Kedokteran

EFEK EKSTRAK DAUN SAMBUNG NYAWA TERHADAP KADAR KOLESTEROL LDL DAN KOLESTEROL HDL DARAH TIKUS DIABETIK AKIBAT INDUKSI STREPTOZOTO

abstraks: 

Peningkatan kadar kolesterol merupakan salah satu komplikasi yang sering
terjadi pada penderita Diabetes Melitus. Salah satu cara penurunan yang sekarang
diminati dan dikembangkan adalah dengan pengobatan tradisional dengan daun
sambung nyawa. Daun sambung nyawa mengandung zat – zat fitokimia antara
lain flavonoid yang mampu menurunkan kadar kolesterol darah, serta
menghalangi adanya reaksi oksidasi kolesterol LDl dalam tubuh. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui efek ekstrak daun sambung nyawa
terhadap kadar kolesterol darah tikus diabetik.
Populasi penelitian adalah tikus jantan umur 2 bulan berat antara 150 –
200 gram.Sampel 12 ekor tikus, tiap kelompok terdiri 3 tikus, disampling dari
keseluruhan populasi penelitian dengan teknik random sampling. Sampel dibagi
menjadi 4 kelompok dengan 3 variabel: dosis ekstrak daun sambung nyawa,
metformin, dan placebo ( variabel bebas ), kadar kolesterol ( variabel tergantung ),
galur, jenis kelamin, berat tikus, dan pakan ( variabel kendali ). Data diuji dengan
anava satu jalan, diuji lanjut dengan uji Jarak Ganda Duncan.
Hasil penelitian menunjukkan rata – rata kadar kolesterol setelah
perlakuan pada kelompok A = 66,66 mg/dl, B = 28,21 mg/dl, C = 46,25 mg/dl,
D= 69,84 mg/dl. Diperoleh F hitung ( 14,244 ) dengan F tabel ( 4,07 = 5%), jadi
pada taraf kepercayaan 5 % F hitung > F tabel sehingga dinyatakan ada perbedaan
nyata antara keempat kelompok perlakuan. Hasil UJGD menunjukkan ekstrak
daun sambung nyawa efektif menurunkan kadar kolesterol darah tikus diabetik.
Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak daun sambung nyawa efektif
menurunkan kadar kolesterol darah tikus diabetik. Namun perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut tentang efek lain ekstrak daun sambung nyawa bagi
kesehatan.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jumlah penderita diabetes melitus saat ini terus meningkat. Berdasarkan
data dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia ( Perkeni ), pada tahun 2001
di Depok, Suburban Jakarta jumlah penderita diabetes melitus mencapai
12,8%. Sedangkan dari data yang tersaji dalam Atlas Diabetes tahun 2000 (
Walujani, 2003 ) dapat ditunjukkan bahwa pada tahun 2000, penderita
diabetes melitus di Indonesia mencapai 5,6 juta dengan asumsi 4,6 % dari
jumlah penduduk yang menderita diabetes melitus usia di atas 20 tahun adalah

PENGARUH VANADIL SULFAT TERHADAP JARINGAN OTOT DAN ADIPOSE MENCIT (Mus musculus) YANG MENDERITA DIABETES MELLITUS

abstraks: 

