TANGGAPAN PENDENGAR NON-SUNDA TERHADAP ACARA POP SUNDA DI RADIO SWADAYA

abstraks: 

Penelitian ini diberi judul Tanggapan Pendengar Non-Sunda terhadap Acara Pop Sunda di Radio Swadaya (Suatu studi deskriptif tentang tanggapan pendengar Non-Sunda terhadap acara Pop Sunda di Radio Swadaya dalam mensosialisasikan kebudayaan Sunda melalui lagu pop Sunda kepada masyarakat Karawang). Latar belakang penelitian ini adalah adanya acara kesenian tradisional di radio-radio di wilayah Karawang yang juga digemari oleh masyarakat Non-Sunda, seperti acara Pop Sunda di radio Swadaya. Kebudayaan Sunda menjadi lebih dikenal oleh pendengar Non-Sunda karena radio selain sebagai media hiburan juga merupakan media sosialisasi.
Dari latar belakang di atas maka Identifikasi masalah penelitian ini meliputi intensitas pendengar Non-Sunda mendengarkan acara Pop Sunda, penilaian pendengar Non-Sunda terhadap kredibilitas acara Pop Sunda serta penilaian pendengar Non Sunda terhadap informasi tentang kebudayaan Sunda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Intensitas pendengar Non Sunda mendengarkan acara Pop Sunda, Penilaian mereka terhadap Kredibilitas acara dan informasi tentang kebudayaan Sunda melalui acara Pop Sunda.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif, yang menjabarkan hasil penelitian dalam bentuk tabel frekuensi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik angket untuk data primernya. Populasi penelitian ini adalah 500 pendengar acara Pop Sunda di radio Swadaya, dimana 250 orang (50%) berasal dari suku Non Sunda, sehingga populasi penelitian ini adalah 250. Dari jumlah tersebut diambil sampelnya sebanyak 20% atau 50 responden. Sampel diambil secara acak sederhana (simple random sampling).
Penelitian ini menghasilkan deskripsi bahwa Intensitas orang Non Sunda mendengarkan acara Pop Sunda di Radio Swadaya tergolong Tinggi. Hal ini bisa dilihat dari frekuensi dan durasi waktu mendengarkan serta tingkat perhatiannya. Sebagian besar responden menilai bahwa Kredibilitas acara Pop Sunda adalah Sedang, yang diketahui dari penilaian mereka terhadap penyiar, penyanyi dan lagu yang ditampilkan. Sedangkan penilaian orang Non Sunda terhadap informasi tentang budaya Sunda, baik sejarah, bahasa, adat istiadat maupun keseniannya Kurang Jelas diperoleh dari acara Pop Sunda tersebut.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan orang lain untuk bersosialisasi. Manusia tidak bisa hidup secara individual tanpa berkomunikasi dengan sesamanya. Dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain manusia memiliki banyak kelebihan. Kelebihan inilah yang dimaksud unsur positif yakni suatu potensi yang menentukan eksistensinya. Pada dasarnya setiap orang terbentuk oleh lingkungan, lingkungan pembentuk ini biasanya disebut kebudayaan.
Kebudayaan dapat dipandang sebagai tindakan berpola dalam masyarakat, dengan kata lain masyarakat terbentuk atau terkelompok oleh adanya kebudayaan. Setiap orang dalam suatu kelompok budaya merasa ikut memiliki simbol dan nilai yang sama. Simbol dan nilai ini merupakan perbendaharaan kelompok sebagai dasar bertindak.
Indonesia dengan berbagai macam suku bangsa memiliki kekayaan budaya yang beragam. Budaya dan bahasa Sunda adalah salah satu budaya yang berakar dan berkembang di wilayah Jawa Barat. Meski Jawa Barat tidak mesti Sunda karena banyak pendatang non-Sunda juga ada di sana, budaya Sunda masih dominan di Jawa Barat. Namun demikian, orang Sunda yang sudah berakulturasi dengan budaya lain seperti Jawa, jarang menyebut dirinya sebagai orang Sunda melainkan menyebut orang Tasikmalaya, orang Karawang dan lain-lain sesuai nama kotanya. Perbedaan antar Sunda juga nampak pada penggunaan logat Sunda antara satu daerah dengan daerah lain. Misalnya, antara Sunda Cirebon sangat berbeda dengan Sunda Garut. Sunda Cirebonan menggunakan istilah Sunda Priangan yang berbeda dengan Sunda-sunda di daerah lain.
Keanakeragaman tersebut merupakan potensi yang perlu dipupuk dan dikembangkan untuk mewujudkan negara Indonesia dengan budaya bangsa yang sejati. Faktor bahasa yang digunakan dalam penyampaian pesan juga turut mempengaruhi terhadap penerimaan pesan karena bahasa yang digunakan adalah Sunda yang buhun (bahasa Sunda jaman dahulu) sehingga untuk orang yang tidak mengerti bahasa Sunda baik orang Sunda sendiri maupun bagi orang yang bukan asli Sunda, pesan yang disampaikan menjadi kurang efektif.
Hal ini menunjukkan bahwa sebuah budaya, dalam hal ini bahasa, berkembang dari waktu ke waktu. Proses pembentukan budaya suatu bangsa di latar belakangi oleh nilai-nilai historis bangsa itu sendiri sehingga ciri utama manusia bukan hanya kodrat fisik atau kodrat metafisik, melainkan karyanya. Melalui karyanyalah sistem kegiatan manusia ditentukan dan dibatasi dunia kemanusiaannya. Bahasa, mitos, religi, kesenian, sejarah adalah sektor penting dalam dunia itu.
Masyarakat dan budaya merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain karena keduanya saling berhubungan. Budaya berkenaan dengan cara suatu masyarakat hidup dan dari mana berasal. “Kebudayaan merupakan cara berlaku yang dipelajari. Kebudayaan tidak tergantung dari transimi biologis atau pewarisan melalui unsur genetis, maka itu budaya adalah hasil dari suatu proses belajar” (Ihromi, 1996:18).
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Jadi secara antropologis, kebudayaan merupakan milik manusia, karena manusia dapat bertingkah laku dengan akal, sedangkan makhluk lain tidak dapat karena tingkah lakunya didasarkan pada insting (Koentjaraningrat, 1996:73).

