Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia ?. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi mengenai kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia. Hasil analisis data menunjukkan bahwa skor tertinggi siswa adalah 19 dengan nilai 9,5 sedangkan skor terendah siswa adalah 12 dengan nilai 6,0. Rata- rata skor siswa adalah 15 dengan nilai 7,5. Siswa yang mendapat nilai 6,5 ke atas sebanyak 29 orang siswa (97%) sedangkan siswa yang mendapat nilai kurang dari 6,5 sebanyak 1 orang siswa (3%). Hal ini menunjukkan bahwa kemampun menyimak siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng memadai. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dengan penerapan kurikulum berbasis kompetensi (2004) ini diharapkan pengajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan komunikatif, yakni meningkatkan keterampilan siswa untuk berkomunikasi dengan bahasa. Sejalan dengan itu, tujuan pengajaran bahasa ialah membantu anak didik mengembangkan kemampuan berkomunikasi baik secara lisan maupun secara tertulis. Siswa bukan sekedar belajar bahasa, melainkan belajar berkomunikasi.
Kemampuan komunikasi yang mendasar ialah kemampuan mengungkapkan makna dan pesan termasuk menafsirkan dan menilai serta mengekspresikan diri dengan bahasa. Sedangkan tujuan khusus dalam pengajaran bahasa ada tiga komponen yang penting, yakni kebahasaan, pemahaman dan penggunaan.
Penggunaan bahasa Indonesia merupakan suatu hal yang menentukan berhasil tidaknya siswa dalam menuntut ilmu. Agar siswa dapat menguasai bahasa Indonesia dengan baik, maka mereka harus mendapatkan pelajaran/ pengetahuan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan mereka berdasarkan jenjang pendidikan dimana mereka berada.
Dewasa ini masih banyak dijumpai pemakaian bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah- kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalam berbicara maupun menulis. Kesalahan ini biasanya tampak pada siswa pada saat melakukan proses belajar- mengajar, salah satu diantaranya adalah penggunaan imbuhan dalam kalimat. Unsur- unsur ini memerlukan ketelitian dan ketajaman pengertian oleh si pemakai bahasa itu apalagi siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke kabupaten Bantaeng masih sangat minim terutama penguasaan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi mengenai kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia.
D. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai :
1. Sumbangan atau masukan dalam rangka peningkatan professional guru bahasa Indonesia di SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke kabupaten Bantaeng.
2. Sumbangan pemikiran bagi pembinaan dan pengembangan proses pembelajaran siswa khususnya penggunaan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia.
3. Bahan pertimbangan yang sangat penting dalam usaha membina dan mengembangkan kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka
Pada bab ini diuraikan beberapa kerangka teori yang dapat dijadikan acuan dalam penelitian ini. Kerangka teori yang melandasi penelitian ini sebagai berikut :
1. Pengertian Prefiks, Infiks, Sufiks dan Konfiks
Supriadi (1992 : 89) mengemukakan sebagai berikut :
“Prefiks adalah afiksasi yang menduduki posisi awal kata. Infiks adalah afiksasi yang berposisi di tengah sehingga memenggal morfen. Sufiks adalah afikasasi yang menduduki posisi akhir kata. Dan konfiks adalah afiksasi kombinasi yang tak terpisahkan, misalnya : pe- an, ke- an, per- an dan sebagainya”.
Afiks (imbuhan) yang dipakai untuk menurunkan verba empat macamnya, yakni prefiks, sufiks, konfiks dan infiks. Prefiks adalah afiks yang diletakkan di depan dasar. Konfiks adalah gabungan prefiks dan sufiks yang mengapit dasar kata dan membentuk satu kesatuan. dan infiks adalah yang ditempatkan di tengah dasar kata (Moeliono, 1992: 81).
Chaer (1994: 177-178) mengemukakan sebagai berikut :
“Prefiks adalah afiks yang dibubuhkan di tengah bentuk dasar. Sufiks adalah afiks yang dibubuhkan pada akhir pada posisi akhir bentuk dasar, tetapi yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar, dan bagian yang kedua pada akhir bentuk dasar”.
Selanjutnya Susatya (1992: 89) “konfiks adalah dari dua macam afiksasi atau lebih yang bersama- sama membentuk satu kata berimbuhan dan mendukung satu makna”.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prefiks adalah afiks yang menduduki posisi awal, infiks adalah afiks yang berposisi di tengah sehingga memenggal morfen da sifatnya tidak produktif, sufiks adalah afiks yang menduduki posisi akhir kata, dan konfiks adalah gabungan prefiks dan sufiks yang mengapit dasar kata dan memebentuk satu kesatuan.
