Perencanaan Bisnis WiMAX

abstraks: 

ABSTRAK

Pada dunia industri, kelompok standar IEEE 802.16 dikenal dengan Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX), merupakan standar baru dalam komunikasi akses wireless pita lebar. WiMAX merupakan layanan baru yang mempunyai peluang yang cukup besar untuk menembus pasar masyarakat pengguna internet untuk semua daerah di Indonesia. Agar pelayanan yang diperoleh oleh pelanggan dapat maksimal, perlu dilakukan perencanaan yang baik sebelum diimplementasikan. Dalam tugas akhir ini dilakukan perencanaan bisnis untuk daerah urban dan suburban untuk 5 tahun ke depan.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam perencanaan ini meliputi perencanaan bisnis untuk mendapatkan cost dan revenue yang menguntungkan, perhitungan kapasitas jaringan berdasarkan trafik dan pendimensian perangkat untuk mendapatkan jenis-jenis perangkat penunjang teknologi WiMAX termasuk harga perangkat dan biaya investasi. Dalam tugas akhir ini juga dilakukan penentuan tarif untuk pelanggan fixed wireless dan mobile wireless.
Untuk melengkapi perencanaan dan untuk memecahkan permasalahan yang ada pada tugas akhir ini, penulis menggunakan data-data yang diperoleh dari provider internet IM2 yang telah menerapkan jaringan berbasis Wi-Fi atau yang kita kenal dengan istilah hot spot .
Pada akhir perencanaan bisnis ini didapatkan hasil dari uji kelayakan bisnis bahwa proyek pembangunan jaringan WiMAX didaerah urban dan suburban layak dilakukan. Pembangunan jaringan WiMAX pada kedua daerah ini telah optimal baik dari segi kapasitas jaringan yang digunakan maupun dari segi bisnis.

PERENCANAAN BISNIS WiMAX

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kebutuhan akan berkomunikasi dimana dan kapan saja merupakan sebuah tuntutan manusia yang dinamis pada saat ini. Salah satu kebutuhan tersebut adalah komunikasi data terutama layanan multimedia. Syarat mutlak agar kualitas layanan multimedia dapat memberikan nilai kepuasan yang memadai harus memiliki data rate yang tinggi. Solusi yang dapat menjawab kebutuhan tersebut adalah komunikasi wireless pita lebar (Broadband Wireless Access) dengan salah satu standar dari komunikasi ini yang dapat dipilih sebagai solusi adalah IEEE 802.16 atau yang dikenal dengan Wimax (Worldwide Interoperability for Microwave Access).
Salah satu operator terbesar di Indonesia yaitu PT. INDOSAT, dalam waktu dekat ini akan melakukan deployment teknologi WiMAX. Sebagai bahan pertimbangan dari segi bisnis maka perencanaan ini dilakukan. Perencanaan bisnis ini dilakukan tanpa mengabaikan sisi teknik. Jadi perencanaan ini tetap mengacu pada sisi teknis. Perencanaan yang terlebih dahulu ada dilakukan untuk teknologi ini tidak membahas aspek bisnis. Dengan dibahasnya aspek bisnis ini maka diharapkan agar operator bisa mendapatkan untung dari sisi bisnis dan tetap tidak mengecewakan costumer dari sisi teknik. Perencanaan ini layak dilakukan karena perencanaan ini langsung mengacu pada kondisi real dilapangan seperti perangkat yang akan diimplementasikan.
Dengan perencanaan ini dapat dibuktikan salah satu keuntungan WiMAX yaitu low deployment cost sehingga operator layak berinvestasi di teknologi ini. Adapun daerah urban dan suburban yang dipilih karena kepadatan penduduk lebih banyak di kedua daerah ini otomatis aktivitas-aktivitas pertukaran informasi data lebih banyak sehingga fokus perencanaan lebih pada daerah ini. Pada tugas akhir ini akan dibuat perencanaan bisnis WiMAX, dimana perencanaan ini meliputi aspek pasar, aspek teknik, dan aspek finansial pada provider servis internet IM2.

1.2 Permasalahan
1.2.1 Rumusan Masalah
Permasalahan yang ada dalam perencanaan bisnis WiMAX ini meliputi:
a. Tahap perencanaan yang meliputi penentuan daerah layanan, target segment pasar dan type-nya, alokasi frekuensi dan bandwidth.
b. Peramalan jumlah pelanggan untuk 5 tahun kedepan.
c. Perencanaan sel berdasarkan kapasitas dan jumlah pelanggan.
d. Perhitungan trafik sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
e. Dimensioning perangkat dengan menentukan perangkat apa saja yang dibutuhkan, spesifikasinya, harga, biaya investasi, biaya maintenance.
f. Perhitungan tarif untuk layanan fixed dan nomadic.
g. Perhitungan revenue atau pendapatan.
h. Perhitungan cost berdasarkan Capital Expenditure (Capex) dan Operating Expenditure (Opex).
i. Perhitungan parameter ektek (NPV, IRR, PI, dan Payback Period).
j. Analisa kelayakan bisnis berdasarkan aspek pasar, aspek teknik, dan aspek finansial.
1.2.2 Batasan Masalah
Pada tugas akhir ini akan dibatasi pada masalah-masalah sebagai berikut :
a. Standard WiMAX yang digunakan adalah IEEE.802.16-2004.
b. Perencanaan dilakukan untuk 5 tahun kedepan.
c. Perencanaan sel dari masing-masing jenis kondisi yang secara umum terdiri atas dua kondisi yaitu urban dan suburban.
d. Tidak membahas prinsip modulasi yang digunakan secara mendalam.
e. Tidak membahas secara dalam perencanaan sel berdasarkan coverage.
f. Tidak membahas prinsip link budget, radio propagasi pada WiMAX.
g. Perencanaan yang dilakukan benar-benar baru mengingat teknologi ini baru akan di-deploy.

1.3 Tujuan dan Kegunaan

1.3.1 Tujuan
Tujuan penulisan tugas akhir ini adalah untuk membuat suatu perencanaan bisnis yang baik pada jaringan WiMAX untuk daerah Urban dan Sub urban untuk beberapa tahun ke depan berdasarkan aspek pasar, aspek teknik, dan aspek finansial, menentukan tarif untuk layanan fixed wireless dan nomadic wireless dan biaya yang diinvestasikan berdasarkan peramalan jumlah pelanggan untuk beberapa tahun kedepan, dan analisa kelayakan proyek sehingga pada akhirnya dapat diprediksi pada tahun keberapa biaya investasi akan kembali yang merupakan salah satu pertimbangan menentukan penilaian investasi.

1.3.2 Kegunaan
Hasil perencanaan ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk peluncuran bisnis WiMAX oleh provider servis internet seperti IM2.

1.4 Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang akan digunakan pada tugas akhir ini adalah:
1. Penentuan dan pengumpulan data-data baik data demand, perangkat yang dipakai, data investasi awal dan data kondisi geografi, demografi pada area cakupan.
2. Merumuskan dan mengkaji masalah dengan studi literatur yang digunakan untuk mengetahui teori-teori dasar dan sebagai sarana pendukung dalam menganalisa permasalahan yang ada.
3. Konsultasi dengan pembimbing untuk mengetahui metode analisa yang tepat berdasarkan kondisi lapangan yang ada.

1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah :
• BAB I. PENDAHULUAN
Pada bab ini dibahas mengenai latar belakang permasalahan, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penulisan, metode penyelesaian masalah serta sistematika penulisan pada tugas akhir ini.
• BAB II. DASAR TEORI
Pada bab ini akan dibahas tentang standar dasar WiMAX, arsitektur jaringan, dan dasar business plan.
• BAB III. PERENCANAAN BISNIS JARINGAN WiMAX DI DAERAH URBAN DAN SUB URBAN
Pada bab ini akan dibahas bagaimana proses perencanaan bisnis jaringan WiMAX di daerah urban dan sub urban yang terdiri dari aspek pasar, aspek teknik, dan aspek finansial.
• BAB IV. ANALISA HASIL PERENCANAAN BISNIS
Pada bab ini akan diuraikan hasil dan analisa dari perencanaan yang telah dibuat.
• BAB V. PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan hasil perencanaan tugas akhir ini dan saran untuk pengembangannya.

BAB II
DASAR TEORI

2.1 Standar IEEE 802.16: Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX)
IEEE 802.16, “Air Interface for Fixed Broadband Wireless Access Systems”, juga dikenal sebagai IEEE Wireless MAN air interface, adalah standar yang dibuat untuk fixed, portable, dan mobile Broadband Wireless Access (BWA) pada Metropolitan Area Network (MAN). Standar ini dikeluarkan oleh IEEE (The Institute of Electrical and Engineers). Adapun WiMAX merupakan penggabungan standar IEEE 802.16 dengan ETSI HiperMAN. Pada masa mendatang, segala sesuatu yang berhubungan dengan teknologi BWA kemungkinan akan diberi sertifikat WiMAX.
WiMAX merupakan saluran komunikasi radio yang memungkinkan terjadinya jalur internet dua arah dari jarak puluhan kilometer. Dengan memanfaatkan gelombang radio, teknologi ini bisa dipakai dengan frekuensi berbeda, sesuai dengan kondisi dan peraturan pemakaian frekuensi di negara user. Pengguna tidak akan kesulitan dalam mengulur berbagai macam kabel, apalagi WiMAX mampu menangani sampai ribuan user sekaligus.
Gambar berikut memperlihatkan turunan standar IEEE 802.16:

2.1.1 IEEE 802.16
IEEE 802.16 merupakan standard yang digunakan untuk membangun jaringan Fixed Wireless Access. Standard ini menetapkan air interface dari Fixed Wireless Access yaitu Medium Access Control (MAC) dan Physical Layer (PHY). Spesifikasi MAC mampu mendukung multiple Physical Layer Specification. PHY pada standar IEEE 802.16 digunakan pada frekuensi operasi 10-66 GHz. Standard ini digunakan untuk membangun link point to point dan bersifat Line Of Sight.