Beberapa contoh kesenian Sunda antara lain adalah Seni Karawitan, degung Sunda, musik jaipongan dan wayang golek merupakan kesenian daerah yang jumlah dan ragamnya relatif banyak. Pop Sunda merupakan pengembangan budaya Sunda dari seni musik yang digabungkan dari musik-musik tradisional tersebut dengan musik modern yang syairnya menggunakan bahasa Sunda. Penyanyi pop terkenal, Doel Sumbang, mempopulerkan jenis musik ini dengan baik, semisal dalam lagunya Kacida. Sebagaimana karya musik lain, musik pop Sunda juga merupakan penggambaran ungkapan, perasaan situasi dan kondisi kejiwaan maupun semangat yang berbeda-beda.
Dengan demikian, musik pop Sunda sangat dekat dengan kebudayaan Sunda itu sendiri, baik dari segi bahasa, maupun musik yang digunakan. Tema-tema lagu Sunda juga kental dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda yang berasal dari tanah Pasundan atau tatar Sunda ini. Kedekatan musik dan lagu pop Sunda dengan masyarakat inilah yang menjadikan pop Sunda sebagai kebudayaan yang mewakili perasaan cinta, kesedihan, dan kegembiraan masyarakat Sunda. Menurut Mustopo, musik dapat menjadi ungkapan semangat tertentu. “Melalui musik memang dapat ditemukan berbagai konsep yang berhubungan dengan cinta kasih, pengorbanan, kesyahduan, penderitaan, Beat Hoven, demikian terkenalnya karena mengungkapkan semangat pantang menyerah melawan sang nasib” (Mustopo, 1983:51).
Untuk mengenali orang Sunda sebenarnya bukan saja dilihat dari musik yang disukai. Melalui logat bicaranya, pada umunya orang Sunda dapat dikenali secara langsung karena memang logatnya yang khas. Keramah tamahan orang Sunda juga menjadi ciri khas suku Sunda yang menjadikannya mudah bersosialisasi dengan suku-suku lain yang bermasyarakat dengannya.
Masalah yang muncul saat ini adalah sulitnya menemukan budaya Sunda yang asli. Kebanyakan masyarakat Sunda sudah meninggalkan budaya aslinya termasuk masyarakat Karawang. Dari bahasa yang digunakan, orang Sunda mulai banyak menggunakan bahasa campuran antara Sunda dan bahasa Indonesia. Dari sisi seni musik, musik pop Sunda juga sudah melalui berbagai akulturasi sehingga mulai kurang digemari masyarakat meski sosialisasinya tak kurang melalui media massa di Karawang. Jenis musik-musik baru yang bermunculan menggeser dominasi pop Sunda pada masyarakat Karawang. Musik dangdut, pop dan rock yang merupakan produk budaya populer merambah masyarakat dan lebih menarik perhatian. Akibatnya, musik pop Sunda dianggap sebagai musik terbelakang (kampungan).
Sebenarnya musik pop Sunda adalah alternatif bagi masyarakat Karawang dan sekitarnya untuk mengikuti kebudayaannya tanpa harus ketinggalan dengan budaya populer. Karena musik pop Sunda memang menggabungkan antara tradisi masyarakat Sunda dengan musik-musik pop yang merupakan musik modern. Identitas kesundaan masih sangat kental dalam lagu-lagu pop Sunda karena syairnya menggunakan bahasa Sunda terkini. Namun justru itulah masyarakat Sunda sebagian masih menyukainya.
Seperti diketahui, masyarakat Karawang termasuk masyarakat yang kebudayaan Sundanya relatif kasar jika dilihat dari bahasanya. Hal ini diketahui sebagaimana beberapa daerah dekat pantai lainnya seperti Cirebon dan sebagian Banten yang menggunakan bahasa Sunda agak kurang halus dibanding dengan bahasa orang Priangan, seperti di Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Bandung, Sumedang, Sukabumi dan Cianjur.
Menurut Harsojo (dalam Koentjaraningrat, 1997:308), bahasa Cianjur dipandang sebagai bahasa Sunda yang terhalus. Dari Cianjur juga berasal lagu-lagu kecapi-suling Cianjuran yang kelak menjadi salah satu cikal-bakal pop Sunda.
Untuk menjaga kelestarian musik pop Sunda, sebuah stasiun radio di Karawang menyelenggarakan program acara Pop Sunda untuk mensosialisasikan budaya Sunda. Media radio dianggap efektif menyebarkan dan menguatkan sebuah budaya karena memiliki kekuatan keserentakan dan keterjangkauan. Upaya ini sangat ideal mengingat radio adalah media massa yang digemari oleh masyarakat Karawang. Pelestarian kebudayaan melalui media massa penting dilakukan untuk menjaga pewarisan budaya kepada generasi muda. Pop Sunda diupayakan menjadi musik tuan rumah di negeri sendiri (Sunda) melalui radio.
Acara Pop Sunda di radio Swadaya Karawang menyajikan beberapa segmen acara untuk masyarakat asli Sunda maupun bukan Sunda. Di sela-sela acara, pendengar bisa mengikuti interaksif dengan penyiar untuk memesan (request) lagu-lagu maupun sekedar berkirim-kirim salam dengan teman dan kerabat. Meski demikian, tidak semua permintaan bisa dipenuhi karena banyaknya variasi pesanan dan keterbatasan waktu siar. Acara Pop Sunda juga dilengkapi dengan informasi tentang peristiwa yang terjadi di Karawang. Untuk itulah maka penelitian ini difokuskan pada suatu studi deskriptif tentang tanggapan pendengar Non-Sunda terhadap acara Pop Sunda di Radio Swadaya dalam mensosialisasikan kebudayaan Sunda melalui lagu pop Sunda kepada masyarakat Karawang.
Acara Pop Sunda berlangsung dua kali setiap hari, yaitu pagi mulai jam 08.15 sampai 09.00, dan sore mulai jam 14.15 sampai 15.00 WIB atau masing-masing selama 45 menit. Acara ini mulai diudarakan sejak tahun 2000 lalu, dan biasanya disponsori oleh sebuah produk, seperti produk obat mag Promag. Penyiar-penyiar yang dikenal dalam acara ini berganti-ganti, antara lain Haris pada hari Senin sampai Kamis, Edwin pada hari Jum’at dan Sabtu dan pada hari Minggu Ch Chanada yang akrab dengan panggilan Jojo.
Radio Swadaya merupakan salah satu stasiun radio dari sekian banyak stasiun yang berdiri di kota Karawang. Radio ini memiliki posisi gelombang AM 1602 Khz dan beralamat di Jalan Cempaka 123 Karawang. Radio lainnya antara lain, Radio Sturada AM 1475 Khz di Jalan Brigpal Nasuka Karawang, Radio RH AM 32 AM 1206 Khz di Jalan KH Ahmad Dahlan Karawang, dan Radio Virgin AM 1807 Khz beralamat di Jalan Sadamalun Karawang.