Diabetes mellitus adalah suatu gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Diabetes tipe 2 ditemui pada 90% dari seluruh kasus diabetes (Schwinghammer, 2003). Faktor genetik juga dapat berpengaruh terhadap terjadinya diabetes tipe 2, hal ini ditunjukkan dengan adanya perbedaan persentase terjadinya diabetes tipe 2 pada ras yang berbeda pada penelitian di Amerika Serikat, yaitu 6% pada ras kaukasia, 10% pada keturunan Afrika dan Asia, 15% pada keturunan Spanyol, dan 20% hingga 50% pada suku pendatang lainnya (Mathur, 2005). Terapi awal diabetes mellitus adalah dengan pengaturan pola makan. Bila pengaturan diet tidak dapat menurunkan kadar gula darah, maka diberikan terapi dengan obat. Terapi untuk pasien diabetes tipe 1 adalah injeksi insulin, karena sel β pankreas rusak atau tidak mampu menghasilkan insulin. Sedangkan terapi untuk diabetes tipe 2 memiliki beberapa tujuan, antara lain untuk meningkatkan sekresi insulin oleh pankreas dengan obat golongan sulfonilurea, menurunkan jumlah glukosa yang diproduksi di hati dan meningkatkan sensitifitas sel terhadap insulin dengan obat golongan biguanid dan tiazolidin, serta menurunkan absorpsi karbohidrat dari usus atau saluran pencernaan dan memperlambat waktu pengosongan lambung dengan inhibitor α glukosidase (Mathur, 2005; Schwinghammer, 2003). Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan terapi khususnya untuk diabetes mellitus tipe 2 antara lain adalah perubahan kadar glukosa darah yang ditimbulkan oleh tiap obat,
kondisi medis lain pada pasien misalnya hipertensi atau hiperlipidemia, efek samping, kontraindikasi, dan kepatuhan pasien dalam menggunakan obat (Mathur, 2005). Efek samping penggunaan insulin terus menerus antara lain menyebabkan hipoglikemia, peningkatan berat badan dan resistensi insulin. Sedangkan oral anti diabetes selain dapat mengakibatkan hipoglikemia, peningkatan berat badan dan resistensi insulin, dapat juga menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan, kulit kemerahan, kolestasis, anemia hemolitik, dan berbagai penyakit kardiovaskular. Selain itu pemakaian insulin dan oral anti diabetes dapat menyebabkan toleransi (Schwinghammer, 2003). Karena banyaknya efek samping yang dapat ditimbulkan oleh obat-obat anti diabetes tersebut, saat ini dilakukan banyak penelitian untuk mengembangkan obat-obat yang bekerja lebih spesifik dan memiliki efek samping minimal.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Berdasarkan perkiraan WHO, saat ini jumlah penderita diabetes mellitus mencapai 180 juta jiwa. Pada tahun 2005 tercatat lebih kurang 1,1 juta jiwa meninggal akibat diabetes dan sekitar 80% terjadi di negara berkembang. Data tersebut juga menunjukkan bahwa hampir setengah kematian terjadi pada usia di bawah 70 tahun dan 55% terjadi pada wanita. Oleh sebab itu, tanpa tindakan lebih lanjut, maka dalam kurun waktu 10 tahun ke depan diperkirakan jumlah kasus kematian akibat diabetes akan meningkat lebih dari 50% (Anonim, 2006).

kista periapikal pada gigi premolar rahang atas

abstraks: 

Kista radikuler disebut juga kista periapikal. Kista ini merupakan jenis kista yang paling sering ditemukan. Kista radikuler terbentuk oleh karena iritasi kronis gigi yang sudah tidak vital. Kista ini tumbuh dari epitel rest of Malassez yang mengalami proliferasi oleh karena respon terhadap proses radang yang terpicu oleh karena infeksi bakteri pada pulpa yang nekrosis (Danudiningrat. 2006; Valois, Costa-junior. 2005; Romero, dkk. 2002).

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Gigi-geligi pada rongga mulut dibagi menjadi dua bagian, yaitu gigi-geligi pada rahang atas dan rahang bawah. Gigi-geligi ini dikelilingi oleh bibir, mukosa pipi, dan lidah. Setiap gigi terdiri dari mahkota dan akar gigi, yang disatukan oleh leher gigi. Tiap gigi memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda, sesuai dengan fungsi gigi tersebut (www.Dhin.nl).

PENGARUH PEMBERIAN LARUTAN WORTEL (Daucus carota ) TERHADAP JUMLAH SEL RADANG LIMFOSIT SUBMUKOSA BRONKIOLUS TIKUS (Rattus norv

abstraks: 

ABSTRAK

Muhammad Khairani, 2008. Pengaruh Pemberian Wortel (Daucus carota) Terhadap Jumlah Sel Radang limfosit Submukosa Bronkiolus Tikus (Rattus norvegicus) Strain Wistar Yang Dipapar Asap Rokok Kretek Subkronik, Tugas Akhir, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Pembimbing : (1) DR. Dr. Nurdiana. Mkes. (2) Dr. Supranowo. Sp,Pa.

