Efi, Perbandingan Hasil belajar Biologi Siswa dengan Pendekatan
Cooperative Learning Teknik Jigsaw dengan Teknik STAD (Sebuah Eksperimen di
MTs Al-Marwah Teluknaga Tangerang). Jurusan Pendidikan IPA program Studi
Pendidikan Biologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil belajar antara
siswa yang diajarkan dengan pendekaan pembelajaran kooperatif (Cooperative
Learning) teknik jigsaw dan STAD. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Al-Marwah.
Pengambilan sampel penelitian berjumlah 66 orang dari MTs Al-Marwah pada kelas
VIII-C dan kelas VIII-E sebagai subjeknya. Pengambilan data hasil belajar dengan
menggunakan instrumen tes hasil belajar (20 item) serta lembar observasi dan angket
tanggapan siswa terhadap penerapan kedua teknik pembelajaran tersebut. Analisis
data menggunakan uji-t dan diperoleh nilai thitung sebesar 2,09 pada taraf signifikan ·
0,05 dan diperoleh ttabel sebesar 2,00, maka thitung > ttabel, sehingga dapat disimpulkan
terdapat perbedaan antara hasil belajar biologi siswa yang diajar dengan pendekatan
pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw dan teknik STAD, dengan nilai rata-rata
(mean) gain kelas VIII-E yang diajarkan dengan pendekatan pembelajaran kooperatif
teknik jigsaw yaitu 3,14 dan nilai rata-rata (mean) gain kelas VIII-C yang diajarkan
dengan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik STAD yaitu 2,68 maka dapat
dikatakan bahwa hasil belajar kelas yang diajarkan dengan pendekatan pembelajaran
kooperatif teknik jigsaw lebih baik dibandingkan dengan kelas yang diajarkan dengan
pendekatan pembelajaran kooperatif teknik STAD.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan aktivitas manusia yang penting dan tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan manusia, bahkan sejak mereka lahir sampai akhir hayat. Pernyataan
tersebut menjadi ungkapan bahwa manusia tidak dapat lepas dari proses belajar itu
sendiri sampai kapanpun dan dimanapun manusia itu berada dan belajar juga menjadi
kebutuhan yang terus meningkat sesuai dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan.
Perkembangan ilmu pengetahuan alam (IPA) telah melaju dengan pesatnya
karena selalu berkaitan erat dengan perkembangan teknologi yang memberikan
wahana yang memungkinkan perkembangan tersebut. Perkembangan yang pesat telah
menggugah para pendidik untuk dapat merancang dan melaksanakan pendidikan yang
lebih terarah pada penguasaan konsep IPA, yang dapat menunjang kegiatan sehari-
hari dalam masyarakat.
Oleh karena itu, untuk dapat menyesuaikan perkembangan tersebut menuntut
kreatifitas dan kualitas sumberdaya manusia harus ditingkatkan yang dapat dilakukan
melaui jalur pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas peserta didik melalui
pengajaran IPA, guru diharapkan tidak hanya memahami disiplin ilmu IPA, tetapi
hendaknya juga memahami hakikat proses pembelajaran IPA yang mencakup tiga
ranah kemampuan, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Oleh karena itu,
pengalaman belajar IPA harus memberikan pertumbuhan dan perkembangan siswa
pada setiap aspek kemampuan tersebut.
2
Perkembangan IPA tidak hanya ditunjukkan oleh kumpulan fakta saja (produk
ilmiah) tetapi juga oleh timbulnya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Jadi metode
ilmiah itu merupakan bagian dari IPA termasuk salah satunya IPA-Biologi. Selama
proses belajar mengajar sejalan dengan hakikat IPA maka pemahaman siswa terhadap
IPA menjadi lebih bermakna.
