POLITEKNIK KESEHATAN PADANG
JURUSAN KEBIDANAN
Karya Tulis Ilmiah , Agustus 2009
FIFI FACHRI
Hubungan Pendidikan Seks Dalam Keluarga Dengan Perilaku Seksual Remaja di SMA N 3 Bukittinggi Tahun 2009
vii + 37 halaman, 3 tabel, 1 gambar, 9 lampiran.
ABSTRAK
Pendidikan seks adalah salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk mencegah dampak-dampak negatif yang tidak diharapkan seperti kehamilan yang tidak direncanakan, penyakit menular seksual, depresi dan perasaan berdosa. Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Univesitas Atmajaya mengungkapkan 9,9% remaja telah melakukan hubungan seks dengan pasangannya setelah menonton film porno dan riset studi yang dilaksanakan Universitas Indonesia diperoleh temuan bahwa 21,8% remaja di Bandung telah melakukan hubungan seks sebelum menikah, di Sukabumi 26% dan Bogor 30,9%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pendidikan seks dalam keluarga dengan perilaku seksual remaja di SMA N 3 Bukittinggi Tahun 2009.
Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional . Penelitian ini dilakukan pada tanggal 15 – 29 Juli 2009. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas I SMA N 3 Bukittinggi yang berjumlah 269 orang. Teknik pengambilan sampel secara acak sistematis (Sistematic Random Sampling) dengan jumlah 67 orang.
Hasil penelitian ditemukan sebanyak (37,3%) memiliki pendidikan seks yang tidak baik dalam keluarga, (10,4%) yang berperilaku seksual berisiko, Ha diterima sehingga terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan seks dalam keluarga dengan perilaku seksual remaja di SMA N 3 Bukittinggi Tahun 2009 dengan nilai p = 0,009.
Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa siswi mendapatkan pendidikan seks dalam keluarga dengan baik, sebagian besar siswa siswi telah melakukan perilaku seksual tidak berisiko. Disarankan kepada pihak sekolah untuk memberikan penyuluhan tentang pendidikan seks dengan mengundang nara sumber yang membahasa tentang perilaku seksual remaja. Dan disarankan kepada orang tua untuk memberikan pendidikan seks dalam keluarga.
Daftar Bacaan : 25 (1999-2009).
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara umum di Indonesia masyarakat masih mengaggap seks sebagai sesuatu yang alamiah. Seks adalah kodrat dan oleh karena itu tidak perlu dikomunikasikan, apalagi diajarkan pada anak-anak. Anak-anak akan mengetahui tentang seks ketika mereka sudah dewasa. Tetapi dalam dunia yang berubah cepat dimana informasi memainkan peranan penting melalui media massa, para orang tua di Indonesia terjebak dalam sebuah dilema diantara nilai-nilai budaya seksualitas dan realitas sosial seksualitas (Hidayana, 2004).
Sudagijono dkk, (2001) mengatakan tidak banyak yang diketahui remaja mengenai pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi dari orang tua atau pun guru. Kondisi tabu yang ada membuat para orang tua menjadi sulit berbicara mengenai seksualitas dengan anak-anak mereka. Menyinggung masalah seks sedikit saja sudah dianggap vulgar. Mereka menganggap bahwa pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi tidak perlu diajarkan karena para remaja akan mengetahui dengan sendirinya seperti halnya kondisi biologis itu sendiri. Banyak juga para orang tua/guru yang berpendapat bahwa remaja memang belum waktunya untuk mengetahui perihal seks karena usia perkawinan mereka yang masih terlalu jauh untuk itu. Ditambah adanya kekhawatiran bahwa pengajaran pendidikan seksual dan kesehatan reproduksi pada anak didik justru akan menjadikan mereka penasaran dan kemudian mencoba-coba. Karena kedua hal itulah kemudian para orang tua bahkan menghambat atau memutuskan akses pengetahuan seksual pada remaja. Mereka menjadi marah dan memberikan penjelasan yang salah jika mengetahui remaja-remaja mereka menonton atau membaca buku-buku porno. Akibatnya, pengetahuan remaja mengenai perilaku seks yang benar pun menjadi sangat kurang.
