Besar kecilnya kebutuhan dari kedua jenis modal kerja tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu volume penjualan, pengaruh musim, kemajuan teknologi. Volume penjualan adalah faktor yang paling utama karena perusahaan memerlukan modal kerja untuk menjelaskan aktifitasnya yang mana puncak dan aktifitasnya itu adalah aktivitas penjualan. Pengaruh Musim penyebabnya adalah musim akan dapat mempengaruhi permintaan dari barang ataupun jasa. Dengan adanya pengaruh musim terhadap permintaan ini, maka penjualan akan berfluktuasi. Fluktuasi penjualan akan mengakibatkan perbedaan-perbedaan jumlah kebutuhan modal kerja dan hal inilah yang menimbulkan adanya modal kerja variabel. Semakin cepat perputaran modal kerja, maka kreditur dan pemegang saham akan beranggapan bahwa tingkat keamanan atau margin of safety lebih tinggi dibandingkan dengan perputaran modal kerja yang lambat. Artinya kreditur akan lebih berminat menanamkan modal kerjanya pada perusahaan-perusahaan yang perputaran modal kerjanya relatif cepat. Adanya modal kerja yang cukup, memungkinkan perusahaan beroperasi seekonomis mungkin sehingga diperlukan kebijaksanaan yang tepat dalam modal kerja. Adanya kebijaksanaan modal kerja yang tepat, akan menyebabkan seluruh aktivitas usaha dapat terjamin dengan lancar sehingga akan mendorong peningkatan profitabilitas, yang dalam hal ini adalah Return On Investment (ROI). Permasalahan yang dilihat adalah bagaimana pengelolaan modal kerja perusahaan,
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara efektifitas komponen modal kerja terhadap profitabilitas pada perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia. Sedangkan hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang signifikan antara komponen modal kerja yang diukur dengan perputaran persediaan, perputaran kas dan perputaran piutang terhadap profitabilitas perusahaan. Hasil pengujian hipotesis pertama ditemukan bahwa perputaran kas tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Hasil pengujian hipotesis kedua perputaran piutang titak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, dan hasil pengujian hipotesis ketiga ditemukan bahwa perputaran persediaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Modal kerja merupakan kekayaan atau aktiva yang diperlukan oleh perusahaan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dan selalu berputar. Aktiva lancar (current assets) adalah aktiva yang pada umumnya akan menjelma menjadi uang kas dalam satu periode akuntansi atau satu tahun. Didalam penjelmaan aktiva lancar itu menjadi uang kas melewati beberapa tahap. Tahap-tahap itu tercermin dalam pos-pos neraca. Uang kas digunakan untuk membeli bahan dasar, untuk membayar upah, biaya-biaya produksi yang lain maupun biaya-biaya umum dan adminstrasi. Setelah bahan dasar itu selesai diproses di dalam proses produksi maka output itu lalu disimpan sebagai persediaan barang jadi. Pada saat persediaan barang jadi itu dijual maka akan timbullah piutang (bila dijual dengan kredit) atau langsung menjadi uang kas (bila dijual tunai) piutang tersebut kemudian akan ditagih atau dikumpulkan oleh perusahaan dan kemudian proses perputaran aktiva lancar tersebut berlangsung kembali seperti semula.
Menurut Indriyo (1980 ) seperti yang dikutip dalam Mahaldi (2003) pada perusahaan bila dilihat dari bentuknya, modal kerja memiliki 2 macam bentuk yaitu modal kerja permanen dan modal kerja variabel.
Modal kerja permanen adalah kebutuhan minimum bagi perusahaan untuk memutarkan usahanya merupakan modal kerja permanent. Sering juga diartikan dengan jumlah kebutuhan modal kerja yang harus selalu ada dalam satu tahun. Kebutuhan tersebut adalah berupa jumlah aktiva lancar yang harus selalu ada dalam satu tahun perputaran usahanya.
Modal kerja variabel adalah kebutuhan modal kerja yang hanya dibutuhkan pada saat-saat tertentu saja dalam satu tahun perputaran usahanya. Misalnya tambahan-tambahan kebutuhan modal kerja pada saat penjualan meningkat (penjualan puncak). Pada saat-saat meningkatnya penjualan tersebut tentu saja kebutuhan juga bertambah begitu pula upah buruh. Jumlah piutang juga bertambah besar dan diperlukan dana untuk itu
Besar kecilnya kebutuhan dari kedua jenis modal kerja tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu volume penjualan, pengaruh musim, kemajuan teknologi. Volume penjualan adalah faktor yang paling utama karena perusahaan memerlukan modal kerja untuk menjelaskan aktifitasnya yang mana puncak dan aktifitasnya itu adalah aktivitas penjualan. Pengaruh Musim penyebabnya adalah musim akan dapat mempengaruhi permintaan dari barang ataupun jasa. Dengan adanya pengaruh musim terhadap permintaan ini, maka penjualan akan berfluktuasi. Fluktuasi penjualan akan mengakibatkan perbedaan-perbedaan jumlah kebutuhan modal kerja dan hal inilah yang menimbulkan adanya modal kerja variabel.
Faktor lainnya yang mempengaruhi modal kerja adalah kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi dapat mempengaruhi atau merubah proses produksi menjadi lebih cepat dan lebih ekonomis. Dengan demikian dapat mengurangi jumlah kebutuhan modal kerja. Faktor lainnya yang mempengaruhi modal kerja adalah faktor sosial, politik dan penjualan kredit.
Semakin cepat perputaran modal kerja, maka kreditur dan pemegang saham akan beranggapan bahwa tingkat keamanan atau margin of safety lebih tinggi dibandingkan dengan perputaran modal kerja yang lambat. Artinya kreditur akan lebih berminat menanamkan modal kerjanya pada perusahaan-perusahaan yang perputaran modal kerjanya relatif cepat. Adanya modal kerja yang cukup, memungkinkan perusahaan beroperasi seekonomis mungkin sehingga diperlukan kebijaksanaan yang tepat dalam modal kerja. Adanya kebijaksanaan modal kerja yang tepat, akan menyebabkan seluruh aktivitas usaha dapat terjamin dengan lancar sehingga akan mendorong peningkatan profitabilitas, yang dalam hal ini adalah Return On Investment (ROI).
Profitabilitas menurut S.Munawir (1992) adalah suatu kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam suatu periode tertentu. Profitabilitas juga dapat menunjukan hasil akhir dari sejumlah kebijaksanaan dan keputusan-keputusan manajemen. Profitabilitas merupakan salah satu bagian yang terpenting bagi perusahaan karena disamping dapat menilai efisiensi kerja, juga merupakan alat untuk meramal laba pada masa yang akan datang dan juga merupakan alat pengendalian bagi manajemen.