Jangkauan radio Swadaya kurang lebih beradius 50 KM. Kekuatan ini bisa menjangkau seluruh kota Karawang yang berpenduduk 1.978.600 jiwa terdiri dari 1.120.127 laki-laki dan 858.502 wanita (Data Statistik tahun 2001).
Dengan demikian, acara Pop Sunda di radio Swadaya Karawang merupakan usaha untuk melestarikan kebudayaan Sunda di Karawang di antara stasiun-stasiun radio lain agar nilai-nilai budaya Sunda tidak punah. Pemaduan antara musik tradisional dengan musik modern adalah upaya mendekatkan antara selera masyarakat yang menggemari musik modern tetapi tetap memberikan nilai-nilai tradisional Sunda. Oleh karena bahasa dan tema-tema lagu-lagu pop Sunda sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda, maka sosialisasi budaya pada masyarakat baik Sunda maupun Non-Sunda dapat dilalui. Kesan bahwa budaya Sunda adalah kuno setidaknya dapat ditepis melalui kombinasi musik dan lagu-lagu dalam musik Pop Sunda ini.
Dari latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dan pembahasan yang mendalam tentang sosialisasi budaya Sunda melalui lagu-lagu pop Sunda di acara Pop Sunda di radio, khususnya di Radio Swadaya pada masyarakat Karawang. Studi ini dimaksudkan untuk mengetahui tanggapan masyarakat Karawang sebagai pendengar radio Swadaya dalam memberikan perhatian kepada budaya Sunda melalui lagu-lagu Pop Sunda.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut: “Bagaimanakah tanggapan orang Non-Sunda terhadap acara Pop Sunda
di Radio Swadaya dalam mensosialisasikan kebudayaan Sunda melalui lagu-lagu pop Sunda kepada masyarakat Karawang?”

