Intisari
Persoalan ruang publik kota Yogyakarta kembali dijadikan isu utama dalam bentuk kumpulan komik Jogja in Comic oleh para komikus lokal Yogyakarta. Diangkatnya isu ruang publik dalam sebuah karya komik menunjukkan bahwa isu tersebut memang benar-benar penting. Oleh karena itu, menarik untuk dikaji bagaimana sebuah kumpulan komik dapat merepresentasikan kondisi ruang publik perkotaan di kota Yogyakarta.
Penelitian ini menggunakan metode semiotik analitik, yaitu suatu pendekatan untuk memperlihatkan makna yang tersembunyi dari suatu gambar maupun teks dalam suatu media. Metode semiotik yang dipakai dalam penelitian ini didasarkan pada pemikiran Charles Sanders Peirce tentang Teori Segitiga Makna. Penelitian ini dibatasi pada tiga jenis tanda, yaitu ikon, indeks dan simbol. Tujuannya agar mempermudah penjelasan dalam proses signifikasi.
Penelitian ini menunjukkan bagaimana sebuah komik dapat merepresentasikan kondisi ruang publik kota Yogyakarta. Secara implisit, dalam komik tersebut mengangkat isu tentang semakin tersingkirnya permainan tradisional akibat dari minimnya ruang publik sebagai ruang bermain anak. Selanjutnya, para komikus juga mengangkat tentang isu keseharian mereka, khususnya tentang ketiadaan ruang publik dalam ranah seni rupa serta semakin tersingkirnya seniman tradisional dalam penggunaan ruang publik Malioboro. Selain itu, konflik perebutan
ruang pun tak lepas dari perhatian komikus untuk diangkat. Terakhir, adalah isu mengenai ruang publik baru dalam bentuk mal dan angkringan.
Kata kunci : Komik, ruang publik, dan semiotik
BAB. I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Saat ini hampir 50% penduduk bertempat tinggal di daerah perkotaan. Sebagian besar pakar perkotaan berpendapat 20 tahun mendatang penduduk yang tingggal di daerah perkotaan akan mencapai 60%. Informasi tersebut diperkuat dengan laporan PBB yang memprediksikan antara tahun 2000-2025 penduduk yang tinggal di daerah perkotaan akan mengalami kenaikan jumlah 2 kali lipat, dari 2,4 milyar (1995) menjadi 5 milyar. Angka ini menjadi luar biasa karena kenaikannya lebih dari 60%1.
Patut digarisbawahi bahwa konsentrasi penduduk perkotaan terpadat bukanlah penduduk yang berada di negara maju, namun di negara berkembang. Masih menurut laporan PBB, pada tahun 2015 mendatang diprediksikan 18 dari 27 megacities (kota besar dengan penduduk sama atau lebih dari 10 juta jiwa) berada di benua Asia. Selain itu, kota-kota besar yang berpenduduk sama atau lebih dari 1 juta jiwa, 153 dari 358 kota di dunia juga berada di benua Asia.
Pesatnya jumlah penduduk kota berkaitan erat dengan banyaknya proses industrialisasi yang sedang bertumbuh di benua Asia, tidak terkecuali di Indonesia. Di kota Yogyakarta, denyut nadi perekonomian bergantung pada tiga sektor; sektor pendidikan, pariwisata dan budaya. Kota Yogyakarta ini adalah kota pariwisata terbesar kedua setelah Bali. Selain itu, kota Yogyakarta juga merupakan penyedia jasa pendidikan terbesar di tingkat nasional maupun internasional.
Daya tarik kota Yogyakarta cukup besar. Setiap tahun orang-orang dari luar daerah berbondong-bondong datang dengan alasan melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, alasan ekonomi, maupun hanya sekedar piknik. Bila pada tahun 1970, jumlah warga kota baru 340.908 jiwa, maka pada tahun 2005 jumlahnya sudah mencapai 418.944 jiwa. Jumlah penduduk bertambah cukup banyak hingga 27,7 persen dalam 35 tahun terakhir. Dengan luasan yang hanya 32,5 km persegi atau hanya 1,02% dari 3.185,80 km persegi, kota Yogyakarta memiliki kepadatan penduduk 12.246 jiwa/km persegi. Angka ini merupakan angka yang cukup tinggi. Pertambahan penduduk juga menunjukkan adanya peningkatan sebesar 1,8% pada tahun 20043. Kota Yogyakarta ini semakin padat, bukan hanya oleh para penduduk setempat, namun juga para pendatang, turis-turis asing dan turis lokal.
Tingkat kepadatan dan pertumbuhan penduduk tentu membutuhkan peningkatan sarana dan prasarana perumahan dan hiburan. Akibatnya, nyaris seluruh wilayah di kota ini terdapat bangunan, terutama untuk pemukiman penduduk. Lahan semakin terbatas, padahal manusia beserta kebutuhannya akan tempat bermukim bertambah. Bila ada ruang terbuka, maka sebentar saja beralih rupa menjadi bangunan usaha maupun tempat tinggal. Daerah-daerah kumuh juga
banyak bermunculan. Belum lagi bangunan yang sudah ada maupun bangunan baru ternyata tak luput dari persoalan. Mulai dari tata ruangnya yang tak memenuhi syarat hingga sistem perijinan mendirikan bangunan yang bermasalah. Tak ketinggalan, lalu-lalang 200-an ribu sepeda motor dan puluhan ribu mobil di setiap ruas jalan turut menyumbang sesaknya kota ini.
Dalam sebuah kota yang sedang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, kebutuhan akan ruang publik sebagai tempat melaksanakan aktivitas sosial di luar rumah sangat dibutuhkan.Ibnu Khaldun bahkan pernah menulis ruang khalayak kota sebagai tempat yang memberi kesempatan sekaligus menuntut pemuncakan kapasitas sosial manusia, yang kemudian menjadi dasar bagi pencapaiannya dalam segala bidang peradaban. Ini menunjukkan betapa ruang khalayak kota atau ruang publik perkotaan merupakan salah satu entitas penting bagi kehidupan masyarakat kota. Bila ruang publik dihilangkan, maka masyarakat pula yang merasakan dampaknya. Di Merauke, misalnya. Ketika hutan yang menjadi ruang publik mereka berkurang, tiba-tiba permasalahan sosial dan ekonomi banyak bermunculan. Manusia Merauke memang belum mampu bertransformasi budaya baru dalam siklus masyarakat industri atau pegawai dan budidaya tanaman atau ternak.
Bisa jadi penduduk Kota Yogyakarta juga akan merasakan hal yang sama. Apalagi ruang publik semakin sempit dan sulit didapatkan. Ruang publik mengalami penciutan dan pemiuhan menuju tingkat yang berbahaya. Pada kasus Kota Yogyakarta ini, warga kota yang merindukan aktivitas sosial di luar rumah, terpaksa harus membayar mahal demi membayar kenyamanan mereka. Bagi warga kota yang memiliki strata ekonomi menengah ke atas, mereka dapat memenuhi kebutuhan anak-anak ini dengan membeli sarana rekreasi indoor maupun outdoor yang dikelola atau dimiliki oleh pihak swasta yang menawarkan berbagai jenis rekreasi sesuai dengan harganya.