Dari uraian diatas, secara teoritis terdapat hubungan yang erat antara modal kerja dengan profitabilitas perusahaan. Disini modal kerja yang efisien berarti jumlah modal kerja yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan aktivitas perusahaan tetapi jumlahnya tidaklah berlebihan atau dengan arti kata tidak ada modal kerja yang menganggur. Dengan modal kerja yang efisisen ini memungkinkan perusahaan untuk dapat beroperasi seekonomis mungkin dan pada sisi lain perusahaan tidak mengalami kesulitan jika terjadi keadaan yang tidak diharapkan seperti terjadinya krisis keuangan di perusahaan.
Alasan yang membuat peneliti tertarik untuk mengangkat permasalahan ini adalah karena adanya perbedaan data yang akan dihitung untuk mengukur perbedaan nilai waktu pada data terbaru yang diperoleh. Data saat ini yang diperoleh adalah data terbaru yakni dari tahun 2000 sampai 2004 selama lima tahun. Sedangkan pada penelitian terdahulu, memang terdapat pengaruh signifikan antara tingkat efektifitas komponen modal kerja terhadap profitabilitas dengan pengolahan data pada tahun 1996. Dan dari penelitian yang terbaru hanya pada tahun 1997. Peneliti tertarik untuk menguji apakah terdapat perbedaan dari sudut konsep situasi ekonomi pada tahun 1997 dengan tahun perolehan data terbaru yaitu tahun 2000 hingga 2004. Oleh sebab itu penulis mengangkat permasalahan modal kerja sebagai alat untuk memaksimalkan laba terhadap pada sebuah penelitian yang berjudul Pengaruh Efektifitas Komponen Modal Kerja Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Manufaktur yang Go Public di Indonesia
1.2 Perumusan Masalah
Permasalahan yang dilihat adalah bagaimana pengelolaan modal kerja perusahaan, apakah cukup tersedianya modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan dan pengaruh dari kebijakan yang diambil oleh manajemen perusahaan untuk mendapatkan sumber dan penggunaan modal kerja demi kelancaran aktivitas perusahaan. Dengan kata lain yang menjadi pokok permasalahan disini ialah :
Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara efektifitas komponen modal kerja terhadap profitabilitas pada perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia.
1.3 Batasan Masalah
Dalam penelitian ini digunakan batasan-batasan permasalahan sebagai berikut :
1. Komponen modal kerja yang akan diteliti pada tulisan ini adalah perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran persediaan. Karena, tiga komponen modal kerja tersebut merupakan komponen utama yang mempengaruhi besarnya profit ROI yang diterima oleh perusahaan.
2. Profitabilitas diukur dengan menggunakan Return On Investment (ROI)
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.1 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui adanya pengaruh yang signifikan antara efektifitas komponen modal kerja terhadap profitabilitas pada perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia.
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh efektifitas komponen modal kerja terhadap profitabilitas pada perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia
1.4.2 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :
1. Bagi perusahaan
Dapat sebagai barometer bagi perusahaan untuk memikirkan cara agar dapat meminimalisasikan kerugian terutama kerugian yang berasal dari dalam perusahaan, dimana perusahaan harus dapat memperbaiki kinerja keuangan yang mereka hasilkan.
2. Bagi investor
Bagi investor penelitian ini dapat dijadikan bahan perbandingan dan acuan untuk menentukan keputusan investasi yang akan mereka lakukan terhadap salah satu perusahaan unggulan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.
3. Bagi Akademisi
Penelitian ini dapat dijadikan bahan pedoman untuk diteliti lebih lanjut dikarenakan sifat dari penelitian ini adalah empiris, sehingga nilai kesempurnaannya belumlah maksimal.
1.5 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini merupakan bab pembuka yang terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini merupakan bab yang akan membahas tentang landasan teori yang terdiri dari teori-teori yang mendukung permasalahan dalam penelitian ini, seperti teori yang berkaitan dengan komponen-komponen modal kerja dan profitabilitas yang berdasarkan pada studi literatur, yang meliputi pengertian, fungsi dan pentingnya modal kerja, faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan modal kerja, jenis modal kerja, komponen modal kerja, efektifitas modal kerja, profitabilitas dan pengertian, rasio pengukuran profitabilitas, hubungan teoritis efisiensi komponen modal kerja dengan profitabilitas perusahaan, telaah penelitian terdahulu dan ditutup dengan sebuah hipotesis.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini merupakan bab yang akan membahas tentang objek penelitian yang terdiri dari : populasi dan sampel, jenis dan sumber data, variabel penelitian dan definisi operasional variabel dan teknik analisis yang akan digunakan untuk membuktikan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini.
BAB IV HASIL DAN ANALISIS
Bab ini merupakan inti atau isi dari penelitian ini yang membahas tentang hasil pengolahan data secara statistik dan melakukan pembahasan terhadap hasil yang ditemukan dalam penelitian ini yang dihubungkan dengan realita sehari-hari dan teori menurut literatur ilmu pengetahuan.
BAB V PENUTUP
Bab ini merupakan penutup dari penelitian yang penulis laksanakan yang merupakan kesimpulan atau inti dari hasil yang ditemukan, keterbatasan dari penelitian yang telah dilakukan, dan ditutup dengan saran yang penulis tujukan kepada peneliti selanjutnya, investor dan perusahaan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Modal Kerja
Setiap perusahaan selalu membutuhkan modal kerja untuk operasional harian perusahaan, misalnya untuk pembayaran upah buruh, gaji pegawai, membayar persekot pembelian persediaan, dan sebagainya. Modal kerja merupakan kekayaan atau aktiva yang diperlukan oleh perusahaan untuk menyelenggarakan kegiatan sehari-hari yang selalu berputar dalam periode tertentu.
Menurut Car L. Moore dan Robert K. Jaedicks (1980 ) mengatakan bahwa modal kerja adalah investasi yang dilakukan perusahaan dalam aktiva lancar yang digunakan untuk operasi perusahaan. Modal kerja juga dapat diartikan sebagai kelebihan aktiva lancar dari kewajiban lancar.