1.3. Identifikasi Masalah
Dari Rumusan Masalah di atas, maka dapat diidentifikasi berbagai masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah intensitas orang Non-Sunda dalam mendengarkan siaran Pop Sunda di radio Swadaya dalam mensosialisasikan kebudayaan Sunda melalui lagu-lagu pop Sunda kepada masyarakat Karawang?
2. Bagaimanakah penilaian orang Non-Sunda terhadap kredibilitas acara Pop-Sunda di radio Swadaya dalam mensosialisasikan kebudayaan Sunda melalui lagu-lagu pop Sunda kepada masyarakat Karawang?
3. Bagaimanakah penilaian orang Non-Sunda terhadap informasi tentang kebudayaan Sunda di Karawang dalam acara Pop-Sunda di radio Swadaya?

1.4. Alasan Pemilihan Masalah
1. Bagi orang Non-Sunda mendengarkan acara Pop Sunda di Radio Swadaya tentu memiliki intensitas yang berbeda-beda. Perbedaan intensitas tersebut mencerminkan sejauhmana orang Non-Sunda memiliki kegemaran terhadap acara yang bukan berakar pada kebudayaan aslinya tersebut sehingga masalah intensitas mendengarkan acara Pop Sunda menjadi penting untuk diketahui.
2. Kredibilitas acara Pop Sunda di Radio Swadaya di mata orang Non-Sunda perlu diteliti sebab kredibilitas mempengaruhi kepercayaan seseorang untuk menjadikan acara tersebut sebagai rujukan, terutama dalam mempelajari kebudayaan tertentu.
3. Informasi tentang kebudayaan Sunda yang diperoleh dari acara Pop Sunda di Radio Swadaya oleh orang Non-Sunda berkaitan dengan terpenuhi tidaknya kebutuhan akan pengetahuan tentang kebudayaan Sunda bagi mereka sehingga hal ini perlu diteliti sejauhmana penilaian mereka.

1.5. Tujuan Penelitian
1. Penulis ingin mengetahui bagaimanakah intensitas orang Non-Sunda dalam mendengarkan siaran Pop Sunda di radio Swadaya dalam mensosialisasikan kebudayaan Sunda melalui lagu-lagu pop Sunda kepada masyarakat Karawang.
2. Penulis ingin mengetahui bagaimanakah penilaian orang Non-Sunda terhadap kredibilitas acara Pop-Sunda di radio Swadaya dalam mensosialisasikan kebudayaan Sunda melalui lagu-lagu pop Sunda kepada masyarakat Karawang.
3. Penulis ingin mengetahui bagaimanakah penilaian orang Non-Sunda terhadap informasi tentang kebudayaan Sunda di Karawang melalui acara Pop-Sunda di radio Swadaya.

