KONSTRUKSI REALITAS PADA MEDIA CETAK

abstraks: 

Proses konstruksi realitas yang dilakukan oleh media merupakan usaha “menceritakan” (konseptualisasi) sebuah peristiwa atau keadaan. Realitas tersebut tidak serta merta melahirkan berita, melainkan melalui proses interaksi antara penulis berita, atau wartawan, dengan fakta. Penelitian ini menganalisis pemberitaan Harian Kompas dan Republika menggunakan metode analisis framing dari model Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki, yang meneliti unsur-unsur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris dari sebuah berita. Konstruktivisme memandang realitas sebagai sesuatu yang ada dalam beragam bentuk konstruksi mental yang didasarkan pada pengalaman sosial, bersikap lokal dan spesifik, serta tergantung pada pihak yang melakukannya. Pembuatan berita pada dasarnya merupakan proses penyusunan atau konstruksi kumpulan realitas sehingga menimbulkan wacana yang bermakna.
Tujuan utama penelitian ini adalah mengetahui bingkai pemberitaan Kompas dan Republika mengenai sengketa nuklir Iran. Hasil akhir penelitian ini menunjukkan bahwa Kompas dan Republika memiliki bingkai yang memiliki kecenderungan keberpihakan yang berbeda dalam memberitakan sengketa nuklir Iran.

