ABSTRAK
HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN KATARAK
DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI KATARAK
DI RUANG WIJAYAKUSUMA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KOTA BANJAR
Oleh : R. GALUH FAZAR FIRDAUS
(xii+ 89 Halaman + Lampiran)
Latar Belakang : Di Indonesia hingga kini telah ada tiga juta orang yang buta
dengan penyebab kebutaan terbesar adalah katarak. Tiap tahun terdapat 210.000
kasus baru penderita buta katarak, sedangkan yang menjalani operasi katarak
hanya 70.000 kasus per tahun (Hutauruk, 2004).
Tujuan Penelitian : Tujuan umum, untuk mengetahui hubungan antara
pengetahuan pasien katarak dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi katarak
di Ruang Wijayakusuma Rumah Sakit Umum Daerah Kota Banjar. Tujuan
khusus, 1) Mengetahui pengetahuan pasien tentang penyakit katarak di Ruang
Wijayakusuma Rumah Sakit Umum Daerah Kota Banjar. 2) Mengetahui tingkat
kecemasan pasien pre operasi katarak di Ruang Wijayakusuma Rumah Sakit
Umum Daerah Kota Banjar. 3) Mengetahui hubungan antara pengetahuan pasien
katarak dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi katarak di Ruang
Wijayakusuma Rumah Sakit Umum Daerah Kota Banjar.
Metode Penelitian : Penelitian ini termasuk jenis Deskriptif Korelatif Kuantitatif
dengan pendekatan Cross Sectional. Analisa data yang digunakan adalah uji Chi
Square.
Kata Kunci : Pengetahuan, Tingkat Kecemasan, Operasi Katarak
Kepustakaan : 21 Referensi (1998 - 2008)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan adalah harga penting bagi kehidupan manusia, baik itu
kesehatan rohani ataupun kesehatan jasmani. Kesehatan rohani meliputi
kesehatan pikiran dan akal serta kesehatan mental manusia, sedangkan
kesehatan jasmani meliputi kesehatan tubuh, fisik, panca indera dan fungsinya
masing masing.
Mata merupakan indera yang paling penting dalam menerima informasi.
Sekitar 83 persen informasi diperoleh dari penglihatan, sedangkan sisanya
diperoleh dari indera yang lain, seperti pendengaran, penciuman, pengecapan
dan perabaan. Jadi sangat terbayang sekali, betapa terganggunya manusia bila
dia tidak memiliki fungsi indera yang satu ini. Namun kenyataan yang ada di
dunia malah menunjukan kemirisan. Tercatat hingga tahun 2000 lalu ada 45
juta orang di dunia yang menderita penyakit mata, dan grafik pertumbuhan
penyakit ini terus saja semakin menunjukan peningkatan per tahunnya
(Hutauruk, 2003).
Kebutaan adalah problema kesehatan masyarakat dan problema sosial
ekonomi yang serius bagi setiap negara, terutama negara berkembang tempat
dimana sembilan dari sepuluh tuna netra berada (Bruntland, 2008). Pada 2020,
diperkirakan penderita penyakit mata dan kebutaan meningkat dua kali lipat,
2
padahal 75 persen kebutaan di dunia dapat dicegah dan diobati. Studi yang
dilakukan Eye Disease Prevalence Research Group (2004) memperkirakan
pada tahun 2020 jumlah penderita penyakit mata dan kebutaan di dunia akan
mencapai 55 juta jiwa.
Katarak hingga kini masih dianggap sebagai salah satu penyebab paling
menakutkan dari kebutaan yang diderita orang di seluruh dunia. Hingga tahun
2003 lalu diperoleh data hampir 50 persen penyebab kebutaan di dunia
dikarenakan penyakit ini.