Sedangkan bagi warga kota yang termasuk ekonomi menengah ke bawah, mereka terpaksa beraktivitas pada tempat-tempat yang tidak semestinya. Bahkan ada kalanya cukup berbahaya. Anak-anak bermain sepak bola, bersepeda maupun bermain layang-layang di median jalan, di bawah fly over maupun di bantaran sungai. Bantaran rel kereta api juga menjadi tempat pilihan untuk piknik.
Malioboro, ruang publik yang masih diakses keberadaannya juga mengalami penciutan dan pemiuhan. Kondisi ini terjadi pada berbagai dimensi; penggunaan, aksesibilitas, pemaknaan, dan arsitektur. Bila pada tahun 70-an lalu Malioboro masih terasa nyaman bagi para pejalan kaki, maka lain halnya sekarang ini. Jalan tidak memungkinkan untuk diakses para pejalan kaki maupun kendaraan alamiah lainnya. Mereka terdesak oleh mobil dan kendaraan bermotor. Pasar Beringharjo juga kalah saing dengan mal-mal dan supermarket. Malioboro pun rentan konflik bagi entitas-entitas yang ada didalamnya. Selanjutnya, minimnya ruang publik perkotaan menjadi agenda tetap Pemerintah Kota Yogyakarta dari tahun-ke tahun dan semakin sulit terpecahkan
Persoalan ruang publik perkotaan Kota Yogyakarta ini memang bukanlah isu baru. Isu tersebut sudah banyak dibicarakan entah di media, di ruang-ruang seminar, dalam kampanye pilkada, mau pun dalam obrolan ringan di berbagai tempat. Tetapi ketika isu tersebut diangkat dalam sebuah buku komik Jogja in Comic, maka hasilnya akan lain. Ada nuansa baru. Selain itu, diangkatnya isu-isu tersebut menunjukkan bahwa isu tersebut benar-benar nyata dan penting.
Buku komik Jogja in Comic merupakan kumpulan lima karya komik terbaik dari kompetisi komik yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta pada tahun 2005 dan diterbitkan pada tahun 2006. Buku komik ini menunjukkan bagaimana persoalan ruang publik kota Yogyakarta dapat dibaca melalui komik. Buku komik ini menunjukkan refleksi kritis para komikus Yogyakarta dalam menghadapi perubahan sosial dalam masyarakatnya.
Diterbitkannya buku komik Jogja in Comic hanyalah satu dari banyak tanda tentang dimulainya kebangkitan komik-komik lokal di Indonesia. Komik ini sarat dengan pendidikan, kritik, dan hiburan. Selain itu, komik ini juga merupakan sumber dokumentasi dan inventaris realitas masyarakat Kota Yogyakarta bagi Taman Budaya Yogyakarta.
Berangkat dari hal tersebut, penulis tertarik meneliti komik lokal Jogja in Comic. Penulis ingin mengetahui kondisi ruang publik Kota Yogyakarta sehingga menghasilkan karya sedemikian rupa. Penulis juga ingin mengetahui bagaimana komikus lokal menanggapi isu ruang publik yang dituangkan melalui sebuah komik. Dengan demikian diharapkan penelitian ini dapat digunakan untuk referensi penelitian-penelitian selanjutnya tentang komik melalui sudut pandang ilmu
komunikasi.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan adanya permasalahan :
"Bagaimana Jogja in Comic dapat merepresentasikan persoalan ruang publik perkotaan di kota Yogyakarta?"
C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini ingin mengetahui keragaman pesan tentang Ruang Publik Perkotaan yang direpresentasikan dalam Jogja in Comic sehingga pemahaman mengenai minimnya ruang publik di Yogyakarta bisa muncul sesuai dengan apa yang ditampilkan dalam komik tersebut. Secara rinci, tujuan ini adalah :
1. Menjelaskan bekerjanya tanda dalam menghasilkan makna dalam karya komik,
2. Menjelaskan representasi kondisi ruang publik kota Yogyakarta dalam dimensi simbolik karya komik Jogja in Comic.
D. KERANGKA PEMIKIRAN
1. Komik sebagai Karya Seni
Komik menurut Scott McCloud adalah seni berturutan6. Dengan kata lain komik merupakan gambar-gambar serta lambang-lambang lain yang terjukstaposisi/ berdampingan dalam turutan tertentu dan untuk menyampaikan informasi dan tanggapan estetis dari pembacanya. Sedangkan menurut Wikipedia komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita.Biasanya, komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks. Komik dapat diterbitkan dalam berbagai bentuk, mulai dari strip dalam koran,dimuat dalam majalah, hingga berbentuk buku tersendiri.
Seni sendiri kegiatan manusia yang berkembang bukan dari dua naluri dasarnya;bertahan hidup dan berkembang biak8. Hingga sekarang komik seringkali dianggap seninomer dua, seni kelas kambing maupun seni kelas rendahan oleh berbagai kalangan.
Museum of Modern Art (MoMA), misalnya. Meski MoMA pernah memamerkan gambar Maus karya Art Spiegelman dan mengadakan pameran "High and Low" yang bertemakan komik, hingga sekarang museum tersebut belum mengakui komik sebagai karya seni.
Nyatanya hanya sedikit kurator museum yang berani mengakui komik sebagai karya seni. Kurator tersebut misalnya Kurator Museum Smithsonian. Kurator museum ini sudah lama mengakui komik sebagai medium yang khas pada abad ke-20. Bahkan pada tahun 1977, kurator museum ini pulalah yang memprakarsai penerbitan antologi The Smithsonian Collection of Newspaper Comics.
Rendahnya apresiasi komik sebagai seni disebabkan oleh sifat khas komik
sebagai sebuah medium hibrida, yaitu sebuah medium yang menggunakan gambar dan tulisan dalam menuangkan gagasannya. Marcel Bonneff menggolongkan komik dalam kesastraan popular yang memiliki keunikan karena adanya gambar-gambar. Bahkan Bonneff sendiri mengistilahkan sastra gambar karena karakter komik yang terbilang hibrida. Sebagai medium hibrida, ukuran-ukuran seni rupa yang lazim tak akan bisa digunakan untuk menilai nilai seni komik dengan benar. Ukuran-ukuran sastra juga tak bisa dengan gegabah digunakan untuk menilai sebuah komik11.
Di lain pihak, konteks historis-sosiologis komik juga ikut bertanggung jawab atas minimnya penghargaan dalam karya komik. Konteks ini menempatkan komik sebagai bagian dari seni rendahan (low brow). Di Inggris, The Rake's Progress (1735) karya William Hogarth yang merupakan lukisan dan ukiran yang dirancang untuk berdampingan dan berangkaian cukup populer pada jamannya. Gambar yang minim sekuensialitas tersebut kemudian berkembang menjadi gambar-gambar berurutan yang dilengkapi dengan panel-panel pembatas dan dibuat pertama kali oleh Rudolph Topffer, seorang kepala sekolah di Swedia pada tahun 1833. Bentuk ini merupakan salah satu bentuk komik modern.
Bentuk komik modern ini melahirkan majalah kartun Punch pada Juli 1841.
Majalah hiburan ini disebarkan secara massal, ingin menjangkau sebanyak mungkin
masyarakat serta menerapkan standar awam terendah (lowest common denominator). Kemudian muncul media-media sejenis ketika Punch laris manis di pasaran. Akibatnya semakin kuatlah langgam bahasa komik popular yang merendahkan diri di hadapan selera pasar ini.
