ABSTRAK
Akidah tidak hanya berpengaruh dalam menentukan sikap dan prilaku individu dengan Tuhannya, terlebih bagi umat Islam akidah merupakan petunjuk yang dapat mewarnai interaksi sosial, seperti hukum, politik, bisnis dan hubungan keluarga serta kelompok. Sebab keyakinan itulah yang membentuk konsep Tuhan, manusia, alam dan hubungan manusia dengan keduanya.
Pembahasan ini akan dititik tekankan pada kajian mengenai aqidah yang menjadi keyakinan Kartosoewirjo, sehingga mampu melakukan gerakan yang luarbiasa dalam upaya mewujudkan cita-citanya yakni terwujudnya Darul Islam demi tercapainya Darus Salam. Keseluruhan pemikiran S.M. Kartosoewirjo berangkat dari suatu keyakinan yang menjadi dasar dalam gerakan dan perjuangannya, yakni tauhid atau teologi.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keyakinan atau akidah adalah unsur yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Ia merupakan referensi bagi suatu tindakan, dalam arti bahwa sebelum seseorang melakukan suatu perbuatan, dia hampir selalu menimbangnya dengan keyakinan yang dimilikinya. Sebelum bertindak, seseorang yang memiliki keyakinan agama, misalnya, pasti terlebih dahulu menilai apakah perbuatan yang akan dilakukannya sesuai deangan keyakinan agamanya atau tidak. Jika sesuai, dia akan melakukannya dengan sebaik-baiknya, sebab dia yakin bahwa perbuatannya tidak saja memiliki dampak bagi kehidupan masa kininya, tetapi juga pada kehidupan akhiratnya nanti. Akan tetapi jika perbuatannya bertentangan dengan keyakinannya, maka kemungkinan besar ia tidak akan melakukannya. Kalau pun karena satu dan lain alasan kemudian dia melaksanakannya juga, pasti dia akan merasa bersalah dan berdosa.1
Akidah tidak hanya berpengaruh dalam menentukan sikap dan prilaku individu dengan Tuhannya, terlebih bagi umat Islam akidah merupakan petunjuk yang dapat mewarnai interaksi sosial, seperti hukum, politik, bisnis dan hubungan keluarga serta kelompok. Sebab keyakinan itulah yang membentuk konsep Tuhan, manusia, alalam dan hubungan manusia denagan keduanya.
Islam telah masuk ke Indonesia sejak abad ke-7, dimana Indonesia masih berbentuk kerajaan dalam cakupan wilayah Nusantara. Dalam catatan sejarah, umat Islam memiliki peran yang sangat besar dalam memperjuagkan tanah Indonesia yang kala itu dijajah oleh kolonial Belanda selama tiga abad setengah dan dilanjutkan oleh penguasa Jepang selama kurang lebih tiga tahun. Semangat juang umat Islam yang dikomando oleh para Kyai sangat tinggi untuk merebut Indonesia supaya merdeka.
Dalam memperjuangkan kemerdekaan, para Nasionalis Islam mencita-citakan terbentuknya suatu Negara Islam. Salah seorang dari mereka ini adalah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo seorang tokoh politik dari Masjumi, yang mencoba merealisasikan cita-citanya untuk membentuk suatu negara Islam selama terjadi masa pergolakan revolusi di Indonesia. Dengan semangat juang dan aqidahnya yang kuat, dia mendirikan gerakan Darul Islam, dan pada tanggal 7 Agustus 1949, Kartosoewirjo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) dengan tujuan, suatu saat kelak Negara ini akan mencakup seluruh wilayah Indonesia.2
Sekarmadji Maridjan Kartosoewiryo adalah salah seorang yang bercita-cita tinggi dan memiliki semangat juang yang kuat untuk menegakan kemerdekaan bagsan indosesia dengan dasar menegakan Dinullah. Pemikiran dan perjuangan Kartosoewirjo menjadi pengisi sejarah pejuangan Indonesia yang tidak habis ditelan zaman. Cita-cita agung yang disertai kecerdasan berpikir dan semangat perjuangan yang luar biasa untuk menegakan Dinullah tidak surut dan berhenti, meskipun tekanan politik yang sangat besar.