1.6. Pembatasan Masalah dan Pengertian Istilah
1.6.1. Pembatasan Masalah
1. Permasalahan dibatasi pada tanggapan pendengar acara Pop Sunda di Radio Swadaya yang disiarkan pagi mulai jam 08.15 sampai 09.00 dan sore jam 14.15 sampai 15.00 WIB (masing-masing selama 45 menit).
2. Permasalahan dibatasi pada tanggapan pendengar acara Pop Sunda di Radio Swadaya sebagai sosialisasi budaya Sunda.
3. Obyek penelitian ini dibatasi kepada masyarakat Non Sunda di Karawang yang mendengarkan acara Pop Sunda di Radio Swadaya.

1.6.2. Pengertian Istilah
1. Tanggapan: respon berupa pandangan, penilaian, atau sikap seseorang terhadap suatu obyek tertentu.
2. Radio: media elektronik yang menyampaikan pesan-pesan melalui pesan audio. Pesan audio yang disampaikan radio hanya mengandalkan pengiriman suara atau bunyi melalui udara, pemancar, gelombang FM, AM ke tempat pesawat-pesawat untuk menyiarkan dan menangkap sinyal-sinyal radio (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
3. Isi acara radio: materi siaran radio dapat berupa musik, drama, informasi dan iklan. Isi acara radio biasanya dibawakan oleh seorang penyiar, atau berupa media rekam yang diputar ulang, atau penampilan langsung dialog ataupun

drama yang dikelola di sebuah studio radio untuk dipancarluaskan kepada pendengarnya.
4. Pendengar: sasaran komunikasi massa melalui radio siaran komunikasi dapat dikatakan efektif apabila pendengar terpikat perhatiannya, tertarik terus minatnya, mengerti tergerak hatinya dan melakukan kegiatan apa yang diinginkan si pembicara (Effendy, 1990:4).
5. Sosialisasi: suatu proses pemasyarakatan atau usaha untuk mengubah milik perseorangan menjadi milik umum atau milik negara yang disebabkan terjadinya komunikasi diantara para penghuni suatu wilayah usaha sehingga disosialisasikan atau dijadikan milik umum atau milik negara yang dijadikan secara sosialisme (kamus Komunikasi dan Kamus Bahasa Indonesia: 333 dan 460).
6. Kebudayaan: keseluruhan yang kompleks yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat (E.B. Taylor, 1981:1).
7. Orang Non-Sunda: penduduk yang berasal dari daerah lain (pendatang) atau suku bangsa lain di luar Jawa Barat, yang bukan merupakan keturunan etnis Sunda, tetapi telah berdomisili di Karawang setidaknya selama lima tahun.
8. Studi deskriptif: penelitian yang bertujuan menggambarkan secara tegas sifat-sifat individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau menentukan frekuensi atau penyebaran suatu gejala atau frekuensi adanya hubungan tertentu antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat (Koentjaraningrat, 1980:422).