Kesuksesan Punch ternyata menginspirasi lahirnya pesaing baru di Inggris,
antara lain majalah The Man in the Moon. Pada bulan Agustus 1867, koran Judy atau London Serio-Comic menerbitkan seri Ally Sloper yang terbilang cukup sukses. Pada saat yang sama Revolusi Industri melahirkan kaum buruh dan kaum miskin perkotaan yang memiliki kebutuhan yang khas. Seri Ally Sloper inilah yang menjadi katarsis tepat bagi mereka karena menokohkan seorang buruh pemabuk, ditambah lagi harga tabloid yang murah dengan isi yang sensasional dan vulgar. Akibatnya, tertanam identifikasi yang fatal; komik adalah bacaan kaum rendahan. Jika komik adalah seni, maka ia adalah seni rendahan.
Keadaan ini diperparah dengan kondisi perkomikan di Amerika. Komik modern Amerika lahir di saat terjadi persaingan ketat antar surat kabar. Pada tahun 1896 komik yang pertama lahir adalah seri Yellow Kid, sebuah kartun politik yang tajam. Inovasi adanya koran berwarna terbukti meningkatkan penjualan di pasaran. Akibatnya kerajaan bisnis Heasrt dan Pulitzer bersaing keras memperebutkan seri ini. Kemudian persaingan ini meruah menjadi persaingan halaman-halaman yang berisi komik.
Pada tahun 1920 bersamaan dengan terjadinya krisis ekonomi, tumbuhlah industri pulp fiction atau roman picisan yang dikonsumsi kaum jelata kota. Barulah pada tahun 1930, ketika industri pulp fiction telah jenuh, para pemodal mencari produk baru yang bisa dikembangkan seperti komik. Akibatnya komik terjebak dalam pulp fiction, yang sekali baca lalu buang. Genre dalam komik Amerika ini bervariasi seperti fantasi, detektif dan science fiction. Adonan genre-genre tersebut melahirkan genre khas Amerika yaitu genre superhero.
Perkembangan komik, bila dilihat dari perspektif kesejarahan seni rupa, selalu diwarnai modal dan keuntungan. Inilah yang menyebabkan komik di Amerika semakin jauh dari seni. Padahal hampir seluruh dunia diserbu dengan komik Amerika.
Pada tahun 90-an, ketika komik manga mulai membanjiri deras di pasaran, sentimen negatif komik semakin kuat. Di negara asalnya, komik yang pada umumnya terbuat dari kertas buram memang didesain sebagai bacaan murah yang dibaca sambil lalu. Sejak itu sampai sekarang komik dianggap bacaan rendah. Sekalipun dianggap seni, komik hanya dianggap seni yang setara kelas kambing.
2. Komik sebagai Alat Komunikasi
Komik merupakan alat komunikasi yang penting. Bila ditinjau dari proses komunikasinya, maka akan ditemukan sebuah konteks komunikasi yang lebih khusus
yaitu komunikasi sebagai proses transaksi. Menurut Judy C. Pearson & Paul E. Nelson, komunikasi adalah proses memahami dan berbagi makna.
Makna sendiri memiliki makna yang simpang siur. Umberto Eco yang dicuplik
dari buku Kosa Semiotika menjelaskan makna dari sebuah wahana tanda adalah satuan kultural yang diperagakan oleh wahana-wahana tanda yang lainnya. Dengan begitu secara semantik mempertunjukkan pula ketidaktergantungannya pada wahana tanda sebelumnya.
Dalam komunikasi transaksional, proses pengamatan hanya atas aspek tertentu saja, misalnya pesan verbal saja atau pesan non verbal saja. Komunikasi ini tidak mengisyaratkan bahwa pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam keadaan interdependensi atau timbal balik. Selain itu, eksistensi satu pihak ditentukan oleh eksistensi pihak lainnya. Pendekatan transaksi ini juga mengatakan bahwa semua unsur dalam proses komunikasi saling berhubungan. Tidak salah bila kemudian artikel yang
ditulis Marcel Bonneff dalam buku Citra Masyarakat Indonesia mengatakan bahwa
…..alat komunikasi yang penting, yang mau tidak mau akan mempengaruhi
pembacanya sendiri, hasil kesussatraan yang tentunya merupakan cermin masyarakat dan perubahannya.
Dengan demikian komik sebagai alat komunikasi yang penting karena dapat
mempengaruhi pembacanya. Pengaruh tersebut bermacam-macam. Tergantung dari
seberapa ia berkonsentrasi untuk membaca komik, seberapa dia memahami makna-
makna maupun pesan-pesan yang disampaikan dalam sebuah komik serta sikap hidup, prinsip, dan nilai-nilai hidup yang ia terima sejak kecil. Sang pembaca bisa saja menyetujui pesan-pesan yang ia baca dan lebih memperkuat sikap hidupnya, atau sebaliknya. Sang pembaca juga bisa saja tak mau tahu dengan isi pesan sehingga pengaruh pesan yang disampaikan penulis komik tidak tepat sasaran.
Bila ditinjau dari jenis komunikasinya, maka perlu ditilik dari media apa dan
bagaimana komik tersebut berlangsung. Jogja in Comic merupakan kumpulan komik yang diterbitkan dalam media buku, dicetak sebanyak 3000 eksemplar dan dijual ke toko-toko maupun pameran buku. Bila dihat dari proses berlangsungnya, maka dapat diidentifikasi 5 komponen dalam proses komunikasi.
Pertama adalah sumber pesan. Sumber pesan ini merupakan pembuat komik itu sendiri beserta perangkat organisasi yang rela mengeluarkan biaya besar untuk menerbitkan sebuah komik. Kedua adalah khalayak, terutama pembeli ataupun pembaca yang telah membaca Jogja in Comic. Mengingat penggemar komik lokal lebih kecil jumlahnya bila dibandingkan pecinta komik manga, maka pembaca yang bersedia dan perhatian pada penerbitan komik ini pun jumlahnya terbatas, meski tidak bisa dikatakan sedikit. Biasanya mereka berprofesi sebagai seniman, anak muda yang memiliki perhatian pada komik lokal, para pencinta komik maupun akademisi muda.
Ketiga adalah pesan. Pesan yang disampaikan dalam keempat komik dalam Jogja in Comic adalah pesan kritis mengenai keadaan kota Yogyakarta terutama mengenai ruang publik perkotaan. Pesan tersebut tersirat baik secara gamblang maupunhalus atau sembunyi-sembunyi. Dalam komik pertama dalam Gobak Sodor Sawijining Comic, pesan betapa minimnya ruang publik disajikan secara halus namun cukup mengena dan jenaka. Berbeda dengan komik terakhir, Brondoyudo Mangun Binangun yang mengkritisi sumpeknya Malioboro secara terang-terangan.
Proses komunikasi dalam pembacaan dan penerbitan Jogja in Comic juga berlangsung satu arah karena umpan balik yang disampaikan tertunda. Pembaca komik tidak dapat memberikan tanggapannya langsung pada penulis. Tanggapan yang disampaikan biasanya dalam bentuk komentar di milis internet, surat penggemar maupun surat pembaca dalam media massa.
Terakhir adalah mengenai konteks. Konteks ini tergantung pada cara bagaimana pembaca menginterpretasikan makan atau simbol sesuai dengan latar belakang yang dimiliki. Seorang pembela gender cenderung melihat masalah gender dalam sebuah komik. Seorang seniman akan memperhatikan unsur-unsur seni intrisik dalam sebuah komik. Sedangkan seseorang yang sedang membutuhkan kelucuan dalam sebuah komik lebih memperhatikan unsur jenaka dalam komik.
