Penelitian ini membahas tentang penerapan pembelajaran strategi inkuiri untuk mencapai ketuntasan belajar siswa pada pokok bahasan ikatan kimia di kelas X MAN 2 Model Pekanbaru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pembelajaran strategi inkuiri dapat mencapai ketuntasan belajar siswa. Subjek penelitian ini adalah kelas X.1 MAN 2 Model Pekanbaru dengan jumlah siswa sebanyak 32 orang. Pengumpulan data diambil dari hasil post test pada kelas eksperimen tersebut. Setelah dilakukan analisis data maka diperoleh ketuntasan belajar siswa secara klasikal sebesar 87,5 % berarti ketuntasan belajar siswa telah tercapai.
BAKTERI PATOGEN YANG DISEBARKAN OLEH
LALAT RUMAH (Musca domestica, L) DI RUMAH SAKIT KOTA PEKANBARU
SKRIPSI
Guna Memenuhi Persyaratan Dalam Mencapai
Derajat S-1 Pendidikan Biologi
Program Studi Pendidikan Biologi
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
OLEH :
MARYANTUTY
O310648
PROGARAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMPENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2007
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam sistem kesehatan nasional dan rencana pokok program reformasi dibidang kesehatan telah digariskan bahwa tujuan reformasi kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesepakatan umum dari tujuan nasional (Anonimus, 2004). Lingkungan yang sehat sangat penting untuk mempunyai generasi penerus yang kuat dan mampu meneruskan roda pembangunan bangsa.
Keadaan lingkungan yang belum memenuhi syarat kesehatan akan dapat memicu hewan-hewan penyebar bibit penyakit. Salah satu jenis hewannya adalah lalat. Kehadiran lalat dilingkungan selain mengganggu kenyamanan dan merusak pemandangan, dari segi estetika juga menimbulkan persoalan bagi kesehatan masyarakat karena lalat dapat membawa bermacam-macam mikroba penyebab penyakit atau kuman yang berbahaya. Mikroba ini menempel pada kaki dan rambut halus yang ada diseluruh tubuhnya serta dalam tubuhnya (Anonimus, 2004).
Jenis lalat yang banyak merugikan manusia adalah jenis lalat rumah yang sudah dikenal sejak lama sebagai pembawa penyakit dan tersebar diberbagai penjuru dunia (Anonimus, 2004). Jenis lalat lain yang juga merugikan bagi manusia dianataranya lalat hijau (Lucila seritica), lalat biru (Calliphora varnituria) dan lalat latrine (Fannia canicularis).
Lalat rumah merupakan pembawa penyakit yang sangat efisien karena tubuhnya mudah ditempali bakteri, spora dan cacing pada bagian mulut dan ke 6 kakinya sehingga mudah menyebarkan agen penyakit. Lalat ini juga suka hinggap pada makanan, berjalan pada peralatan makanan seperti sendok, piring, garpu dan perkakas lainnya. Selain meninggalkan bakteri yang menempel ditubuhnya lalat juga mengeluarkan kotoran pada setiap tempat yang dihinggapinya (Anonimus, 2005).
Lalat rumah dapat berperan sebagai vektor mekanis dan biologis (Siswono, 2005). Menurut Anonimus (2005), penularan secara mekanis terjadi melalui kulit tubuh dan kaki-kaki lalat yang kotor dan merupakan tempat menempelnya mikroorganisme yang kemudian hinggap pada makanan. Penularan secara bilogis yaitu dengan hinggap pada makanan dan mengeluarkan air liurnya yang mengandung bakteri pathogen. Bakteri patogen yang disebarkan oleh lalat adalah antara lain Salmonella typii, Shigella disentry, Clostridium pefringens Vibrio cholera (Sharinggon, 1994).
Penyakit-penyakit yang ditularkan oleh lalat adalah penyakit-penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan misalnya, tifus abdominalis, kolera, tifoid, diare, desentri dan lain-lain. Disamping penyakit perut, lalat juga dapat menularkan penyakit lain seperti scarlatina, difteri, dan penyakit gatal-gatal pada kulit (Sinaga, 2004).
Lalat rumah (Musca domestica) berkembangbiak dengan cepat pada kondisi sanitasi linkungan yang buruk seperti pada tempat- tempat dimana terjadi peristiwa pembusukan organik antara lain gundukan sampah basah, kotoran hewan, sisa makanan, buah-buahan yang berada dirumah atau dipasar serta genangan air kotor serta lingkungan rumah sakit.
Kesehatan lingkungan juga mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang terhadap penyakit, tugas menjaga lingkungan yang sehat bukan saja tugas pemerintah tetapi seluruh masyarakat Indonesia yang diperlukan upaya – upaya kesehatan seperti peningkatan, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan upaya- upaya kesehatan yang menunjang lainnya (Anonimus, 2007). Namun dengan keadaan dan kondisi lingkungan fisik dan biologis yang belum memadai belum memenuhi syarat kesehatan menyebabkan berbagai macam penyakit pada masyarakat, terutama yang sanitasinya kurang bagus berpotensi menularkan berbagai macam penyakit.