2. Jenis- jenis Konfiks dan Fungsinya
a. Konfiks ber- an
konfiks ber- an berfungsi untuk membentuk kata kerja. Berikut ini diuraikan beberapa contoh fungsi konfiks ber- an.
ber- an V --- V ‘resiprokal’
berilah jarak antara tonggak yang satu dengan yang lain supaya tidak bersinggungan.
Mobil yang berwarna coklat itu bertbrakan dengn bis patas.
Remaja yang sedang dimabuk cinta itu berciuman di taman ria.
ber- an V--- V ‘pluralis’
Ketika terjadi kebakaran di pasar itu, bnyk orang berlarian menyelamatkan diri.
Daun- daun di halaman itu bertebaran di tiup angin.
Banyak sampah berserakan di pinggir jalan, karena masyarakat belum menyadari akan kebersihan lingkungan.
ber- an V--- V ‘resiprokal + intensif”
Kedua sahabat itu berpeluk- pelukan ketika bertemu setelah berpisah 20 tahun.
Karena begitu banyak pengunjuung yang datang, maka mereka bersinggung- singgungan di muka loket.
Sepasang merpati bercium- ciuman di atas pohon kenari.
ber-an V---V ‘pluralis+ intensif’
Murid- murid berlari- larian di halaman sekolah.
Setelah mendengar berita kematian itu, mereka bertangis- tangisan.
Sepasang kelinci putih berlompat- lompatan di halaman rumah.
b. Konfiks ber- kan
Konfiks ber- kan berfungsi untuk membentuk kata kerja, berikut ini diuraikan beberapa contoh fungsi konfiks ber- kan.
ber- kan N--- V ‘mengkhususkan (melengkapi) verba’
Negara Indonesia adalah Negara yang berasaskan Pancasila.
Dengan bersenjatakan pena, para wartawan berusaha untuk memperoleh berita- berita yang aktual.
Berdasarkan hokum yang berlaku di Negara kita. Setiap warga Negara yang berumur 17 tahun atau telah menikah harus memiliki kartun tanda .penduduk.
Anak- anak kecil dilarang memakai perhiasan yang berhiaskan intan.
Gadis itu diberi hadiah cincin yang bertahtahkan permata oleh kekasihnya.
c. Konfiks ke- an
Konfiks ke- an berfungsi untuk membentuk kata kerja, berikut ini diuraikan beberapa contoh fungsi konfiks ke- an.
ke- an V--- V ‘terkena, menderita (efektif)’
Ia tidak dapat tidur dengan nyenyak sejak ia kehilangan kunci rumahnya.
Aku turut berduka cita atas kematian ayahmu.
Orang kecurian uang itu kelihatan sangat bingung.
ke- an N--- V ‘terkena, menderita (efektif)’
Anak itu sakit akibat kehujanan kemarin.
Kita harus selalu berhati- hati supaya tidak kecelakaan.
Orang yang kecurian uang itu kelihatan bingung.
ke- an V--- V ‘tak sengaja’
Akhirnya ketahuan juga siapa yang telah melakukan kejahatan itu.
Anak itu kedapatan sedang makan mangga curian.
Rumah yang hendak kita tuju sudah kelewatan karena kita terlalu asyik ngobrol.
ke- an A--- A ‘terkena, menderita (efektif)’
Secara kebetulan ia berpapasan dengan orang yang dicarinya.
Maksud kedatangannya adalah untuk menghilngkan kesepian orang tuanya.
Lidah anjing itu terjulur keluar karena kepanasan.
d. Konfiks ke- an
Konfiks ke- an untuk membentuk kata benda, berikut ini diuraikan beberapa contoh fungsi ke- an.
ke- an V--- N ‘ proses’
Kebakaran di pabrik seperti itu mengundang banyak perhatian masyarakat.
Banyak penduduk di Afrika yang menderita kelaparan.
ke- an V--- N ‘hasil’
Ketetapan MPR Nomor IV tahun 1978 perincian mengenai P4
Keputusan rapat itu diumumkan kemarin.
ke- an V--- N ‘abstrak’
Tindak tanduknya tidak mencerminkan keturunan ningrat.
Kenaikan beras di pasar meresahkan hati masyarakat.
Jangan melimpahkan kesalahan diri sendiri kepada orang lain.
ke- an N--- N ‘abstrak’
Cerita film penyesalan seumur hidup mengandung nilai kemanusiaan yang tinggi.
Buku ini menceritkan kepahlawanan Pangeran Diponegoro.
ke-an Num--- N ‘abstrak’
Kesatuan pendapat antara suami dan istri sangatlah penting.
Kemanunggalan ABRI dan rakyat sedang digalakkan.
ke- an A--- N ‘abstrak, derajat, tingkat’
Kita harus berani mempertahankan kebenaran.
