Persepsi Mahasiswa FISIP UNDIP Terhadap Pengaruh Budaya Populer Terhadap Perilaku Mahasiswa FISIP UNDIP

abstraks: 

Popular culutre atau budaya populer akhir-akhir ini menjadi topik yang menarik dalam berbagai diskusi ilmiah dan berbagai studi karena budaya populer tidak lagi menjadi sebatas budaya kelas dua yang serba masif dan instant, tetapi sudah berpengaruh sangat dalam terhadap kehidupan umat manusia saat ini, mulai dari gaya hidup (lifestyle), cara berpikir dan cara pandang (paradigma), bahkan berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan budaya asli dalam masyarakat. Mahasiswa, adalah bagian dari masyarakat yang mempunyai peluang terbesar untuk mendapat pengaruh dari budaya populer ini, tetapi juga bagian dari generasi muda yang mempunyai kesempatan terbesar untuk menolak budaya ini, berkaitan dengan akses mereka terhadap informasi dan kemampuan intelektual mereka.
Permasalahan yang ingin dibahas disini yaitu persepsi mahasiswa FISIP UNDIP terhadap budaya populer yang mempengaruhi kehidupan mahasiswa FISIP UNDIP dan pengaruh budaya pipuler terhadap gaya hidup dan perilaku mahasiswa FISIP UNDIP.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan tipe explanatory yang menjelaskan tentang hubungan variabel bebas dan terikat dari tema penelitian. Penelitian explanatory digunakan untuk menjelaskan persepsi mahasiswa FISIP UNDIP terhadap budaya populer yang mempengaruhi cara berpikir, gaya hidup, dan aktivitas organisasi mahasiswa FISIP UNDIP.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan persepsi mahasiswa terhadap budaya populer di kampus mereka mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap cara berpikir mahasiswa FISIP UNDIP, pengaruh yang tidak begitu besar terhadap gaya hidup mahasiswa, tetapi mempunyai pengaruh signifikan terhadap perilaku sosial politik mahasiswa. Tetapi belum ada langkah-langkah berarti dari organisasi kampus dan organisasi mahasiswa untuk mengatasi beberapa permasalahan ini.