Di kota pekanbaru terdapat rumah sakit yang di kelola oleh pemerintahan daerah yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Pekanbaru (RSUD) Arifin Achmad yang telah terakriditasi tipe B pendidikan dan rumah sakit yang di kelola oleh pihak swasta. di antaranya rumah sakit Awal Bross telah terakriditasi lengkap dan rumah sakit Ibnu Sina. Kondisi lingkungan antara satu rumah sakit dengan yang lainnya ada perbedaan di lihat dari kerapian, kebersihan dan aktifitas yang terdapat di lingkungan rumah sakit yang kesemuanya dapat mempengaruhi higiene dan sanitasi kebersihan lingkungan.
Rumah sakit ( hospital ) adalah sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya. Dirumah sakit tempat melayani hampir seluruh penyakit, dan biasanya memiliki institusi perawatan darurat yang siaga 24 jam (ruang gawat darurat) untuk mengatasi bahaya dalam waktu secepatnya dan memberikan pertolongan pertama. Dirumah sakit dijumpai berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme ( jamur, bakteri, dan virus), yang dapat menyebabkan infeksi Nosokomial yaitu infeksi yang diperoleh selama penderita mendapatkan perawatan di rumah sakit, yang dapat disebarkan oleh lalat rumah (Musca domestica, L) sebagai vektor. Infeksi nosokomial yang sering terjadi di antaranya infeksi pada luka bakar operasi, infeksi kulit, infeksi tractus respiratorius dan lainnya. Oleh karena itu kondisi lingkungan rumah sakit harus bersih, sehat dan mempunyai sistem pembuangan limbah (daur ulang limbah).
Berdasarkan hal tersebut diatas maka penulis tertarik untuk mengetahui jenis-jenis bakteri patogen yang disebarkan oleh Musca domestica, L dirumah sakit kota pekanbaru. Hingga saat ini belum ada data bakteri patogen yang disebarkan oleh Musca domestica, L dan informasi higiene dan sanitasi lingkungan yang ada di rumah sakit kota pekanbaru
1.2 Perumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah yaitu : Jenis-jenis bakteri patogen apakah yang disebarkan oleh oleh lalat rumah (Musca domestica, L) di rumah sakit kota pekanbaru ?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini betujuan:
1. Untuk mengetahui jenis-jenis bakteri patogen yang disebarkan oleh lalat rumah (Musca domestica, L ) di rumah sakit Kota Pekanbaru.
2. Untuk mengetahui higiene dan sanitasi kebersihan lingkungan rumah sakit di kota Pekanbaru
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian adalah:
1. Dapat memberikan informasi kepada pembaca tentang jenis-jenis bakteri patogen yang di sebarkan oleh lalat rumah (Musca domestica, L) di rumah sakit kota pekanbaru.
2. Memberikan informasi higiene dan sanitasi di rumah sakit kota Pekanbaru.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biologi Lalat Rumah (Musca domestica)
Menurut Borror dkk (1992), klasifikasi lalat rumah (Musca domestica) sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthopoda
Kelas : Insekta
Ordo : Diptera
Sub ordo : Nematacera
Family : Muscidae
Genus : Musca
Spesies : Musca domestica , L
Lalat adalah insekta yang lebih banyak bergerak dengan menggunakan sayap (terbang) yang berbentuk membran. Hanya sesekali bergerak menggunakan kakinya. Oleh karenanya daerah jajahan lalat cukup luas. Pada saat ini telah ditemukan tidak kurang dari 60.000-100.000 spesies. Salah satu spesiesnya adalah lalat rumah (Musca domestica).
Nama spesifik lalat rumah ialah Musca domestica L, menurut ilmu zoology diletakan di dalam order serangga yaitu diftera dengan sayap dua. Lalat mempunyai enam kaki dan badan bersegmen meliputi caput, toraks, dan abdomen (Anonimus, 2004). Adapun ciri-ciri penting dari lalat rumah : pada toraks terdapat empat garis hitam dan satu garis hitam medial pada abdomen dorsal. Sayapnya mempunyai longitudinal line 4 yang jalanya menaik keatas sehingga ujungnya hampir bertemu dengan line 3. Gambar morfologi lalat rumah dapat di lihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 1. Morfologi Lalat Rumah
Lalat rumah (Musca domestica) berwarna abu-abu dengan panjang 6-9 mm dengan empat garis gelap membujur pada bagian atas thoraxnya. Distribusinya sangat luas dan bergantung pada kebersihan lingkungan keluarga dirumah. Lalat rumah berkembang biak pada limbah organik pada tempat yang kotor, bahan-bahan yang busuk, buah-buahan yang busuk dan sayuran basi. Sampah adalah tempat yang disenangi oleh lalat sehingga banyak ditemukan larva disini (Anonimus, 2004).
Lalat umumnya hidup teresterial, habitat lalat pradewasa berbeda dengan dewasa. Tahap pradewasa memilih habitat yang cukup banyak organik yang sedang mengalami dekomposisi misalnya, sampah organik basah. Tahap dewasa juga menyukai sampah hanya saja daerah jelajahnya yang luas, sehingga dapat memasuki rumah atau dimana manusia beraktivitas. Lalat lebih banyak hidup didaerah pemukiman ( Dinata, A , 2005)
Lalat rumah (Musca domestica) tidak menggigit tetapi menyedot zat makanan seperti nyamuk dengan menggunakan proboscis. Sebelum dimakan lalat menggunakan saliva untuk melunakan makanan kemudian baru dihisap kembali (Abdillah, S, 2004).