Keuntungan yang diperoleh dari pelanggan barang- barang akan disumbangkan ke rumah yatim piatu.
Kerugian negara akibat korupsi sangat besar.
Pesawat itu jatuh dari ketinggian beberapa ribu kaki.
Kekayaan orang itu sudah tak terhitung lagi.
Ia hanya mau duduk di kursi kebesarannya saja.
Taraf kemiskinan penduduk di daerah sungguh menyedihkan.
e. Konfiks pe- an
Konfiks pe- an berfungsi untuk membentuk kata benda, berikut ini diuraikan beberapa contoh konfiks pe- an.
pe- an V--- N (me-+V) ‘proses’
Penunjukan dia sebagai wakil kita sudah dipertimbangkan dengan seksama.
Pengaturan kerja pembuatan jembatan ini sudah dilaksanakan belum ?
pe- an V--- N (me-+ A) ‘proses’
Pengotoran air oleh buangan kimia buangan pabrik sangat membhaykan kenidupan binatang laut.
Setiap hari Minggu penduduk RT kami mengadakan pembersihan saluran air dan halaman rumah.
Akhir- akhir ini pengawasan terhadap pemasukan barang- barang seluruhnya diperketat.
f. Konfiks per- an
Konfiks per- an berfungsi untuk membentuk kata benda, berikut diuraikan beberapa contoh konfiks per- an.
per- an V--- N (ber-+ V) ‘proses’
Pertunjukkan sirkus itu berhasil menarik banyak pengunjung.
per- an V--- N (ber-+ A) ‘abstrak’
Suster Teresa mendapat piagam perdamaian dari PBB.
per- an V--- N (ber-+A) ‘abstrak’
Perkataan orang itu tidk dapat dipercaya karena ia seorang penipu.
Ia membaca sajak dengan penuh perasaan.
Ini adalah tugas perorangan bukan tugas kelompok.
per- an V--- N (ber-+N) ‘kumpulan’
perumahan itu sangat aman karena system keamanan yang ketat.
Hawa pegunungan di pagi hari sangat menyegarkan.
per- an N--- V (ber-+ V) ‘tempat’
Taman- taman di daerah perkotaan belum mencukupi.
Perkampungan atlet terdapat di Senayan.
Alam pedesaan Kuningan sangat indah dipandang mata.
Pelataran parkir di Gajah Mada Plaza sangat teratur.
per- an N--- V (ber-+V) ‘kumpulan’
Peraturan yang dibuat oleh pemerintah harus dipatuhi.
per- an N--- V (ber-+V) ‘tempat’
Di Cibubur akan dibangun pemukiman bagi kaum tuna wisma.
(Kridalaksana, 1989 : 47-74)
g. Kombinasi afiks me- i
Kombinasi afiks me- I berfungsi untuk membentuk kata kerja, berikut diuraikan beberapa contoh kombinasi afiks me- i.
me- i V--- V ‘repetitif’
Para demonstran melempari gedung kedutaan Amerika dengan batu.
Ia menanami pekarangan rumahnya dengan bunga anggrek.
Pak Anwarsedang memotong rumput di pekarangan rumahku.
me- i N--- V ‘bersikap, berlaku, sebagai’
Walaupun masih muda, ia suka menggurui orang yang lebih tua.
Ia merajai pertandingan itu.
Maukah kamu menemaniku pergi ke pesta malam minggi nanti ?
me- i N--- V ‘menyebabkan pendapat’
Ibu menggarami sayur.
Setiap pagi Aminah menguliti bawang.
Ia melukai hatiku.
Ibu menyusui sendiri kelima orang anaknya.
me- i A--- V ‘bersikap terhadap’
Dengan meyakini imam kita, pastilah tingkah laku kita akan sesuai dengan agama kita.
Banyak murid yang tidak menaati peraturan tata tertib di sekolah.
Murid yang nakal itu terus membohongi gurunya.
Kita harus mematuhi peraturan lalu lintas di jalan raya.
Menghormati orang tua sudah merupakan kewajiban seorang anak.
me- i Adv --- V ‘membuat keadaan’
Gedung itu tingginya melebihi tugu monas.
me- i Pron--- V ‘terhadap’
Akhirnya anak itu mengakui kesalahannya.
me- i A--- V ‘membuat keadaan’
Dalam pertandingan itu ia berlri jauh melampaui peserta lainnya.
Ia selalu berusaha mengungguliku tetapi selalu gagal.
me- i N---V ‘melakukan secara sungguh- sungguh, intensif’
Kita harus mencintai sesame manusia seperti mencintai diri sendiri.
Ia mengobati lukanya supaya tidak infeksi.
me- i A--- V ‘menyebabkan mendapat’
Jangan menyakiti hati orang tuamu.
me- i V--- V ‘melakukan perbuatan’
Kita harus hati- hati menuruni ttebing yang terjal ini.
