HUBUNGAN BERATNYA EDEMA DENGAN HIPOALBUMINEMIA PADA PASIEN SINDROM NEFROTIK ANAK DI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG PERIODE 2001-2006

abstraks: 

ABSTRAK

HUBUNGAN BERATNYA EDEMA DENGAN HIPOALBUMINEMIA
PADA PASIEN SINDROM NEFROTIK ANAK
DI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
PERIODE 2001-2006

Oleh

ANDRY KURNIAWAN
03 120 060

Edema merupakan manifestasi utama dari sindrom nefrotik yang dikaitkan dengan keadaan hipoalbuminemia. Pola munculan edema sangat bervariasi, begitu pula dengan penyebabnya, yaitu kadar albumin darah dalam rentang hipoalbuminemia, yang juga bervariasi nilainya pada setiap pasien.
Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan beratnya edema denagn keadaan hipoalbuminemia pada pasien sindrom nefrotik anak yang berobat / dirawat di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 2001-2006.
Penelitian cross selectional analytic telah dilakukan di Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. M. Djamil Padang pada bulan Juli – Agustus 2007, dengan populasi yang tercatat sebanyak 71 pasien, dan 46 pasien memenuhi kriteria inklusi.
Berdasarkan hasil penelitian univariat terhadap 46 pasien, didapatkan insiden terbanyak sindrom nefrotik berada pada kelompok umur 2 – 6 tahun sebanyak 25 pasien (54,3%), dan terbanyak pada laki-laki dengan jumlah 29 pasien (^#%) dengan rasio 1,71 : 1. Hasil penelitian menunjukkan manifestasi edema anasarka sebanyak 17 pasien (40,8%), dengan kadar albumin yang paling sering 1,6 gr/dl pada 5 pasien (10,9%), kadar albumin tertinggi 2,5 gr/dl, kadar albumin terendah 1,0 gr/dl. Edema dibagi atas edema ringan, sedang, dan berat. Hasil penelitian menunjukkan edema yang terbanyak adalah edema ringan pada 19 pasien, dengan rerata albumin darah 1,7532 gr/dl. Penelitian bivariat dilakuka dengan uji Anova dan uji korelasi Spearman. Anova digunakan untuk membuktikan hubungan derajat edema dengan rerata kadar albumin darah, dan hasilnya bermakna (p<0,05). Uji Spearman menunjukkan bahwa hipoalbuminemia mempengaruhi beratnya edema, dimana secara statistik dinyatakan bermakna (p<0,05). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa beratnya edema dipengaruhi oleh hipoalbuminemia.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Sindrom Nefrotik (SN, Nephrotic Syndrome) adalah suatu sindrom klinik dengan gejala proteinuria masif (? 40 mg/m2 LPB/jam atau rasio protein/kreatinin pada urin sewaktu > 2 mg/mg atau dipstik ? 2+ ) yang menyebabkan terjadinya hipoproteinemia (terutama hipoalbuminemia, dengan kadar ? 2,5 g/dl ) dan karenanya, mengakibatkan terjadinya edema. Sindrom nefrotik dapat disertai dengan terjadinya hiperkolesterolemia (kolesterol >200 mg/dl), hiperlipidemia, dan hiperlipiduria (Alatas et al, 2005; Chiu and Yap, 2005; Rudolph et al, 2006).
Sindrom nefrotik dapat terjadi pada semua anak dari golongan ras mana pun, walaupun realita yang terjadi adalah ras kulit hitam lebih jarang terkena sindrom nefrotik bila dibandingkan dengan ras kulit putih , dan anak laki-laki lebih sering terkena dibandingkan dengan anak perempuan (dengan rasio 2 : 1 ). Kedua faktor risiko di atas masih belum diketahui dan ditemukan hubungannya sebagai penyebab sindrom nefrotik secara langsung (Webb, 2003)
Insiden sindrom nefrotik pada anak di Hongkong dilaporkan 2-4 kasus per 100.000 anak per tahun (Chiu and Yap, 2005). Insiden sindrom nefrotik pada anak dalam kepustakaan di Amerika Serikat dan Inggris adalah 2-4 kasus baru per 100.000 anak per tahun. Di negara berkembang, insidennya lebih tinggi. Dilaporkan, insiden sindrom nefrotik pada anak di Indonesia adalah 6 kasus per 100.000 anak per tahun. (Alatas et al, 2005)
Sindrom nefrotik biasanya terjadi karena penyebab glomerular dan saat ini digolongkan dalam bentuk primer dan sekunder. Penyebab primer umumnya idiopatik dan tidak berhubungan dengan penyakit sistemik, sedangkan penyebab sekunder berasal dari luar ginjal dan biasanya berhubungan dengan penyakit sistemik seperti Lupus Eritematosus Sistemik, Henoch Schonlein Purpura, Diabetes Mellitus, post infeksi virus hepatitis B, efek obat anti-inflamasi non-steroid dan lain-lain (Webb, 2003 ; Prodjosudjadi, 2006; Rudolph et al, 2006 ).
Walaupun begitu, patofisiologi dari sindrom nefrotik belum diketahui secara pasti. Sindrom nefrotik diduga berhubungan dengan kelainan imunologik yang mengakibatkan permeabilitas glomerolus meningkat terhadap protein sehingga terjadi proteinuria ( Garna, 2005).
Berdasarkan pada deskripsi histopatologik, sindrom nefrotik diklasifikasikan menjadi sindrom nefrotik dengan lesi-minimal atau perubahan-minimal, sklerosis fokal segmental, glomerulonefritis membranoproliferatif, glomerulonefritis membranosa, nefritis proliferatif mesangium, glomerulonefritis proliferatif, dan nefrosis kongenital. (Rudolph et al, 2006).
