Model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Suatu model mempresentasikan secara abstrak ciri-ciri penting yang menghilangkan rincian komunikasi yang tidak perlu dalam dunia nyata. Model komunikasi ini selanjutnya sangat membantu proses komunikasi organisasi agar berjalan dengan efektif, sebab model komunikasi dapat membantu dan mencermati hambatan-hambatan komunikasi.
Model komunikasi organisasi yang dibangun Pimpinan Cabang HIMMAH Kota Medan Periode 2004-2007 menunjukkan model komunikasi satu arah. Model seperti ini dengan sendirinya mengakibatkan terjadinya miss communication yang berujung pada terjadinya miss understanding. Pada akhirnya, model komunikasi semacam ini berpengaruh besar pada kemunduran organisasi yang dialami oleh PC HIMMAH Kota Medan, Periode 2004-2007 khususnya.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Maslah
Himpunan Mahasiswa Al-Washliyah (HIMMAH) merupakan organisasi bagian yang lahir dan tumbuh dari induk organisasi Al-Jami’iyatul Washliyah (Al-Washliyah). Dalam perjalanannya, Al-Washliyah telah memiliki posisi yang baik sebagai organisasi masyarakat Islam yang juga tumbuh dan berkembang sebagai organisasi dakwah. Dibentuknya HIMMAH sebagai organisasi bagian Al-Washliyah, berangkat dari kesadaran bahwa Al-Washliyah membutuhkan kader-kader muda yang memiliki kualitas intelektual dari kalangan mahasiwa guna mencapai target dakwah yang sesuai dengan tuntunan zaman.
HIMMAH sebagai organisasi bagian Al-Washliyah kini telah tumbuh dan berkembang hampir mencapai usia setengah abad lamanya. HIMMAH sebagai organisasi intelektual berbasis mahasiswa juga telah mengukir sejarah dengan terlibat langsung pada perjuangan pergerakan nasional Indonesia. Sebagaimana disebutkan para ilmuan, bahwa mahasiswa merupakan agen perubahan dalam sebuah masyarakat, maka berdasarkan ungkapan ini, HIMMAH di Indonesia juga memiliki peran penting dalam rangka menciptakan perubahan masyarakat melalui dakwah ke arah yang lebih baik.
Ismed Batu Bara (2007:71) menyebutkan HIMMAH lahir di Kota Medan berdasarkan keputusan Kongres Gerakan Pemuda Al-Washliyah (GPA) VII/ VIII yang selanjutnya terwujud pada tanggal 30 November 1959. Catatan ini mengisyaratkan bahwa Kota Medan menjadi sangat penting terhadap latar belakang sejarah kelahiran HIMMAH. Namun melihat kenyataan saat ini, keberadaan HIMMAH di Kota Medan kurang mendapat tempat bagi segenap aktivis mahasiswa di Kota Medan. Hal ini ditandai dengan kurang populernya pergerakan HIMMAH dalam kancah pergerakan mahasiswa di Kota Medan. Bahkan di Kota Medan oragnisasi seperti HMI, KAMMI, PMII dan IMM lebih dikenal oleh mahasiswa daripada HIMMAH yang lahir di Kota Medan.
Menurut pengamatan sementara, penulis menyimpulkan bahwa HIMMAH di Kota Medan hampir kehilangan popularitas. Hal ini ditandai dengan sedikitnya mahasiswa yang bergabung ke dalam organisasi ini, bahkan mahasiswa yang sebelumnya tercatat sebagai kader IPA (Ikatan Putera-Puteri Al-Washliyah). Sebagaimana yang dituliskan seorang kader HIMMAH asal Kabupaten Asahan, Syahrul Nasution yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum HIMMAH Kabupaten Asahan, dalam proyek penerbitan buku Potret HIMMAH. Dalam buku tersebut, Syahrul Nasution (2007:342-343) menuliskan:
…tidak berlebihan kalau saat ini kita menyebutkan HIMMAH sebagai organisasi yang sedang berada pada kondisi yang sangat perlu mendapatkan perhatian dari para kader, simpatisan maupun keluarga besar Al-Washliyah. Bagaimana tidak, HIMMAH yang didirikan pada Mukatamar VII GPA, kini seakan sudah kehilangan “gregetnya” sebagai sebuah organisasi ekstra kampus.
Sebagai sebuah organisasi ekstra kampus, dimana dengan jumlah mahasiswa yang semakin banyak, maka memang sudah sepantasnya jumlah kader HIMMAH semakin bertambah disetiap daerah. Namun kenyataannya jumlah tersebut semakin mengecil. Pimpinan Komisariat HIMMAH yang seharusnya juga semakin banyak didirikan ditiap-tiap fakultas yang ada diperguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, justru semakin berkurang jumlahnya.
Catatan di atas yang ditulis oleh salah seorang kader HIMMAH menunjukkan bahwa HIMMAH telah dipandang “gagal” oleh kadernya sendiri. Kegagalan ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi kepemimpinan HIMMAH di Kota Medan, sebagai daerah tempat dimana HIMMAH dilahirkan. Padahal sebelumnya, HIMMAH sebagai organisasi berbasis kampus, dalam perjalanannya turut mengambil peranan aktif dalam kencah perkembangan nasional. Hal ini sebagaimana disebutkan Muhammad TWH, bahwa HIMMAH (1962-1966) bersama organisasi mahasiswa dan pemuda lainnya pernah mendukung pembentukan Badan Pendukung Soekarno (BPS). Pristiwa ini terjadi pada tahun 1964 (Ismed, 2007:75).