2.1.2 IEEE 802.16a
Standard IEEE 802.16a memperluas range yang digunakan pada Fixed Wireless Access dan disahkan pada january 2003. Pada standard ini menggunakan range frekuensi 2-11 GHz untuk physical layernya. Physical layer 802.16a terdiri dari single carrier, Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM). Standard ini akan digunakan untuk membangun link Point to Point yang bersifat Line of Sight (LOS) karena pada standard ini menggunakan teknik multiplex OFDM yang tahan terhadap multipath dan delay spread dan juga akan mampu mengatasi masalah Non Line of Sight (NLOS).

2.1.3 IEEE 802.16 Rev-d/2004
Pada juli 2004, WiMAX forum memperbaharui standar IEEE 802.16a menjadi standar IEEE 802.16 Rev d atau yang dikenal dengan 802.16-2004 dimana standar ini merupakan wide ranging standar dimana termasuk didalamnya versi standar sebelumnya (802.16-2001,802.16c, dan 802.16a) dan mengcover aplikasi LOS dan NLOS pada frekuensi 2 – 66 GHz. Perubahan yang diperkenalkan dalam 802.16-2004 difokuskan pada aplikasi fixed dan nomadic pada frekuensi 2-11 GHz. Dua teknik modulasi multicarrier juga mendukung standar ini yaitu OFDM 256 carrier dan OFDMA 2048 carrier. Profil sertifikasi WiMAX forum yang pertama berdasarkan OFDM yang didefinisikan dalam versi dari standar ini. Dalam tugas akhir ini standar yang dipakai untuk perencanaan bisnis Fixed Wireless Access (FWA) adalah standar IEEE 802.16-2004.
2.1.4 IEEE 802.16e
Di desember 2005, IEEE merampungkan amandemen standar 802.16. Amandemen ini menambahkan fitur dan atribut-atribut pada standar yang dianggap penting untuk mendukung mobilitas. WiMAX forum sekarang ini tengah mendefinisikan performansi system dan sertifikasi profil berdasarkan IEEE 802.16e Mobile Amandement dan telah melewati bahasan air interface. WiMAX forum juga mendefinisikan arsitektur jaringan yang penting untuk implementasi jaringan WiMAX mobile end to end. Profil system Release-1 akan selesai diawal 2006.
Amandemen Mobile WiMAX ini menggunakan frek carrier diantara 2 – 6 GHz. Mobile WiMAX System Release-1 ini juga mendukung jaringan fixed broadband wireless atau yang dikenal FWA, sehingga memungkinkan konvergensi dari jaringan mobile dan fixed broadband melalui satu teknologi wide area broadband radio access dan arsitektur jaringan yang fleksibel. Air interface mobile WiMAX menggunakan SOFDMA (Scalable OFDMA) yang diperkenalkan oleh mobile WiMAX IEEE 802.16e yang mendukung scalable channel BW dari 1.25 – 20 MHz. Mobile WiMAX memiliki bebarapa fitur tambahan seperti: high data rates 63 Mbps DL per sektor pada BW 10 MHz, QoS, Scalability, Security, dan Mobility yang mendukung optimasi handover.

2.2 Konfigurasi Jaringan WiMAX
Konfigurasi umum untuk jaringan WiMAX dapat diperlihatkan pada gambar berikut:

Gambar 2.2 Konfigurasi Umum Jaringan WiMAX

2.2.1 IEEE 802.16-2004
Fixed wireless access mempunyai beberapa network topologi yaitu point to point, point to multi point dan mesh network.

Gambar 2.3 Konfigurasi Umum Jaringan Fixed Wireless Access
? Point to Point
Point to Point adalah jaringan yang menghubungkan antara dua terminal. Antara sisi pemancar dan sisi penerima terdapat 1 perangkat pemancar dan 1 perangkat penerima. Contohnya adalah hubungan antara BTS dengan BSC di PT. TELKOM.
? Point to Multipoint
Point to Multipoint adalah jaringan yang menghubungkan antara sisi pemancar dan sisi penerima terdapat 1 perangkat pemancar dan banyak perangkat penerima. Contohnya adalah hubungan antara BTS dengan pemakai.

Gambar 2.4 Metode Point to Point dan Point to Multipoint pada FWA

? Mesh Network
Mesh Network end user terminal juga berfungsi sebagi router bagi end user terminal yang lain. Mesh network menawarkan peningkatan coverage wireless access network karena setiap subscriber berfungsi sebagai BTS baru bagi subscriber disampingnya.
2.3 Perhitungan Peramalan Demand
Peramalan biasanya digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk perencanaan, karena esensi dari peramalan adalah bagaimana cara memprediksi dan menempatkan masalah yang dihadapi pada kondisi yang akan datang dengan memperhatikan kondisi masa lalu hingga saat ini.
Berdasarkan data pelanggan yang didapat disaat sekarang, dilakukan estimasi jumlah pelanggan hingga beberapa tahun kedepan sehingga hasil perencanaan dapat digunakan hingga beberapa tahun kedepan, atau dengan jumlah demand maksimal yang diperkirakan.
Perkiraan jumlah demand tersebut dapat ditentukan dengan persamaan berikut :
………………………………………………………………... 2.1
Dimana :
Lp : Jumlah prediksi demand pada n tahun ke depan
Ls : Jumlah demand tahun pertama
Fp : Faktor pertumbuhan pelanggan
n : Jumlah tahun prediksi

2.4 Studi Kelayakan Bisnis
Study kelayakan bisnis merupakan gambaran kegiatan usaha yang direncanakan, sesuai dengan kondisi, potensi, serta peluang yang tersedia dari berbagai aspek. Dengan melihat aspek-aspek yang sangat fundamental dalam bisnis ini, maka aspek yang akan ditinjau sebagai berikut:
1. Aspek Pasar
2. Aspek Teknik
3. Aspek Finansial
Adapun aspek-aspek tersebut akan dijelaskan masing-masing pada sub bagian berikut untuk lebih jelasnya.

2.4.1 Aspek Pasar
Aspek pasar adalah inti dari penyusunan studi kelayakan. Kendatipun secara teknis telah menunjukkan hasil yang feasible untuk dilaksanakan, tetapi tidak ada artinya apabila tidak dibarengi dengan adanya pemasaran dari produk yang dihasilkan. Oleh karenanya, dalam membicarakan aspek pemasaran harus benar-benar diuraikan secara baik dan realistis baik mengenai masa lalu maupun prospeknya di masa yang akan datang, serta melihat bermacam-macam peluang dan kendala yang mungkin akan dihadapi. Permintaan pasar dari produk/jasa yang dihasilkan, merupakan dasar dalam penyusunan jumlah produksi, jumlah produksi itu sendiri merupakan dasar dalam rencana pembelian bahan baku, jumlah tenaga kerja yang diperlukan, serta fasilitas lainnya yang dibutuhkan.

2.4.2 Aspek Teknis
Analisis aspek teknis antara lain meliputi posisi dari kondisi yang ada sesuai dengan karakteristik dari teknologi yang dipakai. Beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam analisis teknis antara lain potensi dan karakteristik serta spesifikasi dari teknologi yang akan digunakan.
Pemilihan terhadap jenis teknologi yang digunakan perlu dijelaskan baik mengenai jenis, jumlah dan ukuran bila diperlukan serta alasan-alasan dalam pemilihan, dihubungkan dengan masalah yang dihadapi disamping investasi lainnya.
Dalam aspek teknis produksi, perlu juga dibuat rencana produksi pada setiap tahun selama umur ekonomis proyek yang didasarkan pada peluang pasar, kapasitas produksi, serta penyusunan keperluan kegiatan secara teknis.

2.4.3 Aspek Finansial
Aspek finansial yang perlu dibahas, antara lain menyangkut dengan perkiraan biaya investasi, perkiraan biaya operasi dan pemeliharaan, kebutuhan modal kerja, sumber pembiayaan, perkiraan pendapatan, perhitungan kriteria investasi. Selain perhitungan ini, juga perlu ditampilkan perhitungan break even point, proyeksi laba rugi, proyeksi aliran kas dan dampak proyek terhadap perekonomian masyarakat secara keseluruhan.

2.4.3.1 Perkiraan Investasi
Jumlah dan jenis investasi apa saja yang diperlukan dalam rencana kegiatan usaha/proyek yang akan dikerjakan harus jelas, baik mengenai jumlah dan jenisnya maupun harga dari masing-masing investasi dan dibentuk dalam sebuah tabel. Harga dari masing-masing investasi sedapat mungkin harus sesuai dengan harga pada saat pengadaan investasi sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam perhitungan.

2.4.3.2 Biaya Operasi dan pemeliharaan
Biaya operasi dan pemeliharaan terdiri dari biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Perhitungan biaya ini harus disusun dan dihitung sedemikian rupa sehingga tidak ada unsur biaya yang tertinggal. Hal ini sangat perlu karena keadaan ini akan mempengaruhi perhitungan analisis kriteria investasi yang digunakan sebagai indicator dalam menentukan feasible tidaknya rencana usaha/proyek yang dikembangkan. Disamping perhitungan tersebut, penentuan unsur biaya yang dihitung dari semua unsur biaya berhubungan dengan perhitungan harga pokok produksi yang akan digunakan dalam menentukan harga jual dari produk yang dihasilkan.