Gambar 2. Proboscis lalat rumah (Musca domestica)
Lalat berkembang biak dengan bertelur, berwarna putih dengan ukuran lebih kurang 1mm panjangnya. Setiap kali bertelur akan menghasilkan 120- 130 telur dan akan menetas dalam waktu 8-16 jam. Pada suhu rendah telur tidak akan menetas (dibawah 12-13 o ). Telur yang menetas akan menjadi larva berwarna putih kekuningan, panjang 12-13 mm. Akhir dari fase larva akan berpindah dari yang banyak makanan ketempat yang kering untuk mengeringkan tubuhnya. Setelah itu berubah menjadi kepompong yang berwarna coklat tua, panjangnya sam dengan larva dan tidak bergerak. Fase ini berlansung musim panas 3-7 hari pada temperatur 30- 35 oC, kemudian akan keluar lalat dan sudah terbang antara 450-900 meter. Siklus hidup dari telur hingga menjadi lalat dewasa 6-20 hari, lalat dewasa panjangnya lebih kurang 1/ 4 inci dan mempunyai 4 garis yang agak gelap hitam dipunggungnya. Pada kondisi normal lalat dewasa betina dapat bertelur sampai 5 kali, umur lalat umumnya sekitar 2-3 minggu, tapi pada kondisi yang stabil dapat sampai 3 bulan. Lalat terbang tidak menantang arah angin tetapi sebaliknya lalat akan terbang jauh mencapai 1 kilometer (Anonimus, 2004). Siklus hidup lalat (Musca domestica) rumah dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 3. Siklus Hidup Lalat Rumah
2.2 Bakteri Patogen.
Kehadiran jenis mikroorganisme patogen dan penghasil racun pada bahan makanan telah diketahui sejak lama. Menurut Fardiaz (1993), bakteri entero patogenik adalah kelompok bakteri penyebab infeksi gastrointestinal, misalnya : Salmonella, Shigella, Vibrio cholerae, Vibrio parahaemolyticus dan Yersisia enterocolitica. Bakteri-bakteri tersebut dapat menimbulkan wabah penyakit misalnya tifus oleh Salmonella typhi, paratifus oleh Salmonella paratyphi, Disentri oleh Shigella dan kolera oleh Vibrio cholerae atau menyebabkan keracunan makanan. Bakteri-bakteri lain seperti Eschericia coli yang bersifat enteropatogenik, Staphylococcus dan Clostridium perfringen juga dapat menimbulkan gejala gastrointestinal.
Bakteri Salmonella thypi masuk ketubuh penderita melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh bakteri ini. Akibat yang ditimbulkan oleh bakteri Salmonella thypi adalah peradangan pada saluran pencenaan sampai rusaknya dinding usus. Penderita akan mengalami diare, sari makanan yang masuk kedalam tubuh tidak dapat diserap dengan baik sehingga penderita akan tamapak lemah dan kurus. Racun yang dihasilkan oleh bakteri Salmonella menyebabkan kerusakan otak, organ reproduksi wanita bahkan yang sedang hamil pun dapat mengalami keguguran (Wardhani, 2005).
Ada tiga spesies utama Salmonella sp yaitu Salmonella typhi, Salmonella choleraesuis dan Salmonella enteristidis. Deman tifoid atau tifus abdominalis disebabkan oleh Salmonella typhi. Salmonella typhi tertelan bersama makanan atau terkontaminasi dan bersarang di jaringan limfoid pada dinding usus . Aliran limfa membawa organisme ini kedalam duktus torak kemudian kedalam darah. Sedangkan demam paratifoid adalah penyakit yang disebabkan oleh salmonella enteristidis ( Tambayong, J, 2000).
Bakteri Salmonella sp menyerang lapisan lendir didalam usus kecil, menyebabkan peradangan dan pengikisan pada lapisan usus. Bakteri ini dapat menyerang aliran darah, persediaan, otak, paru-paru dan hati. Hewan yang terinfeksi dapat menyebarkan bakteri ini dalam kotoran atau feces, urine, dan saliva (Anonimus, 2005).
Salmonella sp adalah bakteri gram negatif, berbentuk batang, tidak mempunyai spora, bersifat patogen baik pada manusia maupun hewan. Salmonella sp adalah indikator keamanan pangan. Oleh karena standar itu air minum maupun makanan siap santap mensyaratkan tidak ada Salmonella dalam air minum atau 25 gram sample makanan (Haryadi, 2003).
Shigella sp adalah bibit penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air. Menurut Husada, dkk (2004), lalat juga berperan sebagai vektor mekanik penyakit disentri basiler. Mikroorganisme shigella menyebabkan disentri basiler dan menghasilkan respon pada kolon melalui enterotoksin dan invasi bakteri. Kuman Shigella sp melakukan invasi melalui membran sel epitel usus. Didalam sel terjadi multiplikasi dan menyebar ke sel epitel sekitarnya. Invasi dan multiplikasi intraseluler menimbulkan reaksi inflamasi serta kematian sel epitel. Shigella timbul dengan gejala adanya nyeri abdomen, demam, buang air besar berdarah dan feces berlendir ( Zein, U dkk, 2004).