Awat J. Napa (1998) memberikan pengertian modal kerja berdasarkan tiga konsep yaitu konsep kuantitatif atau modal kerja bruto (gross working capital, konsep Kualitatif atau modal kerja bersih (net working capital) dan konsep konvensional
Konsep Kuantitatif atau modal kerja bruto (gross working capital) adalah keseluruhan jumlah aktiva lancar perusahaan. Konsep Kualitatif atau modal kerja bersih (net working capital) adalah sebagian aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, atau dengan kata lain modal kerja menurut konsep ini adalah kelebihan aktiva lancar atas kewajiban lancar. Konsep fungsional adalah fungsional mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilakan pendapatan (income), yang terdiri dari modal kerja dan modal kerja potensial. Modal kerja adalah besarnya dana yang digunakan selama periode akuntansi untuk menghasilkan pendapatan tahun berjalan (current income). Sedangkan modal kerja potensial adalah dana yang digunakan dalam periode akuntansi tertentu yang tidak seluruhnya menghasilkan pendapatan, misalnya ditanamkan dalam obligasi akan menghasilkan current income dalam bentuk bunga obligasi (coupon).
2.1.1.1 Fungsi dan Pentingnya Modal Kerja
Modal kerja juga mempunyai fungsi sangat penting dalam menopang operasi dan kegitan lainnya, karena modal kerja dapat digambarkan sebagai pengeluaran yang bukan aktiva tetap, baik secara langsung maupun tidak langsung yang harus dilakukan terus sebelum hasil penjualan dapat ditagih dan diterima dari pelanggan sehingga perusahaan berjalan secara continue.
Pada dasarnya perusahaan memiliki dua jenis pengeluaran yaitu : yang bersifat operasional dan non operasional, seperti cicilan pembelian aktiva tetap, pembayaran pajak, deviden dan sebagainya. Berdasarkan dua macam pengeluaran tersebut, modal kerja menurut Ahmad Kamaluddin (1997) mempunyai dua macam fungsi, yaitu menopang pada kegiatan produksi, menutup pengeluaran yang bersifat tetap
Menopang kegiatan produksi dan penjualan dengan menjembatani antara saat pengeluaran untuk pembelian bahan serta jasa yang diperlukan dengan penjualan. Menutup pengeluaran yang bersifat tetap dan yang tidak bersifat tetap berhubungan langsung dengan produksi dan penjualan.
Pada dasarnya modal kerja adalah sebagian dari dana perusahaan yang berfungsi sebagai jembatan antara saat pengeluaran uang dengan saat penerimaannya. Secara umum peranan pentingnya modal kerja bagi suatu perusahaan adalah menampung kemungkinan akibat buruk yang timbul karena penurunan nilai aktiva lancar seperti penurunan nilai piutang yang diragukan dan tidak dapat ditagih atau penurunan nilai persediaan. Memungkinkan untuk membayar semua kewajiban lancarnya tepat pada waktunya dan untuk memanfaatkan potongan tunai. Memungkinkan perusahaan untuk memelihara “Credit Standing” perusahaan yaitu penilaian pihak ketiga misalnya bank dan para kreditor akan kelayakan perusahaan untuk memelihara kredit. Disamping itu modal kerja yang mencukupi memungkinkan perusahaan untuk menghadapi situasi darurat seperti dalam hal terjadi pemogokan, banjir dan kebakaran.
Peranan dari modal kerja bagi perusahaan adalah memungkinkan perusahaan untuk memberikan syarat kredit pada para pembeli. Kadang-kadang perusahaan harus memberikan kepada pembelinya syarat kredit yang lebih lunak dalam usaha membantu para pembeli yang baik untuk membiayai operasinya. Memungkinkan pimpinan perusahaan untuk menyelenggarakan perusahaan lebih efisien dengan jalan menghindari keterlambatan dalam memperoleh bahan, jasa dan alat-alat yang disebabkan karena kesulitan kredit. Modal kerja yang mencukupi, memungkinkan pula perusahaan untuk menghadapi masa resesi dan depresi dengan baik.
2.1.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Modal Kerja
Banyak faktor yang mempengaruhi jumlah berbagai jenis modal kerja seperti kas, surat-surat berharga, piutang dan persediaan. Kebutuhan perusahaan akan modal kerja tergantung dari faktor-faktor sebagaimana dikemukakan oleh S.Munawir (1998) sebagai berikut:
a. Jenis perusahaan
Profitabilitas akan sangat tergantung pada jenis perusahaan, dimana jika perusahaannya menjual barang-barang konsumsi atau jasa biasanya akan memiliki pendapatan yang lebih stabil dari pada perusahaan yang memproduksi barang-barang modal.
b. Umur perusahaan
Sebuah perusahaan yang telah lama berdiri maka akan lebih stabil bila dibandingkan dengan perusahaan yang baru berdiri. Menurut sifat atau jenis perusahaan maka perusahaan itu dapat dikelompokan dalam perusahaan jasa, perusahaan dagang serta perusahaan industri. Waktu yang diperlukan untuk memproduksi dan memperoleh barang yang akan dijual dan harga satuan barang yang bersangkutan Adanya hubungan langsung antara jumlah modal kerja dan jangka waktu yang diperlukan untuk memproduksi barang itu dijual kepada para pembeli.
Cara-cara atau syarat-syarat pembelian dan penjualan. Kebutuhan modal kerja dari suatu perusahaan dipengaruhi oleh syarat-syarat pembelian dan penjualan. Makin banyak diperoleh sarat-sarat kredit yang lunak untuk membeli barang dari pemasok, maka lebih kurang/ sedikit uang perlu ditanamkan dalam persediaan. Makin banyak suatu persediaan dijual dan diganti kembali (perputaran persediaan) maka makin kecil modal kerja yang diperlukan.
2.1.1.3 Jenis Modal Kerja
Menurut Riyanto Bambang (1997) jenis modal kerja dapat dikelompokkan dalam dua jenis yaitu modal kerja permanen dan modal kerja variabel. Modal kerja permanen (permanent working capital) adalah modal kerja yang harus ada dalam perusahaan agar dapat melaksanakan fungsinya sebagai modal kerja yang secara terus menerus diperlakukan bagi kelancaran usaha.
Modal kerja permanent dapat dibagi pada beberapa kriteria modal kerja primer, dan modal kerja normal. Modal kerja primer (primary working capital) merupakan modal kerja minimum yang harus dimiliki perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Modal kerja normal (normal working capital) adalah Modal kerja yang tetap ada dalam perusahaan pada aktiva normal.