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam beberapa bulan terakhir ini, sengketa nuklir Iran menjadi berita hangat di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Masalah ini dimulai ketika Iran memutuskan untuk melanjutkan kembali program pengayaan uranium, dengan alasan penggunaan program nuklir untuk kepentingan sipil yaitu memperoleh tenaga listrik. Namun usaha ini justru memicu tuduhan mengaktifkan program senjata nuklir independen dari Amerika Serikat dan Uni Eropa, sebagai suatu bentuk pelanggaran dari Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT).
NPT merupakan suatu bentuk perjanjian pembatasan penyebaran senjata nuklir yang ditandatangani oleh 188 negara, termasuk Iran. Iran didesak untuk membatalkan program nuklirnya, dengan ancaman sanksi ekonomi dan diseret ke Dewan Keamanan PBB. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan bahwa dunia tidak dapat mencegah Iran dari pengembangan ilmiah-nya. “Republik Islam, yang berpegang pada prinsip dan tidak takut pada pertikaian yang muncul, akan melanjutkan langkahnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, dan dunia tidak dapat mempengaruhi tekad bangsa Iran” (Republika, 19/1/2006). Ketika pada akhirnya Iran benar-benar diajukan ke DK PBB, Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, berkomentar keras. “Mereka (negara-negara Barat) tahu, mereka tak mampu memberi tamparan selemah apapun terhadap bangsa Iran karena mereka membutuhkan Iran. Mereka ringkih dan karenanya akan lebih menderita” (Kompas, 10/3/2006, dikutip dari kantor berita mahasiswa, ISNA). Ahmadinejad kembali menegaskan bahwa Iran akan melanjutkan program nuklirnya. Selama ini Iran telah berusaha meyakinkan dunia bahwa program nuklirnya sepenuhnya bertujuan damai, yaitu untuk memproduksi listrik bagi rakyat sipil.
Berikut ini adalah kronologi kasus nuklir Iran yang dimulai empat tahun lalu, dikutip dari website Deutsche Welle (www.dw-world.de) dengan beberapa perubahan.
1. Bulan Agustus 2002, kelompok oposisi di luar negeri melaporkan tentang instalasi pengayaan uranium di Natanz dan reaktor air berat nuklir di Arak. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) kemudian memeriksa kedua instalasi tersebut dan menyimpulkan bahwa Iran melanggar perjanjian non-proliferasi nuklir. Pengayaan uranium itu dinilai bukan untuk tujuan produksi energi, mengingat cadangan minyak dan gas bumi Iran sangat besar.
2. Iran dituntut untuk membeberkan program nuklirnya secara lengkap. Perwakilan dari Jerman, Inggris dan Perancis, yang kerap disebut European Union-3 (EU-3) atau tiga besar Uni Eropa, melangsungkan perundingan dengan Iran agar menghentikan program nuklirnya. Di bawah tekanan internasional, pada Oktober 2003 Iran akhirnya mengumumkan kesediaan untuk menghentikan sepenuhnya program pengayaan uranium. Dua bulan kemudian, Iran menandatangani protokol tambahan perjanjian non-proliferasi dan menyetujui inspeksi mendadak terhadap instalasi nuklir-nuklirnya.
3. Bulan Juni 2004 Iran melanggar batas waktu yang ditetapkan IAEA untuk menyerahkan semua rencana dan informasi mengenai program nuklir negara itu. Kemudian pada saat yang bersamaan, Iran mengumumkan akan melanjutkan produksi mesin sentrifugal gas yang bisa dipakai untuk memperkaya uranium. Sejak itulah ketegangan antara Iran dan Barat meningkat. Janji untuk menghentikan program nuklirnya dipertanyakan IAEA, yang selanjutnya memutuskan sebuah resolusi yang menyerukan Iran untuk menghentikan semua kegiatan pengayaan uranium.
4. Teheran menyampaikan jawaban tegas pada Februari 2005. Presiden Iran ketika itu, Mohammad Khatami menyatakan, pemerintah Iran tidak akan menghentikan program nuklir. Perundingan lanjutan antara Uni Eropa dan Teheran berlalu tanpa hasil. Saat itu, Iran berada di tengah-tengah masa kampanye pemilu. Bulan Juni, Walikota Teheran Mahmud Ahmadinejad dari kubu ultra kanan memenangkan pemilihan presiden, dan menegaskan akan melanjutkan kebijakan pendahulunya Khatami menyangkut program nuklir.
5. Pada Agustus 2005, instalasi nuklir di Isfahan kembali bekerja. Di fasilitas nuklir tersebut, bijih uranium dikonversi menjadi gas hexafluoride uranium, satu tingkat menuju pengayaan uranium. Uni Eropa sempat menawarkan bantuan ekonomi, jika Iran mau melepaskan ambisi nuklirnya, namun Teheran menolak. Uni Eropa dan Amerika Serikat lalu memperluas tawaran kompromi, Iran boleh melakukan pengayaan uranium, di Rusia. Tawaran ini pun ditolak Teheran. Tetapi disepakati, perundingan mengenai hal itu akan dilanjutkan kembali pertengahan Februari.
6. Ketika Iran melepas segel IAEA di instalasi Isfahan tanggal 10 Januari 2006 dan melanjutkan penelitian nuklir, Uni Eropa mengumumkan perundingan dengan Iran berakhir. Uni Eropa mendesak agar Dewan Keamanan PBB dilibatkan. Amerika Serikat, melalui juru bicara Gedung Putih Scott McClellan, mengatakan bahwa jika Iran terus bersikap keras kepala mengenai masalah nuklir ini, maka tidak ada jalan lain kecuali Dewan Keamanan PBB. Hingga saat ini AS memang tidak berencana menyerang Iran. Namun, opsi pengerahan kekuatan militer sama sekali tidak disingkirkan.
7. Tanggal 30 Januari 2006, para menteri luar negeri dari kelima anggota tetap Dewan Kemanan dan Jerman, menyepakati posisi bersama menghadapi program nuklir Iran. Rusia dan Cina menyatakan setuju melaporkan sengketa tersebut ke Dewan Keamanan PBB, apabila diperlukan.
8. Pada tanggal 4 Februari 2006 sidang Dewan Gubernur IAEA setuju membawa kasus Iran ke Dewan Keamanan. Resolusi IAEA tersebut disepakati oleh 275 negara. Tiga negara menyatakan tidak setuju dan lima negara, termasuk Indonesia, abstain. Resolusi tersebut masih membuka kemungkinan perundingan dengan Iran sebelum masalah tersebut dibahas dalam sidang Dewan Keamanan.

Media massa Indonesia, memberikan porsi yang cukup besar dalam memberitakan sengketa nuklir Iran ini karena Indonesia dan Iran memiliki hubungan yang erat. Selain saling memiliki perwakilan diplomatik, keduanya memiliki kesamaan dalam hal keislamannya sehingga selanjutnya mempengaruhi pandangan politik mereka mengenai Palestina dan Irak. Indonesia dan Iran menentang agresi Israel atas Irak dan invasi Amerika Serikat atas Iran. Khusus dalam hal nuklir, Menteri Luar Negeri RI, Hassan Wirajuda, menyatakan bahwa Indonesia sangat bangga dengan pencapaian Iran di dunia sains dan industri, khususnya dalam teknologi nuklir. “Kami selalu menekankan bahwa anggota NPT berhak atas penggunaan pemanfaatan teknologi nuklir secara damai. Menuduh sebuah negara memiliki niat yang mencurigakan atas hal itu tidak bisa diterima” (Islamic Republic News Agency, 26/1/2006).

