Validasi Metode Penetapan Kadar Besi (Fe) Cara Destruksi Basah dalam Tepung Terigu dengan Spektroskopi Serapan Atom (SSA)

abstraks: 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Zat besi merupakan unsur mikro yang diperlukan bagi tubuh untuk melakukan metabolisme. Penanggulangan defisiensi zat besi di Indonesia dilakukan dengan cara fortifikasi atau penambahan zat besi dalam makanan sehingga mampu meningkatkan asupan besi bagi masyarakat. Salah satu bahan makanan yang difortifikasi zat besi adalah tepung terigu.
Pemilihan Tepung terigu sebagai bahan makanan yang difortifikasi karena bahan makanan tersebut dikonsumsi oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, mudah didapat dan stabil ketika di fortifikasi dengan zat besi.
Dalam rangka menyukseskan kebijakannya maka pemerintah meminta kepada produsen tepung terigu untuk memfortifikasi tepung terigu yang akan dikonsumsi oleh masyarakat dengan kadar minimal besi dalam tepung terigu sebesar 50 miligram per kilogram. Hal ini dipertegas dalam SNI tepung terigu no 01-3751-2006 yang menyatakan salah satu persyaratan tepung terigu yang akan di jual kepada mayarakat harus mengandung kadar besi minimal 50 mg/Kg.
Guna menunjang kebijakan pemerintah, maka BBIA selaku institusi pemerintah mencoba untuk mengembangkan metode uji yang dapat digunakan untuk mengetahui kadar besi yang ada dalam tepung terigu dengan murah, akurat, tepat, dan cepat.
Salah satu metode uji yang dikembangkan pada uji kadar besi dalam tepung terigu adalah metode uji destruksi basah menggunakan Spektroskopi Serapan Atom (SSA).
Uji kadar besi dalam tepung terigu cara destruksi basah menggunakan SSA merupakan metode uji pengembangan laboratorium maka menurut ISO 17025 -2000, metode tersebut harus divalidasi guna mengetahui tingkat keabsahan dan kelayakan terhadap metode uji yang digunakan.

1.2 Perumusan Masalah
Diperlukan sebuah metode uji kadar besi yang lebih cepat, murah dan akurat serta tervalidasi, sesuai persyaratan SNI 19-17025-2000.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan keabsahan metode analisa yang digunakan dalam penetapan kadar besi cara destruksi basah dalam tepung terigu secara spektrofotometri serapan atom.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah menghasilkan metode alternatif yang lebih cepat dan relatif murah dibandingkan metode yang telah ada.
1.5 Hipotesis
Metode analisa penetapan kadar besi dalam tepung terigu cara destruksi basah menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom layak dan valid untuk digunakan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tepung Terigu
Tepung terigu adalah tepung/bubuk halus yang berasal dari biji gandum, dan digunakan sebagai bahan dasar pembuat kue, mie dan roti. Kata terigu dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Portugis trigo yang berarti gandum. (Wikipedia Indonesia, 2008).
Gandum sendiri terbagi menjadi 2 yaitu gandum keras (hard wheat) dan gandum lunak (soft wheat). Keduanya dibedakan dari kandungan proteinnya. Melalui proses penggilingan, dihasilkan dua jenis tepung, yaitu tepung terigu (wheat flour) dan tepung gandum utuh (whole wheat flour / whole meal).
Tepung terigu merupakan hasil penggilingan biji gandum bagian paling dalam (endosperm), sedangkan tepung gandum utuh terbuat dari penggilingan biji gandum utuh yang hanya dibuang kulit luarnya saja sehingga kandungan lemak dan seratnya lebih tinggi dibanding tepung terigu.