Prediksi yang diutarakan oleh Eye Disease Prevalence Research Group
(2004) menyebutkan penyakit mata dan kebutaan meningkat terutama bagi
mereka yang telah berumur di atas 65 tahun. Semakin tinggi usia, semakin
tinggi pula resiko kesehatan mata. WHO memiliki catatan mengejutkan
mengenai kondisi kebutaan di dunia, khususnya di negara berkembang. Saat ini
terdapat 45 juta penderita kebutaan di dunia, 60 persen diantaranya berada di
negara miskin atau berkembang. Ironisnya, Indonesia menjadi negara tertinggi
di Asia Tenggara dengan angka sebesar 1,5 persen, sedang dalam catatan
WHO, tingkat kebutaan di Indonesia berada di urutan ketiga dunia sebesar 1,47
persen. Tingginya angka kebutaan di Indonesia disebabkan usia harapan hidup
orang Indonesia semakin meningkat. Beberapa penyakit mata disebabkan
proses penuaan, artinya, semakin banyak jumlah penduduk usia tua, semakin
banyak pula penduduk yang berpotensi mengalami penyakit mata (Sitompul,
2008). Hingga kini, penyakit mata yang banyak ditemui di Indonesia adalah
3
katarak (0,8 %), glukoma (0,2 %), serta kelainan refraksi (0,14 %). Laporan
dari WHO menyebutkan bahwa hingga kini setiap detik ada satu penderita
kebutaan di dunia, sedangkan untuk anak-anak tiap satu menit ada satu anak
yang mengalami kebutaan. Di Indonesia sendiri hingga kini telah ada tiga juta
orang yang buta dengan penyebab kebutaan terbesar adalah katarak. Tiap tahun
terdapat 210.000 kasus baru penderita buta katarak, sedangkan yang menjalani
operasi katarak hanya 70.000 kasus per tahun (Hutauruk, 2004). Hal ini
dianggap sangat ironis, karena operasi untuk jenis penyakit ini sebenarnya
sudah sangat maju. Namun sayangnya kemampuan masyarakat untuk
memperoleh pelayanan kesehatan mengenai penyakit ini masih terasa sangat
rendah sehingga banyak orang tak mampu harus hidup dalam kebutaan.
Tingginya kasus kebutaan di Indonesia dibandingkan dengan negara lain
karena kurangnya perhatian masyarakat Indonesia terhadap kesehatan mata.
Di Kota Banjar, angka kejadian katarak masih sangat besar. Hal ini
dibuktikan oleh tingginya angka kunjungan pasien katarak ke Rumah Sakit
Umum Daerah Kota Banjar, dimana pada triwulan pertama tahun 2008 angka
kunjungan pasien katarak adalah 115 orang dari 501 pengunjung Poliklinik
Mata Rumah Sakit Umum Banjar, dan jumlah pasien yang di rawat inap di
Ruang Wijayakusuma dengan tindakan operasi katarak pada triwulan pertama
tahun 2008 ada 70 orang (Rekam Medik RSUD Kota Banjar 2008).
Kebutaan yang terjadi akibat gangguan katarak sebenarnya bukan
kebutaan yang permanen sebab dapat disembuhkan dengan melakukan operasi.
4
Tapi bila kasus kataraknya disertai dengan kelainan pada retina dan saraf
penglihatan, umumnya dokter spesialis mata tidak akan merekomendasikan.
Pelaksanaan operasi juga baru dapat dilakukan bila penderita telah mengalami
kehilangan penglihatan dan mengganggu aktivitas sehari-hari (Muchni, 2008).
Pada umumnya penderita katarak yang telah dipastikan untuk dilakukan
tindakan operasi akan mengalami guncangan psikologis, diantaranya yaitu
adanya kecemasan. Kecemasan merupakan respons individu terhadap suatu
keadaan yang tidak menyenangkan (Suliswati, 2005).
Sjamsuhidajat dan Jong (2004) mengatakan bahwa secara mental,
penderita harus dipersiapkan untuk menghadapi pembedahan karena selalu ada
rasa cemas atau takut terhadap penyuntikan, nyeri luka, anestesia, bahkan
terhadap kemungkinan cacat atau mati.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan dari tanggal 1 Mei 2008
sampai dengan 31 Mei 2008 didapatkan data jumlah penderita katarak yang
berkunjung ke Rumah Sakit Umum Daerah Kota Banjar sebanyak 41 orang
dan pasien rawat inap yang dilakukan tindakan operasi adalah sebanyak 25
orang. Setelah dilakukan wawancara langsung dengan setiap pasien katarak
didapatkan 24 orang pasien katarak yang akan dilakukan tindakan operasi tidak
mengetahui tentang penyakitnya dan tindakan operasi yang harus dilakukan
pada pasien katarak serta mengatakan takut dan cemas menghadapi operasi
katarak, sedangkan sisanya mengaku tahu tetapi pasrah pada keadaan dan siap
menghadapi operasi katarak. Hal ini menimbulkan masalah karena lebih dari
5
50 persen pasien katarak yang berobat dan akan dioperasi tidak mengetahui apa
itu penyakitnya, bagaimana pengobatannya dan tingkat kecemasan yang
berbeda dari setiap pasien yang mempunyai pengetahuan yang bervariasi.