2.4.3.3 Sumber Pembiayaan
Sumber pembiayaan, baik biaya investasi maupun modal kerja harus direncanakan secara jelas dan terperinci. Dalam hal ini harus dapat ditentukan komposisi modal secara jelas, berapa persen sumber modal yang berasal dari pengusaha/investor maupun saham, dan berapa persen pula yang berasal dari pinjaman luar.

2.4.3.4 Perkiraan Pendapatan
Perkiraan pendapatan atau benefit yang diterima dari usaha/proyek yang akan dikembangkan juga harus benar-benar dapat diperkirakan secara benar sehingga keputusan yang diambil benar-benar dapat dipertanggung jawabkan. Perkiraan benefit dalam bentuk financial direncanakan sesuai dengan rencana produksi dan rencana penjualan. Bentuk penerimaan ini dapat digolongkan atas 2 bagian, yaitu penerimaan yang berasal dari hasil penjualan barang-barang yang diproses dan penerimaan yang berasal dari luar barang-barang yang diproses.

2.4.3.5 Break Even Point
Break Even Point adalah suatu tingkat produksi dimana total revenue sama dengan total cost (TR=TC). Tingkat BEP ini dapat dilihat dari 3 bagian, antara lain dari segi jumlah produksi, lamanya waktu pengembalian biaya, dan jumlah biaya yang dikeluarkan. Tingkat BEP ini dapat dilihat dari jumlah produksi yang dapat menghasilkan profit. Dalam analisis ini juga perlu dihitung jumlah produksi yang dapat menghasilkan maximum profit (MR=MC) sebagai indikator bagi pengusaha dalam menjalankan produksi nantinya.
Tingkat BEP dilihat dari segi waktu, maksudnya untuk mengetahui berapa lama usaha/proyek yang direncanakan baru dapat menutupi segala biaya yang dikeluarkan. Ukuran ini sangat penting untuk diketahui, karena terlalu lama waktu mengembalikan total biaya belum tentu layak bagi semua pengusaha/investor kendatipun usaha/proyek ini feasible untuk di kembangkan.
Dilihat dari segi jumlah biaya yang dikeluarkan, maksudnya berapa jumlah biaya yang dikeluarkan baru berada dalam keadaan BEP.

2.4.3.6 Proyeksi Laba Rugi dan Aliran Kas
Proyeksi Laba Rugi dan aliran kas dibentuk dalam jangka waktu tertentu untuk melihat prospek keuangan dari usaha/proyek yang direncanakan. Dengan adanya proyeksi laba rugi dan aliran kas dapat diketahui posisi keuangan dimasa yang akan datang, disamping itu dapat digunakan sebagai pedoman/indicator bagi pengusaha dalam menjalankan usaha/proyek.

2.4.4 Analisa Ekonomi Teknik
Ekonomi teknik adalah suatu teknis dan analisa dalam mengambil suatu keputusan dari beberapa alternative rancangan teknis atau rancangan investasi yang dianggap sama-sama memenuhi persyaratan dan hendak dipilih alternative yang paling ekonomis. Jika hanya ada satu alternative yang memenuhi syarat, maka ekonomi teknik dapat digunakan untuk menentukan layak tidaknya alternative tersebut ditinjau dari segi ekonomi.
Nilai uang akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan nilai uang karena adanya inflasi. Semakin tinggi tingkat inflasi, semakin cepat penurunan nilai uang. Hal semacam ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kalau inflasi diharapkan meningkat, maka umumnya bank-bank harus memberikan suku bunga pinjaman yang makin tinggi agar masyarakat tetap bersedia menyimpan dana mereka di bank.

2.4.4.1 Umur Ekonomis
Suatu fasilitas mempunyai umur teknis dan umur ekonomis. Umur teknis merupakan jangka waktu suatu fasilitas masih dapat berfungsi secara teknis dalam arti masih dapat digunakan sesuai dengan tujuan dan kondisi penggunaan semula. Umur ekonomis merupakan jangka waktu suatu fasilitas masih dapat berfungsi secara ekonomi, artinya masih dapat berfungsi dengan biaya yang relative minimum.

2.4.4.2 Depresiasi
Depresiasi adalah penyusutan nilai dari suatu fasilitas karena bertambahnya waktu dan tingkat pemakaian. Perhitungan depresiasi ini penting maknanya bagi perusahaan karena depresiasi berkaitan erat dengan fasilitas produksi yang baru lagi. Depresiasi sendiri sebenarnya faktor pengurangan hasil pendapatan yang merupakan tabungan bagi pemilik perusahaan untuk memperbaharui fasilitasnya.
1. Metode Garis Lurus (Straight Line Depreciation)
Merupakan metode depresiasi yang paling sederhana dan paling mudah dipergunakan. Dalam metode garis lurus, jumlah depresiasi dihitung dengan jalan membagi depreciation reciable value (jumlah investasi dikurangi nilai sisa) dari suatu aktiva dengan umur ekonomisnya, sehingga dengan menggunakan metode ini, besarnya nilai depresiasi tiap periode tetap. Besarnya adalah:
………………………………………………………….. 2.2
Dimana :
P = Jumlah penyusutan per tahun n = Umur ekonomis aset
B = Harga beli aset (original cost)
S = nilai sisa (scrap value)

2. Metode Saldo menurun Ganda (Double Declining Balance Depreciation Methode)
Metode ini menggunakan laju perubahan nilai konstan terhadap nilai buku investasi yang ditanamkan. Apalagi laju perubahan dua kali perubahan nilai dari metode garis lurus ini yang disebut double declining balance. Bila menggunakan metode ini, maka jumlah yang digunakan sebagai dasar perhitungan depresiasi adalah keseluruhan nilai investasi jadi bukan nilai investasi dikurangi sisa. Dan biasanya jumlah depresiasi pada akhir tahun akan sama dengan nilai buku pada awal tahun terakhir dikurangi nilai sisa.
3. Metode Jumlah Angka Tahun (The Sum of Year Digits Depreciation Methode)
Dalam metode ini, menghasilkan nilai lebih besar pada tahun awal operasi dibanding metode garis lurus dan nilai-nilai lebih kecil pada tahun-tahun akhir.
Jumlah dana depresiasi yang harus dikeluarkan pada setiap tahun didasarkan pada jumlah angka tahunan dari umur ekonomis aset.

2.4.4.3 Pendekatan Umum Penetapan Harga
Harga yang ditetapkan perusahaan akan berada pada suatu titik antara harga yang terlalu rendah dan yang terlalu tinggi. Biaya produk menentukan harga terendah; sedangkan persepsi konsumen terhadap nilai produk menentukan harga tertinggi. Perusahaan harus dapat menentukan harga tertinggi. Perusahaan harus dapat menentukan harga diantara kedua titik tadi untuk menentukan harga yang paling baik. Ada 4 dasar pendekatan dalam menetapkan harga, yaitu:
1. Berdasarkan Biaya
Metode ini menambahkan suatu mark-up baku untuk labanya, dalam tugas akhir ini metode inilah yang digunakan. Sebagai contoh, harga pokok produsen terhadap suatu barang sebesar Rp. 16.000,- dimana harga ini didapat dengan menggunakan rumus dibawah.
…………. 2.3
Jika harga di mark-up sebesar 20%, maka harga dengan mark-up diperoleh sebesar Rp. 16.000,-/0.8 = Rp. 20.000,- sehingga setelah di mark-up produsen untung sebesar Rp. 4000,-.
2. Analisis Break Even
Metode ini menggunakan konsep bagan pulang-pokok yang menunujukkan total biaya (penjumlahan biaya tetap dan biaya variabel) dan jumlah pendapatan yang diharapkan pada beberapa tingkat volume penjualan. Titik potong antara kedua kurva merupakan volume pulang pokok dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
………………… 2.4
3. Berdasarkan persepsi pembeli
Dalam metode ini perusahaan menetapkan harga produk bukan berdasarkan atas biaya penjual yang kadang-kadang terlalu tinggi atau terlalu rendah dari persepsi konsumen. Jadi, dapat dilakukan survey untuk harga barang yang sama oleh beberapa penjual yang ditanyakan langsung pada konsumen.
4. Berdasarkan Persaingan
Dengan metode ini penetapan harga dapat dilakukan setelah meneliti harga yang ditetapkan oleh para pesaing dekatnya. Cara lain adalah dengan penawaran tertutup (penetapan harga tender) yaitu penetapan harga atas dasar prakiraan bahwa pesaing melakukan hal yang sama; jadi bukan karena biaya atau permintaan terhadap produk mereka sendiri.