Vibrio sp merupakan salah satu bakteri patogen yang tergolong dalam divisio bakteri, klasis Schyzomicetes, ordo Eubakteriales, familia Vibronaceae. Bakteri bersifat gram negatif, fakultatif anaerobic, fermentatif, bentuk sel batang dengan ukuran panjang antara 2-3 ?m, menghasilkan katalase dan bergerak dengan flagel pada ujung selnya (Austin dalam Feliatra, 1999). Vibrio merupakan patogen opurtunistik yang dalam keadaan normal dalam lingkungan pemeliharaan berkembang dari sifat saprofit menjadi patogenik. Bakteri Vibrio dapat hidup dalam tubuh organisme lain baik diluar dengan cara menempel maupun pada organ tubuh dalam seperti usus dan hati.
Berdasarkan pengamatan visual terhadap bakteri patogen spesies Vibro, dapat dibedakan berdasarkan warna, bentuk dan ukuran koloni yang tumbuh pada media TCBS agar setelah di inkubasi 24-48 jam. Beberapa spesies vibrio yang patogen yaitu: Vibrio anguillarum, Vibrio alginolyticus, Vibrio cholera, Vibrio salmonicida, Vibrio vulnificus, dan Vibrio parahaemolyticus (Feliatra, 1999).
Clostridium perfrigens adalah bakteri batang, gram negatif, anaerob, membentuk spora meyebabkan keracunan pada makanan akibat dari enterotoksin (Zein, U dkk, 2004). Clostridium perfrigens mengandung beragam racun dan menular melalui makanan atau luka. Salah satu racun yang berbahaya adalah Phosholipase C yang dapat langsung menggerogoti sel darah merah, sel darah putih dan menimbulkan kerusakan pembuluh darah yang halus (Anonimus, 2005).
Bakteri patogen di tularkan pada manusia bisa melalui lalat sebagai vector melalui sayap, kaki yang membawa bibit penyakit hinggap pada makanan minuman, alat-alat rumah tangga atau melalui air ludah hinggap pada luka.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni Sampai Juli 2007, di laboratorium Biologi FKIP dan laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Riau, Pekanbaru.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lalat rumah (Musca domestica, L.), medium thyoglikolat, medium SSA, medium TCBS agar, medium Agar Darah, medium TSIA, medium Semi Solid,, medium Cimon Citrat dan cloroform/eter. Reagen yang di pakai untuk pewarnaan gram adalah kristal violet, Iodin, alkohol dan sapranin, aquades. Reagen untuk pewarnaan spora adalah hijau malakit, untuk uji katalase adalah H2 O2 3 % dan untuk uji oksidase adalah larutan alfa naftol dan dimetil -p- fenilendiamin oksalat 1 %.
Alat yang digunakan adalah insect net, botol sampel, kapas, pinset, beaker glas, autoclave, pipet tetes, tabung reaksi, cawan petri, gelas ukur, incubator, gelas piala, mikroskop, glas objek, cover glas, kertas timah, lampu bunsen, jarum ose, kertas label.
3.3 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Musca domestica, L di tangkap di tiga rumah sakit yang ada di kota Pekanbaru dengan mempertimbangkan rumah sakit yang telah terakriditasi dan belum terakriditasi dan keadaan serta kondisi lingkungan rumah sakit.
3.4. Prosedur Penelitian
3.4.1. Penentuan Lokasi Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan secara purposive random sampling di tiga rumah sakit yang ada di kota Pekanbaru berdasarkan nilai akreditasi baik rumah sakit negeri maupun swasta yaitu :
1. Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Ahcmad tipe B pendidikan, Jln. Diponegoro no 2 pekanbaru.
2. Rumah Sakit Awal Bross tipe lengkap, Jl. Soedirman no 117
3. Rumah Sakit Islam Ibnu Sina belum terakreditasi, Jl melati no 90
Lokasi pengambilan sampel lalat rumah (Musca domestica, L) di setiap rumah sakit berdasarkan hasil obsevasi dan masih dijumpainya lalat pada tempat-tempat bangsal perawatan yang berpotensi untuk menyebarkan penyakit infeksi nosokomial yaitu bagian ruang anak, bedah, dan internis dengan pengambilan yang berbeda sebanyak 2 ekor.
3.4.2. Pengambilan Sampel
Masing-masing lalat rumah ditangkap dengan menggunakan insecnet sebanyak 2 ekor dengan lokasi yang berbeda kemudian dimasukan kedalam botol pembiusan. Dengan menggunakan pinset dipindahkan kedalam botol sampel yang telah diberi label dan dibawa kelaboratorium
3.4.3. Pembuatan Media
Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Thyoglicollat, Endo Agar, Agar Darah, Salmonella Shigella agar (SSA), Thiosulfat Citrate Bile Salt Sucrose agar (TCBSA), Cimon Citrate dan Triple Sugar Iron (TSI) Agar, Semi Solid.