Begitu kuatnya cita-cita Kartosoewirjo untuk menegakan Nagara Islam terlihat dalam berbagai pemikirannya yang selalu menisbatkan berbagai langkahnya untuk mendapat keridlaan Allah s.w.t. kosep tauhid yang dia tanamkan terlihat dalam menafsirkan kalimah tauhid (kalimat at- thayyibah), dengan empat kerangka LA, yaitu:
a. La mathluba illallah, dalam ma’na: tiada yang dicari dan diusahakan, kecuali rahmat dan ridla Allah; Tiada yang dicari dan diusahakan, kecuali pemimpin pembawa amanat Allah; Tiada yang dicari dan diusahakan, kecuali agama/kerajaan Allah.
b. La maqshuda illallah, dalam ma’na: tiada titik tujuan, kecuali idzharnya pemimpin pembawa amanat Allah; tiada titik tujuan kecuali idzharnya agama/kerajaan Allah.
c. La ma’buda illallah, dalam ma’na: tiada yang disembah, kecuali Allah; tiada yang dita’ati dan disetiai, kecuali pemimpin pembawa amanat Allah; tiada yang dijunjung tinggi, kecuali agama kerajaan Allah.
d. La maujuda illlallah, dalam ma’na: tiada yang wujud muthlak, kecuali Allah; tiada yang diakui wujud/ada, kecuali pemimpin pembawa amanat Allah; tiada yag diakui wujud/ada, kecuali agama/kerajaan Allah.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis merasa tertarik untuk mengkaji secara legih mendalam mengenai dasar pemikiran beliau, khusus mengenai teologinya. Dengan demikian, judul yang akan dibahas dalam penulisan karya ilmiah ini adalah “Studi Krtis Terhadap Pemikiran Teologi Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo”.
B. Perumusan Masalah
Suatu aksi atau gerakan merupakan akumulasi dari keseluruhan pemikiran yang terfokus. Artinya, suatu kegiatan tidak akan berhasil manakala tidak ditopang oleh kesiapan yang komprehensip. S.M. Kartosoewirjo dalam upaya mewujudkan cita-citanya tidak terlepas dari konsep pemikirannya yang cukup kompetibel. Keyakinannya akan segala kuasa Allah menjadi pondasi yang sangat kuat untuk senatiasa berkarya dan berjaung.
Rumusan penelitian ini berkisar pada kajian tentang teologi S.M. Kartosoewirjo dan analisis terhadap pemikirannya. Oleh karena itu, penelitian ini akan difokuskan pada dua hal yang erat kaitannya dengan dasar pemikiran S.M. Kartosoewirjo dalam memperjaungakan cita-citanya, yakni menegakan Negara Islam Indonesia. Lebih spesipiknya, rumusan ini dibuat dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana pemikiran Teologi S.M. Kartosoewirjo?
2. Bagaimana analisis kritis terhadap Teologi S.M. Kartosoewirjo?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pemikiran Teologi S.M. Kartosoewirjo
2. Untuk mengetahui analisis kritis terhadap Teologi S.M Kartosoewirjo.
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Sebagai sumbangan pemikiran bagi jurusan Aqidah Filsafat