Modal kerja variabel (variabel working capital) adalah Modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan kebutuhan yang dihadapi oleh perusahaan yang bersangkutan. Variabel working capital dapat dibedakan atas tiga jenis Modal kerja musiman (seasonal working capital), Merupakan modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim. Modal kerja siklis (cyclical working capital) adalah Modal kerja yang berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur. Modal kerja darurat (emergency working capital) adalah Modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya (misal : pemogokan buruh, banjir, perubahan keadaan ekonomi yang mendadak)
2.1.1.4 Komponen Modal Kerja
Secara umum seperti yang telah diterangkan sebelumnya modal kerja adalah total aktiva lancar. Untuk melihat jumlah modal kerja yang ada dalam suatu perusahaan dapat diketahui dari laporan keuangannya yaitu pada bagian neraca.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (1999) yang dimaksud dengan aktiva lancar adalah aktiva yang diharapkan dapat direalisasikan dalam waktu satu tahun atau dalam siklus operasi normal perusahaan. Dengan demikian aktiva lancar antara lain meliputi Kas dan Bank, Surat-surat berharga yang mudah dijual dan tidak dimaksudkan untuk ditahan, deposito jangka pendek, wesel tagih yang akan jatuh tempo dalam satu tahun, piutang, persediaan, pembayaran dimuka untuk pembelian aktiva lancar, pembayaran pajak dimuka dan biaya dibayar dimuka.
2.1.1.5 Efektifitas Modal Kerja
Manajemen modal kerja berkenaan dengan manajemen aktiva lancar, manajemen modal kerja ini merupakan salah satu aspek terpenting dari keseluruhan manajemen pembelanjaan perusahaan. Apabila perusahaan tidak dapat mempertahankan tingkat modal kerja yang memuaskan, maka kemungkinan perusahaan akan berada dalam keadaan insolvent (tidak mampu membayar kewajiban-kewajiban yang sudah jatuh tempo) dan bahkan mungkin terpaksa harus dilikuid (bangkrut), karena manajemen modal kerja menyangkut kegiatan operasi perusahaan sehari-hari.
Modal kerja erat kaitannya dengan operasi perusahaan sehari-hari dan menunjukkan tingkat keamanan atau margin of safety para kreditur terutama jangka pendek. Tujuan dari manajemen modal kerja adalah untuk mengelola masing-masing pos aktiva lancar sedemikian rupa secara efektif. Efektifitas modal kerja dapat diartikan sebagai keadaan dimana jumlah modal kerja yang tersedia dalam perusahaan dapat digunakan untuk menjalankan kegiatan ekonomi perusahaan sehari-hari seekonomis mungkin sehingga perusahaan tidak mengalami kesulitan atau bahaya yang dapat ditimbulkan karena kekurangan modal kerja, tapi jumlahnya tidak terlalu besar.
Efektifitas modal kerja didalam perusahaan dapat diukur dengan rasio perputaran modal kerja. Untuk menghitung tingkat perputaran modal kerja dapat dilihat dari proses produksi perusahaan yaitu dari kas dikeluarkan sampai saat kas diterima kembali. Tingkat perputaran modal kerja dapat pula dihitung dari neraca dan laporan laba rugi pada suatu saat tertentu yaitu dengan cara membandingkan antara penjualan bersih dengan total aktiva lancarnya.
Menurut Riyanto Bambang (1997) antara penjualan dan modal kerja terdapat hubungan yang erat, jika jumlah penjualan bertambah besar, maka jumlah uang yang ditanam dalam barang dagangan dan piutang bertambah besar pula, dan karenanya dibutuhkan juga jumlah modal kerja yang lebih besar. Untuk menguji efisiensi dari pemanfaatan modal kerja, perputaran modal kerja ditetapkan berdasarkan perbandingan yang terdapat antara jumlah penjualan dan jumlah modal kerja. Angka perputaran yang tinggi dari modal kerja dapat disebabkan karena barang persediaan dan piutang yang menghendaki jumlah modal kerja yang relatif rendah. Sebaliknya jumlah modal kerja yang rendah dapat menggambarkan modal kerja yang tidak mencukupi dan perputaran barang persediaan dan piutang yang rendah. Jumlah modal kerja yang tidak mencukupi besarnya dapat dibarengi dengan amat besarnya kewajiban jangka pendek yang sudah harus diselesaikan sebelum barang persediaan dan piutang dapat dijadikan uang tunai.
Sedangkan menurut S.Munawir (1992) dalam menilai efisiensi modal kerja dapat digunakan ratio antara total penjualan dengan total aktiva lancar. Rasio ini menunjukkan hubungan antara modal kerja dengan penjualan dan menunjukkan banyaknya penjualan yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah modal kerja. Turn Over modal kerja yang rendah menunjukkan adanya kelebihan modal kerja yang mungkin disebabkan rendahnya turn over persediaan, piutang atau saldo kas terlalu besar.
2.1.2 Profitabilitas
2.1.2.1 Pengertian Profitabilitas
Menurut Husnan Suad (1994) memberikan pengertian profitabilitas adalah: “profitabilitas adalah menunjukan kemampuan perusahaan untuk memperoleh profit (keuntungan). Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba atau nilai hasil akhir dari suatu perusahaan selama periode tertentu. Dengan demikian, apabila suatu perusahaan mempunyai keuntungan yang lebih tinggi, belum tentu dapat menyebabkan profitabilitasnya juga tinggi, karena kemungkinan dapat terjadi yang sebaliknya.
Cara untuk menilai profitabilitas suatu perusahaan adalah bermacam-macam dan tergantung pada laba dan aktiva atau modal mana yang akan diperbandingkan satu dengan lainnya. Apakah yang akan diperbandingkan itu laba yang berasal dari operasi atau usaha, atau laba netto setelah pajak dengan keseluruhan aktiva operasi atau laba netto sesudah pajak dengan keseluruhan aktiva operasi atau laba neto sesudah pajak dengan keseluruhan aktiva berwujud ataukah yang akan diperbandingkan itu laba neto sesudah pajak dengan jumlah modal sendiri. Tapi penilaian profitabilitas yang secara umum lebih dikenal ada dua yaitu profitabilitas ekonomis atau ROI (Return On Investment) dan profitabilitas modal sendiri atau ROE (Return On Equity).
2.1.2.2 Rasio-rasio Pengukuran Profitabilitas
Untuk mengukur profitabilitas suatu perusahaan ada beberapa ratio yang dapat digunakan antara lain return on operating assets, operating asset turn over, Return On Investment.
Return On Operating Asset (ROA) rasio ini diukur dengan menghubungkan keuntungan atau laba yang diperoleh dari kegiatan pokok perusahaan dengan kekayaan atau asset yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan tersebut. Operating Asset Turn Over merupakan rasio antara jumlah aktiva yang digunakan dalam operasi (operating assets) terhadap jumlah penjualan yang diperoleh selama periode tersebut. Return On Investmen (ROI) adalah salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.