A. Pembuatan Media Thyoglicollat
Thyoglicollat dilarutkan kedalam 1000 ml air, dimasukkan ke dalam erlemeyer, tuang kedalam tabung-tabung reaksi, disterilkan dalam autoclave pada suhu 121o C dan tekanan 15 lbs selama 15 menit. medium yang sudah steril di simpan pada temperatur 4o C. digunakan sebagai media penyubur atau tempat tumbuhnya bakteri.
B. Media Agar Darah
Media agar darah dilarutkan kedalam 1000 ml air, darah defibrinasi (setelah di sterilkan). Medium ini sebagai tempat tumbuh bakteri
C. Media Salmonella Shigella Agar
Media SSA dilarutkan ke dalam 1000 ml air. Dipanaskan sampai homogen kemudian di tuang ke dalam erlemeyer dan di sterilkan dengan autoclave pada temperatur 121 o C tekanan 15 lbs, setelah steril disimpan pada temperatur 4 o C. dibuat untuk menumbuhkan bakteri Salmonella Shigella.
D. Media Thiosulfat Citrate Bile Salt Sucrose Agar (TCBSA)
Thiosulfat Citrate Bile Salt Sucrose Agar (TCBSA dilarutkan kedalam 1000 ml air. Panaskan sampai mendidih. Dinginkan pada 450C – 50o C. Tuangkan tiap 15 – 20 ml kedalam cawan petri. Digunakan untuk menumbuhkan bakteri Vibrio sp
E. Media Triple Sugar Iron (TSI) Agar
Triple Sugar Iron (TSI) Agar dilarutkan ke dalam air 1000 ml. Masukkan ke dalam tabung sebanyak 10 ml. Sterilkan selama 10 menit pada 121o C. biarkan membeku dalam posisi miring. Digunakan untuk identifikasi primer.
F. Semi Solid Agar
Dibuat dengan melarutkan 20 g serbuk semi solid Agar kedalam 1000 ml akuades, dipanaskan sampai homogen, diamsukkan kedalam erlemeyer dan tuangkan ke dalam tabung reaksi, disterilkan kedalam autoclave pada suhu 121o C selam 15 menit. Digunakan untuk identifikasi.
G. Cimons Citrat Agar
Larutkan bahan-bahan dalam air suling sampai mendidih. Masukkan dalam tabung reaksi sebanyak 10 ml, sterilkan dalam autoclave pada suhu 121o C selama 15 menit. Tabung dimiring diatas rak hingga bagian yang tegak mempunyai ukuran 2,5 cm. Digunakan untuk identifikasi.
3.4.4. Langkah-Langkah Isolasi dan Identifikasi
A. Tahap isolasi dan seleksi
Sampel lalat rumah (Musca domestica,L), dimasukkan kedalam medium Thioglicollate yang berbentuk larutan, di inkubasikan selama 2 x 24 jam pada suhu 37o C untuk menyuburkan bakteri. Kemudian di inokulasikan ke medium SSA, agar darah dan TCBSA dan diinkubasikan selama 1x 24 jam pada suhu 37 oC untuk menumbuhkan bakteri. Kemudian diamati warna dan sifat koloni bakteri pada masing-masing medium tersebut.
Medium Agar Darah digunakan untuk menumbuhkan bakteri yang sukar tumbuh pada medium biasa dan juga untuk membedakan kelompok mikroorganisme yang melisis atau tidak melisis butir darah merah. Koloni bakteri yang melisis darah merah akan tampak bening seperti bakteri E. coli, Vibrio sp, dan, Clostridium perfringens, sedangkan yang tidak melisis darah merah akan dikelilingan oleh zona kehijau – hijuan yang disebabkan oleh toxin yang dihasilkan oleh bakteri mengeluarkan Hb dari eritrosit karena adanya H2O2 (Entjang, I, ( 2003).
Pada medium SSA koloni Salmonella dan Shigella akan terlihat tidak berwarna sampai merah muda atau bening sampai buram. Pada medium TCBSA koloni Vibrio cholera tampak berwarna kuning bagian tengah keruh sekelilingnya bening, ukuran koloni 2-3 mm.
B. Tahap identifikasi
Untuk mengetahui bentuk dan sifat bakteri dilakukan pewarnaan gram. Kaca objek di bersihkan dengan alkohol sehingga bebas lemak. Kemudian dilalukan di atas api sampai kering. Ambil satu ose bakteri ratakan dan fikasasi, satelah itu diberi larutan kristal violet sebanyak 2-3 tetes dan diamkan selama 3 –5 menit. Cuci dengan air mengalir dan keringkan. Kemudian ditetesi dengan Iodium, biarkan selama 1 menit. Selanjutnya di beri alkohol 70 % sambil di goyang sampai tidak ada lagi warna ungu yang mengalir, selanjutnya diberi safranin diamkan selama 1 menit. Dibilas dengan air dan keringkan. Objek diamati dengan mikroskop. Hal ini dilakukan untuk bakteri pada masing-masing medium.