2. Diharapkan jadi pemicu bagi penelitian lebih lanjut dan mendalam tentang pemikiran S.M. Kartosoewirjo.
3. Diharapkan mampu menggali kebenaran sejarah tentang keyakinan yang menjadi dasar perjuangan S.M. Kartosoewirjo
D. Tinjauan Pustaka
Meski telah ditemukan beberapa penelitian terdahulu tentang S.M. Kartosoewirjo, Ada beberapa tulisan ilmiah sejauh penulis temukan yang membicarakan karya-karya S.M. Kartosoewirjo yaitu:
1. Karya ilmiah Holk H. Dangel yang mengangkat judul DARUL ISLAM DAN KARTOSOEWIRJO “Angan-angan yang gagal”, ia meyampaikan dalam tulisannya mengenai sepak terjang Kartosoewirjo sejak masa penjajahan Belanda sampai pada saat pengeksekusiannya oleh mahkamah angkatan Darat. Pada bagian kesimpulan tulisannya Dangle mengatakan, bahwa Kartosoewirjo sudah memiliki cita-cita untuk menegakan Negara Islam di Indonesia. Namun dalam tulisan Dangel tidak terungkap secara mendalam mengenai tauhid atau keyakinan Kartosoewirjo.
2. Al-Chaidar, PEMIKIRAN PROKLAMATOR NEGARA ISLAM INDONESIA S.M. KARTOSOEWIRJO, Jakarta: Darul Falah, 1999.
3. Jejak-Jejak Sang PEJUANG PEMBERONTAK Pemikiran, Gerakan Dan Ekspresi Politik S.M. KARTOSOEWIRJO & DAUD BEUREUH, karya Kholid O. Santosa
4. Karya TB. Miftahul Jannah yang berjudul KONSEP NEGARA MENURUT SEKARMADJI MARIDJAN KARTOSOEWIRJO, Skripsi tahun 2000
5. Karya Angit Musmillah, KONSEP HIJRAH DALAM PEMIKIRAN S.M KARTOSOEWIRJO, Skripsi tahun 2003
6. Karya Darsiah yang berjudul EKSISTENSI MANUSIA MENURUT SEKARMADJI KARTOSOEWIRJO, Skripsi tahun 2005, dan mungkin masih banyak karya-karya lain yang mengungkapakan berbagai pemikiran Kartosoewirjo, namun belum teridentipikasi secara lebih lanjut.
Dari tinjauan pustaka di atas, maka masih ada yang perlu digali dan masih celah kosong yang bisa diteliti oleh penulis yaitu tentang Teologi S.M. Kartosoewirjo (Analisis Historis).
E. Kerangka Pemikiran
Pemikiran filosofis atau teologis dalam Islam dimulai dengan tiga problem: hakikat iman dan status dosa besar (shahis al kabirah); taqdir dan kebebasan; dan hakikat sifat Illahi. Dua yang pertama muncul karena perpecahan kaum muslim yang berkenaan dengan perrebutan jabatan khalifah serta konplik yang ditimbulkannya. Ketika sebagian Muslim menyerbu lawan mereka non-Muslim karena perilaku kasarnya, maka isu apakah iaman bisa berbuat doasa atau tidak harus dihadapi. Ketika orang yang bertindak kekerasan dimintai pertanggungjawaban tetapi mereka mengatakan tak bersalah karena tindakan mereka tentang taqdir sepenuhnya ditentukan oleh Tuhan, maka muncul isu tentang taqdir. Dan kehendak bebas pun harus dihadapi dan dipecahkan.
