-guru SD
yang menuntut statistik resmi mencapai 1,3 juta orang. Terlebih lagi setelah
dibangunnya SD-SD Inpres mulai tahun 1971 yang menghasilkan terjadinya
ledakan daya tampung SD, ratusan ribu guru baru SD diangkat.
Rekruitment calon gurupun menjadi semakin terbuka, lebih egaliter,
yang berlaku bagi semua pemuda dan pemudi dari berbagai latar belakang dan
lapisan sosial. Perubahan peran guru tersebut sungguh amat positif dan juga
semestinya dipahami serta diapresiasikan secara positif pula dalam konteks
upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Guru berada di Desa, Guru berada di Kota
Disadari atau tidak, dalam proses pembangunan masyarakat terutama
di daerah pedesaan tempat sebagian kepeloporan melalui berbagai institusi
kemasyarakatan yang ada. Betapa kepercayaan masyarakat dan pemerintah di
tingkat lokal amat tinggi terhadap guru terbukti pula dari dijadikannya guru
sebagai mitra (Counterpart) dalam berbagai kegiatan di pedesaan dan
kecamatan.
5
Dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata, orang yang dipercaya untuk
menjadi mitra kerja para mahasiswa umumnya para guru SD, SLTP atau
SLTA. Begitu juga dalam kegiatan di tingkat desa maupun di tingkat
kecamatan, kepala desa dan camat biasanya memilih guru sebagai mitranya.
Di perkotaan, peranan guru agak berbeda sesuai dengan struktur
masyarakat kota. Guru cenderung lebih banyak menghabiskan waktunya di
sekolah. Kalau pun ada kegiatan kemasyarakatan di tempat tinggalnya atau di
tempat sekolahnya, itu bersifat insidental. Bila ada kesempatan di luar tugas
pokok di sekolahnya, guru-guru diperkotaan lebih banyak menghabiskan
waktunya untuk mencari nafkah tambahan. Mereka sibuk mengajar di
beberapa sekolah dan kursus-kursus demi menambah penghasilan.
Berbeda dengan rekan-rekannya di perkotaan, tidak banyak
kesempatan bagi para guru di pedesaan untuk mencari nafkah tambahan
d.engan memanfaatkan keahlian dan pekerjaannya sebagai guru. Umumnya
mereka mencari nafkah tambahan dari bertani, berkebun, beternak ikan, atau
berdagang kecil-kecilan.
Secara hukum, upaya para guru tersebut dibenarkan sebagaimana
dinyatakan dalam pasal 35 Peraturan Pemerintah No. 38/1992 tentang Tenaga
Kependidikan yang berbunyi, ” Tenaga Kependidikan dapat bekerja di luar
tugas pokoknya untuk memperoleh penghasilan tambahan sepanjang tidak
mengganggu penyelenggaraan tugas pokok.” (Dedi Supriadi, Mohammad
Fakry Gaffar Mengangkat Citra dan Martabat Guru).
6
Peningkatan kualitas Pendidikan Dasar berdasarkan petunjuk dari
Depdikbud (1996), khususnya pada sekolah dasar harus dilaksanakan secara
terpadu, sistematis, bertahap dan berkesinambungan. Hal ini dilaksanakan
terhadap :
1. Kesiswaan, terutama yang menyangkut aspek terjadinya drop out dan
mengulang kelas, pembinaan pertumbuhan fisik siswa dan pembinaan
mutu proses dan hasil belajarnya.
2. Ketenagaan, baik guru maupun non guru.
3. Kurikulum serta sarana dan prasarana.
4. Penyediaan dana dan pengelolaannya.
5. Organisasi dan manajemen sekolah.
6. Proses belajar mengajar.
7. Kerjasama sekolah dan masyarakat melalui Komite Sekolah.
Penggunaan peralatan KIT IPA sangat berpengaruh dalam
pembelajaran IPA terhadap prestasi belajar siswa sekolah dasar negeri. Alat
peraga sangat berguna untuk anak didik. alat peraga sangat membantu guru
dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Di dalam
melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang dipergunakan sebagai pedoman
oleh guru yang mengambil bagian dalam Science Education Quality
Improvement Project ( SEQIP ), memberi petunjuk bagaimana melaksanakan
kegiatan pengajaran IPA yang berpusat pada aktivitas siswa, yang sesuai
dengan kurikulum Pendidikan Dasar 1994, dengan menggunakan sistem
7
peralatan SEQIP. Juga menjadi sumber acuan yang bermanfaat untuk
meningkatkan mutu pengajaran dan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar.
Tujuan Pendidikan Nasional : " Pendidikan Nasional yang berakar
pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa,
mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan betaqwa
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri sehingga mampu
membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya serta dapat memenuhi
kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan
bangsa." ( Berdasar pada TAP MPR No. II / MPR / 1993 - GBHN ).
Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dasar terdapat
banyak faktor penentu keberhasilannya. akan tetapi yang dipandang sebagai
kunci utamanya adalah penggunaan KIT IPA, sedangkan efektivitas dan
efisiensi pengelolaan sekolah dasar tersebut sangat ditentukan oleh
kepemimpinan Kepala Sekolah.