Besarnya ROI dipengaruhi oleh dua faktor yaitu turn over dari operating assets (tingkat perputaran aktiva yang digunakan) kedua profit margin, yaitu besarnya keuntungan operasi yang dinyatakan dalam persentase dan jumlah penjualan bersih. Profit margin ini mengukur tingkat keuntungan yang dicapai oleh perusahaan dihubungkan dengan penjualannya.
2.1.2.3 Hubungan Teoritis Efisiensi Komponen Modal Kerja dengan Profitabilitas Perusahaan.
Modal kerja selain erat hubungannya dengan operasi perusahaan sehari-hari sekaligus menunjukkan tingkat keamanan atau margin of safety para kreditur terutama jangka pendek. Adanya modal kerja yang efisien dalam artian jumlah modal kerja yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan aktivitas perusahaan tetapi tidak berlebihan atau terdapat modal kerja yang menganggur sehingga memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi seekonomis mungkin dan perusahaan tidak mengalami kesulitan atau menghadapi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh adanya krisis keuangan. Sedangkan modal kerja yang inefisien dalam artian terjadi kekurangan atau kelebihan modal kerja dapat menganggu kestabilan perusahaan, dimana bila modal kerja terlalu besar atau melebihi kebutuhan akan menyebabkan terhambatnya kesempatan perusahaan untuk memperoleh laba karena lambatnya perputaran dana yang dimiliki, serta adanya dana yang tidak beroperasi secara optimal atau adanya dana yang menganggur. Adanya dana yang menganggur ini nantinya juga akan menimbulkan biaya baru bagi perusahaan.
Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa secara teoritis terdapat pengaruh antara efisiensi modal kerja dengan profitabilitas perusahaan. Pernyataan ini dapat didukung oleh pendapat Car L. More dan Robert K. Jaedicks (1980) yang menyatakan Indikasi mengenai efisiensi dan profitabilitas dalam penggunaan aktiva lancar dapat diukur melalui tiga hubungan. Pengukuran perputaran aktiva lancar dapat dilakukan dengan membagi jumlah HPP dan biaya usaha dengan jumlah rata-rata aktiva lancar yang ada pada awal dan akhir periode akuntansi.
2.2 Telaah Penelitian Terdahulu
Penelitian yang penulis laksanakan ini juga pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu, yaitu :
a. Anne Putri (1997) meneliti tentang pengaruh efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas PT terbuka di Indonesia. Dalam penelitiannya digunakan sampel 30 buah perusahaan manufaktur. Dari hasil penelitiannya disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara efisiensi modal kerja terhadap profitabilitas perusahaan, dimana modal kerja yang dimaksudkan disini adalah modal kerja dalam pengertian bruto. Efisiensi modal kerja diukur dengan perputaran modal kerja sedangkan profitabilitas diukur dengan ROI.
b. Yansyafrin (1996) meneliti tentang pengaruh aktiva usaha terhadap profitabilitas perusahaan public di Indonesia. Dalam penelitiannya menggunakan 45 sampel perusahaan dengan dua bidang usaha yaitu manufaktur dan jasa. Dari hasil penelitiannya disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara aktiva usaha dan profitabilitas dimana aktiva usaha yang dimaksud disini adalah aktiva yang digunakan untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan yaitu aktiva lancar kecuali investasi yang bersifat sementara dan profitabilitas yang diukur dengan ROI.
2.3 Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah dan landasan teori yang terdapat pada bab sebelumnya, maka yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah :
H1 Diduga terdapat pengaruh yang signifikan antara komponen modal kerja yang diukur dengan perputaran persediaan terhadap profitabilitas perusahaan.
H2 Diduga terdapat pengaruh yang signifikan antara komponen modal kerja yang diukur dengan perputaran piutang terhadap profitabilitas perusahaan.
H3 Diduga terdapat pengaruh yang signifikan antara komponen modal kerja yang diukur dengan perputaran kas terhadap profitabilitas perusahaan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
3.1.1 Populasi dan Sampel
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil populasi seluruh perusahaan yang tergabung dalam PT. Bursa Efek Jakarta yang diambil salah satu divisi yaitu divisi manufaktur.
Untuk mempersempit objek pembahasan yang dikaji dalam pelaksanaan penelitian ini, maka penulis mengambil bagian dari populasi atau sampel pada 30 perusahaan manufaktur yang aktif melakukan aktivitas perdagangan sekuritas di Bursa Efek Jakarta.
Dalam pengambilan sampel digunakan dalam metode purposive sampling. Menurut Jogianto (2004) yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Perusahaan manufaktur yang diteliti yaitu perusahaan yang bergerak di bidang industri barang konsumsi khususnya food and beverages, tobacco manufactures, dan tekstile mill products. Sampel penelitian difokuskan pada perusahaan manufaktur, karena jenis industri sama maka prilaku datanya akan sama.
b. Telah terdaftar di BEJ pada tahun 2000 dan masih terdaftar sampai 31 Desember 2004.
c. Perusahaan yang digunakan adalah perusahaan yang berlaba selama tahun 2000 sampai dengan tahun 2004.
Daftar Sampel Nama 30 Perusahaan Manufaktur yang Go Public di Indonesia :
No Nama Perusahaan
1 PT Gajah Tunggal Tbk
2 PT Goodyear Indonesia Tbk
3 PT GT Petrochem Industries Tbk
4 PT Hexindo Adiperkasa Tbk
5 PT Indomobil Sukses Internasional Tbk
6 PT Indospring Tbk
7 PT Intraco Penta Tbk
8 PT Multi Prima Sejahtera Tbk
9 PT Nipress Tbk
10 PT Prima Alloy Steel Tbk
11 PT Selamat Sempurna Tbk
12 PT Sugi Samapersada Tbk
13 PT Tunas Ridean Tbk
14 PT United Tractors Tbk
15 PT Apac Citra Centertex Tbk
16 PT Delta Dunia Petroindo Tbk
17 PT Ever Shine Textile Industry Tbk
18 PT Fortune Mate Indonesia Tbk
19 PT Great River International Tbk
20 PT Hanson Indonesia Tbk
21 PT Indorama Synthetics Tbk
22 PT Karwell IndonesiaTbk
23 PT Kasogi InternationalTbk
24 PT Pan Brothers Tex Tbk
25 PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk
26 PT Ricky Putra Globalindo Tbk
27 PT Ryane Adibusana Tbk
28 PT Sarasa Nugraha Tbk
29 PT Sepatu Bata Tbk
30 PT Surya Intrindo Makmur Tbk
3.2 Data dan Sumber Data
3.2.1 Data
Semua informasi dan data yang digunakan untuk melaksanakan penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang penulis peroleh berdasarkan hasil laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan kepada pihak-pihak yang berhubungan dengan perusahaan (stake holder).