2.4.5 Kriteria Penilaian Investasi
Untuk mengambil suatu keputusan dalam suatu investasi diperlukan perhitungan dan analisa yang tepat untuk menilai dan menentukan investasi yang menguntungkan ditinjau dari segi ekonomis. Ada beberapa metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam pemilihan investasi, antara lain:

2.4.5.1 Net Present Value (NPV)
Metode ini menghitung selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih dimana akan datang. Jadi semua penerimaan dan pengeluaran yang membentuk cash flow untuk periode tertentu (sampai dengan umur ekonomis) dan nilai akhir proyek dikonversikan kedalam nilai sekarang dengan menggunakan tingkat suku bunga tertentu. Suatu proyek dikatakan layak apabila NPV>0 dan bila NPV<0 proyek ditolak. Tetapi bila ada NPV>0 untuk beberapa investasi, maka dipilih NPV paling besar. Dengan persamaan NPV sebagai berikut :

…………………………………. 2.5
…………………………………………………. 2.6
Dimana : CFt : aliran kas per tahun pada periode t
Io : investasi awal pada tahun 0
K : tingkat suku bunga

2.4.5.2 Internal Rate of Return (IRR)
Metode ini menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai penerimaan-penerimaan kas bersih di masa-masa mendatang. Jadi nilai IRR menggambarkan pada tingkat suku bunga berapa suatu proyek dapat mengembalikan investasi awal dan pengeluarannya dihitung berdasarkan nilai saat ini. Penentuan nilai IRR tidak dapat dilakukan dengan suatu formulasi matematik, tetapi dilakukan secara trial dan error dan interpolasi. Caranya, hitung nilai sekarang dari arus kas dari suatu investasi dengan menggunakan suku bunga yang wajar, misalnya 10% lalu bandingkan dengan biaya investasi, jika nilai investasi lebih kecil, maka dicoba lagi dengan suku bunga yang lebih tinggi. Demikian seterusnya sampai biaya investasi menjadi sama besar.
Persamaan perhitungan IRR [7] :
……………………………………………….. 2.7
Dimana : P1 : tingkat bunga ke 1
P2 : tingkat bunga ke 2
C1 : NPV ke 1
C2 : NPV ke 2

2.4.5.3 Pay Back Period (PBP)

Metode ini mencoba menghitung seberapa cepat investasi dapat kembali. Oleh karena itu satuan hasil perhitungannya merupakan satuan waktu (tahun, bulan, dan sebagainya). Semakin kecil periode waktu pengembaliannya, semakin cepat proses pengembalian suatu investasi. Bisa juga didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan agar penerimaan = investasi. Pay back period tidak mempertimbangkan konsep nilai uang terhadap waktu, dan pay back period bukan merupakan alat profitabilitas, tetapi lebih banyak mengarah pada alat pengukur kecepatan kembalinya dana.
Selain itu, metode ini tidak mempertimbangkan semua konsekuensi ekonomi setelah periode pengembalian. Jadi, pay back period ini hanya merupakan pendekatan, bukan suatu perhitungan yang pasti dan dipakai sebagai evaluasi awal saja, semakin cepat investasi kembali, semakin baik.
……………………………………………… 2.8
Kriteria penilaian PBP yaitu jika payback period lebih pendek daripada maksimum payback period atau umur investasi, maka usulan investasi dapat diterima.

2.4.5.4 Profitability Indeks (PI)
Metode ini menghitung perbandingan antara nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih dimasa yang akan datang dengan nilai sekarang dari investasi. Dengan persamaan yang digunakan adalah :
…………………………………………………………….. 2.9
Dimana :
CFt : aliran kas pertahun pada periode t
Io : Investasi awal pada tahun 0
K : tingkat suku bunga
Dengan kriteria penilaian :
- Jika PI > 1, usulan proyek dikatakan menguntungkan
- Jika PI < 1, usulan proyek tidak menguntungkan
Kriteria ini erat hubungannya dengan kriteria NPV, dimana jika NPV suatu proyek dikatakan layak (NPV > 0), maka menurut kriteria PI juga layak (PI>1) karena keduanya menggunakan variabel yang sama.

BAB III
PERENCANAAN BISNIS JARINGAN WIMAX UNTUK
DAERAH URBAN DAN SUBURBAN

Secara umum perencanaan bisnis pada jaringan WiMAX meliputi beberapa tahap tahap perencanaan yang dapat dilihat dalam diagram alir berikut ini:

Gambar 3.1 Diagram alir perencanaan bisnis WiMAX untuk daerah urban dan Suburban

3.1 Klasifikasian Daerah Layanan
Pembagian coverage area merupakan fungsi dari pengkategorian penggunaan daratan (land usage) . Empat kategori yang sering digunakan : dense metropolitan, urban, suburban, dan rural. Namun, pada Tugas Akhir ini hanya akan didefinisikan dua daerah sebagai wilayah perencanaaan yaitu urban dan suburban. Kategori ini diharapkan bisa mendefinisikan karakteristik propagasi dan atau kepadatan populasi pelanggan, yang mana menentukan estimasi kapasitas sistem yang diperlukan untuk melayani daerah tersebut. Gambaran mengenai kategori tersebut terangkum pada tabel 3.1
Tabel 3.1 Karakteristik daerah layanan
Area Karakteristik
Urban - Kepadatan pelanggan WiMAX potensial sangat tinggi
- Terdapat banyak kantor dan bangunan residensial
- Ukuran Sel WiMAX kecil untuk memenuhi kebutuhan kapasitas
- Kompetisi tinggi: dipengaruhi oleh ukuran pasar dan ketersediaan akses teknologi alternatif lain.
- Tipikal bangunan, 5 – 10 tingkat, seperti : hotel, rumah sakit, dll.
- Kepadatan penduduk dari 19.200 – 51.200 km2
Berdasarkan lingkungan kompetitif tersebut, operator baru akan menghadapi:
- Penetrasi pasar yang rendah
- Biaya pemasaran dan penjualan yang tinggi
Pertimbangan lain:
Spektrum terlisensi untuk meminimalkan kemungkinan interferensi.
Suburban - Kepadatan pelanggan WiMAX potensial menengah
- Persentase residen keluarga tunggal, tempat bisnis, pusat perbelanjaan lebih tinggi
- Kabel atau DSL mungkin tidak tersedia secara universal
- Radius sel WiMAX mungkin agak lebar tapi kapasitasnya dibatasi oleh bandwidth limited.
- Jenis bangunan terdiri dari, rumah ( 1 – 2 tingkat, tiap tingkat 50 m ), kantor dan pertokoan ( 2 – 5 tingkat )
- Kepadatan penduduk dari 1.280 – 19.200 km2
Operator baru akan menghadapi:
- Penetrasi pasar yang lebih besar

3.2 Aspek Pasar

3.2.1 Klasifikasi Pelanggan dan Kebutuhan Bandwidth
3.2.1.1 Pelanggan Fixed Wireless
Jenis pelanggan Fixed Wireless dibagi menjadi 3 bagian utama yaitu pelanggan Residential, Small Medium Enterprise (SME) dan Big Coorporate.
• Residential
Pelanggan perumahan yang akan masuk dalam calon pelanggan adalah pelanggan dengan tingkat ekonomi yang tinggi yaitu pada lokasi perumahan dengan tipe perumahan tipe 70 keatas, penentuan ini didasarkan pada data dari dinas pemukiman dan prasarana wilayah yang menggolongkan tipe 70 keatas adalah mewah. Kebanyakan perumahan biasanya hanya membutuhkan bandwidth yang relative kecil. Aplikasi yang biasa dipakai mungkin adalah web surfing, e-mail, chatting online, download, multi player games dan aplikasi-aplikasi yang tidak memerlukan bandwidth yang besar.
• Small Medium Enterprise (SME)
Pelanggan SME ini terdiri dari perusahaan-perusahaan, instansi pemerintah yang berada dalam kelas menengah kebawah dan sekolah maupun perguruan tinggi. Layanan/aplikasi yang digunakan biasanya adalah web surfing, aplikasi bisnis, e-goverment, e-mail, down load, dan akses intranet. Pembagian bandwidth dilakukan berdasarkan layanan yang akan digunakan. Dalam tugas akhir ini pembagian dibagi menjadi dua, yaitu :
? Basic Service, layanan/aplikasi yang digunakan adalah layanan internet standar. Bandwidth yang diberikan yaitu 128 kbps dimana target pasar yaitu sebesar 75% dari jumlah pelanggan SME.
? Premium Service, layanan/aplikasi yang digunakan adalah layanan internet standar ditambah layanan lain yang membutuhkan bandwidth yang besar seperti e-bussiness dan aplikasi online lainnya. Bandwidth yang diberikan yaitu 256 kbps dimana target pasar yaitu sebesar 25% dari jumlah pelanggan SME.

• Big Coorporate
Pelanggan dalam kategori ini adalah pelanggan yang berada dalam kelas menengah keatas yang membutuhkan bandwidth yang besar. Pelanggan yang termasuk dalam kelas ini adalah perusahaan/instansi pemerintah dengan karyawan/pegawai yang besar yang membutuhkan bandwidth yang besar. Layanan/aplikasi yang biasa digunakan web surfing, aplikasi bisnis, e-mail,e-government, download, dan akses intranet. Seperti halnya pada pelanggan SME, pada kategori ini pun pelanggan kami bagi dua yaitu :
? Basic Service, layanan/aplikasi yang digunakan adalah layanan internet standar. Bandwidth yang diberikan yaitu 512 kbps dimana target pasar yaitu sebesar 60% dari jumlah pelanggan coorporate.
? Premium Service, layanan/aplikasi yang digunakan adalah layanan internet standar ditambah layanan lain yang membutuhkan bandwidth yang besar seperti e-bussiness dan aplikasi online lainnya,. Bandwidth yang diberikan yaitu 1 Mbps dimana target pasar yaitu sebesar 40% dari jumlah pelanggan coorporate.

