PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ABDURRAB PEKANBARU TAHUN 2009
Karya Tulis Ilmiah, Agustus 2009
MARZULIATI
1106062
GAMBARAN PESERTA ASEPTOR KB DALAM PEMAKAIAN KB SUNTIK DI PUSKESMAS SIDOMULYO PEKANBARU TAHUN 2009
xiii + 33 Halaman + 9 Tabel + 14 Lampiran
ABSTRAK
KB suntik adalah obat suntik yang berisikan progestrin yang disuntikkan melalui intramaskular. Tujuan memakai KB suntik adalah untuk mengembangkan suatu metode kontrasepsi yang berdaya kerja panjang (lama), yang tidak membutuhkan pemakaian setiap hari. Tujuan peneliti yaitu untuk mengetahui gambaran peserta aseptor KB dalam Pemakaian KB Suntik di Puskesmas Sidomulyo Pekanbaru Tahun 2009
Penelitian ini bersifat deskriptif, Penelitian ini dilakukan pada tanggal 07-09 September Tahun 2009 dengan teknik pengambilan sampel secara Accidental sampling yaitu sampel yang didapat selama penelitian di Puskesmas Sidomulyo dengan populasi Wanita Pasangan Usia Subur yang berkunjung di Puskesmas sidomulyo dan didapat sampel sebanyak 26 orang dan peneliti menggunakan kuesioner dengan 10 soal pertanyaan. Pengolahan data dilakukan secara manual dan di analisis secara univariate.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan responden dalam pemakaian KB suntik Rendah sebanyak 16 orang (62%) dengan mayorits pendidikan responden SD, pendapatan keluarga (ekonomi) tinggi sebanyak 18 orang (69%) dan pengetahuan Pengetahuan responden yang memakai KB suntik kurang sebanyak 13 orang (50%). Dari gambaran yang terlihat diatas diharapkan kepada petugas kesehatan dapat memberikan informasi dan penyuluhan tentang KB suntik.
Kata Kunci : Gambaran Peserta, Aseptor, KB Suntik
Daftar Pustaka : 13 Referensi (2003-2009)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
KB suntik pertama kali ditemukan pada 1953, oleh Karl Junkman. Salah satu tujuan utama pemakaian KB suntik adalah untuk mengembangkan suatu metode KB yang berdaya kerja lama, yang tidak mebutuhkan pemakaian setia hari atau setiap akan bersenggama (Hartanto, 2004).
Adapun cara metode KB yaitu menjarangkan angka kelahiran anak dan salah satu tujuan utama pemakaian KB untuk mengembangkan suatu metode KB yang berkerja panjang. Adapun metode KB bila dirinci adalah Pil KB, IUD, susuk atau Norplant, MOW (Metode Operasi Wanita), MOP (Metode Operasi Pria), kondom dan cara lain (Hartanto, 2004).
Efektifitas KB suntik adalah antara 99% dan 100% dalam mencegah kehamilan. KB suntik adalah bentuk KB yang sangat efektif karena angka kegagalan penggunanya lebih kecil, karena wanita tidak perlu mengingat untuk minum pil dan tidak ada penurunan efektifitas yang yang disebabkan oleh diaare atau mual muntah (Suzanne, 2007).
KB mengatur jumlah anak sesuai dengan kehendak pasangan, dan bisa menentukan sendiri kepada pasangan yang ingin punya anak lagi. Layanan KB di Indonesia mudah di dapat dan mudah diperoleh, ada 500.000 perempuan meninggal akibat berbagai masalah di antaranya kehamilan, persalinan, abortus yang tidak aman, dengan KB sudah bisa mencegah sebahagian besar dari kematian ibu. Di Jawa Barat sebahagian besar warga Panda Arum Kecamatan Gorogoya sebahagian besar menggunakan KB suntik, dan tercatat pada tanggal 27 Februari 2008 peserta KB aktif adalah sebanyak 1,349 orang (Harnawati, 2008).
Adapun KB suntik diantaranya pemulihan kesuburan dicapai 6-8 bulan setelah suntikan, dan mengurangi kunjungan dan dapat dipakai dalam waktu yang lama, dan salah satunya tidak mempengaruhi produksi air susu ibu. Dua kontrasepsi yang berdaya kerja lama, yang sekarang banyak dipakai yaitu DMPA (Depot Medroxy Progesteron Asetat) yaitu Depo proverang, dan NE-TEN (Norethin Drone Enantharte) yaitu resterat. DMPA diberikan 3 bulan sekali, sedangkan NE-TEN diberikan 8 minggu untuk 6 bulan pertama. Dua KB suntik yang berdaya kerja lama, yang sekarang banyak dipakai yaitu DMPA dan TEN. DMPA diberikan 3 bulan sekali dengan dosis 150 mg, sedangkan NE-TEN diberikan dosis 200 mg sekali, setiap 8 minggu untuk 6 bulan pertama = (3 x suntikan pertama) (Hartanto, 2004).
Program yang menyediakan kontrasepsi modern yang didukung oleh kebijakan dan persetujuan pemerintah, serta pendidikan yang dikombinasi dengan keadaan sosial yang kondusif, merupakan program yang paling efektif untuk menurunkan fertilitas (Noviawati, 2008)
Jumlah penduduk Indonesia diprediksikan akan menjadi sekitar 263 juta pada tahun 2025, yang mana proyeksi tersebut kemungkinan tidak akan banyak berubah jika pengelolaan program KB dilaksanakan seperti saat ini. Namun jumlah tersebut sangat mungkin meningkat, apabila intensitas dan frekuensi pengelolaan program KB menurun. (http://Gemapria/Article-detail.php.htm.)