Dengan mempertimbangkan banyaknya jumlah komik yang disebarkan, khalayaknya yang beragam dan tidak dalam satu tempat serta memiliki umpan balik tertunda, maka jenis komunikasi dari penyebaran dan pembacaan Jogja in Comic ini dapat digolongkan dalam komunikasi massa.
3. Komik sebagai Media Representasi
Sebagai bagian dari media massa, terutama sebagai media representasi, komik mengemban fungsi penting sebagai fungsi informasi daripada sekedar hiburan belaka. Dengan komik, kita bisa belajar, menambah ilmu pengetahuan, memuaskan rasa ingin tahu tentang berbagai masalah praktis hingga mencari berita tentang peristiwa dan kondisi yang berhubungan dengan lingkungan terdekat, masyarakat, bahkan dunia. Komik petualangan Tintin misalnya. Komik yang dibuat dengan referensi yang cukup akurat ini menceritakan tentang kebudayaan suatu bangsa maupun peristiwa penting dalam sejarah mengenai perang Jepang dan China. Tidak heran bila Pierre Assouline, penulis biografi Herge menyebut komik Tintin sebagai duta Eropa untuk dunia.
Komik dengan tampilannya yang sederhana dan segar juga memiliki
keistimewaan yang tak dimiliki oleh media massa yang lain. Tatkala para pekerja media berusaha mengkonstruksi realitas, yaitu menyusun realitas sejumlah peristiwa yang semula terpenggal-penggal (acak) menjadi sistematis hingga membentuk cerita atau wacana yang bermakna, mereka terbentur pada struktur kelembagaan yang kaku. Belum lagi tekanan pasar pembaca, sistem politik yang berlaku, maupun kekuatan-kekuatan luar lainnya. Akibatnya masukan realitas dari masyarakat cenderung dibatasi. Selain itu, media tak mampu mengkonstruksikan realitas dengan cara yang lebih berani.
Kondisi di atas menekan (alih-alih memaksa) para komunikator (dalam hal ini
pekerja media) dengan mencari wilayah aman untuk menjamin keamanan dan
keselamatannya dalam mengkonstruksikan realitas pada masyarakat luas. Wilayah aman yang mereka cari itu terletak dalam hal-hal yang menyangkut fiksi dan khayalan. Komiklah wilayah aman yang mereka cari. Komik pula yang mampu menyajikan dan menghadirkan kembali realitas dengan cara yang unik. Ia mampu menciptakan ilusi realitas. Ketika kita membaca komik, seolah-olah cerita dalam komik merupakan realitas yang dapat dipercayai. Meski dalam pembuatan sebuah komik setting cerita didasarkan atas realitas yang sesungguhnya, namun karakter tokoh-tokohnya hanyalah bagian dari khayalan yang dinikmati pembacanya. Sekali lagi, komik hanya merepresentasikan (menghadirkan kembali) sebuah realitas.
Kekuatan komik yang menjelma sebagai ilusi realitas ini telah dimanfaatkan
sejak lama oleh negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, Perancis dan negara-
negara Eropa lainnya. Komik seringkali dimanfaatkan sebagai media pendidikan, media pergerakan atau propaganda, bahkan media kampanye. Komik memang memiliki kekuatan istimewa.
Sebagai media yang mampu menghadirkan kembali realitas, otomatis ia mampu menyajikan imej/citra tertentu pada komunikannya. Pada akhirnya, imej/citra tersebut akan mempengaruhi opini/sikap pembacanya mengenai sesuatu. Dalam komik Palestine karya Joe Sacco, misalnya. Sang pengarang berhasil memperoleh simpati publik untuk rakyat Palestina melalui komik yang ia garap. Tidak salah bila lantas Marcell Boneff menyebut komik sebagai media yang mampu mempengaruhi pembacanya.
Konsep representasi ini memiliki beberapa pengertian yang merujuk pada
pemaknaan suatu tanda dalam alam pikiran kita melalui bahasa. Hubungan antara
konsep (dalam alam pikiran) dan bahasa akan mengantarkan pada kenyataan/kebenaran dari objek, masyarakat atau peristiwa, bahkan dalam dunia khayalan seperti objek, masyarakat dan peristiwa yang fiktif.
Ditilik dari bagaimana proses representasi bekerja, atau yang disebut dengan
system of representation,20 maka dapat dijelaskan melalui dua cara. Pertama,
representasi mental. Yaitu konsep tentang sesuatu yang ada di kepala kita masing-
masing (peta konseptual). Representasi mental ini masih berbentuk sesuatu yang abstrak. Proses ini memungkinkan kita untuk memaknai dunia dengan mengkonstruksi seperangkat rantai korespondensi antara sesuatu dengan sistem peta konseptual kita. Kedua, adalah bahasa yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang ada dalam kepala kita harus diterjemahkan dalam bahasa yang lazim, supaya kita dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dan simbol-simbol tertentu.
Dalam proses kedua ini, kita mengkonstruksi seperangkat rantai korespondensi antara peta konseptual dengan bahasa atau simbol yang berfungsi merepresentasikan konsep-konsep kita tentang sesuatu. Relasi antara sesuatu, peta konseptual, dan bahasa/ simbol adalah jantung dari produksi makna lewat bahasa. Proses yang menghubungkan ketiga elemen ini secara bersama-sama itulah yang dinamakan representasi.
Konsep mengenai representasi ini bisa saja berubah-ubah. Selalu ada
penambahan dan pemaknaan baru dalam konsep representasi yang sudah ada
sebelumnya. Makna dalam representasi sendiri juga sebenarnya tidak bisa tetap, ia harus menyesuaikan dengan situasi yang baru. Makna tidak inheren, ia selalu dikonstruksikan dan diproduksi lewat proses representasi.
Representasi dalam komik memberikan makna dan pandangan baru.
Adakalanya hasil pemaknaan tersebut unik, keluar dari jalur pemaknaan yang biasanya. Hal ini disebabkan karena karakter makna sendiri yang tidak bisa tetap, harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang membangunnya. Tak salah bila kemudian St. Sunardi merasakan nuansa baru setelah membaca Jogja in Comic.
4. Komik Lokal
Sepanjang tahun 90-an hingga sekarang, perkomikan Indonesia didominasi komik impor terjemahan. Komik-komik tersebut diterbitkan oleh penerbit dengan modal besar yang berorientasi pasar. Peredaran komik-komik tersebut juga didukung oleh manajemen yang solid, sistem kerja industrial dan distribusi yang luas di toko-toko besar. Sistem inilah yang kemudian diadaptasi oleh beberapa studio komik di Indonesia. Selanjutnya, komik-komik yang beredar di Indonesia terbagi menjadi dua kategori, komik lokal dan komik impor terjemahan yang berasal dari Jepang, Amerika dan Eropa.
Komik Jepang atau Manga mulai memasuki pasar Indonesia pada awal tahun 90-an. Beredarnya komik Jepang di Indonesia ini merupakan fenomena tersendiri karena amat kuatnya dominasi komik Jepang di Indonesia. Retno Kristi, Wakil Pemimpin Redaksi dari PT Elexmedia mengatakan sejak tahun 1990, penerbitnya telah mencetak komik Jepang terjemahan sebanyak 3000 judul dalam kurun waktu 10 tahun. Sebuah angka yang cukup fantastis mengingat betapa minimnya jumlah komik lokal di Indonesia.
