Abstrak
Oleh : Yusuf
Pendidikan saat ini dihadapkan pada tuntutan yang semakin meningkat, baik ragam,
lebih-lebih kualitasnya, termasuk pendidikan pada Madrasah Aliyah Ponpes Nurul Haramain
Putri Lombok Barat. Di sisi lain, berdasarkan hasil evaluasi dengan kurikulum 1994,
diketahui bahwa siswa belum mencapai kemampuan optimalnya. Siswa hanya tahu banyak
fakta tetapi kurang mampu memanfaatkannya, oleh sebab itu sistem pendidikan saat ini dan
di masa depan harus dikembangkan agar lebih responsif terhadap tuntutan masyarakat dan
tantangan yang akan dihadapi.
Penelitian pengembangan ini dilakukan dengan tujuan untuk; (1) Mengembangkan
perangkat pembelajaran biologi SMU/MA yang bercirikan model pembelajaran kooperatif
tipe jigsaw, dan (2) Mengetahui kualitas proses dan hasil belajar biologi melalui penerapan
perangkat pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu (1) Tahap Pengembangan Perangkat, dan
(2) Tahap Pembelajaran Nyata. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan adalah Materi
Ajar, Rencana Pembelajaran, Lembar Kegiatan Siswa, dan Instrumen Tes Hasil Belajar.
Hasil penelitian menunjukkan; (1) Guru mampu melakukan keseluruhan aspek
pembelajaran dengan kategori baik, (2) Aktivitas guru yang dominan adalah mengelola KBM
sesuai kaidah pembelajaran kooperatif, dan melatihkan siswa keterampilan kooperatif, (3)
Aktivitas siswa yang dominan adalah membaca Materi Ajar, LKS, dan menulis yang relevan,
(4) Keterampilan kooperatif siswa yang dominan adalah mengambil giliran dan berbagi
tugas, (5) Siswa menyatakan senang dan baru terhadap perangkat dan model pembelajaran,
(6) Guru menganggap perangkat pembelajaran cukup membantu dan bermanfaat, dan (7)
KBM yang menerapkan perangkat dan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat
menuntaskan belajar siswa.
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hasil Belajar fisika siswa SMA masih rendah jika dibandingkan dengan materi pelajaran yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh Nilai Ujian Akhir Siswa pada tahun 2001/2002 s.d. 2002/2003. Dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
Sumber : Data dari KanwilDiknas Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 2002.
Banyak fakta yang menyebabkan rendahnya hasil belajar fisika siswa tersebut, salah satu kemungkinan fakta penyebab adalah kurangnya siswa mendapatkan kesempatan untuk latihan mengerjakan soal dengan dipandu oleh guru. Hal ini disebabkan karena materi pelajaran fisika pada kurikulum sangat banyak, sementara waktu yang disediakan sangat sedikit. Sebagai guru lebih banyak menjelaskan teori dari pada memberikan kesempatan latihan pemecahan soal kepada siswa. Faktanya adalah mendukung motivasi belajar siswa dengan mengukur hubungan Tes yang reliabel di dominasi life skill soal-soal.
Sebenarnya kemampuan memecahkan masalah atau soal sangat diperlukan dalam kehidupan oleh karena itu tidak mengherankan jika disebutkan bahwa lebih lanjut mata pelajaran fisika di SMA adalah agar siswa mampu menguasai konsep-konsep fisika dan masalah keterlambatannya serta mampu menggunakan metode ilmiah yang dilandasi sikap ilmiah melalui memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya lebih menyadari keagungan Tuhan YME (depdikbud, 1995: 2). Kemampuan memecahkan masalah tanpa aturan yang ditentukan agar manusia dapat melangsungkan hidupnya dengan wajar dan kecakapan hidup dengan wajar tanpa tekanan.
Menurut Sumadi Suryabrata (1987: 7), mutu hasil pendidikan dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, instrumental, dan kondisi psikologis. Rendahnya hasil belajar fisika siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Sumadi Suryabrata (1984: 249), faktor-faktor tersebut adalah :
1. Faktor yang berasal dari luar diri siswa yaitu faktor sosial dan non sosial.
2. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa yaitu faktor fisiologis dan faktor psikologis.
Pendidikan nasional di Indonesia kondisinya belum sesuai dengan yang diharapkan. Sebagaimana dalam tujuan pendidikan nasional adalah pendidikan yang memperlakukan anak didik sebagai individu memiliki karakteristik khusus mandiri. Sejalan dengan misi pendidikan nasional maka bidang pendidikan berupaya menerapkan fungsi, tujuan pendidikan nasional. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Siswanto, 2007: 2).
Seorang guru, selain mempunyai tugas mentransfer ilmu pengetahuan, juga berkewajiban meningkat hasil belajar siswa. Tidak sedikit guru yang hanya sekedar menunaikan tugas mengajarnya, tanpa berusaha membantu mengatasi kesulitan belajar siswa-siswanya. Guru yang dibutuhkan adalah guru yang profesional yang mampu mengelola proses belajar mengajar. Sedangkan apabila ditinjau dari faktor siswanya, menurut Sumadi Suryabrata (1995: 249) siswa mengalami permasalahan yang timbul baik dari dalam diri siswa maupun dari luar diri siswa. Dalam diri siswa misalnya mereka enggan belajar, tidak punya motivasi belajar, mempunyai masalah dengan keluarga dan sebagainya. Sedangkan masalah yang berasal dari luar diri siswa, misalnya suasana belajar yang kurang mendukung dan pengaruh teman-teman sejawat.
Pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam belajar fisika, sehingga guru dituntut untuk memberikan pelajaran fisika yang menyenangkan, agar tidak memberikan kesan terhadap siswa bahwa pelajaran fisika itu menakutkan, namun sebaliknya siswa senang dalam belajar fisika. Dalam pelajaran fisika siswa kebanyakan hanya memperhatikan sesaat dan belum tentu siswa mencatat apa yang disampaikan guru ataupun belum memahami apa yang disampaikan oleh guru, meskipun mereka enggan untuk bertanya. Oleh karena itu pemilihan dan penerapan strategi metode mengajar harus sesuai dengan situasi dan kebutuhan agar siswa bersikap aktif. Misalnya, untuk membantu siswa agar konsentrasi belajar terfokus pada materi pelajaran, guru dapat menggunakan metode pengajaran ekspositori. Metode ekspositori merupakan kegiatan mengajar yang terpusat pada guru. Dalam penelitain ini topik materi yang digunakan adalah pokok bahasan gerak, diharapkan sesuai dengan metode pengajaran ekspositori.
Setiap guru selesai menyampaikan materi pelajaran, siswa diberikan latihan pemecahan soal dalam bentuk uraian. Karena dalam latihan pemecahan soal tidak berbentuk pilihan maka siswa mendapat kesempatan untuk menyelesaikan sesuai jalan pikirannya. Salah satu fungsi pelajaran fisika di Sekolah Menengah Atas adalah melibatkan siswa menggunakan metode ilmiah dan memecahkan masalah yang dihadapkan serta memupuk daya kreasi dan kemampuan bernalar.
Berdasarkan uraian di atas, akan diteliti tentang metode pemberian latihan pemecahan soal berupa latihan pemecahan soal setelah proses belajar mengajar berlangsung.
B. Identifikasi Masalah
Bedasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasikan permasalahan-permasalahan sebagai berikut :
1. Tidak sebanding antara materi pelajaran dalam kurikulum dengan waktu yang disediakan.
2. Rendahnya latihan pemecahan soal yang dipandu atau dimonitori oleh guru.
3. Masih Kurangnya motivasi dan kemauan siswa dalam mengerjakan soal-soal sendiri.
4. Adanya pengaruh negatif yang berasal dari lingkungan sekitar siswa, yang mempengaruhi konsentrasi belajar.
5. Rendahnya hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor guru dan siswa.
6. Akibat banyak beban pikiran yang dirasakan diantaranya seperti masalah ekonomi lingkungan keluarga siswa dan masalah teman bergaul, jadi siswa kurang perhatian terhadap materi pelajaran yang telah disampaikan guru.
7. Penerapan metode dan strategi mengajar guru, yang kurang sesuai dengan kondisi siswa dan sarana penunjangnya.
8. Guru hanya sekedar menunaikan tugas mengajar, sehingga kurang memberikan tugas dan latihan yang dapat merangsang sikap aktif siswa.
Dengan diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, diharapkan dapat menjadi masukan dalam penanganan siswa, sehingga proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien.
C. Pembatasan Masalah
Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini perlu dibatasi agar terdapat dalam jangkauan peneliti, baik mengenai waktu, tenaga, dana maupun faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Dengan pertimbangan tersebut maka dalam penelitian ini akan dibatasi pada hal-hal sebagai berikut :
1. Penyampaian materi pelajaran menggunakan pengajaran ekspositori.
2. Latihan pemecahan soal fisika diberikan setiap selesai disampaikannya materi gerak lurus, gerak lurus beraturan, gerak lurus berubah beraturan dan gerak melingkar.
3. Bentuk latihan pemecahan soal yang diberikan adalah soal uraian.
4. Materi pelajaran fisika yang digunakan dalam penelitian ini adalah Gerak.
5. Hasil belajar fisika siswa diutamakan pada ranah kognitif.
D. Perumusan masalah
Agar penelitian ini tidak menyimpang dan dapat terarah sesuai dengan batasan masalah yang ditetapkan, maka perlu adanya rumusan masalah sebagai berikut :
1. Adakah perbedaan hasil belajar fisika, antara siswa yang diberi latihan pemecahan soal dengan siswa yang tidak diberi latihan pemecahan soal?
2. Apakah frekuensi pemberian latihan pemecahan soal berpengaruh terhadap hasil belajar?
3. Berapakah frekuensi pemberian latihan pemecahan soal yang tepat untuk disampaikan kepada siswa, agar memberikan hasil belajar fisika siswa yang lebih baik?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar fisika, antara siswa yang diberi latihan pemecahan soal dengan siswa yang tidak diberi latihan pemecahan soal.
2. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh hasil belajar fisika. Dan pemberian latihan pemecahan soal yang berbeda frekuensinya.
3. Untuk mengetahui jumlah frekuensi pemberian latihan pemecahan soal yang tepat untuk disampaikan kepada siswa, agar memberikan hasil belajar yang lebih baik.
F. Kegunaan Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat :
1. Digunakan sebagai kajian tentang pemberian latihan pemecahan soal, dilihat dari hasil belajarnya.
2. Digunakan sebagai kajian tentang pengaruh frekuensi pemberian latihan pemecahan soal.
3. Digunakan sebagai kajian tentang jumlah frekuensi yang tepat dalam pemberian latihan pemecahan soal.