Gambar 1. Tanaman Gandum
(Sumber : Wikipedia Indonesia, 2008)

Tepung terigu diklasifikasikan menjadi 3 jenis :
• Tepung berprotein tinggi (bread flour): tepung terigu yang mengandung kadar protein tinggi, antara 11%-13%, digunakan sebagai bahan pembuat roti, mie, pasta, donat.
• Tepung berprotein sedang/serbaguna (all purpose flour): tepung terigu yang mengandung kadar protein sedang, sekitar 8%-10%, digunakan sebagai bahan pembuat kue cake
• Tepung berprotein rendah (pastry flour): mengandung protein sekitar 6%-8%, umumnya digunakan untuk membuat kue yang renyah, seperti biskuit atau kulit gorengan.
Sebagian besar tepung terigu merupakan karbohidrat. Bahkan dalam 100 gram tepung terigu kandungan karbohidrat mencapai 77%. Selain karbohidrat, tepung terigu juga mengandung air 12%, protein 8,9%, lemak 0,1% serta beberapa mineral seperti besi (Fe), Kalsium (Ca) dan Phospor (P) dan juga beberapa jenis vitamin seperti vitamin B1.
Kandungan karbohidrat yang begitu besar dalam tepung terigu dapat dijadikan sebagai sumber kalori bagi tubuh.
2.2 Fortifikasi Besi Dalam Terigu
Besi merupakan zat anorganik yang masuk ke dalam golongan mineral. Mineral merupakan zat gizi sederhana yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Terdapat minimal 20 unsur mineral di dalam tubuh, antara lain kalium (K), kalsium (Ca), fosfor (P), belerang (S), natrium (Na), klor (Cl), magnesium (Mg), besi (Fe), seng (Zn), selenium (Se), mangan (Mn), tembaga (Cu), iodium (I), molibdenum (Mo), kobalt (Co), fluor (F), vanadium (V), brom (Br), stronsium (St), emas (Au), perak (Ag), nikel (Ni), aluminium (Al), timah (Sn), galium (Ga), silikon (Si), arsen (As). (Anna Poedjiadi, 1994)

Mineral yang dibutuhkan tubuh dapat digolongkan menjadi dua, yakni mikronutrien dan makronutrien. Mikronutrien merupakan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit (<0,005%) seperti Fe dan I. Makronutrien merupakan kebalikan dari mikronutrien. Unsur-unsur yang tergolong ke dalam makronutrien dibutuhkan dalam jumlah cukup banyak, yaitu lebih dari 0,005%. Contoh makronutrien ialah Na dan K.
Sebagai zat mikroniutrien, besi memiliki manfaat yang esensial dalam produksi haemoglobin yang berfungsi dalam mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, dan pengangkutan elektron dalam sel.
Defisiensi besi merupakan kekurangan zat gizi yang biasa terjadi di negara berkembang dan industri. Apabila tubuh mengalami kekurangan besi, dapat menyebabkan anemi kurang besi. Anemia defisiensi besi adalah keadaan penurunan konsentrasi haemoglobin dalam darah sampai kadar di bawah 11 g/dl.
Defisiensi besi juga berhubungan dengan menurunnya fungsi kekebalan yang diukur dengan perubahan dalam beberapa komponen sistem kekebalan yang terjadi selama defisiensi besi. Konsekuensi dari perubahan fungsi kekebalan adalah resistensi terhadap penyakit infeksi. Pada anak-anak defisiensi besi berhubungan dengan kelesuan, daya tangkap rendah, lekas marah dan menurunnya kemampuan belajar.
Di beberapa wilayah didunia khususnya dinegara berkembang, konsumsi asupan besi dalam masyarakat begitu rendah. Hal ini selain dikarenakan daya beli masyarakat terhadap bahan makanan yang begitu terbatas.
Untuk mengatasi masalah ini, maka di Indonesia dilakukan fortifikasi atau penambahan zat gizi tertentu dalam makanan sehingga mampu meningkatkan kadar gizi masyarakat. Salah satu upaya untuk meningkatakan asupan mineral besi (Fe) bagi masyarakat adalah dengan dikeluarkannya aturan pemerintah bagi terigu yang akan dijual dipasaran agar memenuhi Standar Nasional Indonesia.
Dalam Standar Nasional Indonesia atau SNI Tepung Terigu, dipersyaratkan kandungan Fe atau besi minimal 50 mg/Kg. Kandungan asli besi yang terdapat dalam terigu jauh dibawah nilai tersebut, maka pemerintah mewajibkan produsen untuk menambahkan premix kedalam tepung terigu.
Selain besi, fortifikasi dalam tepung terigu meliputi, seng (Zn), Vitamin B1 (thiamin), vitamin B2 (riboflavin), dan asam folat. Tujuan dari fortifikasi ini adalah untuk membantu meningkatkan kadar gizi bagi masyarakat.