Berdasarkan masalah yang timbul di atas penulis berinisiatif untuk
melakukan penelitian tentang hubungan antara pengetahuan pasien katarak
dengan tingkat kecemasan pre operasi katarak di Ruang Wijayakusuma Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Banjar. Masalah tersebut diambil karena penulis
merasa perlu untuk melakukan sebuah penelitian tentang hubungan
pengetahuan dengan kecemasan, mengingat pengetahuan dianggap penting
karena mendasari suatu persepsi, semakin luas pengetahuannya maka semakin
luas juga pandangan atau persepsinya. Sedangkan persepsi secara tidak
langsung mempunyai kaitan dengan kecemasan, dimana ketika seseorang
mempunyai sebuah persepsi, maka persepsi tersebut akan mempengaruhi
kepada pola pikirnya yang secara tidak langsung setelah melewati ranah-ranah
kognitif pengetahuan dapat menimbulkan kecemasan. Kecemasan perlu dikaji
sebelum dilakukan tindakan operasi karena manifestasi klinis dari respon
fisiologis cemas menyebabkan tidak normalnya fungsi fisiologis organ-organ
tubuh seperti sistem cardiovascular, sistem pernafasan, sistem gastrointestinal,
sistem neuromuscular, sistem urogenitalia, sistem endokrin, dan lain-lain.
6
B. Perumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan
masalah penelitian sebagai berikut :
"Apakah ada hubungan antara pengetahuan pasien katarak dengan
tingkat kecemasan pasien pre operasi katarak di Ruang Wijayakusuma Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Banjar ?"
C. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan pasien katarak dengan
tingkat kecemasan pasien pre operasi katarak di Ruang Wijayakusuma Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Banjar.
b. Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengetahuan pasien tentang penyakit katarak di Ruang
Wijayakusuma Rumah Sakit Umum Daerah Kota Banjar.
2. Mengetahui tingkat kecemasan pasien pre operasi katarak di Ruang
Wijayakusuma Rumah Sakit Umum Daerah Kota Banjar.
3. Menganalisa hubungan antara pengetahuan pasien katarak dengan
tingkat kecemasan pasien pre operasi katarak di Ruang Wijayakusuma
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Banjar.
7
D. Manfaat Penelitian
a. Bagi peneliti.
Menambah pengetahuan peneliti serta merupakan pengalaman
berharga dalam melakukan penelitian dan penulisan karya ilmiah tentang
hubungan antara pengetahuan pasien katarak dengan tingkat kecemasan
pasien pre operasi katarak.
b. Bagi almamater.
Sebagai masukan dalam rangka pengembangan ilmu dan sebagai
bahan referensi yang berguna bagi almamater, dosen dan mahasiswa
khususnya dalam kajian masalah penelitian serupa lebih lanjut tentang
hubungan antara pengetahuan pasien katarak dengan tingkat kecemasan
pasien pre operasi katarak.
c. Bagi Ruang Wijayakusuma Rumah Sakit Umum Daerah Kota Banjar.
Dapat menjadi sebuah wadah dan mediator bagi subjek penelitian
sehingga memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian tentang
hubungan antara pengetahuan pasien katarak dengan tingkat kecemasan
pasien pre operasi katarak.
d. Bagi pasien katarak.
Dapat menjadi subjek penelitian yang akan dilakukan oleh penulis di
Ruang Wijayakusuma Rumah Sakit Umum Daerah Kota Banjar tentang
hubungan antara pengetahuan pasien katarak dengan tingkat kecemasan
pasien pre operasi katarak.