3.2.1.2 Pelanggan Nomadic Wireless
Jenis pelanggan Nomadic Wireless dibagi menjadi Casual User, Moderate User, Serious User, dan Job dependent User.
• Casual User
User ini merupakan pelanggan tidak tetap, menggunakan layanan internet sesuka hati user itu sendiri dengan rata-rata pemakaian 1 jam per hari. Kebutuhan bandwidth untuk user ini tidak terlalu besar, bahkan bisa dikatakan kecil. Layanan yang digunakan biasanya adalah chatting, web surfing,e-mail dll. Populasi user ini adalah 15% dari demand nomadic untuk daerah urban dan 30% dari demand nomadic untuk daerah suburban.
• Moderate User
User ini juga tidak membutuhkan bandwidth yang terlalu besar, bisa dikatakan kebutuhannya sama dengan casual user akan tetapi rata-rata pemakaian yang lama dengan rata-rata pemakaian 3 jam perhari . Populasi user ini adalah 25% dari demand nomadic untuk daerah urban dan 30% untuk daerah suburban. Layanan yang digunakan biasanya adalah e-mail, chatting, web surfing, download, dll. Contoh, mahasiswa.
• Serious User
User ini selalu membutuhkan layanan internet. User ini membutuhkan bandwidth yang sedang. Layanan yang digunakan biasanya adalah e-mail, chatting, web surfing, download, games dll. Contoh, gamers online.
• Job Dependent User
User ini menggunakan layanan internet untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kebutuhan user ini sangat bergantung dari jenis pekerjaan yang digelutinya sehingga membutuhkan layanan bandwidth yang besar untuk memenuhi kebutuhan aplikasi-aplikasi yang membutuhkan bandwidth besar seperti telework, videoconferencing, video telephony, Telework, Streaming media, E-Banking, E-News,video on demand,dll.

3.2.2 Jenis Layanan dan Bandwidth yang ditawarkan
Dalam perencanaan ini jenis layanan dan bandwidth yang ditawarkan kepada pasar akan disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

TYPE COSTUMER DESKRIPSI LAYANAN SERVICE DATA RATE
Residential Internet access 384 Kbps CIR (1:20)
SME Layanan Dasar (75%) 128 Kbps CIR (1:1)
Layanan Premium (25%) 256 Kbps CIR (1:1)
Coorporate Layanan Dasar (75%) 512 Kbps CIR (1:1)
Layanan Premium (25%) 1024 Kbps CIR (1:1)
3.2.2.1 Fixed Wireless
Berikut adalah jenis layanan dan bandwidth yang ditawarkan untuk pelanggan fixed wireless.
Tabel 3.2 Jenis layanan dan bandwidth yang ditawarkan

Untuk Layanan fixed wireless, akan ditawarkan layanan untuk 3 kategori costumer yaitu : residential (perumahan), SME (Small Medium Enterprise), dan coorporate (perusahaan besar). Layanan berupa penyewaan bandwidth dari service provider dimana besar bandwidth yang disewakan berbeda-beda dan pasar bebas memilih tergantung kebutuhan. Untuk residential disediakan layanan broadband dengan bandwidth 384 Kbps CIR (Commited Information Ratio) 1:20. Untuk perusahaan (SME dan coorporate) disediakan layanan broadband dengan CIR 1:1.

3.2.2.2 Nomadic Wireless
Untuk layanan nomadic wireless, akan ditawarkan access internet dengan berupa pemakaian jaringan broadband dengan perhitungan tarif berdasarkan lama pemakaian jaringan broadband atau bandwidth yang disediakan. Lama pemakaian untuk jenis-jenis user nomadic akan diasumsikan sesuai dengan perilaku user.

Tabel 3.3 Jenis layanan dan average pemakaian jaringan
TYPE COSTUMER DESKRIPSI LAYANAN Average
Pemakaian/hari (jam) Average Pemakaian/bulan (jam)
Casual User Internet Access 1 30
Moderate User Internet Access 3 90
Serious User Internet Access 6 180
Job Dependent Internet Access 8 240

Adapun bandwidth yang dibutuhkan untuk berbagai tipe user nomadic akan diperlihatkan pada tabel 3.4. Untuk layanan nomadic diberikan bandwidth broadband dengan througput sebesar 512 Kbps CIR 1:17. Jadi, untuk satu user minimum costumer data rate yang digaransikan adalah 30 Kbps.

Tabel 3.4 Tipe user nomadic dan aplikasi yang digunakan
TYPE COSTUMER Aplikasi yang dipakai Kebutuhan data rate
Casual User Web browsing,email,chatting 20 Kbps

Moderate User Web browsing,email,chatting,download,VoIP 30 Kbps

Serious User Multiplayer Iinteractive Gaming, download, chatting,email,web browsing 50 Kbps

Job Dependent Telework,Streaming media, E-Banking, E-News,video on demand 5 Kbps to 2 Mbps

3.2.3 Perhitungan Jumlah Demand
Berdasarkan data pelanggan yang didapat, dilakukan estimasi jumlah pelanggan hingga 5 tahun kedepan dengan tingkat pertumbuhan demand diasumsikan sebesar 30%. Perkiraan jumlah pelanggan tersebut dapat ditentukan dengan persamaan 2.1. Pelanggan fixed dan nomadic wireless tersebar di dua daerah yaitu urban dan suburban. Adapun data asumsi pasar untuk daerah urban dan suburban akan ditunjukkan pada tabel 3.5 dan tabel 3.6.

Tabel 3.5 Data asumsi jumlah pelanggan area urban
ASUMSI UNTUK KASUS URBAN

Market segment Residential + Coorporate + Nomadic
Household Density 10,000
Business Density 1,000
Coverage area Urban (km2) 70
Total Populasi 770,000
Demand per km2 25
User Fixed Residential 45%
User Fixed SME 5%
User Fixed Coorporate 15%
User Nomadic Wireless 35%
Demand Residential per km2 11
Demand SME per km2 1
Demand coorporate per km2 4
Demand Nomadic Wireless per km2 9
Demand Residential thn 1 788
Demand SME thn 1 88
Demand coorporate thn 1 263
Demand Nomadic Wireless thn 1 613
Tingkat pertumbuhan demand 30%

Tabel 3.6 Data asumsi jumlah pelanggan area suburban
ASUMSI UNTUK KASUS SUBURBAN

Market segment Residential + Coorporate + Nomadic
Household Density 2,000
Business Density 100
Coverage area Suburban (Km2) 120
Total Populasi 252,000
Demand per km 2 (user) 12
User Fixed Residential 50%
User Fixed SME 15%
User Fixed Coorporate 5%
User Nomadic Wireless 30%
Demand Residential per km2 6
Demand SME per km2 2
Demand coorporate per km2 1
Demand Nomadic Wireless per km2 4
Demand Residential thn 1 720
Demand SME thn 1 216
Demand coorporate thn 1 72
Demand Nomadic Wireless thn 1 432
Tingkat pertumbuhan demand 30%

3.2.3.1 Pelanggan Fixed Wireless
Dari data diatas, maka untuk pelanggan fixed wireless didapatkan tabel pertumbuhan pelanggan sebagai berikut :

Tabel 3.7 Jumlah demand urban fixed wireless
Jumlah Demand Urban Fixed
Type 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Residential 788 1,024 1,331 1,730 2,249 2,924
SME 88 114 148 192 250 325
Coorporate 263 341 444 577 750 975
Total 1,138 1,479 1,922 2,499 3,249 4,223

Tabel 3.8 Jumlah demand suburban fixed wireless
Jumlah Demand Suburban Fixed
Type 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Residential 720 936 1,217 1,582 2,056 2,673
SME 216 281 365 475 617 802
Coorporate 72 94 122 158 206 267
Total 1,008 1,310 1,704 2,215 2,879 3,743

3.2.3.2 Pelanggan Nomadic Wireless
Dari data diatas, maka untuk pelanggan nomadic wireless didapatkan tabel pertumbuhan pelanggan sebagai berikut :

Tabel 3.9 Jumlah demand urban nomadic wireless
Jumlah Demand Urban Nomadic
Type 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Casual User (15%) 92 119 155 202 262 341
Moderate User (25%) 153 199 259 336 437 569
Serious User (25%) 153 199 259 336 437 569
Job Dependent (35%) 214 279 362 471 612 796
Total 613 796 1,035 1,346 1,749 2,274

Tabel 3.10 Jumlah demand suburban nomadic wireless
Jumlah Demand Suburban Nomadic
Type 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Casual User (30%) 130 168 219 285 370 481
Moderate User (30%) 130 168 219 285 370 481
Serious User (30%) 130 168 219 285 370 481
Job Dependent (10%) 43 56 73 95 123 160
Total 432 562 730 949 1,234 1,604

3.3 Aspek Teknik
Untuk perencanaan kebutuhan jaringan WiMAX yang dipakai dalam perencanaan bisnis ini akan didasarkan pada perencanaan menurut kapasitas sesuai dengan kebutuhan data pelanggan dan didasarkan pada jumlah pelanggan per BTS. Adapun perhitungan sel berdasarkaan coverage dapat dilihat pada lampiran.
3.3.1 Spesifikasi sistem WiMAX carrier 2,5 GHz
Mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh IEEE 802.16-2004 bahwa perhitungan raw bit rate pada WiMAX menggunakan teknik OFDM (Orthogonal Frekuensi Division Multiplexing). Berikut adalah parameter yang digunakan dalam perencanaan berdasarkan kapasitas.