2.3 Spektrofotometer Serapan Atom

SSA merupakan salah satu teknik analisa yang termasuk kedalam teknik analisa flame spectroscopy. Teknik ini biasa digunakan untuk penentuan kualitatif maupun kuantitatif sebuah unsur dari suatu sampel. Teknik analisa flame spectroscopy dapat dibagi menurut jenis proses yang terjadi selama analisanya, yaitu Flame Emission Spectroscopy, Atomic Absorption Spectroscopy dan Flouresence Spectroscopy.( Antanasopoulos, 1999).
Teknik analisa Absorption Atom dikembangkan oleh Sir Alan Walsh di pertengahan tahun 1950-an. Walsh menemukan bahwa secara umum atom bebas yang dibakar dalam nyala berada dalam keadaan dasarnya tapi sumber nyala tersebut tidak memiliki energi yang cukup untuk mengeksitasi atom-atom (kecuali unsur-unsur grup IA). Sebuah sumber cahaya mengemisi sebuah garis spektra sempit yang memilki enegi tertentu guna mengeksitasi atom bebas yang terbentuk dalam nyala.
Prinsip umum analisis suatu unsur menggunakan SSA ialah berdasarkan pada proses penyerapan radiasi oleh atom-atom yang berbeda pada tingkat energi dasar. Spektrum atom yang meliputi spektrum emisi dan absorbsi dapat digunakan sebagai dasar teknik analisis unsur secara selektif. Spektrum absorbsi atom bebas dalam bentuk uap pada suhu dan tekanan yang sesuai terdiri atas garis-garis sangat sempit. Garis-garis tersebut berkaitan erat dengan atom yang berada pada tingkat transisi dari tingkat dasar (ground state), yang lebih dikenal dengan sebutan garis resonansi. Pengukuran ketajaman garis spektrum dapat dianalisis secara tepat dengan syarat panjang gelombang yang digunakan nilainya cukup dekat dengan puncak absorbsi.

Secara proporsioanal konsentrasi atom bebas dalam nyala ditunjukkan menurut hukum Lambert-Beer

Absorbance = log lo / lI = K.C.L

Dimana : lo = intensitas awal radiasi cahaya yang diemisikan sumber cahaya
lI = intensitas cahaya yang ditransmisikan (jumlah yang tidak
terabsorbsi)
C = konsentrasi sampel (atom bebas)
K = konstanta
L = tebal media

SSA memiliki kemiripan dengan Spektroskopi UV-VIS dalam hal panjang gelombang dan hubungannya dalam penggunaan hukum Lambert-Beer namun berbeda nyata dalam hal penggunaan sumber cahaya dan bagian ruang sampel yang ditempatkan sebelum monokromator dan bukan setelahnya.

2.3.1 Peralatan SSA
Perangkat yang menyusun SSA di antaranya sumber cahaya, pengatom, sistem optik, monokromator, dan detektor. Sumber cahaya SSA yang digunakan ialah HCL (Hollow Cathode Lamp). Panjang gelombang yang digunakan perlu disesuaikan dengan unsur yang akan dianalisis.

