Permasalahan (1) Bagaimana hasil pembelajaran pohon matematika pada materi luas bangun datar ? (2) Bagaimana kreatifitas siswa terhadap pembelajaran pohon matematika pada materi luas bangun datar ?
Pola penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Sumber data dalam Penelitian Tindakan ini adalah siswa kelas V SD Plus Baitussalam. Metode pengumpulan data (1) Tes, (2) Tugas, (3) Wawancara, (4) Observasi, (5) Catatan lapangan. Model analisis data yang digunakan yaitu model alir (Flow model) yang meliputi (1) reduksi data, (2) menyajikan data (3) menarik kesimpulan.
Tujuan Penelitian (1) mengetahui hasil pembelajaran pohon matematika pada materi luas bangun datar di kelas V SD Plus Baitussalam (2) Mengetahui kreatifitas siswa terhadap pembelajaran pohon matematika pada materi luas bangun datar di kelas V SD Plus Baitussalam.
Hasil Penelitian secara empiris menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan pohon matematika dapat membantu meningkatkan kreatifitas siswa pada materi luas bangun datar. Pembelajaran ini dilakukan dengan model kelompok dan individu. Dalam hal ini, siswa diminta untuk menumbuhkan daun dengan membangun masalah dan suatu pohon luas yang diberikan. Pendekatan ini merupakan gabungan dari pembelajaran problem posing dan open ended. Dari hasil penelitian juga ditemukan bahwa pemahaman siswa terhadap materi luas bangun datar adalah baik dan siswa juga aktif dalam kerja serta diskusi kelompok.
Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan pada guru agar melaksanakan pembelajaran materi luas bangun datar dengan pendekatan pohon matematika sehingga kreatifitas siswa dapat tersampaikan.
Dalam proses pembelajaran, pendekatan dengan pohon matematika memiliki banyak kegunaan. Pendekatan dengan pohon matematika ini terkesan seperti permainan, karena jika dibentuk kelompok, siswa bebas menentukan tempat posisi, tidak harus selalu di bangkunya. Selain itu dengan pendekatan ini akan tercipta persaingan yang ketat diantara siswa. Hal ini akan meningkatkan gairah dan motivasi siswa untuk lebih rajin belajar.
Kelebihan pendekatan dengan pohon matematika adalah siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran dan bebas menggunakan pengetahuan dan ketrampilan matematikanya. Sedang kekurangannya adalah sulitnya menyiapkan masalah matematika yang bermakna.
Dari kelebihan dan kelemahan pendekatan ini, sudah sepatutnya kita mencoba untuk menerapkan pendekatan ini guna mengembangkan kompetensi yang kita miliki.
Kubus dan Balok merupakan salah satu materi yang diajarkan pada kelas dua semester kedua. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pokok bahasan kubus dan balok memiliki nilai akhir paling rendah dibandingkan dengan pokok bahasan yang lainnya.
Rendahnya prestasi siswa dapat disebabkan siswa mengalami kesulitan karena obyek yang dibicarakan merupakan benda-benda yang konsep-konsepnya bersifat abstrak, sehingga pada waktu membicarakan obyek itu, misalnya bentuk kubus dan balok sangat diperlukan alat peraga yaitu padanannya dalam bentuk konkrit. Sedangkan kenyataannya selama ini dalam pembelajaran kubus dan balok guru belum menggunakan alat peraga sehingga banyak siswa yang bingung dalam memahami konsep-konsep kubus dan balok tersebut.
Berangkat dari permasalahan tersebut di atas, kenyataannya penggunaan alat peraga selama ini belum terapkan, sementara untuk mendapatkan daya tangkap dan daya serap bagi siswa setingkat SMP masih dirasakan perlu menggunakan alat peraga. Pengunaan alat peraga yang belum optimal ini mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi rendah. Oleh karena itu diadakan penilitian tentang penggunaan alat peraga model kerangka kubus dan balok di kelas VIII/A MTs NW Ketangga Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur Tahun Pelajaran 2008/2009.
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan permasalahan di atas maka rumusan masalah pada penilitian tindakan kelas ini adalah “Apakah dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII A MTs NW Ketangga Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur Semester II Tahun Pelajaran 2008/2009 pada pokok bahasan kubus dan balok“?.