Dua media cetak memberikan pandangan yang cukup berbeda mengenai hal ini. Harian Kompas yang dikenal dengan visi humanisme-nya mengupas isu nuklir Iran dari sisi negara Barat dan memandang Iran sebagai pemicu masalah dengan mengetengahkan judul-judul berita “Iran Tangguhkan Pembicaraan Dengan Rusia”, serta “Usulan Rusia Diwacanakan Lagi” dengan sub-judul “Efektivitas Sanksi PBB atas Iran Diragukan”. Sementara itu, harian Republika yang dikenal dengan Pers Islami-nya berkaitan dengan dasar pendirian media ini oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), memilih untuk menempatkan diri di posisi kaum muslim dengan menganggap Iran sebagai pihak yang tertindas, menyajikan berita-berita dengan judul “AS Dikabarkan Akan Serang Iran” dan “Terkait Isu Nuklir Iran: Rusia Siap Abstain”.

Dari kumpulan judul-judul ini, pandangan kedua media cetak mengenai isu riset nuklir Iran tampak menarik untuk dikaji. Kompas dengan visi humanisme-nya, memuat berita-berita yang berisi “bujukan” agar Iran mengikuti keinginan negara-negara Barat, yaitu menghentikan program nuklirnya untuk mempertahankan kedamaian dunia. Sebaliknya, Republika memuat berita-berita yang berisi “dukungan” agar Iran mempertahankan keputusannya untuk memulai kembali program nuklir mereka.

Pamela J. Shoemaker dan Stephen Reese dalam Syahputra (2006:53) menyebutkan bahwa konstruksi berita pada dasarnya merupakan sebuah kesatuan informasi verbal dan visual yang didistribusikan secara kuantitatif dan kualitatif di dalam content media. Sisi kuantitatif dapat dilihat melalui frekuensi kemunculan berita tersebut, jumlah istilah atau pemakaian istilah dalam berita, serta durasi berita tersebut. Sisi kualitatif dilihat dari persepsi khalayak terhadap berita. Namun secara umum, segi kualitatif ini biasanya memperhatikan unsur objektivitas (melihat realitas media dan realitas sosial) dan faktualitas (muatan kebenaran berdasarkan fakta relevan). Kedua unsur ini sering mendapat sorotan karena proses penyusunan berita itu sendiri menerima banyak pengaruh dari berbagai pihak. Pihak media memiliki ideologi yang ingin mereka refleksikan melalui berita-berita yang mereka sampaikan, yang ditunjukkan dalam cara penulisan berita, bentuk penceritaan suatu peristiwa, atau penentuan fakta mana yang harus ditekankan atau justru dihilangkan. Realitas yang dikonstruksikan oleh media sering kali diadopsi oleh masyarakat menjadi realitas sosial yang ada, sehingga unsur objektivitas sedikit dipertanyakan akibat ada unsur kepentingan.

Untuk mengetahui proses konstruksi realitas yang dilakukan oleh media, dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, di antaranya analisis wacana, semiotika, dan analisis framing. Analisis framing merupakan metode yang paling sesuai karena dalam perspektif komunikasi, analisis ini dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti, atau lebih diingat untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai dengan perspektifnya. Dengan kata lain, framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi dan menulis berita (Sobur, 2002:162). Kedua aspek penting framing tersebut, memilih dan menuliskan fakta, membuat kesatuan yang utuh dalam berita yang memperlihatkan bagaimana wartawan menyusun fakta secara skematis (sintaksis), mengisahkan fakta tersebut sehingga berita menyampaikan informasi secara lengkap (skrip), menuliskan fakta menggunakan serangkaian paragraf yang berkorelasi (tematik), dan menekankan fakta yang menunjukkan sisi berita yang akan ditampilkan (retoris).