3.2.2 Sumber Data
Data dan informasi yang digunakan adalah data yang bersumber dari laporan keuangan perusahaan yang terlampir dalam Indonesian Capital Market of Directory pada Pojok BEJ Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Padang .
3.3 Variabel dan Defenisi Operasional Variabel
Untuk dapat melihat seberapa jauh pengaruh antara efisiensi komponen-komponen modal kerja yang dinilai dari perputaran aliran kas, perputaran dan periode pengumpulan piutang serta perputaran persediaan dengan profitabilitas perusahaan. Digunakan analisa regresi berganda. Dalam perhitungannya untuk mendapatkan regresi berganda dalam penelitian ini digunakan dua variabel yaitu variabel independent dan variabel dependen. Dengan demikian dalam penelitian ini efisiensi komponen modal kerja merupakan varibel independen dan profitabilitas merupakan variabel dependen.
Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah profitabilitas. Profitabilitas yaitu tingkat perolehan laba perusahaan pada periode tertentu (Y) diproksikan dengan ROI
ROI = x 100%
Variabel Independen
a. Perputaran kas, yaitu menunjukkan jika perputaran arus kas yang terjadi dalam perusahaan jika mengalami penurunan maka akan mengakibatkan terjadinya penurunan profitabilitas yang akan diterima perusahaan (X1) diprosikan dengan
Cash Turn Over
CTO =
b. Perputaran piutang, yaitu Tingkat perputaran piutang tergantung dari syarat pembayaran yang diberikan oleh perusahaan, makin lama syarat pembayaran semakin lama dana terikat dalam piutang, semakin rendah tingkat perputaran piutang (x) diproksikan dengan Receivable Turn Over.
RTO =
c. Perputaran persediaan
Menunjukkan berapa cepat perputaran persediaan dalam siklus produksi normal, dimana semakin tinggi tingkat perputaran persediaan maka produksi akan berjalan dengan baik (X3) diproksikan dengan Invevtory Turn Over =
d. Umur perusahaan juga merupakan faktor yang mempengaruhi profitabilitas. Pengukuran variabel ini dengan melihat umur perusahaan yang dihitung dari perusahaan itu berdiri atau saat konsolidasi sampai saat penelitian.
3.4 Metode Analitis
Untuk melakukan pengujian hipotesis maka dilakukan pengujian dengan bantuan metode analisis secara kuantitatif. Dalam melakukan pengujian analisis kuantitatif pengujian hipotesis dilakukan dengan alat uji statistik. Alat uji statistik yang digunakan antara lain :
1. Regresi Linier Berganda
Untuk mengukur pengaruh variabel independent dengan variabel dependen dapat digunakan analisa regresi berganda. Dimana variabel independent dilambangkan dengan “x” dan variabel dependen dengan “y”. rumus regresi garis lurus berganda tersebut berupa :
Y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + e
Keterangan :
y = varibel dependen, yaitu profitabilitas
x1 = variabel independen, yaitu perputaran kas
x2 = variabel independent, yaitu perputaran piutang
x3 = variabel independent, yaitu perputaran persediaan
a = nilai y pada x = 0
b = perobahan nilai y apabila x berubah 1 unit
e = error
2. Pengujian Normalitas
Merupakan uji yang digunakan untuk melihat pola penyebaran data apakah berdistribusi normal atau tidak, selain itu uji normalitas juga dapat digunakan untuk menentukan uji statistik apa yang akan digunakan dalam sebuah penelitian apakah menggunakan uji parametrik maupun uji non parametrik. Normal atau tidaknya sebuah data dapat dilihat dari nilai asym sig yang dihasilkan dalam pengujian > 0,05. Jika data normal maka uji statistik parametrik dapat dilakukan dan sebaliknya.
3. Uji t-Statistik
Dilakukan untuk menentukan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dalam persamaan regresi linear berganda secara parsial.
Uji t-statistik dapat dihitung dengan rumus Sritua (1993).
t-hit =
dimana:
t = Mengikuti fungsi t dengan derajat kebebasan (df) = n-k-1
?n = Koefisien regresi masing-masing variabel
S?n = Standar error masing-masing variabel
Hipotesis Statistik
H01 : B1 = 0 Ha1 : B1 ? 0
H02 : B2 = 0 Ha2 : B2 ? 0
H03 : B3 = 0 Ha3 : B3 ? 0
Keterangan :
Jika nilai signifikan (sig) < taraf nyata (?), berasrti H0 ditolak dan Ha diterima, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kas, piutang dan persediaan terhadap profitabilitas pada 30 perusahaan manufaktur yang go publik di Indonesia.
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Deskriptif Data Statistik
Sesuai dengan tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk membuktikan pengaruh efektifitas komponen modal kerja terhadap profitabilitas perusahaan pada 30 perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis terlebih dahulu dijabarkan deskriptif umum dari data yang mendukung variabel penelitian, seperti yang terlihat pada tabel 4.1.1 dibawah ini:
Tabel 4.1.1 Deskriptif Statistik Data Penelitian
Variabel Penelitian N Minimum Maksimum Mean Std Deviasi
Profitabilitas 150 0,09 95,47 12,406 16,638
Perputaran Kas 150 0,19 1296,91 46,6445 121,057
Perputaran Piutang 150 0,05 216,34 10,494 21,979
Perputaran Persediaan 150 0,05 32,07 4,8170 5,650
Dari tabel diketahui bahwa variabel profitabilitas memiliki nilai terendah sebesar 0,09 sedangkan nilai profitabilitas tertinggi adalah sebesar 95,47. Jika dilihat secara total rata-rata profitabilitas yang mampu dihasilkan perusahaan sampel adalah sebesar 12,406 yang menghasilkan standar deviasi sebesar 16,638. Estimasi data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 150 yang merupakan data profitabilitas 30 perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia.