Jangan meniduri ranjang yang baru dibereskan ini.
Ibu tua itu menaiki tangga dengan barhati- hati karena takut jatuh.
me- i V---V ‘melakukan secara sungguh- sungguh (intensif)’
Anak itu membasahi bajunya dengan air sabun.
Ia ditugaskan memberesi administrasi sekolah yang kacau.
Ia membakari rumput sampai habis.
me- i N---V ‘kontuniatif’
Maukah kau menenmaniku pergi berbelanja ?
h. Kombinasi afiks di- i
Makna kombinasi afiks di- i sejajar dengan makna kombinasi afiks me- i.
i. Kombinasi afiks me- kan
Kombinasi afiks me- kan berfungsi untuk membentuk kata kerja, berikut ini diuraikan beberapa contoh kombinasi afiks me- kan.
Pilot itu menerbangkan pesawat model terakhir buatan Amerika.
Anak itu sedang melemparkan bola ke arah temannya.
Tawanan itu melarikan diri dari penjara.
me- kan F. Prep.--- V ‘mengarahkan ke (Kausatif)’
Setiap peserta berhak mengemukakan pendapatnya dalam rapat itu.
Keluarganya sudah mengebumikan Amir yang meninggal kemarin.
me- kan N--- V ‘kausatif’
Penduduk primitif itu merajakan dokter yang sedang berpraktek di daerah mereka.
me- kan A---V ‘membuat jadi (kausatif)’
Dengan susah payah ia membesarkan kelima anaknya.
Adikku menghitamkan warna gambarnya.
Air gula berkhasiat untuk menyembuhkan sakit kepala.
Ia tak sempat mengamankan harta bendanya ketika kebakaran itu terjadi.
me- kan Adv. --- V ‘membuat jadi (kausatif)’
Dalam pidatonya ia berusaha menghangatkan suasana.
Ibu melebihkan masakan hari ini karena ayah mengundang dua orang temannya.
me- kan Num. --- V ‘membuat jadi (kausatif)’
Kami berusaha menyatukan pendapat kami yang saling berbeda.
me- kan V---V ‘melakukan untuk orang lain’
Setiap pagi ibu membuatkan kopi untuk ayah.
Sebelum adik saya tidur ibu selalu membacakan cerita untuknya.
Pak guru menuliskan jawaban soal- soal ulangan di papan tulis.
Adik membawakan Koran pagi untuk ayah.
me- kan N---V ‘benektif’
Saya dilrang mengatakan yang sebenarnya kepada orang lain.
Saya curiga ketika ia membisikkan sesuatu kepada teman saya.
Saksi itu diminta oleh hakim untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.
me- kan V---V ‘melakukan perbutan dengan alat’
Ketika tukang sulap itu memukulkan tongkat ke atas topi maka keluarlah seekor burung merpati dari dalam topi itu.
Tanpa sadar ia menikamkan keris pusakanya ke tubuh lawannya.
Pemburu itu membidikkan senapannya kea rah binatang yang diincarnya.
me- kan N---V ‘menghasilkan’
Penyanyi itu mengeluarkan dua album terbrunya.
Perjuangan membuahkan hasil yang sangat memuaskan.
Nenek menuturkan kehidupan di masa mudanya.
Bila ia marah, ia selalu mengatakan kata-kata yang kasar.
me- kan V---V ‘melakukan dengn sungguh- sungguh (intensif)’
Salah satu kegemaran saya adalah mendengarkan radio.
Pada setiap upacara bendera kami selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya.
me- kan N---V ‘memasukkan ke dalam’
Salah satu cara untuk mengawetkn makanan adalah mengalengkan makanan tersebut.
Ia mengkotakkan bingkisan- bingkisan yang akan dikirimkan.
Jangan memenjarakan orang yang tidak bersalah.
me- kan Ka. Fatis--- V ‘menghasilkan resultatif’
Ia tidak mempunyi pendirian, selalu mengiakan pendapat siapapun.
me- kan Int. --- V ‘melakukan’
Mereka mengaoakan dia ?
j. Kombinasi afiks memper-
Kombinasi afiks memper- berfungsi untuk membentuk kata kerja, berikut ini diuraikan beberapa contoh kombinasi afiks memper-.
memper- N---V ‘menjadikan’
Ibu Tati mempersuami orang Arab.
Pak Hasan memperistri keturunan raja.
memper- A---V ‘membuat jadi lebih’
Jangan memperbodoh orang desa yang lugu itu.
Saya diberi tugas memperindah lukisan ini.