Harian Kompas dan Republika merupakan media cetak dengan gaya pemberitaan yang berbeda, sesuai dengan frame masing-masing. Gitlin (Eriyanto, 2002:69) menyatakan bahwa bingkai media adalah pola yang selalu ada dalam bentuk kognisi, interpretasi, dan presentasi dari seleksi, penekanan, atau pengucilan. Bingkai media diperlihatkan melalui konsepsi dan skema interpretasi wartawan dalam menyusun, mengisahkan, menulis, dan menekankan fakta dari suatu peristiwa atau isu tertentu. Kompas terkesan berusaha menghindari konflik dan terus mengupayakan penyelesaian dari suatu masalah secara damai sesuai dengan falsafah inti harian ini yaitu humanisme transendental, dan Republika, dengan Pers Islami-nya, memposisikan diri pada pihak yang lemah atau masyarakat kecil, khususnya komunitas muslim. Kedua harian ini memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi realitas mengenai nuklir Iran di benak khalayak. Menurut Riset Media Nielsen, Kompas merupakan koran nasional dengan tiras 507 ribu eksemplar dan dibaca oleh 1,8 juta orang. Harian ini menempati urutan kedua terbesar secara nasional dengan tiras 2,2 juta eksemplar setelah Pos Kota, dengan keunggulan segmentasi umum dan berita-berita yang kerap ditulis secara mendalam (Cakram On Newspaper 2005). Republika sendiri mengalami kenaikan tiras dari 105 ribu menjadi 202 ribu eksemplar setelah memberikan warna global pada isi tulisannya, bersinergi dengan The New York Times (AS) dan New Strait Times (Malaysia). Selain itu, identitas Islami Republika merupakan daya tarik kuat bagi mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam.

Melalui penelitian ini, peneliti memandang perlu untuk mengkaji lebih lanjut karakter pemberitaan harian Kompas dan Republika mengenai sengketa nuklir Iran jika dilihat dari proses pembingkaian masalah ini pada artikel-artikelnya.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan pada latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan diteliti adalah “Bagaimana bingkai pemberitaan harian Kompas dan Republika mengenai sengketa nuklir Iran?”

1.3 Identifikasi Masalah
1. Bagaimana struktur sintaksis artikel pemberitaan sengketa nuklir Iran di harian Kompas dan Republika?
2. Bagaimana struktur skrip artikel pemberitaan sengketa nuklir Iran di harian Kompas dan Republika?
3. Bagaimana struktur tematik artikel pemberitaan sengketa nuklir Iran di harian Kompas dan Republika?
4. Bagaimana struktur retoris artikel pemberitaan sengketa nuklir Iran di harian Kompas dan Republika?
5. Bagaimana perbedaan proses framing harian Kompas dan Republika mengenai sengketa nuklir Iran?

1.4 Tujuan Penelitian
• Mengetahui struktur sintaksis artikel pemberitaan sengketa nuklir Iran di harian Kompas dan Republika.
• Mengetahui struktur skrip artikel pemberitaan sengketa nuklir Iran di harian Kompas dan Republika.
• Mengetahui struktur tematik artikel pemberitaan sengketa nuklir Iran di harian Kompas dan Republika.
• Mengetahui struktur retoris artikel pemberitaan sengketa nuklir Iran di harian Kompas dan Republika.
• Mengetahui perbedaan proses framing harian Kompas dan Republika mengenai sengketa nuklir Iran.

1.5 Kegunaan Penelitian
a. Teoritis
Memperkaya khazanah ilmu komunikasi khususnya bidang manajemen komunikasi dan media massa untuk memperlihatkan karakter pemberitaan media massa, dalam hal ini media cetak.
•Memberikan gambaran mengenai bingkai media (news frame) dari harian umum Kompas dan Republika ketika memberitakan sebuah peristiwa, khususnya sengketa nuklir Iran.

b. Praktis
• Memberikan kontribusi pemikiran bagi profesional media tentang bagaimana mengkonstruksi sebuah pesan dengan idealisme tertentu, sehingga dapat menghasilkan dampak yang diinginkan dari khalayak.
• Memberikan pengetahuan kepada khalayak media tentang proses framing yang dilakukan oleh media massa.

1.6 Kerangka Pemikiran
Dari sisi konstruksionis, media, wartawan, dan berita memiliki keterkaitan sebagai berikut:
a. Fakta atau peristiwa adalah hasil konstruksi karena melibatkan sudut pandang tertentu dari wartawan.
b. Media merupakan agen konstruksi karena dia bukan saluran yang bebas.
c. Berita bukan refleksi dari realitas, melainkan konstruksi dari realitas tersebut.
d. Hasil dari konstruksi tersebut, berita bersifat subjektif.
e. Wartawan merupakan agen konstruksi realitas karena tidak dapat menyembunyikan rasa keberpihakan, etika, dan pilihan moral dalam menyusun berita tersebut, secara intrinsik.