Untuk variabel perputaran kas dengan menggunakan jumlah data sebanyak 150 diperoleh nilai terendah dari data yang dimiliki salah satu perusahaan adalah sebesar 0,19 sedangkan data perputaran kas yang dimiliki salah satu perusahan sampel adalah 1296,91. Jika dilihat secara total diketahui rata-rata perputaran kas yang dimiliki perusahaan sampel adalah sebesar 46,6445 yang menghasilkan standar deviasi sebesar 121,057
Untuk variabel yang diukur dengan perputaran piutang berdasarkan deskriptif data statistik diketahui nilai terendah dari data adalah sebesar 0,05 sedangkan nilai data perputaran piutang tertinggi yang dimiliki salah satu perusahaan adalah sebesar 216,34. Jika dilihat secara total rata-rata perusahaan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menghasilkan perputaran piutang sebesar 10,494 yang menghasilkan standar deviasi sebesar 21,979 Estimasi data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 150 yang merupakan data profitabilitas 30 perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia.
Untuk variabel yang diukur dengan perputaran persediaan berdasarkan deskriptif data statistik diketahui nilai terendah dari data adalah sebesar 0,05 sedangkan nilai data perputaran persediaan tertinggi yang dimiliki salah satu perusahaan adalah sebesar 32,07. Jika dilihat secara total rata-rata perusahaan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menghasilkan perputaran persediaan sebesar 4,8170 yang menghasilkan standar deviasi sebesar 5,650 Estimasi data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 150 yang merupakan data profitabilitas 30 perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia.
4.2 Uji Normalitas
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis perlu dilakukan pengujian normalitas data yang berguna untuk mengetahui pola penyebaran dari nilai variance data, dalam melakukan pengujian normalitas digunakan bantuan uji non-parametrik One Sample Kolmogorov Smirnov Test. Normalnya sebuah variabel diketahui dari nilai asym sig yang dihasilkan > 0,05. Berdasarkan hasil pengujian normalitas yang telah dilakukan diperoleh ringkasan hasil seperti yang terlihat pada Tabel 4.2.1 dibawah ini yaitu:
Tabel 4.2.1 Uji Normalitas Kolmogorov – Smirnov
Variabel Asym Sig Alpha Keterangan
Profitabilitas 0,000 0,05 Tidak Normal
Perputaran Kas 0,00 0,05 Tidak Normal
Perputaran Piutang 0,018 0,05 Tidak Normal
Perputaran Persediaan 0,000 0,05 Tidak Normal
Dari tabel diketahui bahwa seluruh variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menghasilkan nilai asymp sig berada dibawah 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini tidak berdistribusi normal. Oleh sebab itu untuk sementara pengujian hipotesis belum dapat dilakukan sebelum data dinormalkan.
Untuk menormalkan data penulis menurunkan nilai dari data dengan cara mentransformasikan data dengan Log dan mengolah kembali data tersebut hingga nomal. Berdasarkan hasil pengulangan uji normalitas data yang telah dilakukan ditemukan hasil seperti yang terlihat pada tabel 4.2.2 dibawah ini:
Tabel 4.2.2 Uji Normalitas Kolmogorov – Smirnov
Variabel Asym Sig Alpha Keterangan
Profitabilitas 0,350 0,05 Normal
Perputaran Kas 0,394 0,05 Normal
Perputaran Piutang 0,110 0,05 Normal
Perputaran Persediaan 0,101 0,05 Normal
Berdasarkan hasil pengulangan uji normalitas diketahui seluruh variabel yang digunakan dalam penelitian ini telah berdistribusi normal, itu dibuktikan dengan asymp sig > 0,05 oleh sebab itu pengujian hipotesis telah dapat dilakukan.
4.3 Analisis Hasil Pengujian Hipotesis
4.3.1 Uji t-Statistik
Untuk membuktikan adanya pengaruh perputaran kas, perputaran persediaan dan perputaran piutang terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, maka dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan ditemukan ringkasan hasil penelitian seperti yang terlihat pada Tabel 4.3.1 dibawah ini:
Tabel 4.3.1 Hasil Pengujian Regresi dan Uji t-Statistik
Variabel Penelitian Koefisien Regresi Sig Alpha Kesimpulan
Konstanta 11,755
Perputaran Kas 0,00505 0,671 0,05 Tidak Signifikan
Perputaran Piutang 0,0557 0,312 0,05 Tidak Signifikan
Perputaran Persediaan 0,04102 0,874 0,05 Tidak Signifikan
Dari tabel diketahui setiap variabel yang digunakan menghasilkan nilai koefisien regresi yang dapat dibuat kedalam persamaan regresi seperti yang terlihat dibawah ini:
Y = 11,575 + 0,00505x1 + 0,0557x2 + 0,04102x3 + e
Berdasarkan persamaan diketahui bahwa variabel perputaran kas memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,00505x1 berarti perputaran kas berpengaruh positif terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, yang secara nyata dibuktikan dari pengujian t-statistik yang menghasilkan nilai signifikan 0,671 jauh lebih besar dari alpha 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang mengungkapkan perputaran kas berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan tidak dapat dibuktikan.
Untuk pengujian regresi variabel perputaran piutang diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,0557x2 berarti perputaran piutang berpengaruh positif terhadap profitabilitas, yang secara nyata dibuktikan dari pengujian t-statistik yang menghasilkan nilai signifikan 0,312 jauh lebih besar dari alpha 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang mengungkapkan perputaran piutang berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan tidak dapat dibuktikan.
Untuk pengujian regresi variabel perputaran persediaan diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,04102x3 berarti perputaran persediaan berpengaruh positif terhadap profitabilitas, yang secara nyata dibuktikan dari pengujian t-statistik yang menghasilkan nilai signifikan 0,874 jauh lebih besar dari alpha 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang mengungkapkan perputaran persediaan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan tidak dapat dibuktikan
4.4 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pertama ditemukan bahwa perputaran kas tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini disebabkan oleh tidak stabilnya nilai perputaran kas yang disebabkan oleh terjadinya fluktuasi nilai penjualan perusahaan yang terjadi karena adanya faktor yang berasal dari luar perusahaan seperti inflasi dan penurunan nilai kurs Rupiah terhadap Dollar sehingga mengakibatkan harga produk menjadi tidak stabil dan sering bergerak naik, terjadinya kecenderungan kenaikan harga membuat masyarakat mengalami penurunan daya beli karena pendapatan yang mereka miliki tidak bertambah. Terjadinya penurunan penjualan membuat perputaran kas yang masuk kedalam perusahaan menjadi tidak stabil sehingga mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba.