Gambar 2. Bagan Spektroskopi Serapan Atom

Keterangan :
a = lampu katoda b = pembakar
c = cermin d = detektor

Sumber cahaya pada SSA menggunakan lampu katoda. Sebuah lampu katoda digunakan sebagai sumber radiasi yang digunakan untuk mengeksitasi atom-atom bebas dalam nyala pembakar. Lampu katoda memproduksi sebuah sinar yang memilki spektra garis yang sempit dan spesifik tergantung dari material katoda yang digunakan.
Dalam lampu katoda, sebuah katoda dan lapisan anoda ditutup dengan sebuah bahan gelas dan diisi dengan gas argon maupun neon yang tekanannya dikurangi hingga 7,5 mBar (10 torr). Gas pengisi dipilih untuk mengurangi interfensi spektra. Untuk unsur-unsur dengan resonansi panjang gelombang dalam daerah UV, gelas penutup terbuat dari kuarsa sedangkan pada daerah Visibel menggunakan pyrex.
Katoda dan anoda didisain guna menghasilkan sebuah muatan garis spektra yang stabil dan sangat sempit (biasanya 0.001 nm).
Contoh yang dianalisis dengan SSA harus diatomkan. Tahap pertama pengatoman ini ialah pemanasan contoh pada suhu yang sangat tinggi sehingga terurai ke dalam bentuk atomnya. Contoh disemprotkan ke dalam nyala sehingga terbakar. Gas pengoksidasi dan gas bahan bakar bercampur dengan contoh sehingga terbentuk kabut halus berisi contoh teratomkan. Kabut tersebut terus didorong ke dalam nyala. Gas pengoksidasi yang sering digunakan untuk menghasilkan nyala pada SSA adalah udara, udara-oksigen, dan oksigen-N2O. Gas bahan bakar yang dapat dipakai ialah gas alam, propana, butana, hidrogen, dan asetilen. Kombinasi gas pengoksidasi dan gas pembakar yang sering digunakan adalah campuran udara-asetilen, menyusul udara-propana, dan N2O-asetilen bergantung pada unsur yang akan dianalisis.
Alat SSA juga dilengkapi dengan sistem optik yang berfungsi mengumpulkan cahaya dari sumbernya, kemudian melewatkannya ke contoh, lalu ke monokromator. Sistem optik yang banyak digunakan dalam SSA dapat berupa single maupuin double beam. Lensa yang digunakan dalam sistem optik terbuat dari silika yang dapat mentransmisikan cahaya dengan panjang gelombang 190-900 nm. Monokromator pada SSA berperan penting dalam seleksi sinar yang akan diteruskan ke detektor, yaitu hanya sinar yang memiliki panjang gelombang sesuai dengan spektrum serapan contoh. Monokromator yang paling banyak digunakan dalam SSA adalah kisi difraksi karena selektivitasnya tinggi dan dapat meneruskan panjang gelombang secara lebih terarah.
Detektor berfungsi sebagai penangkap cahaya yang telah diseleksi di monokromator. Oleh karena itu, detektor harus sensitif terhadap cahaya. Contoh detektor adalah PMT (Photo Multiplier Tube). Tabung ini menghasilkan sinar listrik yang sebanding dengan intensitas sinar pada panjang gelombang yang dilewatkan monokromator.

2.3.2 Penyiapan Contoh pada SSA
Analisis suatu contoh dimulai dengan persiapan contoh. Kemudian dibuat kurva standar dari stok unsur standar yang akan dianalisis. Plot kurva standar tersebut digunakan sebagai acuan distribusi spot hasil analisis atau pengukuran contoh. Setelah diketahui kedudukan spot contoh dalam kurva standar, dilakukan penghitungan yang cermat dan tepat.
Persiapan contoh bergantung pada jenis unsur, substrat, dan proses atomisasinya. Proses atomisasi dengan nyala contoh biasanya berbentuk cair dan disemprotkan langsung ke dalam nyala. Konsentrasi cairan contoh tersebut harus sesuai sehingga nilai yang didapat tidak terlalu jauh dengan jangkauan kurva standar yang telah dibuat.
Penggunaan teknik kalibrasi bergantung pada banyaknya contoh, linieritas kurva kalibrasi, dan adanya gangguan komponen lain dalam contoh. Apabila jumlah contoh banyak, metode yang paling sederhana ialah dengan membuat seri larutan standar yang meliputi daerah dengan konsentrasi tertentu. Pengukuran kurva standar dilakukan sebelum pembacaan contoh. Apabila terjadi penyimpangan kemiringan kurva standar, perlu diteliti penyebabnya dan kalau perlu dibuat kurva standar baru. Selain dari stok kurva standar yang telah dibuat, perubahan kemiringan juga dapat disebabkan perubahan tekanan bahan bakar atau oksidan dan perubahan laju aliran contoh.
Urutan pengukuran yang biasa diterapkan dalam metode SSA ialah pengukuran serapan atom blanko. Setelah ditepatkan pada skala nol, larutan contoh diukur serapan atomnya. pengukuran contoh dimulai dari konsentrasi yang rendah ke konsentrasi yang tinggi. Setiap pengukuran diselingi dengan pengukuran blanko, lalu pengukuran standar diulangi dengan arah kebalikannya, yaitu dari konsentrasi yang tinggi ke rendah. Data pengukuran contoh dimasukkan ke persamaan garis kurva standar. Nilai tersebut dibaca pada sumbu aksis. Hasil pengukuran kadar mineral dengan SSA langsung berupa kadar mineral dalam satuan ppm.