Problem ketiga bersumber dari luar Islam. Kaum Muslim yang berbahasa Arab tidak kesulitan dalam memahmi Al-Qur’an secara langsung. Makna Al-Qur’an muncul dan bersinar dalam kata-kata dan ungkapan mereka, begitu jelas untuk dapat dipahami. Namun ketika kaum Muslim lain berusaha memahami teks Al-Qur’an, jalan untuk pemahaman langsung tertutup bagi mereka. Yang merintanginya adalah kategori-kategori yang mereka warisi dari bahsa non-Arab dan agama-agama non-Islam mereka. Kesulitan ini mengancam tauhid, esensi Islam, bila ia mempengaruhi sifat Illahiah.3
Dalam pandangan Kartosoewirjo, struktur masyarakat terbagi kedalam tiga macam, yakni berdasarkan hukum dan haluannya, susunan dan aturannya dan dalam sikap dan pendiriannya, tetapi hidup bersama-sama dalam satu negeri.4 ketiga macam masyarakat tersebut adalah masyarakat Hindia Belanda (sebagai penjajah) yang sedang berkuasa, berikutnya masyarakat Indonesia yang belum memiliki hukum maupun hak dan tidak mempunyai pemerintahan sendiri dan yang ketiga masyarakat Islam atau Darul Islam. Kartosoewiryo, membedakan masyarakat Indonesia dengan masyarakat Islam. Masyarakt kebangsaan Indonesia mengarahkan langkah dan sepak terjangnya kejurusan Indonesia Raya supaya dapat berbakti kepada negeri tumpah darahnya, berbakti kepada ibu Indonesia. Sedangkan masyarakat Islam adalah mereka yang tidak ingin berbakti kepada Indonesia atau kepada siapapun juga, melainkan mereka hanya ingin berbakti kepada Allah yang Maha Esa belaka. Maksud tujuan bukan Indonesia Raya melainkan Darul Islam yang sesempurna-sempurnanya, tempat bagi setiap Muslim dan Muslimah untuk menjalankan hukum-hukum agama Allah (Islam) dengan seluas-luasnya, baik yang berhubungan dengan syahksiyah (individu) atau ijtimaiyah (sosial).
Untuk mewujudkan cita-citanya dalam menciptakan Darul Islam yang sesempurna-sempurnanya, Kartosoewirjo mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang bernama Institut Suffah, lembaga ini dijadikan modal demi terwujudnya Darul Islam—Negara Islam Indonesia. Dia terjun langsung dalam membina para siswanya dengan metode pengajaran dan pendidikan yang diperolehnya dari HOS Cokroaminoto, para siswanya dibina pengtehuan keagamaan (Islam), pengetahuan umum dan politik.
Dalam perjuangannya, Kartosoewirjo begitu teguh akan keyakinan akidahnya, segala sesuatu yang dilakukannya selalu bersandar kepada kuasa Allah SWT. Dasar tauhid yang dia yakini, disampaikannya juga kepada para siswanya yang belajar di Institiut Suffah.5 Dia mengajarakan dasar akidah kepada siswa-siswaya, yakni kalimat thayyibah (laa ilaha illallah), ia menafsirkan kalimat laa Ilaha illallah sebagai berikut:
1. La maujuda illallah (Tidak ada yang maujud kecuali atas izin dan taqdir Allah)
Penertian singkatnya adalah bahwa setaip kejadian, baik yang disengaja oleh manusia atau pun tidak, baik yang sesuai dengan keingianan manusia atau pun tidak, yang bersifat biasa atau pun luar biasa, yang manis dan yang pahit, yang manis maupun yang buruk, itu semua adalah atas kudrat dan iradat Allah, atas kuasa dan kehendak Allah.
Posisi makhluk termsuk manusia, tidak ada peran sama sekali yang berpengaruh dalam mewujudkan sesuatu, ia hanyalah saluran dan sambungan saja. Daya ikhtiar dan usaha manusia, bagaimanapun besarnya tidak akan mampu mewujudkan sesuatu tanpa izin dan kuasa Allah. Ikhtiar dan akal manusia hanya berfungsi sebagai sarana dan penyambung dari kuasa dan kehendak Allah yang Maha mutlak. Karena itu, manusia harus menyadari akan kelemahan dan kekerdilannya di hadapan Allah Rabbul i’zzati. Segala hidup dan kehidupan, bergantung mutlak kepada kuasa dan kehendak allah, manusia tidak memiliki daya dan kuasa sedikit pun, kecuali atas kehendak dan kuassa Allah. Inilah yang dikatakan wahdatul maujud.