Kata Kunci : Persepsi, Budaya Populer, Mahasiswa FISIP UNDIP

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN
Popular culutre atau budaya populer akhir-akhir ini menjadi topik yang menarik dalam berbagai diskusi ilmiah dan berbagai studi yang memerlukan analisis sosial. Budaya populer saat ini mempunyai pengaruh signifikan terhadap globalisasi kebudayaan mempunyai kaitan yang erat dengan kepentingan ekonomi dari para pemodal-pemodal besar era kapitalisme.
Budaya populer tidak lagi menjadi sebatas budaya kelas dua yang serba masif dan instant, tetapi sudah berpengaruh sangat dalam terhadap kehidupan umat manusia saat ini, mulai dari gaya hidup (lifestyle) (Idi Subandi Ibrahim, 2006:11), cara berpikir dan cara pandang (paradigma), bahkan berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan budaya asli dalam masyarakat. Bagi sebagian besar anggota masyarakat, budaya populer sudah menjadi sebuah budaya elit yang membumi, memasyarakat, dapat diperoleh dimana saja, kapan saja, sesuai dengan keinginan. Globalisasi informasi dan budaya, menandai kemunculan postmodernisme alias pemberontakan terhadap budaya elit yang selama ini hanya menjadi konsumsi dari minoritas anggota masyarakat yang memang hanya ditangan mereka akses kepada budaya itu berada. Contohnya pada abad pertengahan Eropa, hanya kaum bangsawan saja yang berhak mengkonsumsi hasil karya seni tingkat tinggi, seperti lukisan, opera, dan barang-barang kerajinan yang mengindentikkan mereka dengan kemewahan.
Pengaruh budaya populer saat ini memang sangat kuat. Media massa, yang merupakan ujung tombak penetrasi budaya populer di seluruh dunia, mampu mengemas budaya pop sedemikian cantiknya, sedemikian menariknya, dan sedemikian menggoda, sehingga siapapun akan tergerak untuk berkenalan dengannya. Televisi, internet, media cetak, sepanjang hari selama satu tahun, selalu sesak dipenuhi kampanye-kampanye akan budaya populer, mulai dari program resmi yang yang mereka miliki, sampai kepada iklan produk yang termuat dalam media-media itu.
Media massa, menyebarkan ”ideologi-ideologi” baru dan melakukan sebuah konstruksi sosial yang mungkin paling radikal yang pernah ada, dengan cara yang paling damai, nyaman, tanpa gejolak, diam-diam, dan tanpa disadari, masyarakat tercerabut dari akar budayanya sendiri. Tanpa paksaan, tanpa tekanan. Dengan gemerlap iklan, tayangan-tayangan yang menawarkan impian, kehidupan gemerlap, media telah melakukan suatu perombakan besar-besaran terhadap kebudayaan. (Bre Radana, dalam Idi Subandi Ibrahim, 2006:140) Kita tidak akan pernah sadar bahwa hidup kita sudah direkonstruksi oleh budaya pop dengan media-medianya, dan mulai kehilangan identitas asali budaya kita tanpa kita sadari sama sekali.
Bangsa Indonesia, walaupun sudah 60 tahun merdeka, belum menemukan kepercayaan dirinya setelah 350 tahun lebih berada dibawah bayang-bayang dan pengaruh bangsa lain yang menjajah kita. Perasaan rendah diri sebagai bangsa yang pernah dijajah, SDM yang lemah, ditambah lagi sistem ekonomi yang goyah, membuat bangsa ini berusaha mencari pelarian untuk berusaha sejajar dengan bangsa lain, dan dengan budaya populer salah satu jalan keluarnya. (Kompas, 20 November 2005) Berpakaian seperti yang dipakai model-model Eropa, makan apa yang juga dimakan orang-orang Amerika di restoran cepat saji, dan menonton film Holywood yang juga ditonton oleh orang-orang di seluruh dunia. Apa yang menjadi gaya hidup bangsa lain, asalkan itu termasuk dalam bagian dari jaring-jaring budaya populer, dan membuat masyarakat kita serasa sederajat dengan orang-orang dari negara lain, kenapa tidak. Masalah orisinalitas mejadi nomor dua disini. Tas Prada yang harga aslinya jutaan rupiah, di Mangga Dua Jakarta “hanya” dihargai ratusan bahkan puluhan ribu rupiah. Yang penting, merknya “Prada”. Jam tangan berlapis emas Rolex aslinya dihargai puluhan juta rupiah. Tetapi di Indonesia dengan mudah kita temukan versi bajakannya yang lebih lega harganya bagi kocek orang Indonesia. Bangsa ini telah termakan satu kebanggaan semu dan pengkultusan suatu merk tanpa mempertimbangkan proses untuk mendapatkan kebanggaan itu.
Ada keterkaitan fenomena budaya pop ini dengan dengan fenomena yang menurut Umberto Eco, seorang filsuf kontemporer dari Italia, sebagai fenomena hyperealitas. Hyperealitas adalah segala sesuatu yang bersifat replikasi, salinan atau imitasi – tepatnya simalacrum – dari unsur-unsur masa lalu yang dihadirkan di dalam konteks masa kini sebagai sebuah nostalgia ( Yasraf Amir Piliang, dalam Umberto Eco, 2005:6). Dalam budaya populer, bukan hanya masa lalu yang direplikasikan, tetapi juga masa kini, bahkan masa depan, demi sebuah kebanggan dan gengsi seseorang di mata peradabannya.
