ABSTRAK
Kajian mengenai fluktuasi atau pergerakan produksi cabe secara nasional perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai perilaku produksi cabe di Indonesia. Data produksi cabe juga dibutuhkan oleh Badan Pusat Statistik [BPS] untuk penghitungan Produk Domestik Bruto [PDB]. Penghitungan produksi cabe masih memiliki beberapa kelemahan, di antaranya dalam hal kecepatan pelaporan data. Seringkali data yang dilaporkan oleh BPS daerah kepada BPS pusat terbentur kendala waktu, dimana terdapat selisih waktu (time lag) antara data yang seharusnya telah dilaporkan dengan data yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran umum pergerakan produksi cabe di Indonesia selama
periode Januari 1990-Desember 2005 berdasarkan komponen geraknya dan
memperoleh metode terbaik antara metode peramalan BPS dan metode
autoregressive integrated moving average (ARIMA) untuk peramalan
produksi cabe di Indonesia.
Dalam penelitian ini digunakan analisis deskriptif, metode dekomposisi, ARIMA, dan metode peramalan BPS. Analisis deskriptif digunakan untuk memberikan
gambaran produksi cabe di Indonesia periode Januari 1989 sampai dengan Desember 2005 secara umum. Untuk melihat pergerakan produksi cabe berdasarkan komponen geraknya, digunakan metode dekomposisi.
Sedangkan metode peramalan BPS dan ARIMA digunakan untuk memperoleh metode peramalan terbaik untuk meramalkan produksi cabe.
1.1 Latar Belakang
Menurut Kuznets dalam Tambunan (2003), di negara berkembang seperti Indonesia, pertanian merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebab memiliki empat bentuk kontribusi terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, yaitu:
1. Kontribusi produk, berupa ketergantungan sektor-sektor ekonomi selain sektor
pertanian terhadap pertumbuhan output sektor pertanian.
2. Kontribusi pasar, yaitu pertanian berperan sebagai sumber penting bagi
pertumbuhan permintaan domestik bagi produk-produk dari sektor-sektor
ekonomi lain, terutama di negara-negara agraris.
3. Kontribusi faktor-faktor produksi, yaitu sebagai sumber modal untuk investasi
di sektor-sektor ekonomi lainnya.
4. Kontribusi devisa, baik lewat ekspor hasil-hasil pertanian maupun dengan
peningkatan produksi pertanian dalam negeri menggantikan impor (substitusi
impor).
Sektor pertanian masih memegang peranan penting meski mulai bergeser
ke sektor-sektor lain. Peranan sektor pertanian dapat dilihat dari share-nya
terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 13,40% pada tahun 2005. Bahkan bila
dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja, sektor pertanian merupakan sektor yang
menyerap tenaga kerja paling banyak. Pada tahun 2005, tenaga kerja yang
terserap dalam sektor ini adalah sebesar 41.814.197 jiwa atau 44,04% dari total penduduk bekerja (Badan Pusat Statistik, 2005).
Menurut Soekartawi dalam Budiarti (2001), pembangunan sektor
pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi
kebutuhan pangan dan kebutuhan industri dalam negeri, meningkatkan ekspor,
meningkatkan pendapatan petani, memperluas kesempatan kerja, dan mendorong
pemerataan kesempatan berusaha. Di samping itu, ada kemauan politik (political
will) pemerintah yang mengarahkan perekonomian Indonesia berimbang dan
saling mendukung antara sektor pertanian dan sektor industri. Menurut Rahardjo
(1986), keberhasilan industrialisasi tergantung dari pembangunan pertanian yang
dapat menciptakan landasan bagi pertumbuhan ekonomi. Letak georafis, iklim
dan budaya Indonesia sangat memungkinkan untuk lebih mengembangkan sektor
pertanian. Salah satu upaya untuk terus meningkatkan kontribusi sektor pertanian
terutama subsektor tanaman pangan adalah dengan pengembangan produksi
tanaman hortikultura.
Meskipun luas lahan pertanian yang dimanfaatkan untuk budidaya
tanaman hortikultura relatif kecil dibanding dengan luas lahan yang dimanfaatkan
untuk jenis tanaman lainnya, budidaya tanaman hortikultura tidak dapat
diabaikan, sebab tanaman ini mempunyai peranan yang penting sebagai sumber
gizi (tanaman sayuran dan buah), kesehatan (tanaman obat), dan keindahan
(tanaman hias), (BPS, 2001).
....