Namun kenyataan sehari-harinya, dalam suatu kelas ketika sesi Kegiatan
Belajar-Mengajar (KBM) berlangsung, nampak beberapa atau sebagian besar siswa
belum belajar sewaktu guru mengajar. Jika masalah ini dibiarkan berlanjut, generasi
penerus bangsa akan sulit bersaing dengan generasi bangsa-bangsa lain. Di era
pembangunan yang berbasis ekonomi dan globalisasi diperlukan pengetahuan dan
keanekaragaman keterampilan agar siswa mampu memberdayakan dirinya untuk
menemukan, menafsirkan, menilai dan menggunakan informasi serta melahirkan
gagasan kreatif. KBM adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang
memadukan secara sistematis dan berkesinambungan kegiatan pendidikan di dalam
sekolah dengan kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar sekolah dalam wujud
penyediaan beragam pengalaman belajar untuk semua peserta didik. KBM dirancang
mengikuti prinsip-prinsip belajar mengajar. Belajar mengajar merupakan kegiatan
aktif siswa dalam membangun makna atau pengalaman.1
Dalam konteks KBK, mengajar tidak diartikan sebagai proses penyampaian
ilmu pengetahuan kepada siswa, yang menempatkan siswa sebagai objek belajar dan
guru sebagai subjek, akan tetapi mengajar harus dipandang sebagai proses pengaturan
lingkungan agar siswa belajar. Yang dimaksud belajar itu sendiri bukan hanya
1 Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kegiata n Belajar Mengajar yang
efektif, ( Jakarta: Depdiknas, 2003), h. 5-7
3
sekedar menumpuk pengetahuan akan tetapi merupakan proses perubahan tingkah
laku melalui pengalaman belajar sehingga diharapkan terjadi pengembangan berbagai
aspek yang terdapat dalam individu, seperti aspek minat, bakat, kemampuan, potensi
dan lain sebagainya.2
Dalam KBK, kurikulum IPA menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk
memahami konsep dan proses pengetahuan alam dan menekankan agar peserta didik
menjadi pelajar aktif dan luwes. Hal ini berarti bahwa proses belajar mengajar IPA di
SLTP tidak hanya berlandaskan pada teori pembelajaran perilaku, tetapi lebih
menekankan pada prinsip-prinsip belajar dari teori kognitif.
Oleh karena tugas guru di kelas tidak sekedar menyampaikan informasi demi
pencapaian tujuan pembelajaran, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar siswa,
guru harus berupaya agar kegiatan di kelas dapat memberikan kesempatan yang
seluas-luasnya bagi pengalaman siswa. Guru harus mampu menemukan metode dan
teknik yang dapat mendukung peranannya tersebut, sehingga kegiatan belajar
mengajar dapat diselenggarakan dengan efektif. Namun kenyataan di lapangan proses
belajar mengajar masih didominasi metode konvensional.
Biologi merupakan salah satu pelajaran IPA yang berkaitan dengan cara
mencari tahu dan memahami alam semesta secara sistematis, sehingga biologi bukan
hanya merupakan penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,
konsep-konsep, prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses menemukan.
Pendidikan biologi diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari
dirinya sendiri dan alam disekitarnya, yang di dalamnya terdapat berbagai pokok
2 Wina Sanjaya. Pembelajaran Dalam Imp lementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,
(Jakarta: Kencana, 2005), h. 29
4
bahasan yang memiliki kekhususan karakter masing-masing serta konsep-konsep
yang harus dipahami.
Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan proses
keterampilan proses IPA, para guru sebaiknya membuat rencana pembelajaran untuk
satu semester. Dalam perencanaan ini ditentukan semua konsep-konsep yang
dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang
akan digunakan serta keterampilan proses IPA yang akan dikembangkan. Gagne,
menyebutkan bahwa dengan mengembangkan keterampilan IPA anak akan dibuat
kreatif, ia akan mampu mempelajari IPA di tingkat yang lebih tinggi dalam waktu
yang lebih singkat.3
Sesuai dengan faham konstruktivisme, pengetahuan itu dibangun sendiri
dalam pikiran siswa, pengetahuan tersebut dapat diperoleh dari pengalaman fisik dan
juga dari orang lain melalui transmisi sosial. Hal ini sesuai dengan pendapat Lorbach
dan Tobin yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja
dari otak seorang guru kepada siswa, siswa sendiri yang harus memaknai apa yang
telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pemahamannya, dan salah satu
penerapan konstruktivisme dalam pembelajar an di sekolah adalah pembelajaran
kooperatif (Cooperative Learning).
Kegiatan pembelajaran seperti Cooperative Learning turut menambah unsur-
unsur interaksi sosial pada pembelajaran IPA. Menurut Slavin, pembelajaran
kooperatif merupakan sekelompok kecil siswa yang bekerja sama untuk belajar dan
3 Predy Karuru, Penerapan Pendekatan keterampilan proses dalam Setting pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPA Siswa SLTP,
http://depdik nas.go.id/Jurnal/2003/45/predy_Karuru.htm.(3 Januari 2006)
5
bertanggung jawab pada kelompoknya.4 Menurut Killen, Cooperative Learning
merupakan suatu teknik instruksional dan filosofi pembelajaran yang berusaha
meningkatkan kemampuan siswa untuk bekerjasama dalam kelompok kecil, guna
memaksimalkan kemampuan belajarnya, dan belajar dari temannya serta memimpin
dirinya.5 Di dalam pembelajaran kooperatif, siswa belajar bersama dalam kelompok-
kelompok kecil dan saling membantu satu sama lain. Hal ini bermanfaat untuk
melatih siswa menerima pendapat orang lain dan berkerja dengan teman yang
berbeda latar belakangnya, membantu memudahkan menerima materi pelajar an,
meningkatkan kemampuan berfikir dalam memecahkan masalah. Karena dengan
adanya komunikasi antara anggota-anggota kelompok dalam menyampaikan
pengetahuan serta pengalamannya sehingga dapat menambahkan pengetahuan dan
meningkatkan hasil belajar serta hubungan sosial setiap anggota kelompok.