Pihak yang paling mendapat pengaruh dari budaya pop ini adalah anak muda. Secara psikologis, generasi muda adalah golongan yang akan selalu terbuka akan sesuatu yang baru, akan perubahan, dengan keingin-tahuan yang tinggi, karena mereka adalah golongan dalam masyarakat yang sedang berada didalam fase pencarian jati diri. Pada fase ini, manusia akan berusaha untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya, dan akan mereka pilah-pilah, mana yang akan mereka ikuti, dan mana yang akan ditinggalkan. Sekali lagi, sumber informasi yang didapatkan oleh generasi muda indonesia saat ini adalah dari televisi, majalah-majalah pop, internet, dan rata-rata media-media itu menyebarkan budaya populer yang membawa globalisasi kebudayaan. Media-media ini menawarkan gaya hidup yang sudah diatur sedemikian rupa sesuai dengan selera mereka di seputar perkembangan trend busana, problema gaul, pacaran , shopping, dan acara-acara untuk mengisi waktu luang yang secara pelan tetapi pasti akan menggiring budaya kaum muda ( youth culture ) untuk berorientasi pada gaya hidup. (Kompas, 20 November 2005)
Generasi muda Indonesia saat ini, adalah generasi budaya pop, generasi yang sudah kehilangan identitas. Kebanggaan atas budaya dan tradisi asli sudah tergantikan atas rasa sombong yang merasa dirinya mampu untuk berada sejajar dalam tatanan kehidupan dunia, walaupun hanya dalam hal gaya hidup. Apa yang dipakai, apa yang dimakan, apa yang ditonton, dan didengar, semua berorintasi kepada hal-hal populer dengan mengatas namakan modernisasi. Hal itu tidak hanya terjadi di ibu kota negara ini, yang memang merupakan pintu gerbang masuknya produk-produk populer di Indonesia. Budaya pop sudah menjangkau merambah hingga ke desa-desa di pelosok Indonesia.
Mahasiswa, bagian dari generasi muda yang mempunyai peluang terbesar untuk mendapat pengaruh dari budaya populer ini, tetapi juga bagian dari generasi muda yang mempunyai kesempatan terbesar untuk menolak budaya ini. Penulis berpendapat demikian karena pertama, akses mahasiswa terhadap media adalah yang paling besar. Mulai dari internet yang bisa diperoleh dikampus dengan gratis, bacaan-bacaan yang berisi berbagai informasi yang bisa didapat dengan mudah, lingkungan pergaulan yang lebih luas dibanding anak usia SMU misalnya, kuliah-kuliah dan diskusi-diskusi yang diikutinya, telah membuat mahasiswa mendapatkan informasi lebih dari siapapun diusianya yang tidak berstatus mahasiswa, dan individu dibawah usianya. Sesuai dengan statusnya, mahasiswa, maka mereka “maha” dari yang lain. Ikon-ikon budaya populer, seperti MTv, Microsoft, dan Mall, sudah begitu familiar bagi mahasiswa.
Kedua, mahasiswa adalah individu yang sudah mempersiapkan diri untuk terjun kedalam masyarakat, karena itu seorang mahasiswa dituntut untuk mampu berpikir dewasa dan mampu memilah-milah apa yang pantas dan tidak pantas baginya. Apa yang dipelajarinya baik formal ataupun tidak, seyogyanya mampu menganalisis kecenderungan-kecenderungan yang ada didalam masyarakat, termasuk dalam hal ini budaya populer.
Fenomena saat ini, mahasiswa mengalami kecenderungan berada pada posisi dilematis, ada keinginan untuk menjadi seorang yang mampu berpikir dewasa dan analitis, tetapi kadang-kadang dikalahkan oleh masalah eksistensi, untuk terlihat ”gaul”, keren, dan menjadi bagian dari sistem budaya populer. Ada sekelompok mahasiswa yang turun di jalan menolak akan masuknya neo liberalisme ke Indonesia, tetapi ironsinya, dilokasi yang tidak jauh dari tempat itu, di sebuah restoran fast food, juga ada segerombolan mahasiswa yang sedang makan siang sambil menggosipkan artis-artis kesayangan mereka. (M. Irvan Zamzani, www.blogger.com). Banyak mahasiswa yang kuliah asal-asalan dan hampir setiap malam berkeliaran di Shopping mall, kebut-kebutan,dan tidak berpikir apa yang akan mereka lakukan setelah itu. ( Sarlito Wirawan Sarwono, dalam Idi Subandi Ibrahim, 2006:195)
Mahasiswa FISIP Universitas Diponegoro, juga tidak lepas dari fenomena ini. Posisi strategis sebagai Universitas yang berada di ibukota Propinsi Jawa Tengah membuat akses informasi mahasiswa cukup lancar. Kampus FISIP yang secara geografis berada di pusat kota juga berpengaruh terhaadap terpaan budaya populer terhadap mahasiswa. Selain itu, dikatakan juga bahwa gaya hidup hedonis mahasiswa UNDIP, bahkan sudah melebihi kampus-kampus lain di Jawa Tengah dan DIY.
Tergugah karena persoalan itu penulis mencoba mengangkat masalah ini dalam suatu penelitian, untuk mengetahui sejauh mana budaya populer mempengaruhi nilai-yang telah ada didalam masyarakat terutama mahasiswa dan perilakunya di FISIP UNDIP yang mereka tuangkan melalui organisasi kemahasiswaan dan apakah paradigma bahwa mahasiswa FISIP UNDIP lebih mementingkan gaya ketimbang studi, materialisme dibanding idealisme, akan penulis coba buktikan dalam penelitian yang akan penulis beri judul “Persepsi Mahasiswa FISIP UNDIP Terhadap Pengaruh Budaya Populer Terhadap Perilaku Mahasiswa FISIP UNDIP”

B. PERUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana persepsi mahasiswa FISIP UNDIP terhadap budaya populer yang mempengaruhi kehidupan mahasiswa FISIP UNDIP.
2. Bagaimana budaya populer berpengaruh terhadap kehidupan mahasiswa FISIP UNDIP.
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui persepsi mahasiswa FISIP UNDIP terhadap budaya populer yang mempengaruhi kehidupan mahasiswa FISIP UNDIP.
2. Mengetahui sejauh mana budaya populer berpengaruh terhadap kehidupan mahasiswa FISIP UNDIP.

D. KEGUNAAN PENELITIAN
Diharapkan dengan penelitian ini mahasiswa terutama aktivis mahasiswa sebagai generasi penerus dapat lebih memaksimalkan peran mereka dalam kemajuan kebudayaan dan pembangunan politik bangsa dan menyadari akan efek buruk dari budaya populer yang semakin mengikis idealisme mahasiswa dan budaya asli bangsa.

E. KERANGKA TEORI
E. 1. Budaya Populer
Budaya populer dinyatakan berasal dari Amerika, yang nota bene adalah negara yang melahirkan kapitalisme. Budaya massa atau budaya populer dianggap muncul dari produksi massal dan konsumsi komoditi kultural, maka relatif mudah untuk mengidentifikasi Amerika sebagai pusat budaya massa karena masyarakat kapitalis sangat erat kaitannya dengan proses-proses tersebut (Dominic Strinati:1995). Menurut Williams (dalam Strinati:1995), Populer dipandang dari sudut pandang orang dan bukannya dari mereka yang mencari persetujuan atau kekuasaan atas mereka. Sekalipun demikian, pengertian awal tidaklah mati. Budaya populer bukan diidentifikasikan oleh rakyat tetapi orang lain, dan masih menyandang dua makna kuno: jenis karya inferior dan karya yang secara sengaja dibuat agar disukai orang, maupun pengertian modern yang disukai banyak orang, yang tentunya pada banyak kasus bertumpang tindih dengan pengertian lama. Pengertian mutakhir budaya populer sebagai kebudayaan yang sebenarnya dibuat oleh orang-orang untuk kepentingan mereka sendiri yang sama sekali berbeda dengan semua pengertian diatas. Pengertian ini sering kali digantikan pada masa lalu sebagai budaya rakyat, tetapi pengertian ini juga merupakan salah satu penekanan modern yang penting.
Williams, (dalam Storey, 1993:6), populer dimaknai sebagai segala hal yang diciptakan oleh orang banyak berdasar selera atau kesukaan mereka sendiri. Budaya populer dianggap bekerja di kalangan rakyat biasa, oleh karena itu budaya populert adalah kebudayaan dari suatu produk industri, diproduksi dan didistribusikan secara masal dan kemudian dikonsumsi oleh banyak orang. Popular culture as mass culture, it’s produced for mass consumption, it’s audience is a mass of non discrimininating consumers ( Storey, 1993:10)
Budaya populer berkembang seiring dengan munculnya kritik terhadap sistem kapitalisme dari suatu yang menyebabkan timbulnya perbedaan tingkat kebudayaan antara kebudayaan antara kebudayaan tinggi (high culture) dan kebudayaan rakyat (folk culture). Sebagai bagian dari industri budaya, budaya populer menurut Gramsci dilihat sebagai arena perjuangan ideologi antara kelas atau kebudayaan dominan dan kelas atau kebudayaan subordinat. (Storey, 1993:12). Hal ini diperjelas oleh Maneke Budiman (JP Edisi XIII, 2006:6), bahwa budaya populer dijadikan sebagai ajang pertentangan antara kelompok dominan yang selalu ingin menguasai dan kelompk pinggiran yang menghasilkan kebudayaan.
Bicara tentang budaya populer, kita juga bicara tentang masalah gaya hidup. Gaya hidup merupakan ciri dari modernitas, siapapun yang hidup dalam masyarakat modern, akan menggunakan gagasan tentang gaya hidup untuk menggambarkan tindakannya sendiri maupun orang lain (David Chaney, 2006:40). Modern dalam hal ini suatu bentuk kesadaran kekinian yang yang didasari atas perubahan, revolusi, pertumbuhan sains dan tekhnologi, ekonomi kapitalis dimana mempunyai ciri yaitu subjektivitas, kritik dan kemajuan (F. Budi Hardiman, 2004:3). Sedangkan menurut Frisby (dalam Featherstone, 2005:9), modernitas dipandang sebagai suatu kualitas kehidupan modern yang memunculkan diskontinyuitas waktu, pemutusan tradisi, perasaan baru dan sensitifitas terhadap hakikat waktu sekarang yang sifatnya berlangsung sebentar, cepat dan tergantung.
Karena itu, dapat dikatakan pula gaya hidup merupakan suatu pola-pola perilaku yang membedakan individu yang satu dengan yang lain. Gaya hidup membantu memahami ( yakni menjelaskan tetapi bukan berarti membenarkan ) apa yang orang lakukan mengapa mereka melakukannya, dan apakah yang mereka lakukan bermakna bagti dirinya atau orang lain (Cheney, 2006:40).
Pada masyarakat yang sudah terpengaruh oleh budaya populer, dimana masyarakat sudah mengalami elitisasi, yaitu ketika adanya percampuran kelas didalam budaya sehingga masyarakat kecil dapat merasakan bagaimana gaya hidup kaum elit dan sebaliknya bagaimana kaum bangsawan bisa merasakan gaya hidup kaum bawah (Kuntowijoyo, 2005:9). Pementasan wayang orang pada masa lalu hanya ditarikan atau dipentaskan dikalangan bangsawan saja. Yang menjadi pemain, penari, pemain musik pun hanya orang-orang tertentu yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan keraton dan hanya dipentaskan pada peristiwa-peristiwa khusus misalnya ulang tahun raja, penyambutan tamu kerajaan, dan lain-lain. Tetapi lambat laun, kepentingan bisnis mencium adanya bau uang dari pertunjukan ini. Maka muncul masanya dimana pertunjukan ini menjadi konsumsi seluruh masyarakat.
Kunci yang berperan dalam hal ini adalah industrialisasi dan tekhnologi. Dalam masyarakat industri, segala hal yang dipandang bisa diusahakan untuk menghasilkan uang, maka akan diolah hal itu sampai ia menjadi uang (Nurliyanti:2005). Kesenian, pakaian, makanan, sampai agama, contoh paling konkret adalah sinetron religi yang saat ini sedang mengalami masa jayanya di pertelevisian Nasional, semuanya dikomersialisasi. Semuanya dibentuk sedemikian mungkin untuk mencapai puncak tertinggi kepuasan konsumen, dan yang akan bermuara pada pemaksimalan keuntungan. Budaya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Budaya dibuat karena, oleh, dan untuk masyarakat. Pada masyarakat budaya populer, produsen budaya, dengan bantuan tekhnologi tentunya, merancang budaya yang sudah distandarisasi agar selera massal bisa dinetralkan sampai batas-batas yang memuaskan semua lapisan dalam masyarakat. Atas desakan standarisasi produk yang diperuntukkan bagi sejumlah besar massa itulah, muncul alasan kuat untuk menyeragamkan produk budaya. Dilihat dari kacamata ini, penyeragaman produk budaya adalah awal dari logika industri kebudayaan yang berkembang sebagai “proyek penyeragaman selera dan cita rasa” (homogenization of taste) (Idi Subandi Ibrahim, 2005:xix). Keragaman kultural telah didesak oleh standarisasi kultural yang dilahirkan oleh industrialisme. Telah terjadi budaya baru, yang disebutkan oleh Toffler (dalam Jalaludin Rahmat, 2005:197), Industriality. Didalam budaya baru, yang memerintah bukan raja, kepala suku, atau pemuka agama, tetapi teknologi, yang secara sadar atau tidak, telah mengatur hidup kita mulai sejak bangun tidur sampai ketika akan tidur lagi.