2.4 Validasi Metode
Validasi adalah konfirmasi melalui pengujian dan pengadaan bukti yang objektif bahwa persyaratan tertentu untuk suatu maksud terpenuhi (SNI 19-17025-2000)
Berdasarkan US. FDA (2001), tingkatan validasi metode yaitu:
a. Validasi penuh (full validation), dilakukan pada metode yang baru dikembangkan pertama kali dan belum pernah divalidasi sebelumnya.
b. Validasi sebagian (partial validation), dilakukan pada metode yang sudah pernah dilakukan validasi sebelumnya. Validasi ini cukup dilakukan dengan presisi dan akurasi saja atau mendekati validasi penuh.
c. Validasi silang (cross validation), yaitu membandingkan parameter validasi dengan dua atau lebih metode yang digunakan untuk menghasilkan data pada studi yang sama. Validasi silang bisa dilakukan lebih dari satu laboratorium dengan menggunakan teknik analisis yang berbeda.

Pesyaratan umum validasi metode mencakup : presisi, akurasi, limit deteksi, daerah linier pengukuran kerja dan selektivitas.
a. Presisi
Presisi didefinisikan sebagai kedekatan antara hasil pengujian individu dalam serangkaian pengukuran terhadap suatu sampel yang homogen dengan melakukan pengambilan sampel menurut prosedur yang telah ditentukan. Presisi metode analisis biasanya dinyatakan sebagai penyimpangan baku relatif (RSD) yang dibandingkan terhadap RSD Horwitz. Uji presisi harus dilakukan untuk mengetahui keseragaman pengujian suatu metode dengan kondisi yang berbeda. Presisi dapat dilakukan dengan cara repeatibility, intra reproducibility dan inter reproducibility.
Repeatability atau keterulangan menyatakan presisi yang dilakukan pada kondisi yang telah ditentukan pada laboratorium yang sama, dalam interval waktu yang singkat, oleh analis yang sama, dengan menggunakan peralatan dan pereaksi yang sama. Repeatability dilaksanakan dengan melakukan pengujian sampel minimal tujuh kali. Dicari standar deviasi relatif sampel tersebut yang kemudian dibandingkan dengan RSD Horwitz sebagai standar, dimana RSD yang didapat harus lebih kecil dari RSD Horwitz
Intra reproducibility menyatakan kedekatan dari kesesuaian antar beberapa hasil pengukuran dari contoh yang sama pada kondisi yang telah ditentukan pada laboratorium yang sama, dengan metode yang sama, pada waktu yang berbeda, oleh analis yang berbeda, dengan menggunakan peralatan dan pereaksi yang berbeda. Hasil yang didapat analis kedua dibandingkan dengan analis pertama dengan cara data dari kedua analis di cari standar deviasi-nya, kemudian dilakukan uji student (uji T) untuk mengetahui apakah perbedaan nilai antara dua hasil tersebut cukup signifikan. Kriteria penerimaannya yaitu nilai Thitung harus lebih kecil daripada Ttabel.
Inter reproducibility menyatakan kedekatan dari kesesuaian antar beberapa hasil pengukuran dari contoh yang sama yang dilakukan pada kondisi yang telah ditentukan pada laboratorium yang berbeda, dengan metode yang sama, pada waktu yang berbeda, oleh analis yang berbeda, dengan menggunakan peralatan dan pereaksi yang berbeda. Kedua hasil yang didapat dibandingkan standar deviasi relatif-nya, kemudian dibandingkan dengan RSD Horwitz sebagai standar, dimana RSD yang didapat harus lebih kecil dari RSD Horwitz (Wiley, 1995).