Dari segi banyaknya jumlah halaman, komik Jepang tidak terpaku pada aturan yang baku. Dengan demikian, komikus bisa lebih bebas mengeksplorasi gaya bercerita dan memainkan emosi pembacanya. Visualisasi komik Jepang juga memiliki ciri-ciri khusus yang dapat dikenali, yaitu bermata bulat besar, badan tinggi dan ramping, disertai gaya gambar yang cukup dinamis. Seorang tokoh dapat digambarkan sangat gagah, namun di kesempatan lain dapat digambar dengan sangat lucu. Tema cerita dalam komik Jepang ini berkisar pada kehidupan sehari-hari dan disesuaikan dengan segmen pembaca. Komik untuk remaja putri atau shojo biasanya diisi dengan tema percintaan, untuk remaja laki-laki atau shonen diisi dengan komik petualangan atau action dan komik anak-anak yang berisi seputar kehidupan sehari-hari mereka di rumah atau di sekolah.
Bila komik Jepang cenderung mengangkat tema keseharian, maka komik
Amerika sebaliknya. Komik Amerika cenderung mengangkat cerita-cerita superhero dan laga. Tema superhero adalah representasi dari mentalitas superior bangsa Amerika. Cerita utama dari tema superhero adalah pertempuran antara pihak yang ingin menguasai dunia dengan superhero yang direpresentasikan sebagai penjaga keamanan dunia (Amerika sebagai polisi dunia). Tema ini disertai visualisasi digitasi komputer, kualitas cetak yang mewah dengan jumlah halaman yang relatif tetap dan terbatas. Jumlah halaman pada komik Amerika sebanyak 15 lembar (30 halaman) untuk edisi reguler dan 100 lembar (200 halaman) untuk edisi khusus. Jumlah halaman komik yang dibakukan ini mengakibatkan komik Amerika lebih terpaku pada hasil akhir cerita22. Alur ceritanya pun tak bertele-tele. Komik Amerika ini juga memiliki ciri-ciri khusus yang gampang dikenali.
Mayoritas karakter tokoh utamanya digambarkan sebagai sosok yang
sempurna tanpa cacat. Sebaliknya, karakter musuh digambarkan
sangat jahat. Penggambaran tokoh-tokohnya pun lebih menonjolkan
bentuk fisik dengan badan kekar, otot yang menonjol dan wanita yang
seksi.
Dibandingkan dengan kedua komik terjemahan tersebut, komik Eropa dibuat
lebih sederhana lagi. Penggambaran tokoh-tokohnya dibuat lebih ikonis, dengan latar
belakang realis atau clear screen24. Komik Eropa ini pada umumnya bergenre
petualangan. Komik Tintin, misalnya.
Suka atau tidak, pesatnya peredaran komik impor terjemahan di pasaran
Indonesia ikut mempengaruhi gaya bercerita maupun visualisasi komik lokal. Bahkan
acapkali komik lokal dianggap jiplakan atau peniruan. Unsur kemiripan ini bisa kita lihat dari komik serial Si Jail Pendekar Cilik yang diterbitkan Studio Animik World Bandung dengan komik serial Kungfu Boy terbitan Gramedia. Komik Si Jail Pendekar Cilik ini mengadaptasi dengan menambahkan muatan falsafah dan sejarah lokal Jawa.
Proyek percontohan garapan Qomik Nasional yang mengeluarkan seri Caroq
juga tak lepas dari pengaruh komik impor Amerika. Cerita komik ini mengadaptasi pada setting dan identitas penduduk Indonesia dengan mitos budaya Madura.
Hanya beberapa komik lokal saja yang berhasil memiliki identitas khasnya
sendiri seperti komik Sawung Kampret, komik seri Petruk Gareng karya Tatang S dan Lagak Jakarta. Mayoritas komik lokal Indonesia hanya berkutat pada imej budaya lokal yang tidak diimbangi identitas khas yang khusus. Komik lokal cenderung terpengaruh tema dan visualisasi komik impor. Tindakan meniru komik impor ini memang tak lepas dari konteks ekonomi, sosial dan budaya. Apalagi ketika media informasi mudah diakses, para komikus muda dihadapkan pada referensi komik asing yang tak sedikit. Belum lagi kenyataan bahwa sebagian besar pembaca komik di Indonesia menganggap komik lokal lebih rendah mutunya dibandingkan komik luar negeri.
Kenyataan tersebut di atas mengakibatkan terbentuknya tiga aliran besar pada komik Indonesia. Aliran pertama adalah aliran yang mementingkan agar komiknya laris di pasaran dengan menyerupai gambar komik Jepang. Karya-karya mereka kemudian banyak ditampung oleh penerbit dari Mizan maupun Gramedia. Misalnya Serial Cantik dan Serial Misteri.
Aliran kedua adalah aliran yang mementingkan pencapaian teknis dalam
menggambar komik seperti komik Dragon Ball dan Todd McFarlane. Mereka ini misalnya Dua Warna (Alfie) dan Bengkel Qomik (Street Soccer).
Aliran ketiga adalah aliran yang mementingkan ekspresi. Yang paling menonjol dari aliran ini adalah para komikus Apotik Komik Yogya dan Kiri Komik Yogya. Komik jenis ini mulai marak sekitar tahun 1994. Gagasan komik tersebut berawal dari inisiatif beberapa mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) yang ingin membuat komik yang sesuai dengan ekspresi mereka. Bambang Toko Wicaksono, Dosen Seni rupa ISI mengatakan mahasiswa Seni Rupa ISI sering membuat gambar yang bersifat naratif yang kemudian gambar-gambar tersebut disatukan dalam sebuah buku. Dari sinilah lahir sebuah komunitas komik Underground yang disebut Core Komik26. Komik inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya komik Underground lain yang ada di Indonesia. Komik Undergroun ini juga dikenal dengan nama komik Independen/indie maupun komik perlawanan. Komik Underground dianggap sebagai komik perlawanan karena isinya jauh berbeda bila dibandingkan dengan komik-komik yang beredar bebas di pasaran.
Dalam komik Underground ini sang komikus bebas untuk menggambar apapun yang ada dalam pikirannya tanpa ada peraturan yang mengikat. Tema yang diangkat pun lebih leluasa seperti kekerasan, seksualitas, hingga tema yang sangat abstrak dan filosofis. Komik ini menampilkan diri dari pameran ke pameran, di kampus-kampus, atau bazar-bazar kesenian lain. Ada pula yang harus beredar dari tangan ke tangan. Bahkan komik Daging Tumbuh, salah satu komik Underground di Yogyakarta membebaskan setiap orang untuk memfotokopi tanpa membayar royalti.
Hanya saja, meski unggul secara visual, komik Underground dianggap lemah
dalam bernarasi. Tidak banyak pembaca yang dapat menikmati komik Underground ini. Kalaupun si komikus mengangkat tema yang dekat dengan isu sosial lewat karyanya, pesan tersebut seolah tak terbaca, terutama bagi masyarakat awam. Ahmad F Ismail mengatakan bahwa komikus Underground masih berkutat pada tataran visual. Kalaupun tidak terlalu absurd, kecenderungannya sebaliknya adalah pengungkapan misi yang terlalu ekstrim dan vulgar. Super Konthil, misalnya. Sebagai komik indie, karya tersebut
dianggap terlalu vulgar.