E. 2. Konsumerisme
Budaya populer kemudian melahirkan konsumerisme, yang merupakan salah satu identitas gaya hidup masyakat modern. Konsumerisme adalah keadaan dimana konsumsi adalah suatu bagian yang penting dari tata kehidupan manusia, konsumsi suadah menjadi suatu industri, dimana dalam industri tersebut memberikan peluang tumbuhnya berbagai macam elemen pendukungnya, seperti agen-agen iklan, pemasaran, desain produk media promosi, dimana kemampuan konsumsi menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang. (Dominic Strinati, 1995).
Pada tingkatan konsumerisme, kebutuhan akan konsumsi, menjadi sama pentingnya dengan kebutuhan akan produksi dan pertumbuhan ekonomi masyarakat sebagian besar bertumpu kepada sektor konsumstif dan kesenangan belaka ( Dedy Djamaluddin Malik, 1990), pembangunan pusat perbelanjaan, pusat-pusat hiburan, seperti bioskop, pub, distro, music shop, game center dan seterusnya beserta elemen yang sangat menentukan sukses tidaknya pola ini, dan sekarang jelas-jelas sudah menjadi industri yang menjanjikan, yaitu media. Dengan penggaris bawahan pada kata industri, maka para pelaku media menyatakan bahwa apa yang mereka lakaukan adalah suatu proses produksi. Disini kita mendefinisikan produksi yaitu cara untuk mengolah masukan-masukan sumber (resource input ) untuk menciptakan barang-barang dan jasa-jasa yang berguna dan melewati proses produktif yaitu proses perubahan atau penukaran dari masukan-masukan menjadi hasil berupa produk-produk atau jasa. ( Khalid Yogi, 2004 ). Dengan berpegangan pada teori ini, dapat dipahami mengapa para pelaku industri media menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah suatu proses produksi. Tetapi akan kita temukan pada proses akhir dari suatu proses produksi yang “sebenarnya”, dan proses produksi pada industri media, yaitu hasil akhir, dimana hasil akhir dari sebuah industri media, hanya akan berujung kepada suatu hal yang konsumtif, yang bersifat untuk memenuhi kebutuhan saja, terutama kebutuhan akan informasi, tanpa dapat berproses untuk menghasilkan sesuatu dengan lebih produktif.
Para pakar komunikasi telah berpendapat bahwa saat ini, telah terjadi arus informasi satu arah, dimana media yang berperan sebagai subjek dalam proses ini. Menurut teori agenda setting, media tidak menentukan bagaimana anda berpikir, tetapi media menentukan apa yang harus anda pikirkan. Keadaan saat ini, dimana 90% media dikuasai oleh media barat, mulai dari informasi sampai hiburan membuat anak muda saat ini lebih kenal dengan baik seorang Arnold Schwachzeggar, gubernur California yang mantan aktor laga, ketimbang Bupatinya sendiri yang mantan pengusaha batik. Mereka akan lebih mengetahui siapa anak ketiga mantan kapten tim Nasional Inggris, David Beckham dibanding nama tetangga satu RT mereka. Dan jelas-jelas mereka akan sangat mengenal budaya hip-hop dan segala atributnya dibanding sekedar peduli akan budaya warisan leluhurnya sendiri. Ini menunjukkan indikasi dimana masyarakat saat ini, terutama anak muda, sudah tercerabut dari akar budaya dan masyarakatnya, teralienasi, terpisahkan dari konteks kulturalnya. ( Jalaludin Rahmat, 1983 ).
Selanjutnya seperti yang dinyatakan Rosalynd Williams (1991), bahwa ada sungai yang mengalir deras didalam budaya kita, yaitu dominasi budaya budaya konsumsi. Menurutnya, kesukaan manusia modern untuk mengkonsumsi barang komoditas telah mencapai titik jenuh. Ketika ambang kebutuhan dan logika kepuasan telah dijebol oleh kegilaan untuk terus mengonsumsi maka manusia modern itu telah sampai kepada “immaterial consumption”; sebuah konsumsi terhadap kesan, citra atau simbol yang mereduksi realitas ke dalam mimpi-mimpi. Konsumsi pada tingkatan ini tidak hanya terbatas kepada pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup, dress code untuk bertahan hidup dalam masyarakat, dalam hal ini ini adalah gaya hidup dan masyarakat populer. Tanpa adanya pencapaian konsumsi pada tingkatan ini, kita tentu akan heran mengapa seseorang rela berpanas dan berhujan berhari-hari demi tanda tangan seorang Ariel Peter Pan, menghabiskan berpuluh-puluh juta demi sebuah pakaian, bahkan Milyaran rupiah untuk sebuah benda mati yang mampu bergerak secepat 300 km/jam dan hanya dibuat dalam edisi terbatas, sebuah mobil Ferrari.

E. 3. Persepsi
Persepsi didefinisikan sebagai proses yang kita gunakan untuk menginterpretasikan data-data sensoris (Lahlry, dalam Severin dan Tankard, 2005:83). Data sensoris sampai kepada kita melalui lima indra kita. Barelson dan Steiner (dalam Severin dan Tankard, 2005:84), menyatakan bahwa persepsi adalah proses yang kompleks dimana orang memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan respon terhadap suatu rangsangan kedalam situasi masyarakat dunia yang penuh arti dan logis. Sedangkan Bennet, Hoffman dan Prakash (dalam Severin dan Tankard, 2005:84), menyatakan bahwa persepsi merupakan aktifitas aktif yang melibatkan pembelajaran, pembaruan cara pandang, dan pengaruh timbal balik dalam pengamatan. Persepsi juga meliputi aktifitas pembuatan inferensi. Scoot (dalam Severin dan Tankard, 2005:84) menyatakan bahwa tindakan melihat merupakan sebuah pembelajaran tingkah laku yang melibatkan aktifitas kognitif. Didalam bentuk-bentuk persepsi, sebuah rangsangan ditentukan sebagai salah satu kategori khusus berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Akhirnya, dapat ditarik pengertian bahwa inferensi-inferensi ini tidak selalu benar.
Persepsi, (Jalaluddin Rahmat, 2003:51) adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli (sensory stimuli). Persepsi, mempunyai hubungan yang erat dengan sensasi. Sensasi disini mempunyai pengertian yaitu pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan indra ( B. Wolman, dalam Jalaluddin Rahmat, 2003:49). Sensasi merupakan bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori (Desiderato, dalam Rahmat, 2003:51).
Menurut Williams James, (dalam Samsul Bahri, 2005:9) persepsi adalah suatu pengalaman yang dibentuk berupa data-data yang didapat melalui indra, hasil pengolahan otak dan ingatan. Proses terjadinya persepsi pada awalnya adalah karena adanya stimulus yang ditangkap oleh panca indra kemudian dibawa ke otak dan terbentuk kesan atau respon yang dikirim kembali berupa tanggapan. Indera dapat menerima berbagai macam stimulus yang menarik atau menimbulkan perhatian yang akan dapat direspon. Dengan demikian, individu mengadakan seleksi stimulus yang akan mendapat respon.
Untuk menyadari atau awas untuk persepsi ada beberapa syarat, yaitu:
1. Fisik, yaitu objek yang menimbulkan stimulus terhadap alat atau indra atau reseptor.
2. Fisiologis, yaitu diteruskan stimulus yang diterima indra ke otak oleh syaraf sensor serta penghantaran respon yang timbul oleh syaraf motoris.
3. Proses psikologis, yaitu adanya keseadaran pada diri individu terhadap stimulus yang diterima. Untuk menimbulkan kesadaran diperlukan perhatian dan adannya kesadarandinamakan persepsi.