b. Akurasi
Akurasi didefinisikan sebagai kedekatan nilai benar dengan hasil uji yang diperoleh menggunakan metode uji tersebut. Akurasi dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (% Recovery) dengan cara menetapkan kadar sejumlah tertentu analit yang ditambahkan ke dalam sampel. Kriteria penerimaan akurasi adalah nilai recovery berada dalam batas 80-110 % (Wood, 1998). Uji akurasi biasanya dilakukan dengan menggunakan 3 cara, yaitu:
1) Menggunakan Bahan Acuan/Pembanding/Reference Material (CRM/SRM). Bahan acuan adalah suatu bahan yang sifat-sifatnya telah diketahui dengan prosedur atau teknik tertentu. Ada beberapa macam bahan acuan, yaitu:
a) Certified Reference Material (CRM), yaitu suatu bahan acuan yang satu atau lebih sifat-sifatnya diberi sertifikat dengan prosedur teknik yang telah baku. Bahan acuan tersebut dapat ditelusuri ke suatu sertifikat atau dokumen lain yang diterbitkan oleh badan sertifikasi.
b) Standard Reference Material (SRM), yaitu suatu contoh acuan yang nilai sebenarnya diperoleh melalui uji profisiensi.
c) Inhouse Reference Material (IRM), yaitu suatu contoh acuan yang dibuat laboratorium dengan teknik tertentu yang mampu telusur terhadap bahan acuan.
2) Mengikuti uji profisiensi yang diselenggarakan oleh lembaga yang berwenang. Uji profisiensi merupakan salah satu metode untuk mengetahui kualitas dari laboratorium penguji dengan cara uji banding antar laboratorium yang sudah terakreditasi.
3) Melakukan Uji Contoh Spike (Recovery)
Bila tidak ada SRM/CRM atau uji profisiensi, maka uji akurasi bisa dilakukan dengan menggunakan contoh spike. Spike adalah penambahan bahan analit yang sudah diketahui konsentrasinya ke dalam contoh. Kemudian dilakukan pengujian terhadap contoh spike dan contoh itu sendiri sehingga dapat dihitung persen perolehan kembali (% recovery). Uji akurasi dengan cara spike dilakukan minimal 7 kali pengulangan. Konsentrasi analit yang ditambahkan dalam contoh spike diperkirakan 2 atau 3 kali lipat konsentrasi yang diperkirakan ada pada contoh.

c. Limit Deteksi
Limit deteksi adalah konsentrasi terkecil suatu analit yang masih dapat dideteksi dan ditetapkan secara statistik melalui perbedaan blanko analisis dari suatu metode yang ditetapkan secara kulitatif maupun kuantitatif (Prichard, 1995).
Limit deteksi instrumen (LDI) adalah konsentrasi terkecil suatu analit yang menghasilkan sinyal sebesar 3 kali standar deviasi dari 7 kali pembacaan blanko pereaksi yang sama. Apabila larutan blanko tidak menghasilkan sinyal maka LDI ditetapkan dengan menggunakan larutan standar.