1.7. Anggapan Dasar
Anggapan dasar merupakan suatu landasan berfikir untuk memecahkan suatu masalah. Dalam penelitian ini, anggapan dasar yang diajukan adalah:
1. Sosialisasi budaya merupakan proses belajar sosial yang memerlukan intensitas tertentu. Melalui siaran kebudayaan di radio seseorang dapat mendengarkan secara berulang-ulang, dalam waktu yang lama dan dengan perhatian yang tinggi untuk mendapatkan sosialisasi budaya tersebut. Sebab, sosialisasi budaya dapat dilakukan dengan cara peniruan sehingga diperlukan intensitas tinggi. “.....belajar sosial dapat dilakukan melalui dua cara yakni melalui konsekuensi respon dan melalui proses peniruan (imitation)” (Rakhmat, 1996:25).
Pendapat Spiegel yang dikutip oleh Astrid S. Susanto menyatakan, “dengan mempertinggi frekuensi dan intensitas komunikasi yang harmonis, maka pertentangan dapat dikurangi atau perpecahan dapat dihindari” (Susanto, 1986:64). Dengan demikian intensitas mendengarkan siaran radio tentang kebudayaan yang tinggi akan mendekatkan seseorang dengan kebudayaan tersebut.
2. Pada sebuah siaran radio, komunikator siaran akan dinilai kredibilitasnya oleh para khalayak sehubungan dengan keterampilannya, pengetahuannya, serta sikapnya. Pada aspek lain, pendengar juga akan menilai lagu-lagu (materi acara) serta penyanyi yang ditampilkan. Kredibilitas acara radio akan tinggi apabila para penyiar dan penyanyi yang ditampilkan (sebagai komunikator) memiliki keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang baik dalam berhubungan dengan pendengarnya, dalam hal membawakan acara tersebut. Menurut David K. Berlo, “kredibilitas bisa diperoleh apabila seseorang memiliki keterampilan berkomunikasi secara lisan atau tertulis, pengetahuan yang luas, sikap jujur dan bersahabat, serta mampu beradaptasi dengan sistem sosial dan budaya” (Rakhmat, 1996:256).
3. “Informasi adalah kumpulan data-data atau pesan-pesan yang tersusun sehingga memiliki makna atau kegunaan bagi seseorang atau sekelompok orang” (Schement, 2002:422). Sedangkan kebudayaan menurut E.B Taylor, seperti dikutip Soekanto, “....sangat kompleks, karena mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat” (Soekanto, 1982:188). Jadi kesenian, adat istiadat, dan bahasa Sunda merupakan kebudayaan masyarakat Sunda karena merupakan kemampuan dan kebiasaan masyarakat setempat. Dari definisi tersebut dapat diuraikan bahwa informasi tentang kebudayaan merupakan data-data ataupun pesan-pesan tentang kebudayaan yang dimaknai atau digunakan oleh sekelompok orang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin banyak dan paham seseorang terhadap pesan-pesan tentang kebudayaan Sunda maka semakin jelaslah informasi yang diterimanya tentang kebudayaan tersebut.
4. Radio sebagai media massa berfungsi sebagai hiburan (the entertainment function), penerangan (the information function) dan sebagai pendidikan (educational function) (Effendy, 1981:135).

5. Ada empat keunggulan media radio:
a. Kemampuan untuk mengembangkan imajinasi dengan bantuan radio.
b. Kemampuan selektifitas dalam memilih program maupun segmen khalayaknya.
c. Fleksibilitas, sangat mudah untuk dibawa pergi dan menjadi teman di berbagai kesempatan.
d. Sifatnya amat personal, ia menjadi medium yang efektif dalam memberi kontak-kontak antar-pribadi yang diliputi oleh sifat kehangatan, keakraban dan kejujuran (Ishadi, 1999:141-142).

6. Peranan acara/ Suatu acara
a. Berfungsi sebagai penerangan yang baik bahwa radio menyiarkan dan mendengarkan informasinya secara audio dengan perantaraan mikrofon saja. Jadi para pemirsa mendengarkan sendiri dalam melaksanakan fungsinya sebagai penerangan. Radio selain menyiarkan informasi dalam bentuk siarannya berupa pemberitaan yang aktual.
b. Berfungsi sebagai pendidikan bahwa radio merupakan sarana yang ampuh selain televisi untuk menyiarkan acara pendidikan kepada khalayak yang jumlahnya begitu banyak secara simultan. Sesuai dengan makna pendidikan, yakni meningkatkan pengetahuan dan penalaran masyarakat (Effendy 1981: 136).
7. Radio siaran tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga penerangan dan pendidikan. Musik adalah tulang punggung radio siaran karena orang menyetel radio terutama untuk mendengarkan musik, karena musik merupakan hiburan (Effendy, 1993:144-145).
8. Radio Siaran memiliki kekuasaan yang begitu kuat, yang disebabkan oleh tiga faktor;
a. Radio siaran bersifat langsung. Untuk mencapai sasarannya, yakni pendengar, suatu hal atau programa yang akan disampaikan tidaklah mengalami proses kompleks.
b. Radio siaran menembus jarak rintangan. Pada faktor ini siaran radio tidak mengenal jarak dan rintangan selain waktu, ruangpun bagi radio tidak merupakan masalah. Bagaimanapun jauhnya sasaran yang dituju siaran radio dapat tercapai.
c. Radio siaran mengandung daya tarik. Hal ini menyebabkan radio siaran merupakan kekuasaan, yakni daya tarik yang kuat yang dimilikinya. Daya tarik ini disebabkan sifatnya yang serba hidup berkat tiga unsur yang ada padanya; musik, kata-kata dan efek suara (Effendy, 1993:137-141; Palapah & Syamsudin, 1989:111).
9. Model Komunikasi Raymond S. Ross menunjukkan bahwa proses komunikasi dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah kondisi psikologis yang meliputi perasaan, pengetahuan, sikap, emosi dan sebagainya. Sedangkan faktor eksternal meliputi kondisi situasional yang ada di luar diri individu misalnya kebudayaan, kondisi sosial (Ross, 1980:14).
10. Model Ketergantungan Ball-Rokeach dan DeFlour menjelaskan efek komunikasi massa bahwa efek komunikasi massa akan kuat jika seseorang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap informasi di media massa (Ball-Rokeach & DeFlour, dalam McQuail & Windahl, 1996:112).
11. Budaya dan komunikasi memiliki hubungan timbal balik, seperti dua sisi mata uang. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya. Menurut Edward T. Hall (1959), “budaya adalah komunikasi” dan “komunikasi adalah budaya”, yaitu hubungan terjadi dua arah bahwa budaya mempengaruhi cara-cara kita berkomunikasi.
12. Budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan oleh karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara, dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana orang menyandi pesan. Makna yang ia miliki untuk pesan dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Sebenarnya seluruh perbendaharaan perilaku kita sangat tergantung pada budaya tempat kita dibesarkan. Konsekuensinya budaya merupakan landasan komunikasi bila budaya beraneka ragam maka beraneka ragam pula praktik-praktik komunikasi (Mulyana, 1998:19).