Minimnya pengetahuan remaja tentang seks sudah jelas dapat kita lihat dalam pertanyaan-pertanyaan yang sering kali mereka lontarkan dalam kolom-kolom konsultasi seks yang ada di surat kabar. Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang lucu (atau lugu ?) baik dari remaja putra maupun putri yang selalu berkaitan erat dengan isu-isu pengetahuan seks yang ada. Dari sinilah sebenarnya kita menghadapi sebuah kenyataan yang pahit. Ketika dorongan hormonal pada remaja begitu kuat (ini sebenarnya membuktikan bahwa sebenarnya mereka sudah siap untuk melakukan hubungan seksual) pengetahuan mereka tentang seksualitas sedemikan minimnya (Hurlock, 1980). Akibatnya tidak dapat disalahkan sepenuhnya bahwa mereka melakukan kegiatan seksual yang menyimpang karena ketidaktahuan dan coba-coba. (http://edunews.karangturi.org, 2007)
Kurangnya pemberian informasi secara terbuka antara orangtua dengan remaja dalam masalah seputar seksual juga memperkuat munculnya penyimpangan perilaku seksual (Oom 1981 dalam Hidayana 2004). Pengaruh peer group dalam hal ini jelas tidak dapat diabaikan. Karena sifat menutup diri dari orang tua maka anak akan berusaha mencari penjelasan di luar lingkungan keluarga, yang dalam hal ini adalah kelompok sebaya mereka. Yang menjadi masalah sekarang seberapa akurat kebenaran pendidikan seksual yang “disharingkan” oleh remaja dalam kelompoknya. Besarnya pengaruh negatif dari kelompok pun sudah pasti ada. Bahkan dalam penelitian diketahui bahwa banyak remaja pria siswa sekolah menengah telah melakukan hubungan seksual pra nikah dengan tujuan tidak hanya sekedar mencari kepuasan seksual melainkan juga sebagai bukti keperkasaan agar diakui kelompoknya.
Stimulus lain yang juga berpengaruh terhadap perilaku seksual remaja adalah semakin banyaknya contoh-contoh buruk dari perilaku seksual orang dewasa (bisa jadi orang tua, pendidik, pejabat, bahkan tokoh agama sekalipun). Apalagi dengan maraknya tempat-tempat seperti diskotik, pub, lokalisasi pelacuran (bahkan kita punya yang berkelas internasional seperti lokalisasi Dolly di Surabaya dan Kramat tunggak di Jakarta).
Perilaku remaja seringkali dijadikan acuan terhadap adanya perubahan yang menyangkut norma-norma dan budaya masyarakat. Termasuk pula ketika orang mulai menyoroti masalah yang paling berkaitan dengan eksistensi manusia sebagai mahluk yang selalu berkembang (generatif) yaitu masalah seksualitas. Sudah sedemikian banyak penelitian baik secara kwantitatif maupun kwalitatif yang menyimpulkan bahwa perilaku seks remaja kita sudah semakin permisif (salah satu contohnya, baseline survey oleh UI-1996) Tingginya tingkat kehamilan di luar nikah yang berhubungan secara positif dengan tindakan aborsi menjadi bukti yang sulit dibantah.
World Health Organization (WHO) memperkirakan diseluruh dunia terjadi 20 juta kejadian aborsi yang tidak aman, dimana 95% terjadi dinegara-negara berkembang. Angka kematian yang disebabkan aborsi yang tidak aman ini adalah 15-20%. Di Asia Tenggara, WHO memperkirakan 4,2 juta aborsi dilakukan setiap tahunnya, dimana 75.000 – 1,5 juta terjadi di Indonesia (A. Waluyo, 2003:113).
Survey yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2007 sangat mengejutkan yaitu 63 % remaja (Sekolah Menengah Pertama ) SMP dan ( Sekolah Menengah Atas ) SMA di Indonesia pernah berhubungan seks. Sebanyak 21 % diantaranya melakukan aborsi. Angka ini naik dibandingkan dengan tahun – tahun sebelumnya. Berdasarkan penelitian BKKBN tahun 2005 – 2006 dikota – kota besar mulai Jabodetabek, Medan, Jakarta, Surabaya dan Makassar, ditemukan sekitar 47 % hingga 54 % remaja mengaku melakukan hubungan seks sebelum menikah. Dari hasil penelitian tersebut, BKKBN merekomendasikan, ada beberapa faktor mendorong remaja melakukan hubungan seks pra – nikah. Diantaranya, pengaruh liberalisme dan pergaulan bebas, kemudian lingkungan dan keluarga, serta pengaruh media massa, khususnya TV dan internet ( Masri, 2008 ).