d. Linieritas
Linieritas didefinisikan sebagai kemampuan metode analisis untuk memperoleh hasil uji yang sebanding dengan konsentrasi analit dalam sampel (dalam rentang tertentu). Linieritas dilakukan pada awalnya dengan pengamatan secara visual suatu kurva hasil uji sebagai fungsi konsentrasi analit, apabila tampaknya ada hubungan linier, gunakan metode stastistik untuk mengolah data hasil uji, misalnya dengan membuat garis regresi. Data yang berasal dari garis regresi itu dapat dimanfaatkan untuk membuat perkiraan derajat linieritasnya secara matematis. Kriteria penerimaan linieritas adalah koefisien korelasi minimal 0,999 (Wood, 1998).
e. Selektivitas
Selektivitas adalah kemampuan metode uji yang mampu untuk mengukur hanya untuk analat yang diamaksud. Selektivitas erat kaitannya dengan kemampuan metode uji terhadap pengaruh matriks lain di dalam sampel.

DAFTAR PUSTAKA

Antanasopoulos N. 1999. Flame Methodes Manual for Atomic Absorption. Victoria: Dandenong.
Busser H. 2002. Ringkasan Analisis jenis. Bogor. Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor.
FDA (Food and Drug Administration). 2001. Guidance for Industry Bioanalytical Method
Validation. Center for Drug Evaluation and Research, Rockville, MD, USA.
Hardjasasmita P. 2000. Ikhtisar Biokimia Dasar. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Harjadi W. 1994. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kuswadi et al. 2004. DELTA (Delapan Langkah dan Tujuh Alat statistik untuk peningkatan Mutu Berbasis Komputer. Jakarta : Elex Media Komputindo
Lehninger AL. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid III. Thenawijaya M, penerjemah. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Principles of Biochemistry. London: Worth Publisher, Inc.
Murray KR et al. 1999. Biokimia Harper. Andry Hartono, penerjemah; Susanto AH, editor. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Terjemahan dari: Harper’s Biochemistry.
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia I. Jakarta : PT Gramedia.
Prichard E. 1995. Quality In The Analytical Chemistry Laboratory. AOCL (Analytical
Chemistry By Open Learning) University of Greenwich. Chichester.
Standar Nasional Indonesia 01-3751-2006. 2006. Tepung Terigu sebagai Bahan Makanan. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Standar Nasional Indonesia 19-17025-2000. 2004. Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Pengujian dan Laboratorium Kalibrasi. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

Underwood AL, Day RA. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Ed Ke-6. Sopyan I, penerjemah; Wibi H, Simarmata L, editor. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Quantitative Analysis Sixth Edition.
Usman H et al. 2006. Pengantat Statistika edisi kedua. Jakarta : PT Bumi Aksara
Vogel. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro. Ed ke-5. Setiono L, Pudjaatmaka AH, penerjemah. Jakarta: Kalman Media Pustaka. Terjemahan dari: Textbook of Macro and Semimacro Qualitative Inorganic Analysis.
Walpole RE. 1992. Pengantar Statistika. Ed ke-3. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
[Wikipedia Foundation]. 2008. Gandum. http://id.wikipedia.org. Diakses tanggal 20 September 2008.
Wiley, Jhon. 1995. Quality in The Analytical Chemistry Laboratory. Chichester : University of Greenwich.
Winarno F.G. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pusataka Utama.
Wirahadikusumah M. 1989. Biokimia Protein, Enzim Dan Asam Nukleat. Bandung: ITB
Bandung
Wood, R. 1998. Quality in The Food Analysis Laboratory. Chambridge : The Royal Society
of Chemistry.

Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Special Member dapat mendownload data yang ada di download area.
NB: Ada kemungkinan data yang diposting di website ini belum ada filenya, karena dikirim oleh member biasa dan masih menunggu konfirmasi dari member yang bersangkutan. Untuk memastikan data ada atau tidak silahkan login di download area.

CARI CONTENT WEB :

FREE JOURNAL UNTUK MELENGKAPI REFERENSI KARYA ILMIAH ANDA, FREE? KLIK DISINI
HOT DOWNLOAD MAKALAH, FULL PAPER? KLIK DISINI
PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI
INGIN KULIAH S2 JARAK JAUH? KLIK DISINI




Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuannya

Design by xactive -