Kegiatan-kegiatan di dalam pembelajaran biologi merupakan upaya untuk
bagaimana siswa dapat memahami konsep-konsep. Pemahaman yang diperoleh siswa
dalam proses pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang diukur dengan
memberikan tes kepada siswa sehingga perlu diadakan penelitian untuk mencari
metode yang efektif dalam proses belajar di kelas sehingga dapat memberikan
alternatif pendekatan atau metode yang memungkinkan untuk diterapkan dalam
proses pembelajaran biologi dengan kekhususan pokok bahasan pada pelajaran
biologi.
4 Hernani, dkk, Pembelajaran Kooperatif Sebagai Salah Satu Alternatif Untu k Meningkatkan
Ketera mpilan Berpikir Siswa. Seminar Nasional Pendidikan Matematika dan IPA.
5 Yurni Suasti, Upaya Peningkatan Kreativitas Siswa SMU Pembangunan UNP Melalui
Modifikasi Cooperative Learning Mo del Jigsaw, Buletin Pembelajaran, Vol. 26- No. 04 Universitas
Pad ang (Desember 2003), h. 326.
6
Berdasarkan uraian di atas penulis mencoba melakukan penelitian dengan
mengangkat judul penelitian PERBEDAAN HASIL BELAJAR BIOLOGI
ANTARA SISWA YANG DIAJAR MELALUI PENDEKATAN
COOPERATIVE LEARNING TEKNIK JIGSAW DENGAN TEKNIK STAD
(Sebuah Eksperimen di Madrasah Tsanawiyah Al-Marwah Teluknaga
Tangerang)
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, beberapa masalah yang dapat di
identifikasikan sebagai berikut:
1. Bagaimana Perbedaan Peningkatan Hasil Belajar Siswa yang menggunakan
teknik Jigsaw dan STAD ?
2. Manakah yang menunjukkan hasil belajar biologi yang lebih tinggi, pembelajaran
dengan menggunakan teknik jigsaw atau dengan menggunakan teknik STAD?
3. Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap pembelajaran kooperatif ?
C. Pembatasan Masalah
Dari beberapa pertanyaan yang timbul dalam identifikasi masalah, peneliti
membatasi pada perbedaanan hasil belajar biologi antara siswa yang diajar melaui
pendekatan Cooperatif Learning teknik jigsaw dengan teknik Student Team
Achievment Division (STAD). Hasil belajar biologi yang diukur pada penelitian ini
adalah ranah kognitif pada hasil belajar Biologi Siswa kelas VIII Tsanawiyah
semester I pada pokok bahasan Sistem Pencernaan saja, namun untuk melengkapi
deskripsi pembelajaran saat PBM berlangsung digunakan lembar observasi untuk
7
melihat aspek psikomotor dan afektif siswa dan lembar angket yang diberikan kepada
siswa untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap penerapan kedua teknik tersebut.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah yang telah diuraikan
sebelumnya di atas, maka masalah yang akan diteliti dirumuskan sebagi berikut:
Bagaimanakah perbedaan hasil belajar biologi antara siswa yang diajar melalui
pendekatan Cooperative Learning Teknik Jigsaw dengan teknik STAD .
E. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan ini diharapkan dapat bermanfaat
untuk:
1. Bagi peneliti, menyampaikan informasi tentang pengaruh dari pendekatan
cooperative Learning teknik jigsaw dan STAD terhadap hasil belajar dan
perbandingannya.
2. Bagi guru bidang studi khususnya biologi dapat menjadikan kedua teknik dari
pendekatan Cooperative Learning tersebut sebagai salah satu alternatif dalam
proses belajar mengajar.
3. Bagi siswa dapat memberikan motivasi belajar, melatih keterampilan,
bertanggung jawab pada setiap tugasnya, mengembangkan kemampuan berfikir
dan berpendapat positif, dan memberikan bekal untuk dapat bekerjasama dengan
orang lain baik dalam belajar maupun dalam masyarakat.