Tujuan pembelajaran IPA di sekolah dasar, antara lain : pertama, agar
siswa memiliki konsep- konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan
sehari-hari; kedua, agar siswa memiliki ketrampilan proses untuk
mengembangkan pengetahuan, gagasan tentang alam sekitarnya; ketiga, agar
siswa mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untuk
memecahkan suatu masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan
keempat, agar siswa mengenal dan dapat memupuk rasa cinta terhadap alam
8
sekitar, sehingga menyadari kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
( Hadiat, dkk, Depdikbud, 1995; i x ).
Selain itu para siswa kelas VI Sekolah Dasar di dalam pembelajaran
IPA diantaranya kegiatan sebagai berikut :
1. Mempelajari berbagai peristiwa alam, terutama yang berkaitan dengan
kegiatan sehari-hari.
2. Belajar menafsirkan suatu kejadian berdasarkan kaidah-kaidah IPA yang
telah dipelajarinya.
3. Berlatih menerapkan konsep- konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari.
4. Mengamati berbagai macam benda atau peristiwa alam.
5. Melakukan berbagai macam percobaan IPA.
6. Belajar dan berlatih mengkomunikasikan hasil pengamatan kepada orang
lain.
Juga membantu siswa mempermudah belajar IPA dan memberi
motivasi siswa aktif belajar.
B. RUMUSAN MASALAH
Sesuai dengan kemampuan penulis dalam tesis ini, agar sekolah dasar
dapat memanfaatkan peralatan-per alatan KI T IPA pada pelaksanaan
pembelajaran di sekolah gurupun dapat menjelaskan bidang studi IPA dengan
mudah dengan adanya peralatan-peralatan tersebut. Setelah kegiatan
berlangsung keaktifan anak dan prestasi belajar siswa berpengaruh..
9
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut :
1. Apakah ada perbedaan signifikan pada prestasi belajar IPA siswa SD yang
diajar dengan Kit IPA dengan prestasi belajar IPA siswa SD yang diajar
tanpa Kit IPA?
2. Apakah ada perbedaan signifikan pada prestasi belajar IPA siswa SD
dengan motivasi belajar tinggi yang diajar dengan Kit IPA dengan prestasi
belajar IPA siswa SD yang diajar tanpa Kit IPA?
3. Apakah ada perbedaan signifikan pada prestasi belajar IPA siswa SD
dengan motivasi belajar rendah yang diajar dengan Kit IPA dengan
prestasi belajar IPA siswa SD yang diajar tanpa Kit IPA?
C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan :
1. Mengetahui apakah ada perbedaan signifikan pada prestasi belajar IPA
siswa SD yang diajar dengan Kit IPA dengan prestasi belajar IPA siswa
SD yang diajar tanpa Kit IPA;
2. Mengetahui apakah ada perbedaan signifikan pada prestasi belajar IPA
siswa SD dengan motivasi belajar tinggi yang diajar dengan Kit IPA
dengan prestasi belajar IPA siswa SD yang diajar tanpa Kit IPA;
10
3. Mengetahui apakah ada perbedaan signifikan pada prestasi belajar IPA
siswa SD dengan motivasi belajar rendah yang diajar dengan Kit IPA
dengan prestasi belajar IPA siswa SD yang diajar tanpa Kit IPA.
D. HIPOTESIS
Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, disusun hipotesis
sebagai berikut:
1. Ada perbedaan signifikan pada prestasi belajar IPA siswa SD yang diajar
dengan Kit IPA dengan prestasi belajar IPA siswa SD yang diajar tanpa
Kit IPA;
2. Ada perbedaan signifikan pada prestasi belajar IPA siswa SD dengan
motivasi belajar tinggi yang diajar dengan Kit IPA dengan prestasi belajar
IPA siswa SD yang diajar tanpa Kit IPA;
3. Ada perbedaan signifikan pada prestasi belajar IPA siswa SD dengan
motivasi belajar rendah yang diajar dengan Kit IPA dengan prestasi
belajar IPA siswa SD yang diajar tanpa Kit IPA.
E. KEGUNAAN PENELITIAN
Secara teoritik temuan penelitian ini dapat digunakan untuk
mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang disebabkan oleh perbedaan
penggunaan KIT IPA siswa kelas VI bagi yang menggunakan KIT IPA dalam
pembelajar an dan yang tidak menggunakan KIT IPA dalam pembelajaran
yang ditetapkan berdasarkan jumlah nilai semester I secara khusus.
11
1. Siswa, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan upaya
peningkatan hasil belajar siswa, sehingga dapat mengubah perolehan
peringkat prestasi belajar yang lebih baik.
2. Guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan balikan untuk
mengadakan koreksi diri, sekaligus usaha untuk memperbaiki kualitas diri
sebagai seorang guru yang profesional dalam upaya meningkatkan mutu
hasil dan proses belajar siswa, dengan penggunaan KIT IPA siswa kelas
VI dalam pembelajarannya memiliki nilai rendah secara otomatis akan
mendapat perhatian dan pelayanan yang lebih, sehingga secara tidak
langsung akan memotivasi siswa untuk maju.
3. Kepala Sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan
masukan dalam mempertimbangkan pengambilan keputusan untuk
mengadakan pembinaan dan peningkatan kemampuan guru sekaligus
sebagai bahan masukan bagi Kepala Sekolah