Melalui pidatonya ini, ia dpat mempertebal kepercayaan rakyat kepadanya.
k. Kombinasi afiks diper-
Kombinasi afiks diper- berfungsi untuk membentuk kata kerja, berikut ini diuraikan beberapa contoh kombinasi afiks diper-.
diper- N---V ‘menjadikan’
Ia diperistri seorang pemuda kaya keturunan bangsawan.
Pemuda itu dipersuami janda kaya.
diper- A---V ‘dibuat jadi lebih’
Rumah yang indah itu masih akan diperindah lagi.
Jangan mau diperbodoh oleh bangsa asing.
Hal yang sudah sulit jangan dipersulit lagi.
l. Kombinasi afiks memper-kan
Kombinasi afiks memper-kan berfungsi untuk membut kata kerja, berikut ini diuraikan beberapa contoh kombinasi afiks memper-kan.
memper-kan N---V ‘menjadikan’
Saya rasa kalian tidak perlu mempersoalkan hal sepele seperti itu.
Dua bersaudara itu sedang mempertikaikan warisan orang tuanya.
memper- kan V---V ‘menjadikan supaya di- V kan’
Ia sedang memperdengarkan suaranya yang merdu itu.
Pesenam itu sedang mempertunjukkan keahliannya.
memper- kan A---V ‘membuat jadi’
Maksud untuk mempermalukan lawannya di hadapan massa gagal.
memper- kan Num---V ‘membuat jadi’
Dialah yang berhasil mempersatukan pemuda yang jauh lebih muda dari padanya.
memper- kan N---V ‘menjadikan’
Bintang film itu mempersuamikan pemuda yang jauh lebih muda padanya.
Ia memperistrikan wanita yang baru dikenalnya.
memper- kan N---V ‘menjadikan sebagai alat’
Memperdagangkan narkotik mempunyai resiko ditangkap polisi.
Mereka selalu memperdebatkan hal- hal sepele sedangkan hal- hal penting tidak diperhatikan.
Tega betul ia memperdayakan kakaknya sendiri.
memper- kan N---V ‘mengerjakan’
karena tidak mempunyai anak, ia memperlakukan saya sebagai anak.
memper-kan V---V ‘membuat jadi’
Kelihatannya ia sudah memperhitungkan dengan seksama akibat perbuatannya.
Mengapa kamu selalu mempermainkan orangf itu ?
memper- kan Adv--- V ‘membuat jadi’
Petugas itu memperbolehkan saya merokok di ruangan yang memakai alat penyejuk ini.
m. Kombinasi afiks diper- kan
Kombinasi afiks diper- kan berfungsi untuk membentuk kata kerja, berikut ini diuraikan beberapa contoh afiks diper-kan.
diper- kan V---V ‘dijadikan supaya’
Lagu- lagu nostalgia selalu diperdengarkan oleh pemancar swasta pada hari selasa petang.
Foto almarhum diperlihatkan kepada polisi untuk mengusut perkara itu.
diper- kan N---V ‘dijadikan’
Sejak kecil ia dipersaudarakan denga aku.
Tanah itu masih dipertikaikan oleh para ahli waris yang bersangkutan.
diper- kan A---V ‘dibuat jadi’
Aku dipermalukan di muka umum.
diper- kan Num---V ‘dibuat jadi’
Bangsa itu dipersatukan oleh semangat untuk merdeka.
diper- kan N---V ‘dijadikan’
Penyanyi itu diperistrikan oleh seorang dokter.
Laki- laki itu dipersuamikan oleh bintang film yang terkenal dan kaya.
diper- kan V---V ‘dijadikan sebagai alat’
Yang diperdagangkannya adalah hanya barang- barang buatan dalam negeri saja.
Aku tidak dapat diperdayakan oleh rayuan mautnya.
Masalah yang sudah diputuskan tidak perlu diperdebatkan lagi.
diper-kan V---V ‘dikerjakan’
Apa kau diperlakukan secara manusiawi olehnya ?
diper-kan V---V ‘dibuat’
Ia seorang hati- hati, diperhitungkannya dengan cermat akibat langkah- langkah yang diambilnya.
diper-kan Adv.---V ‘dibuat jadi’
Apakah saya diperbolehkan duduk di sini?
n. Kombinasi afiks per-kan
Kombinasi afiks per-kan berfungsi untuk membentuk kata kerja, berikut ini diuraikan beberapa contoh kombinasi afiks per-kan.
per-kan N---V ‘dijadikan’
Persuamikan laki- laki yang jujur dan setia itu.
Peristrikan lah tunanganmu itu.
per-kan V---V ‘dijadikan supaya’
Coba perlihatkan saya permata yang baru kau beli itu.