Peter L. Berger dalam Eriyanto (2002:15) menyampaikan pendapat yang menarik tentang konstruksi sosial atas realitas. Baginya, realitas tidak dibentuk secara ilmiah, atau diturunkan oleh Tuhan, tetapi dibentuk dan dikonstruksi. Hasilnya adalah wajah plural dari realitas itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh perbedaan tiap individu dalam mengonstruksi realitas. Tiap orang memiliki frame of reference dan field of experience yang berbeda-beda, sehingga mereka secara bebas memaknai suatu hal dan mengonstruksi realitas yang mereka inginkan berdasarkan kerangka berpikir masing-masing. Konstruksi realitas yang dihasilkan memiliki dasar tertentu yang menyebabkan mereka meyakini kebenaran dari kostruksi tersebut. Berbagai konstruksi realitas yang dibuat individu menghasilkan konstruksi sosial atas realitas tertentu.

Selain itu, konstruksi sosial bersifat dinamis. Di dalamnya terjadi proses dialektis antara realitas subjektif dan realitas objektif. Realitas subjektif berkaitan dengan interpretasi dan pemaknaan tiap individu terhadap suatu objek. Hasil dari relasi antara objek dan individu menghasilkan penafsiran, yang berbeda-beda berdasarkan beraneka ragam latar belakang individu tersebut. Dimensi objektif dari realitas berkaitan dengan faktor-faktor eksternal yang ada di luar objek, seperti norma, aturan, atau stimulan tertentu yang menggerakkan objek.

Proses konstruksi realitas yang dilakukan oleh media merupakan usaha “menceritakan” (konseptualisasi) sebuah peristiwa atau keadaan (Syahputra, 2006:73). Realitas tersebut tidak serta merta melahirkan berita, melainkan melalui proses interaksi antara penulis berita, atau wartawan, dengan fakta. Terjadi proses dialektika antara apa yang dipikirkan dan apa yang dilihat oleh wartawan tersebut, sehingga isi berita merupakan realitas yang telah mengalami proses konstruksi kembali. Pembuatan berita pada dasarnya merupakan proses penyusunan atau konstruksi kumpulan realitas sehingga menimbulkan wacana yang bermakna.
Indikator dari berita menurut Sam Abede Pareno (2003:6) adalah sesuatu yang:
a. Diketahui, dilihat, dan dilaporkan wartawan kepada publik.
b. Mengandung fakta yang diketahui dan dan disampaikan wartawan kepada publik.
c. Sifatnya baru atau mutakhir.
d. Disajikan secara benar kepada publik.
e. Tidak memihak atau netral.
f. Tidak melibatkan opini.
g. Penting bagi khalayak.
h. Menarik perhatian publik
Beberapa poin dari indikator tersebut dapat dipertanyakan. Dengan posisinya sebagai komoditas media cetak, berita mengalami proses penulisan, penyusunan, dan penyajian yang dipengaruhi oleh berbagai idealisme, baik dari institusi media maupun wartawan yang menulisnya.

Framing merupakan cara-cara media dalam mengkonstruksi fakta. Menurut Sobur (2002), framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan atau dihilangkan, serta hendak dibawa ke mana berita tersebut. Karenanya, berita menjadi manipulatif dan bertujuan mendominasi, keberadaan subjek sebagai sesuatu yang legitimate, objektif, alami, wajar, atau tak terelakkan.

Aditjondro (dalam Eriyanto, 2002:165-166) menyatakan bahwa proses framing tidak hanya melibatkan para pekerja pers (reporter, redaktur, editor, sampai bagian desain/kreatif), tetapi juga pihak-pihak yang bersengketa dalam kasus-kasus tertentu yang masing-masing berusaha menampilkan sisi-sisi informasi yang ingin ditonjolkannya (sambil menyembunyikan sisi-sisi lain), dan mengaksentuasikan kesahihan pandangannya dengan mengacu pada pengetahuan, ketidaktahuan, dan perasaan para pembaca. Proses framing menjadikan media massa sebagai arena di mana informasi tentang masalah tertentu diperebutkan dalam suatu perang simbolik antara berbagai pihak yang sama-sama menginginkan pandangannya didukung pembaca.

Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki (Eriyanto, 2002:253) menyatakan bahwa proses framing itu sendiri melibatkan dua konsep penting dalam diri individu. Pertama, konsep psikologi yang menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi dalam dirinya. Kedua, konsep sosiologi yang melihat pada bagaimana seseorang seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas di luar dirinya. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan pemaknaan atas suatu realitas oleh tiap individu karena dipengaruhi oleh label yang telah mereka lekatkan pada realitas tersebut melalui pengalaman sosial tadi. Karena itu, dalam menulis sebuah berita, wartawan tidak hanya menggunakan konsep pemikirannya sendiri. Dia akan melibatkan nilai-nilai sosial yang ada di sekitarnya, seperti khalayak dan proses produksi berita itu sendiri. Wartawan menulis berita agar dapat dinikmati dan mudah dipahami oleh khalayak, serta dipengaruhi pula oleh standar kerja, profesionalitas, dan termasuk di dalamnya pengaruh dari media tempatnya bernaung.
Setiap berita memiliki bingkai yang menjadi pusat dari struktur ide. Dari bingkai inilah semua fakta dalam berita ditulis dan dihubungkan sedemikian rupa menggunakan elemen-elemen berita seperti headline, kutipan, latar informasi, atau pemakaian istilah dan kalimat tertentu. Pendekatan Pan dan Kosicki memiliki empat struktur besar. Pertama, struktur sintaksis yang memperlihatkan bagaimana wartawan menyusun fakta ke dalam bentuk berita. Kedua, struktur skrip yang menunjukkan cara wartawan menceritakan fakta dari suatu peristiwa atau isu di dalam berita yang ditulisnya. Ketiga, struktur tematik yang berkaitan dengan bagaimana wartawan melibatkan perspektifnya atas peristiwa atau isu dengan memperhatikan penggunaan kalimat atau proposisi dalam berita secara keseluruhan. Keempat, struktur retoris yang berhubungan dengan bagaimana wartawan menekankan arti tertentu dari peristiwa atau isu kepada khalayak. Struktur-struktur ini mampu menunjukkan keberpihakan wartawan atas suatu peristiwa atau isu, yang dengan sendirinya juga menunjukkan bingkai dari media tempatnya bekerja.

1.7 Pengertian Istilah
• Konstruksi
Upaya penyusunan beberapa peristiwa, keadaan, atau bend secara sistematis menjadi sesuatu yang bermakna.
(Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa, 2004)
• Realitas
Peristiwa, keadaan, benda.
(Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa, 2004)
• Konstruksi Realitas
Pengaturan kata-kata membentuk frase, klausa, atau kalimat yang bermakna untuk menjelaskan atau menggambarkan suatu kualitas atau keadaan aktual, benar, atau nyata.
• Konstruksi Realitas pada Media Cetak
Pengaturan kata-kata membentuk frase, klausa, atau kalimat yang bermakna untuk menjelaskan atau menggambarkan suatu kualitas atau keadaan aktual, benar, atau nyata dan dipublikasikan di media cetak.

• Framing
Strategi konstruksi dan memproses berita; perangkat kognisi yang digunakan dalam mengkode informasi, menafsirkan peristiwa, dan dihubungkan dengan rutinitas dan konvensi pembentukan berita.
(Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki, dalam Eriyanto: Analisis Framing, 2002)
• Analisis Framing
Analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok, atau apa saja) dibingkai oleh media.
(Eriyanto, Analisis Framing, 2002)
• Berita
Informasi aktual tentang fakta-fakta dan opini yang menarik perhatian orang.
(Kusumaningrat, Jurnalistik: Teori dan Praktik, 2005)
• Fakta
Hal atau peristiwa yang benar-benar terjadi, yang diinderai atau dialami oleh seseorang atau sejumlah orang.
(Onong Uchjana E., Kamus Komunikasi, 1989)
• Sengketa
Perselisihan.
(Yuwono dan Abdullah, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Praktis, 1994)
1.8 Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan analisis framing, berdasarkan model framing yang dibuat oleh Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.

Paradigma penelitian ini adalah paradigma konstruksionis, yang sering disebut sebagai paradigma produksi dan pertukaran makna. Paradigma ini memandang komunikasi sebagai suatu proses produksi dan pertukaran makna. Dua hal yang menjadi karakteristik penting dari paradigma ini adalah politik pemaknaan dan proses seseorang membuat gambaran tentang realitas dan komunikasi sebagai sebuah kegiatan yang dinamis (Eriyanto, 2002:40). Paradigma konstruksionis memperhatikan interaksi kedua pihak, komunikator dan komunikan, untuk menciptakan pemaknaan atau tafsiran dari suatu pesan.