1.8. Operasionalisasi Variabel
Variabel Utama: Tanggapan pendengar Non-Sunda terhadap acara Pop Sunda di Radio Swadaya.
Sub-variabel 1: Intensitas orang Non-Sunda dalam mendengarkan siaran Pop Sunda di radio Swadaya.
Alat Ukur:
1. Frekuensi mendengarkan acara Pop Sunda di Radio Swadaya dalam satu minggu
2. Durasi mendengarkan acara Pop Sunda di Radio Swadaya dalam setiap kali siaran
3. Tingkat perhatian (keseriusan) dalam mendengarkan acara Pop Sunda di Radio Swadaya

Sub-variabel 2: Penilaian orang Non-Sunda terhadap kredibilitas acara Pop-Sunda (penyiar, lagu dan penyanyi) di radio Swadaya.
Alat Ukur:
1. Penilaian terhadap baik-tidaknya keahlian penyiar dalam membawakan acara Pop Sunda di Radio Swadaya.
2. Penilaian terhadap baik-tidaknya ketrampilan penyiar dalam membawakan acara Pop Sunda di Radio Swadaya.
3. Penilaian terhadap baik-tidaknya pengetahuan penyiar dalam membawakan acara Pop Sunda di Radio Swadaya.
4. Penilaian terhadap menarik-tidaknya lagu-lagu (irama dan musik) yang ditampilkan dalam acara Pop Sunda di Radio Swadaya.
5. Penilaian terhadap menarik-tidaknya penyanyi yang ditampilkan dalam acara Pop Sunda di Radio Swadaya.

Sub-variabel 3: Penilaian orang Non-Sunda terhadap informasi tentang kebudayaan Sunda yang diperoleh melalui acara Pop Sunda di Radio Swadaya.
1. Penilaian terhadap kejelasan informasi tentang sejarah kebudayaan Sunda dalam acara Pop Sunda di Radio Swadaya.
2. Penilaian terhadap kejelasan informasi tentang bahasa Sunda dalam acara Pop Sunda di Radio Swadaya.
3. Penilaian terhadap kejelasan informasi tentang pengetahuan adat istiadat Sunda dalam acara Pop Sunda di Radio Swadaya.
4. Penilaian terhadap kejelasan informasi tentang kesenian Sunda dalam acara Pop Sunda di Radio Swadaya.

1.9. Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
1.9.1. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan survei dengan tingkat eksplanasi sebagai studi deskriptif. Studi deskriptif menurut Sugiyono (2001:6) adalah studi yang dilakukan terhadap variabel independen, tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel lain.
Penelitian ini hanya mengumpulkan data dan fakta yang disajikan dengan penafsiran-penafsiran. Sebab menurut Komarudin (1984:69), penelitian deskriptif bertujuan untuk mengumpulkan fakta yang disertai penafsiran.
Gejala yang diteliti adalah tanggapan masyarakat non-Sunda terhadap acara Pop Sunda di Radio Swadaya yang digambarkan dalam penyebaran frekuensi. Hal ini senada dengan pengertian sifat penelitian deskriptif yang disampaikan oleh Koentjaraningrat. “Penelitian yang bersifat deskriptif, bertujuan menggambarkan secara tegas sifat-sifat individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau menentukan frekuensi penyebaran suatu gejala atau frekuensi adanya hubungan tertentu antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat” (Koentjaraningrat 1980:422).
Dalam penelitian ini, hasil pengelolaan data akan disajikan dalam bentuk tabel prosentase. Hal ini memudahkan dalam memberikan penafsiran atas data kuantitatif yang diperoleh.