Pertunjukkan kepandaianmu bermain sulap pada malam gembira nanti.
o. Kombinasi afiks per-i
Kombinasi afiks per-i berfungsi untuk membentuk kata kerja, beriktu ini diuraikan beberapa contoh kombinasi afiks per-i.
per- i A---V ‘dibuat jadi (kausatif)’
Perbaikijawaban yang salah.
Coba anda perbaharui kalimat yang anda buat.
p. Kombinasi afiks ber – R
Kombinasi afiks ber- R berfungsi untuk membentuk kata kerja, berikut ini diuraikan beberapa contoh kombinasi afiks ber- R.
ber- R Num---V ‘membentuk kelompok’
murid-murid masuk kelas berdua- berdua
Mereka berbaris berempat- berempat.
q. Kombinasi afiks me- i
kombinasi afiks me- i berfungsi untuk membentuk kata keterangan, berikut ini diuraikan beberpa contoh kombinsi afiks me- i.
me- i N---A ‘dengan sungguh- sungguh (intensif)’
Ia sangat mencintai kedua orang tuanya.
Manusia harus saling mengasihi satu sama lain.
r. Kombinasi afiks me- kan
Kombinasi afiks me-kan berfungsi untuk membentuk kata keterangan, berikut ini beberapa contoh kombinasi afiks me-kan.
me-kan N---A ‘melakukan untuk orang lain (benefaktif)’
Pertunjukan balet di balai sidang senayan itu sungguh mengesankan.
me- kan N---A ‘membuat jadi (kausatif)’
Kelakuannya yang tidak terpuji itu memalukan kedua orang tuanya.
Pinjaman lunak yang diberikan oleh Negara- Negara kelompok IGGI sangat menguntungkan pihak Indonesia.
s. Kombinasi afiks pemer-
Kombinasi afiks pemer- berfungsi untuk membentuk kata benda, berikut ini diuraikan beberapa contoh kombinasi afiks pemer-.
pemer- A---N ‘yang menjadi’(bentuk antaranya ialah memper-)
Bahasa Indonesia telah disepakati sebagai bahasa pemersatu bangsa.
Pemerlain kedua anak kembar itu adalah potongan rambutnya.
t. Kombinasi afiks keber-an
keber- an (dengan bentuk antara ber- +D)
Keberhasilan tak dapat diraih tanpa usaha yang cukup keras.
Keberangkatan kereta api itu ditunda Selama beberapa menit.
Ia hanya bersyukur atas keberuntungan yang diperolehnya.
u. Kombinasi afiks kese-an
kese-an (dengan bentuk antara se-+D)
Seorang perancang busana harus selalu memperhatikan keserasian paduan warna dari bahan- bahan yang akan dipergunakannya.
Manusia harus selalu menjaga keseimbangan ekosistemnya.
v. Kombinasi afiks keter-an.
Keter-an (dengan bentuk antara ter-+D)
Keterikatanku dengan perusahaan ini menyebabkan aku tidak dapat memenuhi permintaanmu.
Keterlibatannya dalam penyelundupan itu menghilangkan simpati orang kepadanya.
Keterlambatanku ini disebabkan lalu lintas di jalan raya mecet.
w. Kombinasi afiks pember-an
pember-an (dengan bentuk antara member-kan)
Ia menanti saya di tempat pemberhentian bis.
Pemberlakuan pemberhantian itu dimulai pada hari ini.
Karena cuaca yangburuk pemberangkatan pesawat itu ditunda.
x. Kombinasi afiks pemer-an.
Pemer-an (bentuk antaranya ialah memper-)
Penyelidikan tentang pemerolehan bahasa belum banyak dilakukan ahli-ahli kita.
y. Kombinasi afiks penye-an
penye-an (dengan bentuk antara menye-kan)
Menurut hemat saya penyekutuan kelompok yang berbeda pendapat itu tidak akan berhasil.
Daerah yang kumuh itu perlu dipugar untuk penyerasian dengan sekitarnya.
Tindakan devaluasi selalu diikuti dengan penyesuaian harga barang- barang.
(Kridalaksana, 1989 : 51-75)
B. Kerangka Pikir
Sebagai kerangka acuan berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.
C. Hipotesis
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka diajukan hipotesis sebagai berikut : Kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia memadai.
Kriteria Pengujian Hipotesis
Untuk menguji hipotesis digunakan criteria pengujian hipotesis sebagai berikut :
a. Hipotesis dinyatakan diterima apabila hasil analisis data menunjukkan bahwa 85% atau lebih siswa sampel yang memperoleh nilai paling rendah 6,5 dari skala penilaian 1-10
b. Hipotesis dinyatakan ditolak apabila hasil analisis data menunjukkan bahwa kurang dari 85% siswa sampel yang memperoleh nilai paling rendah 6,5 dari skala penilaian 1-10.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Variabel dan Desain Penelitian
1. Variabel Penelitian
Variabel yang diamati / diukur dalam penelitian ini adalah variabel tunggal, maksudnya penelitian ini hanya menggunakan satu variabel, yaitu kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia.
2. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif Karena tujuannya ialah untuk menggambarkan kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia. Pemilihan deain ini didasarkan atas pertimbangan bahwa desain ini cocok dengan wujud data yang disajikan.
B. Defenisi Operasional Variabel
Untuk memperjelas ruang lingkup penelitian ini, maka perlu dilakukan defenisi istilah yang digunakan sebagai berikut.
Kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia adalah kesanggupan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng menggunakan prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks dalam kalimat bahasa Indonesia.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Arikunto (1992 : 107) menyatakan bahwa jika jumlah objeknya kurang dari 100 orang, lebih baik diambil semua. Selanjutnya jika objeknya besar dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih bergantung kepada kemamuan penelitian dari segi waktu, biaya dan tenaga. Jumlah populasi siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng sebanyak 30 orang siswa.
2. Sampel
Dengan mengacu pda kriteria yang dikemukakan Arikunto di atas, maka peneliti menetapkan sampel total dari jumlah populasi. Dengan demikian, jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 orang siswa.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan memberikan tes pilihan ganda sebanyak 20 butir soal dengan bobot skor satu bila siswa menjawab dengan tepat.
Materi tes yang digunakan menyangkut penggunaan afiks yaitu : prefiks, infiks, sufiks dan konfiks dalam bahasa Indonesia.
E. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik persentase. Teknik persentase digunakan untuk mengolah hasil tes penelitian berdasarkan ketuntasan belajar per kelompok 85% ke atas dengan nilai paling rendah 6,5 dari skala penilaian 1-10. untuk lebih jelasnya teknik pengolahan data tersebut sebagai berikut :
1. Membuat daftar skor mentah yang diperoleh siswa.
2. Untuk kepentingan standardisasi pengukuran siswa dilakukan dengan cara transformasi dari skor mentah ke dalam nilai berskala 1-10, dengan menggunakan teknik :
SM
X = x 10
S1
Keterangan :
X : nilai yang diperoleh siswa
SM : Skor mentah
SI : Skor ideal
3. Menentukan persentase penguasaan belajar tuntas per kelompok, yaitu sekurang- kurangnya 85% siswa yang memperoleh nilai 6,5 ke atas dari skala penilaian 1- 10.
Rumus yang digunakan sebagai berikut :
Jumlah siswa yang memperoleh 6,5 ke atas
P = x 100 %
Jumlah siswa
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada bab IV dibahas secara rinci mengenai hasil penelitian sesuai dengan data yang diperoleh di SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng. Hasil tersebut terdiri dari dua bagian, yaitu (1) hasil kuantitatif dan (2) hasil kualitatif.
Hasil kuantitatif adalah gambaran kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia yang dinyatakan dengan angka. Hasil kualitatif adalah rumusan hasil penelitian dalam bentuk pernyataan sebagai pengujian hipotesis.
1. Hasil Kuantitatif
Data yang diperoleh dalam peneliti ini diolah dan dianalisis berdasarkan keuntungan belajar perkelompok 85% ke atas dengan nilai paling rendah 6,5 dari skala penilaian 1-10. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1 Kemampuan Menyimak Siswa Kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng
]No.
Skor
Nilai
1 2 3
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
17
18
14
16
15
18
15
13
15
16
14
13
14
13
19
15
14
17
13
18
12
13
15
16
189
14
17
16
14
15
8,5
9,0.
7,0
8,0
7,5
9,0
7,5
6,5
7,5
8,0
7,0
6,5
7,0
6,5
9,5
7,5
7,0
8,5
6,5
9,0
6,0
6,5
7,5
8,0
7,0
8,5
8,0
7,0
7,5
7,0
Tabel 1 menunjukkan bahwa dari keseluruhan siswa tidak ada yang mampu memperoleh skor 20 dengan nilai 10. skor tertinggi yang diperoleh siswa adalah 19 dengan nilai 9,5 yang diperoleh satu orang siswa dengan nomor urut (15) sedangkan skor terendah yang diperoleh siswa adalah 12 dengan nilai 6,0 dengan nomor urut (12).
Rata- rata skor siswa adalah 15 dengan nilai 7,5. Setelah diketahui skor dan nilai siswa pada tabel 1 di atas. Selanjutnya untuk mengetahui frekwensi dengan persentase kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2 Frekuensi dan persentase kemampuan siswa kelas VI SD Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia.