Dari pengamatan dengan mikroskop apabila didapat bakteri gram positif tidak dilanjutkan dengan uji hidrogen sulfida, dan bila dijumpai bakteri gram positif dilanjutkan dengan pewarnaan spora untuk mengidentifikasi bakteri Clostridium perfringens. Pewarnaan dilakukan pada koloni yang di inkubasi selama 72 jam suhu 37oC (Lay, 1994). Bila dijumpai bakteri gram negatif dilanjutkan dengan beberapa uji biokimia yaitu:
1. Uji Hidrogen Sulfida
Uji hidrogen sulfida dilakukan dengan menginokulasikan bakteri pada medium TSIA selama 1x 24 jam (35o) diamati perubahan warna yang terjadi pada agar miring dan pada agar tegak, jika pada agar tegak atau berubah warna menjadi merah akan bersifat basa dan kuning bersifat basa, dan dilihat ada tidaknya gas hidrogen yang dihasilkan.
2. Uji Oksidase
Dilakukan dengan menambahkan reagen oksidasi pada koloni terpisah dan amati perubahan warna yang terjadi setelah 30 menit, jika oksidasi positf koloni akan berubah menjadi berwarna hitam.
3. Uji Katalase
Dilakukan dengan menambahkan reagen oksidasi pada koloni terpisah dan amati reaksi yang terjadi yaitu adanya pembentukan gelembung udara pada koloni jika katalase positif.
4. Uji Motil
Dilakukan dengan menginokulasikan bakteri pada medium semi solid dan diinkubasi selama 1x 24 jam pada suhu 37o C. Kemudian diamati untuk melihat pergerakan bakteri.
Reaksi Beberapa Bakteri Patogen Pada Berbagai Medium uji dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Tabel.1. Reaksi Beberapa Bakteri Patogen Pada Berbagai Medium dan Reaksi Biokimia Kimia
Medium
Spesies TSIA PG Uji motil Uji katalase Uji oksidase Semi soloid PS
M T Gas H2S
Shalmonella thypi B A - + - + + + + -
Shigella dysentry B A - - - - + + - -
Vibrio cholera A A - - - + + + - -
Clostridium perfringens . . . . + - + + +
E.coli A A - - - + - - - -
Klebsiella pneumoniae A A + - - - + - + -
Pseudomonas aerugynosa A B - - - + + + + -
Enterobacter aerogenes A A + - - + + - + -
Keterangan:
TSIA= (Triple Sugar Iron Agar)
M = Miring
T = Tegak
A = Asam (kuning)
B = Basa (merah)
PG = Pewarnaan gram ( positif dan negatif)
• = tidak jelas
PS = Pewarnaan S
(Cappuccino dan Sherman, 1996 )
3.5. Parameter Penelitian
Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah jenis-jenis bakteri patogen yang disebarkan Musca domestica, L.
3.6. Analisis data
Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan selanjutnya dilakukan analisis secara deskriptif dengan merujuk buku Microbiology A Laboratory Manual oleh Cappuccino dan Sherman (1996) dan buku Analisis Mikrobiologi Pangan oleh fardiaz (1993) dalam identifikasi jenis bakteri.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Penyebaran Jenis-Jenis Bakteri
Dari hasil penelitian tentang bakteri patogen yang disebarkan oleh lalat rumah (Musa domestica, L) di tiga rumah sakit kota pekanbaru yaitu rumah sakit Ibnu sina, Awal bros dan RSUD Arifin Achmad disajikan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 2. Penyebaran jenis bakteri di rumah sakit Ibnu Sina, Awal bros dan RSUD Arifin Achmad
No Jenis Bakteri Lokasi pengambilan sampel
RS
Ibnu Sina RS
Awal Bros RSUD
Arifin Achmad
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10 Salmonella thypi
Samonella parathypi A
Vibrio cholera
Vibrio vulnificus
Klebsiella pneumonia
Pseudomonas aerogynose
Escherichia coli
Proteus vulgaris
Enterobacter aerogenes
Basillus cereus +
+
+
-
+
+
-
-
-
- +
+
+
+
-
+
-
+
-
- +
+
-
+
-
-
+
+
+
+
Jumlah 5 6 7
Dari data tabel di atas dapat diketahui penyebaran jenis bakteri yang ada di rumah sakit Ibnu Sina di dapatkan 5 spesies, yaitu terdiri dari bakteri Salmonella thypi, Samonella parathypi, Vibrio cholera, Klebsiella pneumonia, dan Pseudomonas aerogynose. Di rumah sakit Awal bross di dapatkan 6 spesies yaitu terdiri dari bakteri Salmonella thypi, Samonella parathypi A, Vibrio cholera, Vibrio vulnificus, Pseudomonas aerogynase, dan Proteus vulgaris. RSUD Arifin achmad di dapatkan 7 spesies yaitu terdiri dari bakteri Salmonella thypi, Salmonella parathypi, Vibrio vulnivicus, Escherichia coli, Proteus vulgaris, Enterobacter aerogenes, dan Basillus cereus
Jenis- Jenis Bakteri yang di temukan pada tiga rumah yang di kota pekanbaru adalah sebagai berikut:
1. Vibrio cholera dan Vibrio vulnificus
Dari hasil penelitian tentang bakteri patogen yang disebarkan oleh lalat rumah (Musa domestica, L) di rumah sakit kota pekanbaru bakteri Vibrio yang di dapatkan ada dua spesies yaitu Vibrio cholera di rumah sakit Ibnu sina dan rumah sakit Awal Bros dan Vibrio vulnificus di rumah sakit Awal Bros dan RSUD Arifin Achmad. Bakteri vibrio cholera pada medium TCBSA koloni tampak berwarna kuning dengan diameter koloni 2-3 mm, bentuk koloni bulat dan negatif dalam pewarnaan gram.