Definisi lain menyebutkan bahwa persepsi adalah proses dimana seseorang mengorganisasikan pikirannya, menafsirkannya, mengalami dan mengolah pertanda atau segala sesuatu yang terjadi dilingkungannya. Bagaimana segala sesuatu itu berpengaruh terhadap persepsi seseorang, nantinya akan mempengaruhi pada perilaku yang dipilihnya (Hammer dan Organ, dalam Samsul Bahri, 2005:10). Hamalik (dalam Samsul Bahri, 2005:10) mengatakan bahwa persepsi tidak hanya dinilai dari segi domain kognitif saja, tetapi juga dari domain afektif dan domain psikomotor. Domain afektif terdiri dari tujuan yang bertitik tolak pada minat, sikap dan nilai-nilai perkembangan organisme dan penyesuaian diri. Pada domain psikomotor umumnya bekenaan dengan fisik maupun manipulasi skills. Dalam kenyataan sekarang antara domain yang sama dengan domain yang lain sangat berkaitan, untuk merncapai domain psikomotor haruslah melalui penguasaan, lalu domain afektif. Sedangkan afektif umumnya didasarkan domain kognitif.
Menurut Ma’rif 1981 (dalam Samsul Bahri, 2005:11) persepsi seorang individu dipengaruhi oleh faktor pengalaman, prose belajar, atau sosialisasi, wawasan, dan pengetahuan. Fakor pengalaman dan proses belajar akan memberi bentuk terhadap apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Adapun wawasan dan pengetahuan memberikan arti terhadap objek psikologis. Persepsi individu terhadap objek ditentukan atau sejauh mana objek tersebut bernilai bagi dirinya.
Ada dua jenis pengaruh dalam persepsi. Yang pertama pengaruh struktural, yaitu pengaruh yang berasal dari aspek-aspek fisik rangasangan yang terpapar pada kita, misalnya, titik-titk yang disusun berdekatan secara berjajar akan terlihat seperti sebentuk garis (Severin dan Tankard, 2005:83). Faktor-faktor struktural semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkan pada sistem saraf individu (Jalaluddin Rahmat, 2003:58). Prinsip-prinsip persepsi yang bersifat struktural ini kemudian dinamakan dengan teori Gestalt. Menurut teori ini, bila kita mempersepsi sesuatu, kita mempersepsinya sebagai suatu keseluruhan. Kita tidak melihat bagian-bagiannya, lalu menghimpunnya ( Rahmat, 2003:58).
Sedangkan yang kedua yaitu pengaruh fungsional, yaitu merupakan faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi persepsi, dan karena itu membawa pula subjektifitas ke dalam proses.( Severin dan Tankard, 2005:83). Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu, dan hal-hal lain yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang yang memberikan respons pada stimuli itu (Jalalludin Rahmat, 2003:55).
Setiap orang yang berbeda dapat menanggapi pesan yang sama dengan cara yang berbeda. Persepsi manusia mempunyai kecenderungan untuk dipengaruhi oleh keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, sikap-sikap, dan faktor-faktor psikologis lainnya. Tidak ada seorang komunikator yang dapat mengasumsikan bahwa sebuah pesan akan mempunyai ketepatan makna untuk semua penerima pesan atau terkadang pesan tersebut mempunyai makna yang sama pada semua penerima pesan (Severin dan Tankard, 2005:84). Faktor-faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk apa yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal (Jalaluddin Rahmat, 2003:56). Jadi yang menetukan persepsi bkan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakter orang yang memberikan respons pada stimuli itu.
Krech dan Crutchfield, (dalam Jalaluddin Rahmat, 2003:56) merumuskan setidaknya ada empat dalil persepsi, yaitu:
1. Persepsi bersifat selektif secara fungsional. Dalil ini berarti bahwa objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Mereka memberikan contoh penagruh kebuthan, kesiapan mental, suasana emosional, dan latar belakang budaya terhadap persepsi. Mereka memberikan contoh pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, dan latar belakang budaya terhadap persepsi. Bila orang lapar dan orang haus duduk di rumah makan, yang pertama akan melihat nasi dan ayam goreng, dan yang kedua, akan melihat jus jeruk atau es campur. Kebutuhan biologis menyebabkan persepsi yang berbeda.
2. Medan perseptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang kita terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi.
3. Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Menurut dalil inmi, jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua individuyang berkaitan dengan sifat kelompok akan dipengaruhi oleh anggota kelompoknya, dengan efek yang berupa asimilasi atau kontras.