No. Skor Nilai Frekuensi Presentase (%)
1
2
3
4
5
6
7
8
19
18
17
16
15
14
13
12
9,5
9,0
8,5
8,0
7,5
7,0
6,5
6,0
1
3
3
4
6
7
5
1
3
10
10
13
20
24
17
3
Jumlah 30 100 %
Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa siswa yang mendapat nilai 6,5 ke atas sebanyak 29 orang siswa (97%) sedangkan siswa yang mendapat nilai kurang dari 6,5 sebanyak 1 orang siswa (3%). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia memadai (mampu). Kesimpulan hipotesis diterima.
2. Hasil Kualitatif
Setelah hasil kuantitatif diperoleh, maka hasil tersebut dinyatakan secara kualitatif berdasarkan kriteria penilaian 85% ke atas dengan nilai paling rendah 6,5 dari skala penilaian 1-10.
a. Rumusan hipotesis kemampuan Siswa Kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng memadai.
b. Kriteria pengujian hipotesis sebagai berikut :
1) Hipotesis dinyatakan diterima apabila hasil analisis data menunjukka bahwa 85% atau lebih siswa sampel yang mencapai nilai paling rendah 6,5 dari skala penilaian 1-10.
2) Hipotesis dinyatakan ditolak apabila hasil analisis data menunjukkan bahwa kurang dari 85% jumlah siswa sampel yang mencapai nilai paling rendah 6,5 dari skala penilaian 1-10
c. Pengujian hipotesis : Siswa yang mendapat nilai 6,5 ke atas sebanyak 29 orang siswa (97%) sedangkan siswa yang mendapat nilai kurang dari 6,5 sebanyak 1 orang siswa (3%). Hal ini menunjukkan kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat bahasa Indonesia memadai (mampu). Berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Data yang diperoleh pada tabel 2 dari hasil penelitian di SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng yang diolah dengan menggunakan teknik persentase berdasarkan ketuntasan belajar per kelompok 85% ke atas dengan nilai paling rendah 6,5 dari skala penilaian 1-10.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa skor tertinggi siswa adalah 19 dengan nilai 9,5 sedangkan skor terendah siswa adalah 12 dengan nilai 6,0. Rata- rata skor siswa adalah 15 dengan nilai 7,5.
Siswa yang mendapat nilai 6,5 ke atas sebanyak 29 orang siswa (97%) sedangkan siswa yang mendapat nilai kurang dari 6,5 sebanyak 1 orang siswa (3%). Hal ini menunjukkan bahwa kemampun menyimak siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng memadai. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Pada bab V ini diuraikan secara singkat kesimpulan dan saran dari hasil penelitian. Sesuai dengan hasil analisis data dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut.
Siswa yang mendapat nilai 6,5 ke atas sebanyak 29 orang siswa (97%) dan siswa yang mendapat nilai kurang dari 6,5 sebanyak 1 orang siswa (3%). Hal ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan menyimak siswa kelas VI SD Inpres Palanjong Kecamatan Gantarangkeke Kabupaten Bantaeng memdai. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima.
B. Saran
Dengan memperhatikan hasil penelitian yang berupa tes kemampuan siswa kelas VI SD Inpres Parigi Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng menggunakan imbuhan dalam kalimat Bahasa Indonesia hasilnya memadai, maka peneliti tergugah untuk mengajukan beberapa saran, yaitu :
1. Diharapkan para guru yang mengajarkan bahasa aindonesia agar pemberin latihan (pekerjaan rumah) lebih ditingkatkan lagi.
2. Diharapkan para guru yang mengajarkan bahasa Indonesia di SD Inpres Parigi Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng agar mencari literatur yang lain sehingga siswa termotivasi untuk belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Ambary, Abdullah. 1983. Intisari Tata Bahasa Indonesia Untuk SMTP.
Bandung : Djatmika.
Arikunto, Suharsimi. 1992. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta : Rineka Cipta.
Badulu, J. S. 1993. Pintar Berbahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Depdikbud. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Depdikbud. 1994. Kurikulum Pendidikan Dasar Sembilan Tahun Untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta.
Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia Untuk Sekolah Lanjutan Atas. Jakarta : Nusa Indah.
Keraf, Gorys. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia. Jakarta : Gramedia Widiasatya.
Kridalaksana, Harimurti. 1989. Pembentukan Kata Dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta : Gramedia.
Moeliono, Anton M. (ed) 1994. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Ndang, Sudaryat dkk. 1986. Ringkasan Bahasa Indonesia. Bandung : Ganeca Exact.
Safioeddin, Asis. 1973. Membina Bahasa Indonesia. Surabaya : Alumni.
Suryaman, Ukun. 1994. Dasar- Dasar Bahasa Indonesia Baku. Surabaya : Alumni.
Susatya. J. Agus. 1989. Tata Bahasa Baku Untuk SMP. Yogyakarta : Tiga Serangkai.