Tabel 3.11 Parameter Teknis Perencanaan Kapasitas
PARAMETER TEKNIS PERENCANAAN KAPASITAS

Frekuensi carrier 2.5 GHz
Duplexing TDD
Channel BW 5 MHz
Adaptive Modulasi QPSK,16QAM,64QAM
Kondisi propagasi LOS dan Non LOS
Jumlah Channel/BS 3
Multiplexing OFDM
N-FFT 256
N-used 200
Sampling frekuensi (Fs) floor(nxBW/8000)x8000
Jarak antar subscriber ?f= Fs/N-FFT
Durasi data (Tb) Tb = 1/?f
Guard time (Tg ) Tg = GxTb
Tambahan ekstensi cyclic (G) G = 1/16
OFDM symbol duration (Ts) Ts = Tb + Tg
faktor pencuplik (n) 144/125untuk BW kelipatan 1.25 MHz
Jumlah Bit permodulasi bm

Tabel 3.12 Perhitungan parameter OFDM
Frek carrier (MHz) BW (kHz) n (144/125) Frek s (Fs) MHz ?f Tb Tg = 1/4 Tg = 1/8 Tg = 1/16 Tg = 1/32 Ts for 1/16
2500 5000 1.152 5.76 22,500 0.000044 0.000011 0.0000055 0.0000027 0.0000013 47.222

Perhitungan raw bit rate dipengaruhi oleh jumlah bit permodulasi (bm), coding rate (Cr), dan periode symbol (Ts). sehingga perhitungan bit rate menggunakan formula :
……………………………………………........ 3.1
dimana :
Cr = Coding rate
Ts = Periode symbol OFDM
bm = jumlah bit permodulasi

Berdasarkan WiMax Forum bahwa setiap frekuensi memiliki channel bandwidth yang berbeda. Perhitungan bit rate menggunakan modulasi 16QAM FEC 1/2, bandwidth 5 Mhz, Ts = 47,22 ?s, maka bit ratenya :
=
=
= 8.47 Mbps

Tabel 3.13 Kapasitas per sektor BTS WiMAX
Frek carrier(MHz) N used Modulasi coding rate bm Ts for 1/16 Data Rate(Mbps)
2500 200 64 QAM 3/4 6 47.22 19.06
64 QAM 2/3 6 16.94
16 QAM 3/4 4 12.71
16 QAM 1/2 4 8.47
QPSK 3/4 2 6.35
QPSK 1/2 2 4.24

3.3.2 Data Trafik per Area
Berdasarkan service data rate yang berbeda untuk setiap jenis pelanggan dan asumsi jumlah pelanggan diatas, maka asumsi jumlah trafik data berdasarkan peramalan demand akan ditampilkan pada tabel berikut dengan utilisasi jaringan diasumsikan sebesar 50% :

Tabel 3.14 Trafik data daerah urban (Mbps)
Type Costumer 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Fixed Wireless 193.12 251.05 326.36 424.27 551.56 717.02
nomadic Wireless 17.94 23.33 30.33 39.42 51.25 66.63
Total 211.06 274.38 356.69 463.70 602.81 783.65

Tabel 3.15 Trafik data daerah suburban (Mbps)
Type Costumer 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Fixed Wireless 92.81 120.66 156.85 203.91 265.08 344.61
Nomadic Wireless 12.66 16.45 21.39 27.81 36.15 46.99
Total 105.47 137.11 178.24 231.71 301.23 391.60

3.3.3 Jumlah Base Station Berdasarkan Trafik Data Pelanggan
Berdasarkan hasil perhitungan estimasi kebutuhan kapasitas (data rate) pelanggan serta hasil perhitungan kapasitas tiap sel, maka didapatkan jumlah sel yang dibutuhkan agar dapat meng-handle trafik dari hasil estimasi pelanggan dengan utilisasi jaringan sebesar 50%. Untuk menghitung jumlah sel menggunakan persamaan berikut [10]:
= ………………………. 3.2
dimana :
C = concentration factor, dimana nilai C=3 untuk urban dan C=3 untuk suburban.
Hasil perhitungan yang dibutuhkan untuk tiap tahunnya ditunjukkan pada tabel berikut :

Tabel 3.16 Jumlah sel area urban berdasarkan trafik pelanggan

PERHITUNGAN JUMLAH SEL BERDASARKAN KAPASITAS SEL
URBAN AREA (TRAFIK PLG)
Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Kebutuhan Demand (Mbps) 211.06 274.38 356.69 463.70 602.81 783.65
Concentration Factor ( C ) 3 3 3 3 3 3
Aggregate Capacity Demand (Mbps) 70.35 91.46 118.90 154.57 200.94 261.22
Sector Capacity (Mbps) 8.47 8.47 8.47 8.47 8.47 8.47
Utilisasi Network 50 % 4.24 4.24 4.24 4.24 4.24 4.24
Number Of Sector 17 22 28 36 47 62
Sector /Base Station 3 3 3 3 3 3
Number of Base Station 6 8 10 12 16 21
BTS 6 8 10 12 16 21

Tabel 3.17 Jumlah sel area suburban berdasarkan trafik pelanggan

PERHITUNGAN JUMLAH SEL BERDASARKAN KAPASITAS SEL
SUBURBAN AREA (TRAFIK PLG)
Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Rata2 Capacity Demand (Mbps) 105.47 137.11 178.24 231.71 301.23 391.60
Concentration Factor ( C ) 3 3 3 3 3 3
Aggregate Capacity Demand (Mbps) 35.16 45.70 59.41 77.24 100.41 130.53
Sector Capacity (Mbps) 8.47 8.47 8.47 8.47 8.47 8.47
Utilisasi Network 50 % 4.24 4.24 4.24 4.24 4.24 4.24
Number of Sector 8 11 14 18 24 31
Sector /Base Station 3 3 3 3 3 3
Number of Base Station 3 4 5 6 8 11
BTS 3 4 5 6 8 11

3.3.4 Jumlah Base Station Berdasarkan Jumlah Pelanggan
Berdasarkan kapasitas pelanggan untuk satu BTS dengan kondisi pesimis yaitu 250 pelanggan per sektor, maka didapatkan jumlah sel yang dibutuhkan agar dapat meng-handle pelanggan dari hasil peramalan demand. Hasil perhitungan yang dibutuhkan untuk tiap tahunnya ditunjukkan pada tabel berikut :

Tabel 3.18 Jumlah sel area urban berdasarkan jumlah pelanggan

PERHITUNGAN JUMLAH SEL BERDASARKAN KAPASITAS SEL
URBAN AREA (JUMLAH PLG)
Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Kapasitas pelanggan per sektor 250 250 250 250 250 250
Kapasitas pelanggan per BTS 750 750 750 750 750 750
Jumlah demand 1,750 2,275 2,958 3,845 4,998 6,498
Jumlah sektor /Base Station 3 3 3 3 3 3
Jumlah sektor 7 9 12 15 20 26
Jumlah Base Station 3 3 4 5 7 9
BTS 3 3 4 5 7 9

Tabel 3.19 Jumlah sel area suburban berdasarkan jumlah pelanggan

PERHITUNGAN JUMLAH SEL BERDASARKAN KAPASITAS SEL
SUBURBAN AREA (JUMLAH PLG)
Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Kapasitas pelanggan per sektor 250 250 250 250 250 250
Kapasitas pelanggan per BTS 750 750 750 750 750 750
Jumlah demand 1,440 1,872 2,434 3,164 4,113 5,347
Jumlah sektor /Base Station 3 3 3 3 3 3
Jumlah sektor 6 7 10 13 16 21
Jumlah Base Station 2 3 4 5 6 7
BTS 2 3 4 5 6 7

3.4 Aspek Finansial
3.4.1 Estimasi Investasi
3.4.1.1 Fixed Asset
Fixed Asset disebut juga CAPEX (Capital Expenditure) yaitu modal awal untuk investasi. Fixed asset yang dikeluarkan perusahaan meliputi : biaya BTS dan Site, biaya material installasi, dan software. Berdasarkan data harga perangkat WiMAX pada lampiran, estimasi fixed asset yang dikeluarkan sebesar Rp 22.369.649.243,- untuk daerah urban dan suburban dengan pembangunan BTS sebanyak 9 buah yaitu, 6 untuk daerah urban dan 3 untuk daerah suburban pada tahun 2008 dan pembelian CPE sesuai dengan jumlah pelanggan pada tahun 2008. Sementara itu pada perencanaan ini untuk dapat membangun BTS dan melayani kebutuhan CPE pelanggan sampai tahun 2013 maka fixed asset diprediksi yaitu sebesar Rp. 83 Milyar Rupiah. Rincian fixed asset daerah urban dan suburban dapat dilihat pada lampiran.

3.4.1.2 Working Capital
Working capital disebut juga OPEX (Operational Expenditure) yaitu biaya yang dikeluarkan saat sistem telah beroperasi. Terdiri dari 2 bagian yaitu, biaya operasional meliputi sewa tower, gaji pegawai, sewa link backhaul dan internet, biaya pemeliharaan dan biaya non operasional meliputi biaya administrasi dan biaya marketing. Adapun biaya tambahan yang bukan termasuk fixed asset dan working capital berdiri sendiri seperti depresiasi, sewa frekuensi dan biaya riset. Untuk itu dapat diestimasi besarnya biaya operasional selama 5 tahun adalah Rp. 795.409.329.180,- biaya operasional sangat tergantung dari jumlah BTS yang dioperasikan dan sewa BW internet per BTS-nya. Rincian working capital daerah urban dan suburban dapat dilihat pada lampiran.

3.4.1.3 Depresiasi
Estimasi depresiasi pada perencanaan ini didasarkan pada metode garis lurus (straight line depreciation). Dengan umur ekonomis BTS yaitu 5 tahun dan umur ekonomis CPE yaitu 3 tahun. Karena jumlah BTS dan CPE untuk daerah urban dan sub urban berbeda maka depresiasi yang dikeluarkan untuk kedua daerah tersebut juga berbeda.

3.4.2 Estimasi Tarif
Dalam perencanaan ini ditentukan juga tarif yang akan dikenakan pada pelanggan. Penetapan tarif didasarkan pada biaya yaitu fixed asset dan biaya operasional dengan mark-up sebesar 20% - 80% untuk labanya.