Tantangan bagi komikus lokal selanjutnya adalah pada semangat komikus untuk menyelami dunia komik. Komikus lokal pada umumnya bersikap-sikap setengah-setengah pada komik. Mereka belum berani secara total menggeluti dunia komik. Akibatnya, banyak komikus lokal yang justru lemah dalam bercerita dan tidak memiliki identitas sendiri yang khas.
Menyadari kelemahan maupun potensi komik lokal Indonesia, berbagai usaha telah dilakukan para komikus lokal. Mulai dari menulis buku tentang kartun/komik, mendirikan sekolah khusus menggambar komik, diskusi-diskusi, perkumpulan pecinta komik lokal atau membentuk Masyarakat Komik Indonesia bahkan berbagai lomba komik digelar di berbagai kota. Bila pada tahun 2004 yang lalu di Kota Bandung digelar Komikasia, maka di Yogyakarta diselenggarakan PKAN 4 yang merupakan ajang kreativitas komikus lokal Yogyakarta setiap bulan Juni. Taman Budaya Yogyakarta merupakan pihak yang paling perhatian terhadap dunia komik ini. Karena itulah sebagai wujud keprihatinan sekaligus perjuangan mengangkat komik lokal, Taman Budaya Yogyakarta bersama Urban Pictorial menerbitkan karya 5 pemenang lomba komik dalam Festifal Komik Yogyakarta tersebut. Penerbitan komik tersebut segera akan disusul pada penerbitan Jogja in Comic edisi ke dua.
5. Ruang Publik Perkotaan
Semua kehidupan dan kegiatan manusia berkaitan erat dengan aspek ruang. Ruang sendiri dapat ditafsirkan dalam pandangan yang berbeda-beda. Immanuel Kant berpendapat bahwa ruang bukanlah sesuatu yang objektif sebagai hasil pemikiran manusia. Sedangkan filsuf Plato berpendapat bahwa ruang adalah suatu kerangka atau wadah di mana objek dan kejadian tertentu berada. Dengan demikian ruang merupakan suatu wadah yang tidak nyata akan tetapi dapat dirasakan keberadaannya oleh manusia.
Secara fisik, ruang selalu terbentuk dari 3 elemen, yaitu bidang alas/lantai, bidang dinding/pembatas dan bidang langit-langit. Bidang alas/lantai tersebut misalnya bahan keras yang berupa batu, kerikil, pasir dan beton serta bahan lunak yang berupa rumput dan tanah. Bidang pembatas/dinding ini pun terbagi menjadi 3 jenis, yaitu dinding masif yang berupa permukaan tanah yang miring atau vertikal, dinding transparan yang berupa pagar bambu, logam, kayu atau pohon yang tidak rapat serta dinding semu yaitu dinding yang terbentuk dari persepsi manusia. Terakhir, bidang langit-langit yitu ruang yang melingkupi tempat tersebut sehingga orang yang di bawahnya merasa terlingkupi.
Berangkat dari istilah ruang ini, terciptalah apa yang kemudian disebut ruang publik. Istilah publik sendiri berasal dari kata latin publicus yang berakar dari kata pubes yang artinya laki-laki dewasa. Dari kata publicus ini mucul konsepsi Res Publica yang dipakai pertama kali oleh Cicero. Dikatakan bahwa kesejahteraan umum adalah milik rakyat, akan tetapi rakyat bukanlah sekedar kerumunan manusia melainkan kumpulan orang-orang yang direkatkan satu sama lain oleh penghormatan pada keadilan dan kerjasama mengejar kebaikan bersama.
Konsepsi publik tersebut kemudian berkembang hingga menjadi beragam definisi. Salah satunya berkaitan dengan filsafat politik yang dikembangkan oleh Jurgen Habemas. Habermas menyebutkan bahwa ranah publik merupakan arus keterlibatan kolektif yang selalu dinegoisasikan, bersifat tidak stabil, lentur, dan terbuka. Kemudian, ia pun menerjemahkan ruang publik sebagai pentas atau arena di mana warga negara mampu melempar opini, kepentingan dan kebutuhan mereka secara diskursif dan bebas dari tekanan siapapun. Baginya, selama arena dan ruang sosial itu mampu menampung beragam entitas sosial; individu, komunitas atau perkumpulan, dengan keragaman interest, maka ia bisa dikategorikan sebagai ruang publik. Dengan demikian ruang publik bisa berwujud abstrak seperti media massa dan internet, bisa juga berwujud material seperti tata kota, ruang-ruang diskusi, dan seterusnya.
Dalam ranah arsitektural/perkotaan, konsep ruang publik ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan konsep ruang publik Habermas. Bedanya, bila Habermas tidak terikat pada kerangka spasial, maka konsep arsitektural ini sebaliknya. Rustam Hakim menyebutkan bahwa Ruang Umum Terbuka atau Ruang Terbuka (dibaca Ruang Publik) merupakan suatu wadah yang dapat menampung kegiatan aktivitas tertentu dari warga lingkungan tersebut baik secara indifidu atau secara kelompok33. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Ruang Umum (dibaca Ruang Publik) ini terbagi menjadi 2 jenis, yaitu Ruang Umum (publik) Tertutup dan Ruang Umum (publik) Terbuka. Masing-masing dari kedua ruang umum tersebut dapat digunakan oleh setiap orang dan memberi kesempatan untuk bermacam-macam kegiatan. Bedanya, bila Ruang Umum (publik) Tertutup adalah ruang yang terdapat di dalam suatu bangunan seperti balai RW, museum dan galeri sedangkan Ruang Umum (publik) Terbuka adalah ruang yang berada di luar bangunan seperti lapangan, jalan, alun-alun dan plasa.
Pengertian ini serupa dengan pengertian Francis yang dikutip dalam Journal
Landscape Architecture pada laporan penelitian Tipologi dan Fungsi Sosial Ruang
Terbuka karya Dwita Hadi Rahmi. Ia mendefinisikan Ruang Publik atau Ruang Terbuka
Publik Kota (ruang publik perkotaan) sebagai ruang terbuka, baik di dalam maupun di luar bangunan (tidak tertutup) yang dapat dipakai untuk melakukan kegiatan oleh semua lapisan masyarakat. Ruang tersebut dapat dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Ia menambahkan bahwa ruang publik yang baik dapat diidentifikasikan sebagai ruang yang demokratis yang dapat membagi makna ruang publik, mengundang akses bagi semua orang, menggugah partisipasi pemakai dalam penggunaan serta pemeliharaannya. Ruang publik tersebut misalnya jalan, trotoar, taman kota, ruang terbuka di tepi sungai, museum, dsb.
Di Kota Yogyakarta, persoalan ruang publik dalam ranah arsitektural/fisik, merupakan persoalan yang cukup krusial. Hingga sekarang Kota Yogyakarta belum memiliki ruang publik yang memadahi, yang benar-benar bisa dimanfaatkan oleh warga kotanya. Semakin padatnya kota Yogyakarta ini mendorong dibangunnya perumahan-perumahan dan sarana-sarana baru penunjang pemukiman. Bila masih terdapat lahan kosong, cepat atau lambat tergusur oleh bangunan-bangunan baru yang dirasa lebih menguntungkan. Rumah-rumah pun digusuri untuk membangun mal-mal baru. Belum lagi jalan pedestrian Malioboro yang kini penuh sesak oleh keberadaan tempat parkir dan para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menimba rejeki dari keramaian di sana.