Hipoalbuminemia pada pasien sindrom nefrotik berhubungan dengan kehilangan protein (terutama albumin) melalui urin. Keadaan ini mempermudah terjadinya pergerakan cairan dari intravaskuler menuju ekstravaskuler, disebabkan oleh penurunan tekanan onkotik plasma yang kestabilannya dijaga oleh albumin. Pada akhirnya, proses ini berlanjut dengan pembentukan edema (Kohan, 2006; Prodjosudjadi, 2006).
Pada anak dengan sindrom nefrotik, terdapat hubungan terbalik antara laju ekskresi protein dan derajat hipoalbuminemia. Namun, keadaan ini bukan merupakan korelasi yang ketat, terutama pada anak dengan proteinuria yang menetap lama dan tidak responsif steroid, albumin serumnya dapat kembali normal atau hampir normal, dengan atau tanpa perubahan pada laju ekskresi protein. Laju sintesis albumin pada sindrom nefrotik dalam keadaan seimbang ternyata tidak menurun, bahkan normal atau meningkat ( Wirya, 2002).
Manifestasi klinis utama dari sindrom nefrotik adalah edema, suatu tanda yang ditemukan pada sekitar 95 % anak. Edema pada saat onset seringkali tersembunyi sehingga keluarga mungkin meyakini bahwa anak mereka hanya sekedar tumbuh dengan cepat. Pada banyak anak, edema muncul secara intermiten, berawal dari daerah-daerah yang mempunyai resistensi jaringan yang rendah seperti daerah periorbita, skrotum, serta daerah labia, untuk seterusnya muncul secara menyeluruh dan masif (Rudolph et al, 2006). Edema yang muncul secara masif atau lebih dikenal sebagai edema anasarka dapat muncul pada anak yang tidak mendapatkan pengobatan dan perawatan, atau pada anak yang tidak responsif terhadap pengobatan yang diberikan. Pada edema yang sudah sangat parah, trauma kecil pada edema dapat mengakibatkan kerusakan pada kulit, dan seterusnya berlanjut dengan keluarnya cairan dari jaringan edema yang terkena (Webb, 2003). Tampaknya, sekarang pola timbulnya edema bervariasi untuk setiap pasien sindrom nefrotik dengan variasi kelainan glomerulus ( Wirya, 2002).
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melihat bagaimana sebenarnya hubungan antara keadaan hipoalbuminemia karena sindrom nefrotik (kadar albumin darah ? 2,5 gr/dl) dengan beratnya edema yang terjadi, mengingat edema yang terjadi dapat bervariasi, dan kadar albumin darah yang berada dalam rentang hipoalbuminemia juga bervariasi nilainya, sehingga bisa untuk menentukan manifestasi edema yang terjadi pada berbagai kadar albumin darah.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana hubungan antara keadaan hipoalbuminemia pada pasien sindrom nefrotik dengan beratnya edema yang dapat terjadi.
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Melihat hubungan hipoalbuminemia dengan beratnya edema yang terjadi pada pasien sindrom nefrotik anak yang berobat / dirawat di RSUP Dr. M.Djamil Padang periode 2001-2006.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui distribusi kelompok umur pasien sindrom nefrotik anak yang berobat / dirawat di RSUP Dr. M.Djamil Padang pada periode 2001-2006.
2. Mengetahui distribusi jenis kelamin pasien sindrom nefrotik anak yang berobat / dirawat di RSUP Dr. M.Djamil Padang pada periode 2001-2006.
3. Mengetahui distribusi manifestasi edema pasien sindrom nefrotik anak yang berobat / dirawat di RSUP Dr. M.Djamil Padang pada periode 2001-2006.
4. Mengetahui distribusi kadar albumin darah pasien sindrom nefrotik anak yang berobat / dirawat di RSUP Dr. M.Djamil Padang pada periode 2001-2006.
5. Mengetahui hubungan berbagai macam derajat edema dengan kadar albumin darah pasien sindrom nefrotik anak yang berobat / dirawat di RSUP Dr. M.Djamil Padang pada periode 2001-2006.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi tentang kadar albumin darah yang mengakibatkan terjadinya variasi dari beratnya edema yang terjadi.
2. Data yang terkumpul dapat digunakan sebagai dasar dalam penelitian berikutnya.

Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Special Member dapat mendownload data yang ada di download area.
NB: Ada kemungkinan data yang diposting di website ini belum ada filenya, karena dikirim oleh member biasa dan masih menunggu konfirmasi dari member yang bersangkutan. Untuk memastikan data ada atau tidak silahkan login di download area.

FREE JOURNAL UNTUK MELENGKAPI REFERENSI KARYA ILMIAH ANDA, FREE? KLIK DISINI
HOT DOWNLOAD MAKALAH, FULL PAPER? KLIK DISINI
PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI
INGIN KULIAH S2 JARAK JAUH? KLIK DISINI



Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuannya

Design by xactive -