3.4.2.1 Tarif Sewa CPE
Untuk CPE, para pelanggan ditetapkan untuk menyewa CPE yang disediakan oleh perusahaan setiap bulan. CPE hanya disewakan bagi para pelanggan fixed wireless sedangkan untuk pelanggan nomadic wireless tidak disediakan oleh perusahaan. Tarif sewa CPE ini ditambahkan mark-up sebesar 20 % untuk CPE indoor dan 20% untuk CPE outdoor. Untuk pelanggan residential disediakan CPE indoor dan untuk pelanggan business disediakan CPE outdoor. Tarif sewa untuk pelanggan residential adalah Rp. 167.000,- dan tarif sewa untuk pelanggan business adalah Rp. 430.000,- Estimasi lebih rinci dapat dilihat pada lampiran.

3.4.2.2 Tarif Fixed Wireless
Tarif fixed wireless dibedakan untuk ketiga segment pasar yaitu, residential, SME, dan coorporate sesuai dengan besar bandwidth yang disewa. Tarif ini merupakan tarif sewa bandwidth yang disediakan oleh provider dengan mark-up yang ditambahkan sebesar 20% dari tarif dasar. Selain tarif sewa bandwidth, pelanggan juga dikenakan biaya registrasi dan biaya installasi untuk pelanggan dengan CPE outdoor. Berikut adalah tabel tarif untuk fixed wireless:
Tabel 3.20 Tarif fixed wireless untuk residential
TARIF WIMAX FIXED For RESIDENTIAL
Service Data Rate Harga Jual Tarif
384 Kbps CIR 1:20 Registrasi Rp 200,000
Sewa CPE per bulan Rp 167,000
Sewa BW per bulan Rp 835,000
Harga Sewa per bulan Rp 1,002,000
Tabel 3.21 Tarif fixed wireless untuk SME
TARIF WIMAX FIXED For SME
Service Data Rate Harga Jual Tarif
128 Kbps CIR 1:1 Registrasi Awal Rp 350,000
Biaya Installasi Rp 1,000,000
Sewa CPE per bulan Rp 430,000
Sewa BW per bulan Rp 6,045,000
Harga Sewa per bulan Rp 6,475,000
256 Kbps CIR 1:1 Registrasi Awal Rp 350,000
Biaya Installasi Rp 1,000,000
Sewa CPE per bulan Rp 430,000
Sewa BW per bulan Rp 11,900,000
Harga Sewa per bulan Rp 12,330,000

Tabel 3.22 Tarif fixed wireless untuk coorporate
TARIF WIMAX FIXED For COORPORATE
Service Data Rate Harga Jual Tarif
512 Kbps CIR 1:1 Registrasi Awal Rp 350,000
Biaya Installasi Rp 1,500,000
Sewa CPE per bulan Rp 430,000
Sewa BW per bulan Rp 23,625,000
Harga Sewa per bulan Rp 24,055,000
1024 Kbps CIR 1:1 Registrasi Awal Rp 350,000
Biaya Installasi Rp 1,500,000
Sewa CPE per bulan Rp 430,000
Sewa BW per bulan Rp 47,100,000
Harga Sewa per bulan Rp 47,530,000

Adapun dasar perhitungan tarif ini dapat dilihat pada lampiran.

3.4.2.3 Tarif Nomadic Wireless
Tarif nomadic wireless yang harus dibayar oleh pelanggan mobile didasarkan pada berapa lama ia terhubung jaringan WiMAX dengan sistem pasca bayar. Tarif ini ditambahkan mark-up sebesar 80%. Untuk pelanggan nomadic dikenakan sifat berlangganan, jadi sebelum melakukan koneksi pelanggan dikenakan biaya registrasi dan diharuskan membeli card layanan nomadic untuk authentikasi user dimana dengan card ini pelanggan diberikan nomor PIN pribadi untuk connect ke jaringan. Berikut adalah tabel tarif untuk nomadic wireless.

Tabel 3.23 Tarif nomadic wireless
TARIF WiMAX NOMADIC

Registrasi Awal Rp 250,000
Harga card layanan nomadic Rp 500,000
Tarif per jam Rp 10,000

Adapun dasar perhitungan tarif ini dapat dilihat pada lampiran.

3.4.3 Estimasi Pendapatan
Berdasarkan tarif yang telah ditetapkan, maka pendapatan didapatkan dari 2 sumber yaitu :
1. Penyewaan bandwidth untuk pelanggan fixed dan pemakaian jaringan untuk pelanggan nomadic, dimana penyewaan bandwidth didapatkan pelangan fixed setiap bulannya dan pemakaian jaringan didapatkan dari pelanggan nomadic setiap kali melakukan koneksi.
2. Penyewaan perangkat CPE, dimana penyewaan perangkat CPE didapatkan dari pelanggan yang akan menyewa perangkat CPE dari provider setiap bulannya.
Dengan penentuan tersebut diatas maka akan didapatkan pendapatan yang bertambah untuk setiap tahunnya, selengkapnya mengenai perhitungan pendapatan dapat dilihat pada lampiran.

BAB IV
ANALISA HASIL PERENCANAAN BISNIS

4.1 Strategi Bisnis
4.1.1 Alternatif Strategi Bisnis
Kondisi persaingan bisnis telekomunikasi dirasakan semakin ketat. Hal ini dapat dilihat dengan adanya perubahan teknologi telekomunikasi, broadcasting, dan IT. Konvergensi ini mendorong pertumbuhan jumlah dan jenis produk jasa dengan kualitas pelayanan yang bersaing untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Salah satu diantarnya adalah munculnya layanan WiMAX yang dapat membawa perubahan yang besar pada peta bisnis indonesia secara global. Perkembangan teknologi yang bersifat konvergen dan kecenderungan jasa yang dikembangkan secara independent ini memperkecil penghalang untuk masuk bagi pemain atau player baru pada bisnis telekomunikasi, baik sebagai service provider ataupun sebagai network provider.
Untuk itu diperlukan langkah strategis guna mengantisipasi persaingan yang ada sehingga perusahaan akan dapat menempatkan diri dan mempunyai posisi dalam bagian pasar bisnis telekomunikasi. Menurut Porter (1993:15) ada 3 strategi generik guna mengantisipasi persaingan yang ada, yang dapat dijadikan alternatif bagi pengembangan usaha. Adapun ketiga alternatif strategi tersbut adalah:
1. Strategi Keunggulan Biaya
Strategi ini menjadikan faktor biaya sebagai keunggulan bersaing, yaitu dengan menekan biaya seminimal mungkin. Dalam bisnis jasa internet, faktor utama yang menjadi perhatian pelanggan adalah kualitas produk jasa yang diberikan. Dengan keunggulan QoS WiMAX yang diberikan didukung dengan biaya yang rendah, akan dapat memberikan kepuasan bagi pelanggan dalam menggunakan layanan WiMAX yang ada. Hal ini dapat menyebabkan perusahaan dapat mengatasi para pesaingnya dimasa yang akan datang.
2. Strategi Diferensiasi
Dalam hal ini, perusahaan dapat mencapai diferensiasi melalui kemampuan, karakteristik teknologi yang dimiliki, dan jasa yang ditawarkan. Dengan adanya koordinasi yang kuat antara fungsi manajemen, perusahaan akan dapat mengatasi persaingan melalui peningkatan profesionalisme dan inovasi yang dilakukan. Perusahaaan akan mampu menarik minat pelanggann dan meyakinkan pelanggan sehingga kesetiaan pelanggan akan dapat diperoleh.
3. Strategi Fokus
Dalam strategi ini perusahaan memusatkan diri untuk memberikan layanan WiMAX pada segment pasar tertentu. Strategi fokus dibagun untuk mencapai target pasar yang sempit dan lebih efektif, dibandingkan dengan memasuki persaingan pada pasar keseluruhan. Dengan strategi fokus, perusahaan akan dapat mencapai fokus keunggulan biaya dan/atau fokus diferensiasi. Strategi ini dapat digunakan untuk memilih target pasar dimana posisi perusahaan akan kuat dan posisi pesaing lemah.

4.1.2 Pemilihan Strategi Bisnis
Berdasarkan pada analisa dan diagnosa yang telah dilakukan, maka dari ketiga alternatif strategi bersaing generik yang telah diuraikan pada dasarnya perusahaan, dapat memilih strategi fokus untuk tahap awal dalam memasuki bisnis jasa WiMAX. Pemilihan strategi fokus ini membawa perusahaan untuk memasuki bisnis baru dengan memfokuskan diri pada segment pasar yang spesifik, yang masih berkaitan dengan bidang usaha saat ini, yaitu bidang jasa layanan internet.
Pertimbangan yang mendasari pemilihan strategi fokus adalah:
? Kondisi bidang usaha yang masih dalam pasar terbatas
? Kondisi persaingan dalam bisnis jasa internet yang semakin ketat
? Reputasi perusahaan dalam kepeloporan kualitas layanan dan teknologi jasa WiMAX
? Peningkatan kemampuan perusahaan dalam sistem jaringan internet berbasis teknologi WiMAX
Dengan strategi fokus perlu dilakukan pencarian peluang-peluang pengembangan usaha dan inovasi produk jasa layanan WiMAX yang baru yang dibutuhkan pelanggan. Penguasaan teknologi baru harus selalu dilakukan untuk mengantisipasi persaingan ke era globalisasi. Strategi ini akan dijadikan dasar dan landasan yang kuat untuk memulai pengembangan usaha dan memasuki bisnis jasa layanan WiMAX secara profesional.