Radikal bebas dalam asap rokok dapat menyebabkan kerusakan sel yang dapat memicu reaksi inflamasi dengan salah satu indikatornya adalah keluarnya sel radang dari pembuluh darah akibat pelepasan zat-zat chemoattractant. Aktivitas radikal bebas dapat dihambat oleh antioksidan seperti yang terkandung dalam wortel (beta-karoten, askorbat). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek wortel terhadap jumlah sel radang limfosit submucosa bronkiolus tikus Wistar yang dipapar asap rokok subkronis. Penelitian eksperimental ini menggunakan 20 ekor tikus (Rattus norvegicus) strain Wistar jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok, terdiri dari kelompok kontrol negatif, kontrol positif (dipapar asap rokok kretek) dan kelompok perlakuan 1, 2 dan 3 (masing- masing dipapar asap rokok kretek dan dilanjutkan pemberian larutan wortel dosis 250; 500; 750 mg/hari secara berurutan). Pemeriksaan bronkiolus tikus secara histopatologi menggunakan pengecatan HE kemudian sel radang limfosit submucosa bronkiolus dihitung pada 10 lapangan pandang dengan mikroskop pembesaran 400x. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sel radang limfosit submucosa meningkat secara signifikan (p = 0,000, uji posthoc) pada kelompok yang dipapar asap rokok (sel limfosit = 609 ± 30,65942 sel) dibanding kontrol negatif (sel limfosit 61,75 ± 6,60177 sel), dan menurun secara bermakna pada kelompok 1 (p = 0,011 dengan sel limfosit = 499,25 ± 40,72162 sel), kelompok 2 (p = 0,000 dengan sel limfosit = 237 ± 59,40258 sel dan p = 0,037, serta kelompok 3 (p = 0,000 dengan sel limfosit = 440,75 ± 43,78261 sel) dibandingkan dengan kelompok kontrol positif. Kesimpulan penelitian ini adalah larutan wortel mampu menurunkan jumlah sel radang limfosit submukosa bronkiolus tikus yang dipapar asap rokok kretek sub kronis. Hal itu diduga karena wortel mengandung antioksidan yang mampu meredam aktivitas radikal bebas dan memutus rantai peroksidasi lemak.

Kata Kunci : larutan wortel; asap rokok; bronkiolus; inflamasi; sel radang limfosit

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Rokok secara luas telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Diduga hingga menjelang tahun 2030 kematian akibat merokok akan mencapai 10 juta orang pertahunnya. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki tingkat konsumsi rokok dan produksi rokok yang tinggi. Variasi produk dan harga rokok di Indonesia telah menyebabkan Indonesia menjadi salah satu produsen sekaligus konsumen rokok terbesar di dunia. Menurut Bank Dunia, konsumsi rokok Indonesia sekitar 6,6% dari seluruh konsumsi dunia (Depkes, 2005).

Karakteristik Kasus Solusio Plasenta di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Periode 1 Januari 2002-31 De

abstraks: 

Solutio placenta is the premature separation of the placenta from its site of implantation after 20 weeks of pregnancy and before the delivery of the fetus. Solutio placenta represent one of the obstetrical hemorrhage which is able to cause maternal death. Problem of solutio placenta is important to be known because this case represent one of the 3rd period pregnancy complication which can increase mortality number and morbidity number of mother and the fetus if its handling do not conducted precisely.
The descriptive and retrospective research have been conducted by taking data from RSUD Arifin Achmad Pekanbaru toward solutio placenta cases during period 1st January 2002-31st December 2006.
From the result of research obtained 12709 obstetric cases including 33 solutio placenta cases (0.26%) where the amount of mother death (6.9%). The amount of baby life after intensive care (51.72%) is higher than the amount of baby dying (37.93%) and the amount of baby which is life healthily (10.35%).

Karakteristik Kasus Solusio Plasenta di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Periode 1 Januari 2002-31 Desember 2006
ABSTRACT
CHARACTERISTIC OF SOLUTIO PLACENTA AT DEPARTMENT OF OBSTETRICS AND GYNAECOLOGY RSUD ARIFIN ACHMAD PEKANBARU PERIOD 1st JANUARY 2002 -31st DECEMBER 2006

By
Yayan Akhyar Israr

Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Special Member dapat mendownload data yang ada di download area.
NB: Ada kemungkinan data yang diposting di website ini belum ada filenya, karena dikirim oleh member biasa dan masih menunggu konfirmasi dari member yang bersangkutan. Untuk memastikan data ada atau tidak silahkan login di download area.

FREE JOURNAL UNTUK MELENGKAPI REFERENSI KARYA ILMIAH ANDA, FREE? KLIK DISINI
HOT DOWNLOAD MAKALAH, FULL PAPER? KLIK DISINI
PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI
INGIN KULIAH S2 JARAK JAUH? KLIK DISINI



Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuannya

Design by xactive -