Disebutkan pula sebelum meletusnya G 30 S/ PKI pada tahun 1965, HIMMAH telah menjadi tim pemantau bersama TNI disetiap malam hari untuk melihat kemungkinan gerakan PKI di sekitar Kota Medan. Pada masa itu, beberapa kader HIMMAH yang terlibat dalam tim tersebut adalah Ahmad Mukhtar dan Ponirin Komisariat UNIVA, dan Arman Bey Siregar dari HIMMAH Sumatera Utara. Pada periode ini HIMMAH juga bergabung dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang berdiri pada 10 Oktober 1965 di Jakarta, dan dibentuk di Sumatera Utara pada November 1965 (Ismed, 2007:75).
Seluruh catatan di atas menunjukkan bahwa HIMMAH pernah memiliki popularitas di Kota Medan. Namun jika dilihat kondisi objektif saat ini, HIMMAH seolah-olah telah kehilangan popularitas tersebut, mengingat gaungnya kurang “berasa” di Kota Medan. Menurut hemat penulis, kegagalan tersebut berhubungan erat dengan kondisi kepemimpinan HIMMAH di Kota Medan khususnya, da daerah-daerah lain yang meliputi pimpinan wilayah dan pimpinan pusat pada umumnya.
Menurut prnulis, kondisi ini sangat dipengaruhi oleh faktor komunikasi organisasi yang selama ini dijalankan di dalam kepemimpinan HIMMAH yang tidak menutup kemungkinan berjalan kurang efektif. Hal ini dengan jelas terlihat dengan banyaknya mahasiswa yang berasal dari perguruan Al-Wahliyah, namun tidak turut bergabung di HIMMAH. Selain itu, sebagaimana disebutkan Onong Uchjana Effendy (2002:33) nahwa strategi komunikasi pada hakikatnya merupakan sebuah perencanaan dan manajemen komunikasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Karenanya, dalam organisasi strategi komunikasi yang diimplementasikan melalui model-model tertentu, sebagai upaya memanajemen komunikasi tersebut, sangat berpengaruh pada maju mundurnya sebuah organisasi. Kondisi ini menarik minat penulis untuk meneliti model komunikasi yang digunakan PC HIMAH Kota Medan periode 2004-2007 dalam membangun organisasi HIMMAH di Kota Medan.
B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah pada penelitian skripsi ini adalah:
1. Bagaimana model komunikasi yang dijalankan PC HIMMAH Kota Medan Periode 2004-2007 untuk membangun organisasi HIMMAH di Kota Medan?
2. Bagaimana hasil yang diperoleh dari model komunikasi yang dijalankan PC HIMMAH Kota Medan periode 2004-2007 terhadap kemajuan organisasi HIMMAH di Kota Medan?
3. Kendala-kendala komunikasi apa saja yang ditemukan PC HIMMAH Kota Medan periode 2004-2007 dalam membangun organisasi HIMMAH di Kota Medan?
C. Batasan Istilah
Agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami judul dan isi skripsi ini, penulis memberikan beberapa batasan istilah, yaitu:
Menurut Sereno dan Mortensen, suatu model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Suatu model mempresentasikan secara abstrak ciri-ciri penting yang menghilangkan rincian komunikasi yang tidak perlu dalam dunia nyata. Sedangkan B Aubrey Fisher mengatakan, model adalah yang analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsur, sifat, atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model. Model adalah gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan teori, atau dengan kata lain teori yang disederhanakan (Mulyana. 2005: 121).
Model komunikasi yang penulis maksud adalah model komunikasi organisasi yang digunakan PC HIMMAH Kota Medan periode 2004-2007 untuk membangun organisai HIMMAH di Kota Medan.
Organisasi adalah susunan dan aturan dari berbagai bagian (Poerwadarminta, 1976:688). Organisasi yang penulis maksud dalam skripsi ini adalah Pimpinan Cabang HIMMAH Kota Medan Periode 2004-2007.
Dengan demikian, secara umum yang dimaksud dengan penelitian skripsi ini adalah: Model Komunikasi Pimpinan Cabang HIMMAH Kota Medan dalam membangun organisasi di Kota Medan.
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Model komunikasi yang dijalankan PC HIMMAH Kota Medan Periode 2004-2007 untuk membangun organisasi HIMMAH di Kota Medan
2. Hasil yang diperoleh dari model komunikasi yang dijalankan PC HIMMAH Kota Medan periode 2004-2007 terhadap kemajuan organisasi HIMMAH di Kota Medan.
3. Kendala-kendala komunikasi yang ditemukan PC HIMMAH Kota Medan periode 2004-2007 dalam membangun organisasi HIMMAH di Kota Medan.
Diharapkan penelitian skripsi ini berguna untuk.
1. Pimpinan Cabang HIMMAH Kota Medan sebagai bahan masukan dalam menjalan organisai ke arah yang lebih baik.
2. Pengkajian keilmuan, khususnya dibidang komunikasi organisasi bagi mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Sumatera Utara.
3. Sumbangan bagi pengkajian keilmuan, terutama bagi mahasiswa Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi Penyiran Islam (KPI).
E. Sistematika Pembahasan
Bab I : Pendahuluan, dengan pemaparan Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Batasan Istilah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, dan Sistematika Pembahasan.
Bab II : Landasan teoritis dengan pemaparan pengertian komunikasi, pengertian organisasi, pengertian komunikasi organisasi, dan model-model komunikasi
Bab III : Metodologi Penelitian, dengan pemaparan Jenis Penelitian, , Sumber data, Alat Pengumpulan Data, Pengukuran Keabsahan Data, dan Tekhnik Analisis Data.
Bab IV : Merupakan bab hasil, yang memaparkan temuan-temuan dan berbagai analisis dari penilitian dalam penulisan skripsi ini
Bab V : Sebagai bab penutup, yang memaparlan penarikan Kesimpulan dan Saran sebagai bagian akhir penulisan skripsi ini.