E. 4. Mahasiswa dan Partisipasi Politik
Partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, dan secara langsung atau tidak mempengaruhi kebijakan pemerintah. ( Miriam Budiarjo, 1982:12). Andre Bayu menyebutkan bahwa kegiatan politik adalah tindakan politik yang dilakukan oleh aktor politik baik secara individual, maupun secara bersama untuk memperoleh nilai-nilai politik baik secara langsung atau tidak (1985:45). Ia menyatakan keanekaragaman bentuk kegaiatan politik, mulai dari pembangunan kepentingan politik, sosialisasi politik, artikulasi dan agregasi kepentingan politik, rekruitmen politik, pemilihan umum, diskusi politik, keanggotaan dalam partai dan organisasi atau kelompok politik, tindakan poltik dalam bentuk kekerasan seperti demosntrasi, huru-hara, dan lain-lain (1985:46).
Sedang jika kita lihat mahasiswa (dalam kacamata sebagai aktor politik), maka tersebut didalamnya bahwa aktor atau pelaku politik adalah individu, kelompok individu yang melakukan kegiatan politik baik politik lunak ilegal atau keras ilegal (1985:81). Selain itu, karena mahasiswa adalah individu yang merangkap aktor politik, maka mahasiswa dapat dikatakan ikiut aktif dalam upaya menyandang peran sebagai aktivis politik. Pool mengajukan enam kriteria untuk menetapkan mahasiswa sebagai aktivis politik, yaitu :
1. Menjadi anggota organisasi politik,
2. memberi uang padea organisasi politik,
3. sering mengadiri rapat yang bersinggungan dengan politik,
4. ikut ambil bagian didalamnya,
5. menulis urat atau tulisan mengenai topik-topik politik kepada legislator, pejabat publik, dan pers,
6. membicarakan politik dengan orang lain yang bukan merupakan keluarga atau teman dekat. (1985:87).
Ada dua bentuk sumber daya yang dimiliki oleh mahasiswa yang menjadi pendorong bagi mereka untuk mengekspresikan perlawanan mereka terhadap ketimpangan-ketimpangan yang terjadi disekitarnya, yaitu:
1. Ilmu pengetahuan, kombinasi watak ilmiah yang kritis dan obyektif juga pengetahuan yang sistematik tentang masalah-masalah yang menjadi bidang spesialisasinya, mendorong mahasiswa untuk mengadakan penilaian dan menentukan sikap tentang kehidupan politik yang mengelilinginya.
2. idealisme yang lazimnya menjadi ciri khas mahasiswa sebagai unsur masyarakat yang masih bebas dari ikaytan struktur kekuasaan, menarik lepas dari kungkungan kepentingan yang ada dalam masyarakat. Kombinasi diantara kebebasan struktural itu dengan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang cita-cita, ide, ataupun pemikiran tentang politik dan kemasyarakatan yang tertuang dalam ideologi, memungkinkan mahasiswa untuk mengembangkan idealisme. ( Arumsari, 2006:18).
Sejarah perkembangannya, ideologi merupakan salah satu unsur dari keseluruhan faktor-faktor yang mewarnai aktivitas politik dari gerakan mahasiswa. Ideologi dalam sebuah gerak mahasiswa akan mempengaruhi dalam hal metode gerakan dan program.

E. 5. Pembentukan Kepribadian
Sikap dan kepribadian timbul karena adanya stimulus. Terbentuknya kepribadian dan sikap dipengaruhi perangasang oleh lingkungan sosial dan kebudayaan, misalnya keluarga, norma, golongan agama, dan adat istiadat. ( Drs. Abu Ahmadi, 2002:170). Faktor-faktor yang menebakan perubahan sikap dan kepribadian yaitu:
a. Faktor Intern, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri. Faktor ini berupa selectivity atau daya pilih seseorang untuk menerima atau mengolah penagruh-pengaruh yang datang dari luar.
b. Faktor ekstern, yaitu faktor yangf terdapat diluar pribadi manusia. Faktor ini berupa interaksi sosial didalam dan diluar kelompok.( Ahmadi, 2002:171)

Teori psikoanalisis Freud menjabarkan (dalam Sarlito Wirawan Sarwono, 2004:136-137) bahwa ada beberapa fungsi kelompok dalam pembentukan kepribadian, yaitu:
a. Fungsi masyarakat adalah untuk menghambat dan me-repress impuls-impuls naluriah perorangan. Ketertiban masyarakat ditentukan oleh kemampuan ego-ego anggoat masyarakat yang bersangkutan untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan masyarakat.
b. Keluarga adalah aparat dasar dari masyarakat. Perkembangan anak, proses sosialisasi, introyeksi nilai-nilai masyarakat, dan pemebentukan superego dilakukan didalam keluarga.
c. Ego bertugas sebafgai perantara antara batas-batas sosial dan insting-insting. Untuk itu digunakan berbagai tekhnik pertahanan ego.
d. Manusia dan lingkungan sosialnya selalu berada dalam konflik yang tiada henti. Masyarakat berada dalam posisi di atas dalam konflik ini kaerean individu takut pada ancaman destruktif masyarakat.
e. Kelompok-kelompok dalam masyarakat terbentuk sebagai kelanjutan keterikatan libido anak terhadap orang-tuanya. Keluarga menjadi prototipe hubungan individu dengan masyarakat. Orang-tua melindung, memberi makan dan menghukum.
f. Keadilan sosial timbul dari perasaan saling membuthkan dan saling memenuhi antarangota masyarakat.dasarnya adalah persaingan untuk merebut perhatian pemimpin. Bentuk asalnya dalam keluarga adalah persaingan antar saudara (sibling rivalry). Menurut Freud, keadilan sosial adalah bentuk reaksi dari hasrat ingin memiliki (envy).
g. Freud beranggapan bahwa pembentukan masyarakat tidak disebabkan oleh adanya satu atau dua objek yang mempunyai kekuasaan luar biasa, tetapi disebabkan oleh sublimasi dan deseksualisasi libido dorongan pershabatan.