2. La ma’buda illallah (tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah)
Setelah meyakini wahdatul maujud, artinya segala sesuatu yang maujud selain Allah, itu semua tergantung kudrat dan iradat Allah, selanjutnya kita harus meyakini bahwa semua yang dijadikan atas taqdir Allah itu tidak ada yang sia-sia, tetapi semuanya itu untuk menjadi sarana dan medan pengabdian manusia kepada-Nya juga. Seorang mu’min harus bertekad bahwa segala taqdir yang terjadi pada dirinya, di mana saja, kapan saja dan bagaimana pun keadaanya, hanya akan dijadikan sarana beribadah dan mengabdi kepada Allah saja. Sebab kalau kosong dari nilai ibadah kepada Allah, dia akan terjebak kepada syirik atau ma’siat kepada Allah. Ini bisa disebut wahdatul ma’bud atau tauhid ibadah.
3. La mathuluba illallah (tidak ada yang dicari untuk dita’ati dan dicari untuk dihindari, kecuali perintah dan larangan Allah saja).
Setelah meyakini bahwa segala taqdir yang datang kepada kita adalah untuk sarana ibadah kepada Allah, maka kita harus yakin bahwa segala taqdir itu mengandung perintah dan larangan dari Allah yang terperinci. Kita harus berusaha mewarnai kehidupan kita sehari-hari dengan warna Islam saja, jangan sampai sesaat pun diri kita lepas dari nilai Isalm, yang telah kita yakini sebagai satu-satunya Dinullah, sistem hidup yang telah digariskan Allah, yang membawa kwmaslahatan kehidupan di dunia dan akhirat. Inilah wahdatul mathlub, artinya kebulatan gerak dan langkah sepanjang aturan-aturan Allah saja.
4. La maqshuuda illallah (tidak ada yang dituju kecuali keridlaan Allah)
Setelah kita berada di jalan Allah, dengan melaksanakan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari, jagnan sampai kita menyimpang dari arah dan tujuan hakiki yaitu keridlaan Allah. Jauhkan diri kita dari sifat ria, takabur, ambisius dan tujuan-tujuan duniwi lainnya, yang dapat menghapuskan nilai amal kita. Jadi, melaksanakan perintah allah dan menjauhi larangan-Nya, merealisasikan sistem Islam dan menjauhi sistem thaghut, itu tujuannya semata-mata ikhlas mencari keridlaan Allah, bukan yang lain. Inilah wahdatul maqshud (satu tujuan hanya untuk Allah).
F. Langkah-langkah Penelitian
1. Metode penelitia
Dalam penelitian ini penulis memakai metode kualitatif (qualitative research) dengan menggunakan library research atau popular disebut dengan survey book (penelitian pustaka), yaitu suatu pengumpulan data dipergunakan dalam rangka mengumpulkan suatu bahan penelitian dengan teknik tertentu. Alasan kenapa jenis data kualitatif ini dipergunakannya adalah karena agar lebih terfokusnya pembahasan tentang Konsep Otentisitas Teologi Islam dalam pandangan S.M. Kartosoewirjo yang dilihat dalam buku-buku, majalah, dan bahan bacaan lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
Metode ini secara garis besar mencakup penentuan metode penelitian, penentuan jenis data yang dikumpulkan, penentuan sumber data yang akan digali, cara pengumpulan data yang akan digunakan, cara pengelolaan dan analisis data yang akan ditempuh. Yang berkaitan dengan pemikiran S.M. Kartosoewirjo tentang teologi.
2. Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis adalah dengan cara mengumpulkan, membaca, mempelajari, dan menelaah sumber data, baik berupa data primer yang bersumber dari karya tulis Karto Suwiryo secara langsung, atau pun karya tulis orang lain yang memuat pemikiran Karto Suwiryo yang terkait dengan masalah penelitian, maupun data skunder yang berupa komentar atau pemikiran-pemikiran lain yang relevan dengan tema penelitian ini.