Banyak penelitian yang sudah dilakukan dan nyaris mengambil kesimpulan yang sama bahwa jumlah pasangan yang melakukan seks bebas semakin tinggi setiap tahunnya. Setiap tahun sejak terjadi krisis moneter, sekitar 150.000 anak dibawah usia 18 tahun menjadi pekerja seks di Indonesia berusia dibawah 18 tahun, sedangkan 50.000 diantaranya belum mencapai usia 16 tahun. (Pratiwi, 2005 : 11)
Menurut Nurasni (2002) yang melakukan penelitian di SMU 1 Padang dan SMU Semen Padang, responden yang pernah pacaran 51,89 % dengan usia pertama kali pacaran pada umur 11 tahun, sedangkan kegiatan seks yang pernah dilakukan responden 9,70 % pernah berpelukan dan berciuman, 4,24 % pernah memegang payudara lawan jenis, 2,42 % pernah meraba alat kelamin lawan jenis dan 63,03 % hanya berpegangan tangan saja.
Perilaku seksual pranikah pada remaja ini tentu saja pada akhirnya dapat mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan remaja itu sendiri, diantaranya semakin tingginya angka kehamilan yang tidak diinginkan kematian akibat aborsi. Penyakit Menular Seksual (PMS) dan perilaku seksual berisiko lainnya. Menurut Pratiwi (2005) ada beberapa factor lain yang mempengaruhi munculnya masalah perilaku seksual remaja diantaranya, kurangnya informasi tentang seks sehingga remaja cenderung meniru apa yang dilihat dan didengar dari media massa.
Penelitian ini direncanakan di SMA N 3 Bukittinggi karena melihat disekitar lokasi SMA tersebut terdapat warung internet, rental-retal VCD/CD, kemungkinan besar para siswa-siswi mudah untuk mencari informasi-informasi tentang seksualitas tanpa mendapatkan bimbingan.. Dari hasil wawancara pada tanggal 17 Februari 2009 terhadap 10 orang siswa-siswi SMA N 3 Bukittinggi tentang alat reproduksi dan seksualitas, mereka mempunyai pengetahuan yang rendah tentang alat reproduksi dan mereka masih menganggap masalah seksualitas merupakan hal yang tabu untuk dipelajari dan dibicarakan dengan orang tua mereka. Dari survei ini juga didapatkan data bahwa dari 10 orang tersebut, 6 diantaranya mengatakan tidak pernah mendapat informasi tentang alat reproduksi dan perilaku seks dari orang tua mereka. Sedangkan 4 orang lagi mengatakan hanya mengetahui tentang alat reproduksi laki-laki dan perempuan melalui pelajaran Sains di sekolah.
1.2 Rumusan Masalah
Beranjak dari uraian masalah pada latar belakang di atas bahwa banyaknya remaja yang melakukan hubungan seks bebas dan sering terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan karena kurangnya pengetahuan tentang hubungan seksual. Maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut : Apakah terdapat Hubungan Pendidikan Seks Dalam Keluarga Dengan Perilaku Seksual Remaja di SMA N 3 Bukittinggi Tahun 2009.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Hubungan Pendidikan Seks Dalam Keluarga Dengan Perilaku Seksual Remaja di SMA N 3 Bukittinggi Tahun 2009.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Diketahuinya gambaran pendidikan seks dalam keluarga remaja di SMA N 3
Bukittinggi Tahun 2009.
1.3.2.2 Diketahuinya gambaran perilaku seksual remaja di SMA N 3 Bukittinggi Tahun 2009.
1.3.2.3 Diketahuinya hubungan pendidikan seks dalam keluarga dengan perilaku seks remaja di SMA N 3 Bukittinggi tahun 2009.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi peneliti
Untuk menambah wawasan peneliti dalam mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisi dan menginformasikan data temuan.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan bisa dijadikan sumber bacaan dan data dasar bagi peneliti selanjutnya.
1.4.3 Bagi remaja SMA N 3 Bukittinggi
Sebagai bahan bacaan dan masukan bagi tenaga pendidik SMA N 3 Bukittinggi
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah di bidang kesehatan yang meneliti tentang hubungan pendidikan seks dalama keluarga dengan perilaku seksual remaja di SMA N 3 Bukittinggi. Penelitian dilakukan pada bulan 15-29 Juli 2009 dengan metode penelitian deskriptif analitik dengan desain penelitian bersifat cross sectional. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak sistematik (sistematic random sampling).