Gambar . koloni 4.Vibrio cholera di medium TCBSA
Hasil uji hidrogen sulfida bakteri vibrio cholera pada medium agar tegak dan miring berwarna kuning menandakan bersifat asam, tidak membentuk gas dan tidak mengasilkan H2S. Untuk uji motil pada medium semi solid ternyata positif, hal ini menandakan bahwa bakteri Vibrio cholera dapat bergerak karena adanya flagel dan tidak mengalami perubahan pada medium simon citrat
Kolera merupakan suatu penyakit akut yang disebabkan oleh enterotoksin yang dihasilakan oleh Vibrio cholera yang membentuk koloni pada usus kecil. Manusia adalah inang alamiah bagi Vibrio cholera dan lalat rumah sebagai peran utama dalam penyebaran bakteri melalui makanan dan air( Pelczar, 1988). Menurut Zein, dkk (2004) menyatakan pebaran kolera dari makanan dan air yang terkontaminasi. Terkontaminasinya makanan dan air bisa saja oleh lalat.
Gambar 5. Reaksi biokimia Vibrio cholera
Vibrio vulnificus pada medium TCBSA akan tampak koloni berwarna hijau kebiruan, bentuk koloni bulat dengan diameter 2-3 mm, negatif pada pewarnaan gram.
Gambar 6. koloni Vibrio vulnificus
Untuk membedakan jenis dari Vibrio dengan jenis lain dapat di lihat dari bentuk morfologi dapat di lihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 3. Bentuk morfologi bakteri Vibrio pada medium TCBSA
Jenis mikroorganisme Warna koloni pada media TCBSA Diameter koloni
(mm)
V. parahaemolyticus
V. cholera
V. alginolyticus
V. vulnivicus Hijau kebiruan
Kuning
Kuning
Hijau kebiruan 3-5
2-3
3-6
2-3
( Ruyitno, 1993)
2. Salmonella thypi dan Samonella parathypi
Dari hasil penelitian di ketahui untuk kelompok bakteri Salmonella di temukan dua spesies yaitu Salmonella thypi dan Salmonella parathypi A. dari tabel 2 dapat di lihat bahwa bakteri ini ada di jumpai pada rumah sakit Ibnu Sina, Awal Bros dan RSUD Arifin Achmad. Koloni bakteri Samonella thypi pada medium SSA tampak berwarna pink sampai kehitaman sedangkan untuk koloni dari Salmonella parathypi tampak berwarna putih buram sampai kekuningan dan negatif dalam pewarnaan gram.
Gambar 7. Koloni Salmonella Gambar 8. Koloni Salmonella thypi
parathypi A
Hasil uji bio kimia menunjukan bahwa bakteri Salmonella thypi besifat basa dengan di tandai dengan warna merah pada agar miring dan bersifat asam di tandai dengan warna kuning pada medium tegak, tidak membentuk gas, menghasilkan H2S, menghasilkan sitrat dan terjadi pegerakan dalam medium semisolid. Sedangkan untuk bakteri Salmonella parathypi sama dengan Salmonella thypi yang berbeda dari uji biokimia yaitu Salmonella parathypi tidak manghasilkan H2S tetapi terbentuknya gas.
Gambar 9. Rbk Salmonella parathypi A Gambar 10. Rbk Salmonella thypi
Salmonella thypi dan Salmonella parathypi adalah penyebab demam tiphoid yaitu suatu penyakit sistemik yang berhubungan dengan gastrointestinal yang bersumber dari makanan yang telah terkontaminasi bisa oleh lalat dengan gejala demam panjang, nyeri abdomen (Zein, dkk. 2004)
3. Klebsiella pneumonia
Bakteri klebsiela pneumonia di temukan di rumah sakit Ibnu Sina. Bakteri ini dalam medium agar darah akan tampak berwarna putih tidak terbentuk zona atau tidak menghemolisis sel darah merah dan negatif dalam pewarnaan gram. Hasil uji hydrogen sulfida pada agar miring dan tegak bersifat asam terbentuk gas dan tidak mengasilkan H2S, tidak bergerak dalam medium semisolid dan meghasilkan sitrat di tandai dengan perubahan medium simon citrat dari hijau menjadi biru.