1.9.2. Teknik Pengumpulan Data
1. Angket: alat pengumpulan data berisi sejumlah pertanyaan tertulis yang ditujukan kepada responden, dalam hal ini respondennya adalah masyarakat Karawang Non-Sunda yang mendengarkan acara Pop Sunda di Radio Swadaya.
2. Wawancara: dilakukan untuk memperoleh informasi dan data yang benar dan jelas dari responden maupun dari pengelola radio, yakni orang-orang yang terlibat dalam program Pop Sunda untuk mengetahui format acara, data pendengar dan hubungan dengan penggemarnya.
3. Studi kepustakaan: menggali referensi yang berhubungan dengan persoalan yang diteliti yang berhubungan dengan sifat budaya Sunda di Karawang, ke-radioan, dan komunikasi massa.

1.10. Populasi dan Sampel
1.10.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah pendengar acara Pop Sunda di Radio Swadaya yang bukan beretnis Sunda (non-Sunda) di wilayah Karawang. Dari jumlah penduduk Karawang menurut data tahun 2001 sebesar 1.978.600 jiwa, sekitar 50% adalah penduduk asli yang dari etnis Sunda, dan 50% pendatang dari etnis non-Sunda.
Menurut data yang dimiliki oleh stasiun Radio Swadaya, acara Pop-Sunda digemari tidak kurang dari 500 pendengar, tetapi tidak diperoleh data pasti berapa komposisi Sunda dan Non-Sunda. Namun berdasarkan penelitian pra-survai yang diadakan peneliti selama bulan Februari sampai April 2003 diperoleh bahwa dalam setiap siaran acara Pop Sunda terdapat rata-rata 4 sampai 6 penelepon interaktif dan 7 surat atensi dari orang yang berbeda. Sehingga pendengar yang intensif mendengarkan acara tersebut diperkirakan lebih dari 84 orang dalam seminggu atau 336 dalam sebulan. Kebanyakan pendengar berasal dari Kecamatan Karawang dan sebagian dari kecamatan Klari.
Dari data tersebut, peneliti berusaha mengecek kembali asal etnis (suku) para pendengar dan diperoleh rata-rata 50% adalah orang Sunda dan 50% orang Non-Sunda. Jumlah tersebut adalah pendengar yang secara aktif berkomunikasi dengan penyiar radio selama acara berlangsung, jadi belum termasuk pendengar yang tidak bisa mengontak melalui telepon dan tidak mengirimkan surat atensi. Dengan demikian, jumlah 500 adalah perkiraan jumlah pendengar Sunda dan Non-Sunda, sehingga populasi dalam penelitian adalah 500 X 50% = 250. Semua populasi adalah dari kalangan Non-Sunda.

1.10.2. Sampel
Untuk pengambilan sampel ditentukan sejumlah 20%. Sehingga dari 250 populasi X 20% = 50. Jadi sampel dalam penelitian ini adalah 50 orang.
Teknik pengambilan sampel akan ambil dari data nama-nama pendengar yang pernah menghubungi penyiar radio melalui telepon interaktif maupun surat atensi kemudian diklasifikasikan berdasarkan etnisnya, yakni Non-Sunda. Selanjutnya secara simple random sampling nama-nama tersebut dihubungi untuk dijadikan responden dengan cara mengundi nama-nama tersebut untuk menentukan 50 orang responden untuk diberikan angket penelitian. Simple random sampling adalah teknik pengambilan sampel secara acak sederhana tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi apabila anggota populasinya dianggap homogen.

Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Special Member dapat mendownload data yang ada di download area.
NB: Ada kemungkinan data yang diposting di website ini belum ada filenya, karena dikirim oleh member biasa dan masih menunggu konfirmasi dari member yang bersangkutan. Untuk memastikan data ada atau tidak silahkan login di download area.

CARI CONTENT WEB :

FREE JOURNAL UNTUK MELENGKAPI REFERENSI KARYA ILMIAH ANDA, FREE? KLIK DISINI
HOT DOWNLOAD MAKALAH, FULL PAPER? KLIK DISINI
PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI
INGIN KULIAH S2 JARAK JAUH? KLIK DISINI




Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuannya

Design by xactive -