Menurut Eriyanto (2002), penelitian yang menggunakan paradigma konstruksionis memiliki beberapa karakteristik, yaitu:
a. Penelitian bertujuan untuk menentukan realitas yang terjadi sebagai hasil dari interaksi antara peneliti dan objek penelitian.
b. Peneliti menempatkan diri sebagai fasilitator dari keberagaman pemaknaan yang ada, dengan melibatkan dirinya dengan realitas yang diteliti.
c. Makna yang dihasilkan dari suatu teks merupakan hasil negosiasi antara teks tersebut dengan peneliti.
d. Pemahaman tentang suatu realitas, atau hasil penelitian, merupakan hasil interaksi antara peneliti dan objek penelitian (bersifat transaksionalis).
e. Subjektivitas peneliti menjadi dasar dari proses analisis.
f. Empati dan interaksi dialektis antara peneliti dan teks sangat ditekankan dalam rekonstruksi realitas yang diteliti.
g. Kualitas penelitian dilihat dari sejauh mana peneliti mampu menyerap dan mengerti bagaimana individu atau objek mengkonstruksi realitas.

Kaitan karakteristik konstruksionis dengan media dan berita adalah:
• Perspektif konstruksionis memandang fakta sebagai suatu konstruksi realitas, kebenarannya bersifat relatif, dan berlaku sesuai konteks tertentu.
• Berita bukan cerminan atau refleksi dari realitas.
• Berita bersifat subjektif, perspektif dan pertimbangan wartawan dilibatkan.
• Wartawan merupakan jembatan bagi keragaman subjektifitas pelaku sosial.
• Nilai, etika, dan keberpihakan wartawan tidak dapat dipisahkan dari proses peliputan dan pelaporan suatu peristiwa.
• Media merupakan agen konstruksi pesan.
• Khalayak memiliki penafsiran sendiri yang mungkin saja berbeda dari pembuat berita.

1.8.1 Unit Observasi dan Unit Analisis
a. Unit Observasi
Unit observasi dari penelitian ini adalah berita-berita yang dimuat di harian Kompas dan Republika, yang berkaitan dengan sengketa nuklir Iran, dengan proses pengambilan sampel menggunakan metode sampling nonprobability, yaitu purposive sampling (sampling bertujuan). Metode ini digunakan untuk menentukan berita-berita mana yang dapat dijadikan sampel sesuai dengan tujuan penelitian. Berita-berita yang menjadi sampel penelitian ini adalah berita-berita mengenai sengketa nuklir Iran yang dimuat di harian Kompas dan Republika pada periode Januari-Mei 2006, yang ditunjukkan oleh tabel berikut.

Tabel 1.1
Sampel Penelitian
No. Kompas Republika
1. Iran Jalan Terus (edisi 15 Januari 2006) Iran Buka Segel IAEA (edisi 11 Januari 2006)
2. Teheran Tetap Patuh pada NPT (edisi 13 Februari 2006) AS Dikabarkan akan Serang Iran (edisi 13 Februari 2006)
3. Khamenei Dukung Dialog (edisi 23 Maret 2006) Khamenei Dukung Dialog Iran dan AS (edisi 23 Maret 2006)
4. AS Desak PBB Tindak Tegas Iran (edisi 15 April 2006) AS Kembali Ancam Iran (edisi 15 April 2006)
5. Iran Pilih “Konfrontasi” (edisi 8 Mei 2006) Iran Tolak Campur Tangan Dewan Keamanan PBB (edisi 8 Mei 2006)
6. Iran Ancam Gunakan Senjata Minyak (edisi 5 Juni 2006) Iran Ancam Stop Kirim Minyak (edisi 5 Juni 2006)

b. Unit Analisis
Unit analisis dari penelitian ini adalah:
• Struktur sintaksis artikel (bagaimana wartawan menyusun fakta).
• Struktur skrip artikel (bagaimana wartawan mengisahkan fakta).
• Struktur tematik artikel (bagaimana wartawan menulis fakta).
• Struktur retoris artikel (bagaimana wartawan menekankan fakta).
1.8.2 Teknik Pengumpulan Data
a. Observasi
Untuk memperoleh data primer penelitian, observasi dilakukan terhadap berita-berita yang berkaitan dengan sengketa nuklir Iran di harian Kompas dan Republika pada periode Januari-Juni 2006. Berita-berita mengenai isu terkait yang dimuat sebelum dan sesudah periode tersebut dijadikan data sekunder sebagai tambahan wawasan mengenai isu tersebut.