Untuk pengujian hipotesis kedua ditemukan perputaran piutang titak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini disebabkan oleh terjadinya ketidakstabilan nilai penjualan yang dialami pada umumnya perusahaan sampel, yang disebabkan menurunnya daya beli masyarakat dan adanya produk subtitusi. Penurunan daya beli disebabkan karena imbas terjadinya fluktuasi inflasi dan nilai kurs. Menurunya nilai perputaran piutang mengidentifikasikan bahwa nilai penjualan kredit yang diperoleh perusahaan juga menurun. Terjadinya ketidakstabilan penjualan membuat kemampuan perusahaan untuk memperoleh profit juga menjadi tidak stabil sehingga mempengaruhi hasil yang ditemukan dalam penelitian ini.
Untuk pengujian hipotesis ketiga ditemukan bahwa perputaran persediaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini disebabkan oleh terjadinya fluktuasi perputaran persediaan yang disebabkan oleh terjadinya fluktuasi nilai penjualan yang diterima perusahaan, ketidakstabilan penjualan membuat jumlah persediaan yang terpakai untuk aktifitas produksi tidak dapat diprediksi secara pasti, ketidakstabilan penjualan membuat aliran dana yang bersumber dari laba perusahaan juga menjadi tidak stabil sehingga mempengaruhi hasil yang ditemukan dalam penelitian ini.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan hasil pengujian hipotesis maka dapat ditarik kesimpulan yang merupakan inti dari penelitian ini yaitu:
1. Hasil pengujian hipotesis pertama ditemukan bahwa perputaran kas tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini disebabkan oleh tidak stabilnya nilai perputaran kas yang disebabkan oleh terjadinya fluktuasi nilai penjualan perusahaan yang terjadi karena adanya faktor yang berasal dari luar perusahaan seperti inflasi dan penurunan nilai kurs Rupiah terhadap Dollar sehingga mengakibatkan harga produk menjadi tidak stabi. Terjadinya penurunan penjualan membuat perputaran kas yang masuk kedalam perusahaan menjadi tidak stabil sehingga mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba.
2. Hasil pengujian hipotesis kedua perputaran piutang titak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini disebabkan oleh terjadinya ketidakstabilan nilai penjualan yang dialami pada umumnya perusahaan sampel, yang disebabkan menurunnya daya beli masyarakat dan adanya produk subtitusi. Penurunan daya beli disebabkan karena imbas terjadinya fluktuasi inflasi dan nilai kurs. Terjadinya ketidakstabilan penjualan membuat kemampuan perusahaan untuk memperoleh profit juga menjadi tidak stabil sehingga mempengaruhi hasil yang ditemukan dalam penelitian ini.
3. Untuk pengujian hipotesis ketiga ditemukan bahwa perputaran persediaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini disebabkan oleh terjadinya fluktuasi perputaran persediaan yang disebabkan oleh terjadinya fluktuasi nilai penjualan ketidakstabilan nilai penjualan membuat aliran dana yang bersumber dari laba perusahaan juga menjadi tidak stabil sehingga mempengaruhi hasil yang ditemukan dalam penelitian ini.
5.2 Keterbatasan Penelitian
Penulis menyadari bahwa hasil yang ditemukan dalam penelitian ini belumlah sempurna. Ketidaksempurnaan hasil yang ditemukan disebabkan oleh adanya keterbatasan yang terdapat dalam penelitian ini yaitu:
1. Masih sedikitnya jumlah perusahaan yang digunakan sebagai sampel sehingga mempengaruhi hasil yang ditemukan dalam penelitian ini.
2. Masih relatif pendeknya jangka waktu pengambilan sampel sehingga mempengaruhi hasil yang ditemukan dalam penelitian ini.
3. Masih adanya variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian yang juga mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba mengakibatkan hasil yang diperoleh didalam penelitian ini menjadi kurang rinci dan akurat.
5.3 Saran
Berdasarkan hasil yang ditemukan dalam penelitian ini maka dapat diajukan beberapa saran yang dapat bermanfaat bagi:
1. Bagi peneliti dimasa yang akan datang penulis menyarankan agar menggunakan jangka waktu pengambilan sampel yang lebih panjang, dan menambahkan satu variabel baru yang tidak digunakan dalam penelitian ini. Hal ini penting dilakukan agar hasil penelitian yang diperoleh dimasa yang datang akan menjadi lebih sempurna dari penelitian ini.
2. Bagi perusahaan, penulis menyarankan agar senantiasa menjaga kinerja keuangan yang dimiliki perusahaan yang melipuliti likuiditas, solvablitas dan rentabilitas karena kestabilan kenerja tersebut akan membuat tercapainya efektifitas penggunaan komponen modal kerja yang sangat mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Kamaluddin, 1997. Dasar-dasar Manajemen Modal Kerja, Cetakan Pertama PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Anne Putri, 1997, Pengaruh Efisiensi Modal Kerja Terhadap Profitabilitas PT Terbuka Di Indonesia, Skripsi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.
Awat, Napa J. 1998. Manajemen Keuangan: Pendekatan Matematis. PT. Gramedia Pustaka Umum, Jakarta.
Car L. Moore dan Robert K. Jaedicks, 1980, Managerial Accounting, Edisi kelima, South Western Publishing Co.
Gitosudarmo, Indriyo, 1980. Manajemen Modal Kerja. Penerbit: PT. Gramedia, Jakarta.
Husnan, Suad, 1994, Manajemen Keuangan-Teori dan Penerapan, Cetakan kedua, Jilid 2, BPFE, Yogyakarta.
Ikatan Akuntansi Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Buku Satu, Edisi Pertama. Penerbit Salemba Empat, 1999, PSAK No. 9.
Joel G. Siegel, Joe K. Shim and Stephen W. Martin, 1992, The McGraw-Hill Pocket Guede to Business Finance, Edisi Pertama, McGraw-Hill, Inc, New York
Jogiyanto, 2004. Metode Penelitian Salah Kaprah, Penerbit: BPFE. Yogyakarta.
Martha Mahaldi.S. 2003. Pengaruh Efisiensi Komponen Modal Kerja terhadap Profitabilitas Perusahaan. Fakultas Ekonomi. Universitas Andalas. Padang.
Riyanto, Bambang, 1997. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Ketiga, BPFE, Yogyakarta.
S. Munawir, 1998, Analisa Laporan Keuangan, Edisi ke-4, Liberty, Yogyakarta.
Sritua Arief. 1993. Metodologi Penelitian Ekonomi. UI-Press, Jakarta.
Yansyafrin, 1996, Pengaruh Aktifa Usaha Terhadap Profitabilitas Perusahaan Pada Perusahaan Publik di Indonesia, Skripsi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.