3. Sumber dan jenis data
a. Sumber data
Dalam penelitian ini diperlukan sumber data perimer dan sumber data sekunder. Adapun sumber data primer terdiri atas karya-karya Sekarmaji Maridjan Kartosoewirjo, antara lain:
1. Haluan Politik Islam, Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial (EMPIRIS) Depok, tahun 2006.
2. Sikap Hijrah PSII jilid I, Garut, Malangbong, cet. 1, Majelis Tahkim PSII, 1946.
3. Sikap Hijrah PSII jilid II, Garut, Malangbong, cet. 1, Majelis Tahkim PSII, 1946.
4. Hikmah dan Ajaran dari Perjalana Suci ISRA’ DAN MI’RAJ Rasulullah Saw. Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial (EMPIRIS) Depok, tahun 2006.
Sementara data sekunder terdiri dari karya orang lain yang menulis tentang S.M. Kartosoewirjo, majalah- majalah, buku- buku, dan artikel-artikel yang berhubungan dengan materi penelitian ini.
b. Jenis data
Jenis data yang akan dijadikan objek kajian penelitian ini adalah data
kualitatif yang terdiri dari :
1) Data tentang pemikiran teologi Kartosoewirjo.
2) Data mengenai analisis kritis terhadap teologi Kartosoewirjo.
4. Analis data
Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (analisis isi) buku-buku primer dan sekunder. Setelah data terkumpul dan diedit dengan teliti dan akurat, mana yang masuk atau tidak pada data dan objek kajian penelitian, maka selanjutnya penulis melakukan analisis terhadap data tersebut. Analisis dilakukan bertujuan mengharmonisasikan dan menyinambungkan antara teori yang digunakan dengan data yang dikumpulkan. Dalam melakukan analisis, tentunya penulis menggunakan metode sebagai alat analisis.
Dalam melakukan analisis, penulis berusaha menyelami karya-karya tokoh tersebut guna menangkap arti dan nuansa yang dimaksudkan tokoh secara khas, agar dapat memberikan interpretasi yang tepat mengenai pemikiran tokoh tersebut, semua konsep-konsep dan aspek dilihat menurut keselarasan dan hubungan satu sama lain. Setelah itu, ditetapkan inti pemikirannya yang mendasar, dan topik-topik yang sentral pada tokoh tersebut, kemudian diteliti susunan logis-sistematisnya dalam mengembangkan pemikirannya. Kemudian dianalisis konsep-konsep tersebut satu persatu antara pemikiran tokoh dengan pemikiran yang mempengaruhinya dan implikasi pemikirannya, agar dari tokoh tersebut dapat dibangun suatu pemikiran yang komprehensif dan utuh. Setelah diinterpretasi, data tersebut ditentukan kaitan (koherensi intern) antara semua unsur yang ditemukan dalam pemikiran S.M. Kartosoewirjo untuk menemukan ketergantungan real dan logis antara satu pemikiran dengan yang lainnya.
Singkatnya dalam analisis data ini penulis menggunakan metode deskriptif analisis. Maksudnya, pertama latar belakang sosio historis dan kultural kehidupan serta pemikiran berikut karya – karya S.M. Kartosoewirjo, dideskriptifkan telebih dahulu, kemudian penulis menganalisis pemikirannya.
G. Sistematika Pembahasan
Secara sistematis dalam penulisan skripsi ini, penulis mengemukakan garis-garis besar pembahasan dalam skripsi ini sebagai berikut:
BAB I, Berisikan pendahuluan, yang terdiri dari deskripsi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kerangka penelitian, metode penelitian, analisis data, tinjauan pustaka dan sistematika pembahasan.
BAB II, Akan dikemukakan mengenai kajian teologi secara teoritris
BAB III, Akan dikemukakan biografi dan pemikiran S.M Kartosoewijo serta pembahasan hasil penelitian.
BAB IV, Berisikan Kesimpulan dari hasil anlisa dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya. Pada bab ini juga akan dikemukakan saran – saran yang dipandang perlu bagi penelitian selanjutnya.