G. DEFINISI KONSEPTUAL
Konsep adalah unsur penelitian yang terpenting yang merupakan definisi yang dipakai oleh peneliti untuk menghubungkan secara abstrak suatu fenomena sosial.
Dalam penelitian ini perlu diterangkan bahwa :

G. 1. Budaya Populer
Budaya populer yaitu sebuah budaya massa dimana sebuah budaya yang sengaja diproduksi secara massal demi kepentingan ekonomi dimana masyarakat dalam budaya tersebut mengalami standarisasi dan penyeragaman selera dan gaya hidup demi pemaksimalan kepentingan ekonomi.
G. 2. Persepsi
Persepsi yaitu proses diterimanya rangsang (objek, kualitas, hubungan antar gejala, maupun perstiwa) sampai rangsang itu disadari dan dimengerti.
G. 3. Mahasiswa
Mahasiswa yaitu orang yang sedang menjalani pendidikan di perguruan tinggi.
H. DEFINISI OPERASIONAL
Setelah pendefinisian secara konseptual variabel-variabel yang akan diteliti, maka definisi-definisi tersebut harus dijabarkan dalam satuan-satuan pengukuran yang disebut indikator, agar dapat dioperasionalkan. Indikator-indikator tersebut yaitu:

H.1. Indikator Budaya Populer:
? Instant
? Konsumtif
? Individualis
? Adanya figur idola
? Global
? Media
? Modern
H. 2. Indikator Persepsi:
? Sensasi
? Kognisi (seberapa tahu)
? Afeksi
? Evaluasi

A. METODE PENELITIAN
1. Tipe Penelitian
Tipe yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe explanatory yang menjelaskan tentang hubungan variabel bebas dan terikat dari tema penelitian. Penelitian explanatory digunakan untuk menjelaskan persepsi mahasiswa FISIP UNDIP terhadap budaya populer yang mempengaruhi cara berpikir, gaya hidup, dan aktivitas organisasi mahasiswa FISIP UNDIP. .
2. Populasi
a Populasi
Populasi merupakan keseluruhan subyek penelitian. Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah mahasiswa Strata Satu (S-1) reguler di FISIP UNDIP yang meliputi empat Jurusan yaitu Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Jurusan Ilmu Pemerintahan, Jurusan Ilmu Komunikasi, dan Jurusan Ilmu Administrasi Niaga.
b Sampling
Populasi sampling merupakan seluruh penduduk yang dimaksudkan untuk diselidiki yang dibatasi paling sedikit sejumlah penduduk atau individu tersebut mempunyai satu sifat yang sama. Dalam penelitian ini populasi sampling yang digunakan adalah mahasiswa program S-1 reguler yang terdiri dari empat jurusan yang ada dimulai dari angkatan 2002 sampai dengan angkatan 2006. Dari tiap angkatan dan jurusan dibagi lagi menjadi 2 kelompok, yaitu aktivis dan non aktivis. Hal itu dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan pandangan antara mahasiswa yang menjadi aktivis dan tidak dalam menilai persepsi mahasiswa FISIP UNDIP. Dari tiap jurusan yang rata-rata mempunyai jumlah mahasiswa sekitar 60 orang, diambil 10% perjurusan perangangkatan yang penulis rasa cukup representatif untuk mewakili seluruh angkatannya. Dari 10% itu dibagi lagi menjadi dua golongan, 5% untuk mahasiswa aktivis, dan 5% untuk mahasiswa non aktivis. Tetapi tidak menutup kemungkinan jumlah dari non aktivis lebih besar karena dalam angaka sebenarnya jumlah non aktivis lebih banyak dibanding mahasiswa aktivis, terutama pada angkatan-angkatan baru, seperti angkatan 2005 dan 2006. kemudian khusus bagi angkatan 2002 dan 2003, kedua angkatan ini per angkatan diambil hanya dua dan empat orang, mengingat jumlah mahasiswa angkatan ini sudah berkurang, dikarenakan sudah waktunya untuk menyelesaikan studinya, walaupun pendapatnya masih sangat dibutuhkan. Jadi seluruh sampel yang diambil berjumlah 96 orang, yang dibagi menjadi empat jurusan dan lima angkatan.
3. Sumber Data
a Data Primer
Data yang paling utama di dapat langsung dari lapangan yaitu dengan mengajukan daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis (Singarimbun, 2003:192).
b Data Sekunder
Suatu data pendukung yang mana data tersebut di dapat dari atau melalui penelitian pustaka dan data tersebut di kumpulkan tidak langsung oleh peneliti untuk melengkapi data primer (Singarimbun, 2003:11).
4. Alat dan Teknik Pengumpulan Data
a Alat Pengumpulan Data
Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuesioner yang diberikan secara langsung kepada responden. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden (Sugiyono, 2001:135).

b Teknik Pengumpulan Data
• Responden mengisi kuesioner yang diberikan oleh peneliti.
• Pengumpulan data-data dari koran, majalah, serta internet.
5. Teknik Pengolahan Data
a Editing
Pemeriksaan terhadap jawaban responden atau data yang masuk untuk menemukan adanya kekeliruan, kelengkapan, ketidaksesuaian dan sebagainya.
b Koding
Memindahkan informasi atau data dari daftar pertanyaan ke daftar yang akan memberikan informasi dengan pemberian tanda.
c Tabulasi
Menyusun tabel-tabel mulai dari penyusunan tabel utama yang berisi seluruh data atau informasi yang berhasil dikumpulkan dengan daftar pertanyaan sampai dengan tabel khusus yang telah benar-benar ditentukan bentuk dan isinya sesuai dengan tujuan penelitian.

6. Analisa data
a Kualitatif
Analisa data kualitatif dilakukan pada uraian data yang tidak dapat diukur dengan metode statistik guna memperkaya interpretasi data secara lebih mendalam.
b Kuantitatif
Analisa data kuantitatif dilakukan berdasarkan metode statistik dengan bantuan komputer dan statistik SPSS.

Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Special Member dapat mendownload data yang ada di download area.
NB: Ada kemungkinan data yang diposting di website ini belum ada filenya, karena dikirim oleh member biasa dan masih menunggu konfirmasi dari member yang bersangkutan. Untuk memastikan data ada atau tidak silahkan login di download area.

CARI CONTENT WEB :

FREE JOURNAL UNTUK MELENGKAPI REFERENSI KARYA ILMIAH ANDA, FREE? KLIK DISINI
HOT DOWNLOAD MAKALAH, FULL PAPER? KLIK DISINI
PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI
INGIN KULIAH S2 JARAK JAUH? KLIK DISINI




Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuannya

Design by xactive -