Semakin sempitnya ruang publik kota Yogyakarta dalam ranah arsitektural ini disorot dengan cukup baik oleh para komikus dalam Festival Kesenian Yogyakarta pada tahun 2005 yang lalu. Hasil karya mereka kemudian dibukukan dalam komik kompilasi Jogja in Comic. Niscaya, secara eksplisit maupun implisit dalam buku tersebut kekecewaan para komikus mengenai semakin sempitnya ruang Yogyakarta dapat diekspresikan.
E. KERANGKA KONSEP
1. Kisah/Story
Kisah adalah sebuah cerita dengan permulaan, pertengahan dan akhir. Cerita ini mengikuti seseorang (atau sekumpulan) tokoh utama melalui semua usahanya/ usaha beberapa tokoh untuk mencapai suatu tujuan35. Ada beberapa langkah yang diperlukan komikus dalam merangkai sebuah kisah. Pertama, menentukan tema atau masalah utama. Tema sendiri dapat dikategorikan menjadi tiga kategori; kisah hidup,keadaan/situasi maupun kejadian. Tema kisah hidup misalnya petualangan A ketika mencari harta karun, tema keadaan misalnya keadaan bumi pada abad 40 dan tema kejadian misalnya perseteruan antara A dan B.
Kedua, menentukan gaya cerita atau genre. Genre adalah kesan yang ingin ditonjolkan secara garis besar dari kisah tersebut. Beberapa gaya penceritaan tersebut misalnya drama, komedi, action, horror, fantasi, modern, dan fiksi ilmiah. Seorang komikus bebas menentukan gaya penceritaannya, baik hanya dengan satu gaya maupun campuran dari beberapa gaya sekaligus.
Ketiga, merancang plot atau jalan cerita. Suatu alur atau jalan cerita biasanya terhadap beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut merupakan pemaparan/eksposisi, komplikasi, klimaks, antiklimaks, dan penyelesaian atau katrastofa.
Pada tahap pemaparan atau eksposisi, dijelaskan situasi awal yang mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan waktu, perwatakan, dan tempat terjadinya peristiwa. Dari bagian inilah pembaca akan mengetahui arah cerita yang akan ditampilkan. Selanjutnya tahapan ini akan berkembang menjadi komplikasi tatkala konflik-konflik atau permasalahan mulai terjadi. Konflik ini biasanya terjadi antara tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh utama mulai mendapatkan gangguan-gangguan dalam mewujudkan tujuannya. Dari sinilah konflik berkembang dan semakin memuncak.
Puncak dari ketegangan dan daya tarik sebuah cerita adalah klimaks. Klimaksnya terjadi ketika bagian cerita menggambarkan ketegangan antara tokoh protagonis dan antagonis. Cerita ini tinggal menentukan saja siapa pihak yang menang dan siapa pihak yang kalah. Kemudian, konflik ini semakin menurun ketegangannya. Dalam tahapan anti klimaks, tanda-tanda penyelesaian konflik mulai terlihat. Pengarang cerita sedikit demi sedikit mulai membuka rahasia dari ending cerita. Penyelesaian dari cerita pun terjawab. Misteri mengapa peristiwa maupun konflik yang terjadi bisa dipahami.
2. Teks
Dalam komik, teks memiliki unsur yang penting. Teks dalam komik bisa berbentuk narasi, dialog maupun sound lettering. Narasi ini menerangkan tentang waktu, tempat, bahkan kadang-kadang situasi. Dialog sendiri bisa ditulis di luar balon kata maupun di dalam balon kata. Sedangkan sound lettering/huruf bunyi-bunyian ini merupakan perkembangan teks yang menjelma menjadi sebuah gambar. Sound lettering ini bisa dimodifikasi tergantung kemampuan dan kebutuhan sang komikus.
Dalam suatu kesempatan, teks ini bisa memiliki peran yang kurang lebih sama dengan ilustrasi. Dalam kesempatan yang lain, ia juga bisa bekerja sama dengan ilustrasi menonjolkan kesan dalam gambar. Bahkan adakalanya ia hanya berperan sebagai penguat kisah dalam gambar. Kombinasi antara teks dan gambar tersebut tidak selalu seimbang, bisa saja teks yang lebih besar atau sebaliknya. Dengan demikian, masing-masing teks tersebut memiliki perannya sendiri-sendiri.
3. Ilustrasi
Terdapat empat bagian yang biasanya ada dalam sebuah komik modern, yaitu gaya gambar, panel, balon kata dan latar belakang. Keempat bagian tersebut merupakan bagian-bagian penting ketika seorang komikus menuangkan kisah ceritanya dalam sebuah gambar.
Dalam sebuah komik, kisah cerita yang bagus tanpa disertai gaya gambar yang baik akan merusak keseluruhan bagian komik. Kemampuan menggambar dalam suatu gaya memang sangat penting. Dengan memantapkan gaya gambar, sang komikus dapat lebih mudah membuat kisah cerita yang disesuaikan dengan kemampuan gaya gambar yang dimilikinya. Jenis komik drama, akan lebih hidup apabila memakai gaya kartun, sedangkan jenis cerita horror biasanya akan lebih pantas bila memakai gaya gambar realistik. Selain itu, bila sang komikus telah memiliki kemampuan mengasah berbagai gaya gambar dengan baik, ia bisa menggunakan paduan berbagai gaya dalam sebuah komik yuang justru akan lebih menguatkan kisah komik itu sendiri. Dengan memadukan berbagai gaya gambar maka pembaca juga terbantu membedakan sifat dan karakter antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Jenis-jenis gaya-gaya gambar tersebut diantaranya gaya kartun, semi realistik maupun realistik38.
Bagian lain dalam ilustrasi komik modern yang harus kita tahu salah satunya adalah panel/jendela media. Panel dalam komik ini seakan-akan sebuah jendela dari kamera yang digunakan untuk menangkap kegiatan tokoh-tokoh dan lingkungan di sekitar kegiatan tersebut. Bedanya dengan kamera film adalah bila waktu pada film, penonton tidak usah mengubah sudut pandang. Sedangkan, dalam komik, waktu digambarkan dengan gambar pada panel yang berurutan. Panel-panel yang berurutan menampilkan ilusi waktu yang kita sebut sekuensi waktu. Sekuensi tersebut terbagi menjadi sekuensi saat ke saat, aksi ke aksi, subyek ke subyek, tempat ke tempat dan aspek ke aspek.
Dalam tampilan panel ini, terdapat beberapa macam sudut pandang. Sudut pandang ini memiliki kesan dan fungsi sendiri dalam mengarahkan pembaca ketika membaca komik. Tampilan tersebut misalnya Close Up, Extreme Close Up, Bust Shot, Close Medium Shot, Long Shot, View Bird, dll. Panel–panel ini dibaca dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.
Bagian ilustrasi komik yang tak kalah penting yaitu balon kata. Balon kata ini memiliki fungsi dan kesan sendiri untuk mengarahkan pembaca dalam membaca komik. Misalnya saja balon kata dalam menggambarkan aktivitas berbicara, bersuara pelan, berteriak, berkhayal, bahkan ketika sang tokoh sedang marah memiliki bentuk yang berbeda-beda.