Gambar 11. Rbk Klebsiella pneumonia
4. Pseudomonas aerogynose
Bakteri Pseudomonas aerogynose di temukan di rumah sakit Ibnu Sina dan Rumah sakit Awal Bros. Dalam medium agar darah koloni Pseudomonas aerogynose akan tampak berwarna putih dengan pinggir terbentuk zona bening atau menghemolisis sel darah merah, gram negatif . Pseudomonas aerogynose dalam uji biokimia bersifat basa pada medium miring dan tegak, tidak menghasilkan gas dan tidak terbentuk H2S, mengasilakan sitrat dan terjadi pegerakan dalam medium semisolid
Gambar 12. Rbk Pseudomonas aerogynose
5. Escherichia coli dan Enterobacter aerogenes
Bakteri koliform merupakan suatu grup bakteri yang digunakan sebagai indictor adanya polusi kotoran dan kondisi sanitasi tidak baik terhadap air, makanan, produk-produk susu dan lingkungan (Fardiaz, 1993). Bakteri koliform dapat dibedakan menjadi dua grup yaitu koliform fekal contohnya Escherichia coli dan koliform non fekal contohnya Enterobacter aerogenes. Koloni Escherichia coli dan Enterobacter aerogenes dalam medium agar darah akan tampak berwarana putih, menghemolisis sel darah merah dan gram negatif. Dalam uji biokimia Escherichia coli bersifat asam pada agar tegak dan miring, tidak terbentuk gas, tidak menghasilkan H2S, tidak menghasilkan sitrat dan melakukan pergerakan. Sedangkan Enterobacter aerogenes dalam uji biokimia bersifat asam, terbentuk gas tidak menghasilkan gas H2S, menghasilkan sitrat dan terjadi pergerakan.
Gambar 13. Rbk Escherichia coli
6. Proteus vulgaris
Koloni bakteri Proteus vulgaris dalam medium agar darah tampak berwarna putih bulat kecil-kecil tidak menghemolisis sel darah merah, dan gram negatif. Selanjutnya dalam uji biokimia akan bersifat asam pada medium agar miring dan tegak, terbentuknya gas, menghasilkan H2S, mengasilkan sitrat dan terjadi pergerakan dalam medium semi solid.
Gambar 14. Rbk Proteus vulgaris
. 7. Basillus cereus
Dalam medium agar darah koloni Basillus cereus akan tampak berwarna putih menghemolisis sel darah, meghasilkan sitrat dan terjadi pergerakan dalam medium semisolid. Positif dalam perwarnaan gram dengan bentuk batang dengan susunan dua-dua atau rantai.
Gambar 15. Perwarnaan gram
Basillus cereus adalah bakteri batang gram positif, aerobik dapat menyebabkan gejala muntah dan diare dengan gejala muntah lebih dominan. Gejala dapat di temukan pada 1-6 jam setelah asupan makanan terkontaminasi (Zein, dkk. 2004)
Dari tabel 2 penyebaran bakteri dapat di ketahui kehadiran bakteri di tiga rumah sakit yang ada di kota pekanbaru tidak sama seperti bakteri klebsiella pneumonia yang hanya di jumpai pada rumah sakit Ibnu sina dan begitu juga bakteri Escherichia coli, Enterobacter aerogenes, dan Basillus cereus yang hanya di temukan pada RSUD Arifin Achmad. Wuryadi (1982), menyatakan bahwa kondisi lingkungan akan mempengaruhi terhadap kehadiran kuman dan perkembangbiakan kuman
DAFTAR PUSTAKA
Abdillah.2005.Waspadai Sampahs.http:// www.pikiranrakyat.com
Anonimus.1994. Standar Industri Indonesia: Cara Cemaran Mikroba.dep. Perindustrian. Jakarta
Anonimus. 2004. Pedoman Teknis Pengendalian Lalat.http:// www.geocitic.com
Anonimus. 2005. Medical Entomologi. http:// www.geocitic.com.
Anonimus. 2007. Pengetahuan Sanitasi dan Aplikasi dalam Kehidupan Sehari- hari untuk perbaikan kesehatan masyarakat. http://www.database.deptan.go.id
Borror, Tripleihoin, Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga. UGM. Yogyakarta
Cappuccino dan Sherman.1996.Microbiology A Laboratory Manual.The Benjamin/Cumming Publishing Company,inc.New York
Dinata, A. 2005. Pemberrantasan Penyakit Bersumber Binatang.http:// www.pikiranrakyat.com
Entjang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi. Citra Aditya Bakti. Bandung.
Fardiaz, S. 1993. Analisis Mokrobiologi Pangan. PT. Raja Grafindo persada. Jakarta.
Feliatra. 1999. Identifikasi Bakteri Patogen (Vibrio sp) Diperairan Batam Propinsi Riau. Natur Indonesia. II (1) hal : 28-33
Lay, B, W.1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Raja Grafindo Persada. Jakarta
Husada,E,S. Henry, D. Pribadi,W. 2004. Parasitologi Kedokteran. Universitas Indonesia, Jakarta.
Pelczar, J, Michael dan Chan. 1988. Dasar- Dasar Mikrobiologi Dasar 2. Universitas Press. Jakarta
Sharrington, 1994. Ilmu Pangan : Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi Dan Mikrobiologi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Siswono.2005.Lalat Sebagai Vektor Mekanik Dan Biologi.http:// www.gizi.net
Sinaga, Ernawati. 2004. Kiat Menghindarkan Bahaya Lalat. www. Deplees. Go.Id
Tambayong, Jan. 2000. Mikrobiologi untuk Keperawatan. Widya Medika. Jakarta
Wardhani, Kusumaluki. 2005. Awas Penyakit Menular Dari Satwa Liar. www. Profauna. ar. Id .
Ruyitno, 1993. pengantar Prak. Mikrobiologi Laut.puslitbang oceanologi LIPI dan UNRI .Pekanbaru
Zein, U. Sagala, HK. Ginting, J.2004. Diare akut Yang disebabkan Bakteri. E-USU Repository @2004 universitas Sumatra Utara