b. Studi Pustaka
Data yang berkaitan dengan landasan teoritis penelitian ini diperoleh dari sumber-sumber referensi, berupa buku, diktat, dan catatan lainnya yang relevan dengan penelitian ini.

c. Wawancara
Wawancara dilakukan terhadap wartawan harian Kompas dan Republika yang menyusun berita-berita mengenai sengketa nuklir Iran. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan pandangan mendalam mengenai proses penulisan dan penyusunan berita mengenai kasus ini.

1.8.3 Teknik Analisis Data
Analisis dilakukan dengan berpatokan pada kerangka framing yang disusun oleh Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki (Eriyanto, 2002:256). Kerangka tersebut dapat digambarkan dalam tabel berikut.

Tabel 1.2
Kerangka Framing Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki

STRUKTUR PERANGKAT
FRAMING UNIT YANG DIAMATI
SINTAKSIS
(Cara wartawan menyusun fakta) Skema berita Headline, lead, latar informasi, kutipan, sumber, pernyataan, penutup.
SKRIP
(Cara wartawan mengisahkan fakta) Kelengkapan berita 5W + 1H
TEMATIK
(Cara wartawan menulis fakta) • Detail
• Maksud kalimat, hubungan
• Nominalisasi antarkalimat
• Koherensi
• Bentuk kalimat
• Kata ganti Paragraf, proposisi, kalimat, hubungan antarkalimat.
RETORIS
(Cara wartawan menekankan fakta) • Leksikon
• Grafis
• Metafora
• Pengandaian Kata, idiom, gambar/foto, grafik.

(Sumber: Eriyanto, Analisis Framing. 2002:256)

Penjelasan struktur yang dianalisis:
a. Sintaksis
Secara umum, sintaksis adalah susunan kata atau frase dalam kalimat. Dalam wacana berita, sintaksis berkaitan dengan susunan bagian-bagian berita seperti headline, lead, episode, latar dan penutup. Elemen sintaksis memberi gambaran bagaimana wartawan memaknai peristiwa dan hendak ke mana berita akan dibawa.
b. Skrip
Skrip menunjukkan konstruksi berita, bagaimana cara memahami suatu berita dengan cara tertentu dengan menyusun bagian-bagiannya dengan cara tertentu pula. Skrip memberikan tekanan mana yang didahulukan dan mana yang disembunyikan.
c. Tematik
Struktur ini diamati dari bagaimana peristiwa itu diungkapkan oleh wartawan, bagaimana fakta ditulis. Hal ini berkaitan dengan koherensi: jalinan antarkata, proposisi, atau kalimat. Koherensi sendiri ada tiga macam:
• Koherensi sebab-akibat
Proposisi atau kalimat yang satu dipandang sebagai sebab atau akibat dari proposisi atau kalimat lainnya.
• Koherensi penjelas
Proposisi atau kalimat yang saru menjelaskan proposisi atau kalimat lainnya, ditandai dengan pemakaian kata hubung “dan” atau “lalu”.
• Koherensi pembeda
Proposisi atau kalimat yang satu merupakan kebalikan atau lawan dari proposisi atau kalimat yang lainnya, ditandai dengan pemakaian kata hubung “dibandingkan” atau “sedangkan”.
d. Retoris
Struktur ini menggambarkan pilihan gaya atau kata yang dipilih wartawan untuk menekankan arti yang ingin ditonjolkan olehnya. Unsur-unsur yang digunakan antara lain:
• Leksikon
Pemilihan dan pemakaian kata-kata tertentu untuk menandai atau menggambarkan peristiwa.
• Grafis
Bagian tulisan yang dibuat lain dibanding bagian yang lainnya, seperti pemakaian huruf tebal, miring, atau ukuran huruf yang lebih besar. Termasuk di dalamnya penggunaan caption, grafik, gambar, tabel, dan lain-lain.


Untuk dapat melihat dan mendownload file skripsi lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Member Special dapat mendownload SELURUH file content yang ada di website ini. Daftarkan diri anda segera. UNLIMITED ACCESS

Google

PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI



Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuannyadi sini

Design by xactive -