Bagian terakhir yang juga tak kalah pentingnya untuk mendukung kisah dan
ilustrasi komik adalah latar belakang. Latar belakang ini sangat penting sebagai
pendukung dalam penceritaan/kisah dalam komik, termasuk berbagai adegan atau
peristiwa. Latar belakang ini mengacu pada objek pemandangan, arsiran/garis aksi,
maupun perspektif dalam komik. Penggunaan ilmu perspektif memang tak bisa dihindari dalam menggambar latar belakang ini. Terdapat 3 macam sudut pandang perspektif dasar yang biasa digunakan dalam menggambar komik, yaitu perspektif satu poin, perpektif dua poin, dan perspektif tiga poin.
Selain itu, dikenal pula dengan apa yang disebut efek latar belakang. Efek latar belakang ini berfungsi untuk menggambarkan suasana atau emosi yang tengah terjadi pada panel sebuah komik. Efek latar belakang ini bermacam-macam misalnya efek yang menggambarkan ketegangan, amarah, kejutan, bahkan menggambarkan efek lembut.
F. METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penelitian ini penulis bertujuan meneliti gambar, teks serta kisah yang terdapat dalam komik Jogja in Comic. Jenis penelitian yang dipakai adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode semiotik analitik. Metode ini dipilih karena metode semiotik merupakan suatu pendekatan untuk memperlihatkan makna yang tersembunyi dari suatu gambar maupun teks dalam suatu media.
Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa semiotik adalah the study of the sign atau ilmu yang mempelajari tentang tanda/penandaan. Ilmu ini tidak hanya mempelajari gambar dan tulisan, namun juga meluas ke berbagai bidang seperti kajian perilaku komunikasi hewan (zoosemiotics) sampai dengan analisis atas sistem-sistem pemaknaan seperti komunikasi tubuh (kinesik dan proksemik), tanda-tanda bebauan (olfactory signs), teori estetika, retorika dan seterusnya. Umberto Eco menyebutnya sebagai imperialisme yang arogan. Pada intinya, studi ini mempelajari apa saja tentang bagaimana makna dibuat dan diinterpretasikan oleh pembaca.
Metode semiotik yang dipakai dalam penelitian ini didasarkan pada pemikiran Charles Sanders Peirce tentang tanda. Tanda, sign atau representamen bagi Peirce adalah sesuatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas. Sesuatu yang lain dijelaskan kemudian oleh Peirce sebagai interpretant. Pada gilirannya, interpretant ini akan mengacu pada object. Artinya, sebuah tanda akan memiliki hubungan triadik langsung dengan interpretan dan objeknya. Ketiga elemen ini berbentuk segitiga, dan dikenal dengan Teori Segitiga
Makna. Sedangkan proses yang memadukan antara ketiga unsur tersebut disebut dengan proses semiosis atau signifikasi.
Selanjutnya, proses semiosis ini pada akhirnya akan menghasilkan rangkaian yang tak berkesudahan. Rangkaian yang tak berkesudahan ini dirumuskan oleh Umberto Eco dan Jacques Derrida sebagai semiosis tanpa batas. Dalam penelitian ini penulis ini akan membatasi penelitian berdasarkan tema yang diambil yaitu tentang ruang publik perkotaan. Tujuannya, agar hasil penelitian tidak menyimpang dari tema awal.
Pemikiran Peirce yang juga dipertimbangkan dalam penelitian ini adalah hasil
pemikirannya tentang tipologi atau klasifikasi tanda. Klasifikasi ini cukup rumit. Peirce membaginya dalam firstness, secondness, dan thirdness. Namun, klasifikasi Peirce yang dipakai dalam penelitian ini hanya mencakup ikon, indeks dan simbol saja karena ketiga tipe tanda ini cukup memadahi, sederhana dan paling mudah dikerjakan.
Dalam penelitian ini, penulis akan menganalisis komponen komik yang berupa teks dan gambar secara bersamaan. Menurut Roland Barthes, teks yang selalu hadir disertai gambar memiliki 2 tataran, yaitu tataran denotasi dan tataran konotasi. Berdasarkan kedua tataran tersebut, teks pun memiliki 2 fungsi yaitu fungsi penambat dan fungsi pemancar. Pada fungsi pemancar ini yang biasanya terdapat di dalam sebuah komik, kartun, film atau sejenisnya, teks dan
gambar berada dalam hubungan komplementer atau saling melengkapi, tak dapat dipisahkan. Makna-makna yang terdapat di dalam teks tidak dapat ditemukan dalam gambar dan sebaliknya, makna-makna dalam gambar tidak bisa ditemukan dalam teks.
Bila teks dan gambar yang terdapat di dalam komik tersebut telah dianalisis, maka kisah atau jalinan cerita pun akan ditemukan. Selanjutnya, kisah tersebut akan dianalisis apakah mengandung makna yang tersembunyi ataukah tidak.
Selanjutnya penulis akan melakukan 3 pendekatan semiotik dalam melakukan penelitian ini. Tiga pendekatan tersebut adalah pendekatan sintaksis semiotika, semantik semiotika, dan pragmatik semiotika. Sintaksis ini mengkaji hubungan formal diantara satu tanda dengan tanda-tanda yang lain. Pengertian sintaktik ini kurang lebih adalah semacam gramatika atau klasifikasi. Semantik mengkaji hubungan serta konsekuensi pada interpretantnya. Semantik ini menjawab
bagaimana kita menginterpretasikan tanda.
Berdasarkan pemahaman di atas, selanjutnya penulis akan menjelaskan lebih terperinci tataran operasional dalam penelitian ini. Adapun tataran operasional ini adalah
a. Pengumpulan Data
Dalam tahapan ini, penulis mengumpulkan dan mengamati secara keseluruhan objek penelitian yang berupa gambar dan teks dalam Jogja in Comic dengan tidak mengesampingkan kisah yang ada di dalamnya. Proses pengamatan diartikan sebagai langkah semantik semiologi dimana semua tanda dianggap memiliki makna denotasi dan konotasi. Hanya saja dalam penelitian ini adalah tanda yang dimaknai oleh interpreter memiliki makna laten. Pada tahapan ini, semua tanda yang berujud gambar dan teks serta kisah dikumpulkan dan dianalisis berdasarkan klasifikasi ikon, indeks dan simbol. Selanjutnya, penulis akan mengelompokkan data tersebut dalam sebuah panel.
b. Pengolahan Data
Setelah melalui tahapan pengumpulan data, kemudian data tersebut diolah dengan cara memilih dan memisahkan tanda sesuai dengan tema penelitian. Penggolongan tanda ditelaah lebih lanjut dengan mengkaji bagian mana yang termasuk dalam sign/interpreter, interpretant dan object. Ini merupakan salah satu langkah dalam pendekatn semantik
c. Penyajian Data
Pada tahapan ini, data dideskripsikan dalam bentuk penulisan dengan disertai contoh gambar yang telah dipilah sebelumnya.
d. Analisis Data
Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan menggunakan metode analisis semiotik dengan berpatokan pada pemikiran C. S Peirce. Data ini kemudian dipilah lagi, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam Semiotika Pragmatik. Analisis akan mengacu pada gambar, teks dan kisah dalam Jogja in Comic. Dalam analisis ini, hubungan di antara tanda-tanda dengan interpreternya akan dikaji. Dalam analisis ini akan dibahas bagaimana mekanisme bekerjanye tanda dalam menghasilkan makna dalam karya komik serta bagaimana tanda merepresentasikan kondisi ruang publik perkotaan Kota Yogyakarta dalam Jogja in Comic akan dijawab.