4.2 Analisa Pasar
4.2.1 Penentuan Permintaan Pasar
Dari data peramalan demand, dengan tingkat pertumbuhan 30% setiap tahunnya diharapkan layanan WiMAX cukup diminati oleh masyarakat, dan memiliki prospek pasar yang cukup cerah dimasa yang akan datang.

4.2.2 Penentuan Segment Pasar
Dari 4 segment pasar yang dijabarkan dalam bab III yaitu, residential, SME, coorporate, user nomadic maka yang paling berpotensi sebagai target pasar WiMAX adalah business segment (SME dan coorporate). Keputusan ini diambil dikarenakan segment ini membutuhkan layanan bandwidth yang cukup besar dimana keuntungan yang didapatkan cukup besar. Sehingga segment pasar yang harus mendapatkan perhatian khusus dimasa yang akan datang adalah business segment.

4.2.3 Peramalan Pasar
Berdasarkan peramalan permintaan pasar yang dilakukan terlihat bahwa permintaan pasar WiMAX setiap tahun mengalami peningkatan. Proyeksi pangsa pasar berdasarkan peramalan yang telah dilakukan diperlihatkan pada gambar berikut :

Gambar 4.1 Grafik pertumbuhan demand fixed urban

Gambar 4.2 Grafik pertumbuhan demand fixed suburban

Gambar 4.3 Grafik pertumbuhan demand nomadic urban

Gambar 4.4 Grafik pertumbuhan demand nomadic suburban

Dengan adanya peningkatan permintaan pasar menunjukkan bahwa pangsa pasar WiMAX dimasa yang akan datang cukup cerah dan dapat memberikan keuntungan yang besar.

4.3 Analisa Teknik
Dalam analisa teknik ini akan dibahas jumlah sel yang didapatkan berdasarkan kapasitas BTS dan berdasarkan coverage BTS. Dalam perencanaan bisnis ini, digunakan jumlah sel berdasarkan kapasitas BTS menurut kapasitas trafik dan kapasitas pelanggan. Hal ini disebabkan oleh jumlah sel berdasarkan kapasitas lebih banyak dibandingkan dengan jumlah sel berdasarkan coverage, dan agar kenyamanan pelanggan tetap terjaga maka akan dibangun BTS sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Analisa ini membuktikan bahwa jumlah sel berdasarkan kapasitas lebih banyak daripada jumlah sel berdasarkan coverage.
4.3.1 Kapasitas Sel
Perhitungan raw bit rate pada WiMAX menggunakan teknik OFDM (Orthogonal Frekuensi Division Multiplexing). Dengan frekuensi carrier 2.5 GHz dan bandwidth channel sebesar 5 MHz , dan dengan modulasi adaptive maka didapatkan kapasitas tiap sektor yang berbeda sesuai dengan modulasi yang digunakan. Berikut adalah grafik kapasitas tiap sektor terhadap bandwidth channel dengan menggunakan modulasi adaptive dan durasi simbol OFDM yang berbeda.

Gambar 4.5 Kapasitas per sektor

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa semakin besar periode simbol OFDM maka kapasitas yang dihasilkan pun lebih besar dan semakin tinggi tingkat modulasi (jumlah bit pemodulasi makin besar) serta coding rate yang makin besar maka kapasitas per sektor akan semakin besar pula.
Berdasarkan kapasitas tiap sektor dengan modulasi yang digunakan adalah 16 QAM, coding rate 1/2, dan periode simbol OFDM 1/16 didapatkan jumlah sel untuk daerah urban dan suburban sesuai dengan grafik berikut ini.

Gambar 4.6 Grafik pertumbuhan jumlah sel daerah urban berdasarkan trafik pelanggan

Gambar 4.7 Grafik pertumbuhan jumlah sel daerah suburban
berdasarkan trafik pelanggan

Dari grafik diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah sel untuk daerah urban dan suburban setiap tahunnya mengalami peningkatan sesuai dengan kebutuhan bandwidth pelanggan.
Berdasarkan kapasitas pelanggan tiap sektor yaitu 250 pelanggan per sektor untuk kondisi pesimis didapatkan jumlah sel untuk daerah urban dan suburban sesuai dengan grafik berikut ini :

Gambar 4.8 Grafik pertumbuhan jumlah sel daerah urban berdasarkan jumlah pelanggan

Gambar 4.9 Grafik pertumbuhan jumlah sel daerah suburban
berdasarkan jumlah pelanggan

Berdasarkan perhitungan jumlah sel, untuk daerah urban akan dibangun BTS sesuai dengan perhitungan berdasarkan trafik pelanggan hal ini dikarenakan jumlah sel berdasarkan trafik lebih besar daripada jumlah sel berdasarkan jumlah pelanggan, yaitu mencapai 21 BTS pada tahun 2011. Dan untuk daerah suburban akan dibangun BTS sesuai dengan perhitungan berdasarkan jumlah pelanggan hal ini dikarenakan jumlah sel berdasarkan jumlah pelanggan lebih besar daripada jumlah sel berdasarkan trafik pelanggan, yaitu mencapai 11 BTS pada tahun 2011.

4.3.2 Coverage Sel
Perhitungan coverage sel akan menentukan radius setiap sel yang akan dibangun untuk setiap daerah layanan. Berikut adalah hasil perhitungan dari beberapa parameter yang akan menentukan radius sel untuk frekuensi carrier 2.5 GHz :

Tabel 4.1 Hasil perhitungan parameter coverage
PERHITUNGAN PARAMETER COVERAGE
Frekuensi carrier 2.5 GHz
Bandwidth 5 MHz
EIRP CPE 42 dBm
RSL -85.72 dBm
MAPL 129.72 dB
Free Space Loss 80.45 dB

Penentuan radius sel pada tugas akhir kali ini menggunakan model propagasi SUI (Stanford University Interim).
Dari perhitungan luas sel berdasarkan model propagasi SUI maka didapatkan jumlah sel untuk urban dan suburban. Berikut adalah tabel jumlah sel untuk daerah urban dan suburban :
Tabel 4.2 Jumlah sel berdasarkan coverage
Daerah Layanan Jari-jari Sel Luas Sel Luas Daerah Layanan Jumlah Sel
Urban 1.095 km 3.11 km2 70 km2 22
Suburban 1.416 km 5.21 km2 120 km2 23

Dari hasil yang didapatkan dari tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah sel untuk daerah urban adalah 22 sel dan untuk daerah suburban adalah 23 sel. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah sel berdasarkan coverage juga layak untuk di-deploy tetapi hanya layak untuk daerah urban dan tidak layak untuk daerah suburban. Hal ini dikarenakan jumlah BTS suburban berdasarkan coverage lebih besar daripada jumlah BTS berdasarkan trafik pelanggan sehingga hal ini bisa menyebabkan biaya oprasional yang besar dan bisnis ini menjadi tidak layak lagi.

4.4 Analisa Finansial
4.4.1 Estimasi Pendapatan
Dari pengolahan data yang telah dilakukan pada lampiran terlihat bahwa estimasi pendapatan tergantung pada hasil peramalan demand dan hasil penentuan segment pasar. Berikut adalah grafik pendapatan untuk layanan fixed wireless dan nomadic wireless:

Gambar 4.10 Grafik pendapatan layanan fixed wireless

Gambar 4.11 Grafik pendapatan layanan nomadic wireless

Dari estimasi pendapatan diketahui bahwa pertumbuhan pendapatan WiMAX semakin meningkat. Hal ini menunjukkan suatu pertumbuhan yang bagus sebagai cermin dari meningkatnya kinerja perusahaan dan daya beli konsumen. Namun perlu diantisipasi bahwa pertumbuhan pendapatan tersebut ada kemungkinannya cenderung menurun, karena meningkatnya persaingan dalam jasa internet.

4.4.2 Estimasi Biaya
Dari proses estimasi biaya yang telah dilakukan, dapat diketahui investasi yang harus dilakukan dalam implementasi WiMAX ini sangat besar. Hal ini disebabkan oleh karena masih digunakannya produk/teknologi import yang pada kondisi ekonomi saat ini harganya menjadi mahal. Sehingga untuk mengurangi resiko yang ada (terjadi pengeluaran biaya yang lain) maka sebaiknya pihak manajemen perusahaan mengelola perangkat WiMAX ini dengan lebih hati-hati dan lebih teliti.

4.4.3 Analisa Rugi Laba
Dari pengolahan data yang telah dilakukan pada lampiran terlihat bahwa performansi operasi jaringan WiMAX setiap tahunnya meningkat, performansi disini yang dimaksud adalah keuntungan bersih yang diterima setelah dikurangi dengan biaya operasional, depresiasi, dan pajak sebesar 30%. Berikut adalah grafik rugi laba untuk layanan WiMAX :

Gambar 4.12 Grafik rugi laba

4.4.4 Analisa Aliran Kas
Pada pembuatan aliran kas (cash flow) diperlukan komponen-komponen cash in dan cash out. Kas masuk (cash in) dalam layanan WiMAX ini adalah besarnya pendapatan yang akan diperoleh dengan adanya implementasi BTS WiMAX. Pendapatan ini berasal dari sewa bandwidth dan CPE untuk layanan fixed wireless dan pemakaian jaringan WiMAX untuk layanan nomadic wireless.
Sedangkan kas keluar (cash out) adalah semua pengeluaran yang terdiri dari biaya investasi awal masing-masing daerah (urban dan suburban) dan pengeluaran pertahun. Berdasarkan data dan pengolahan data yang telah dilakukan dapat disusun estimasi aliran kas. Aliran kas (cash flow) dapat dibuat dengan periode penelaahan selama umur ekonomis yaitu 5 tahun.
Komponen-komponen aliran kas pada implementasi WiMAX ini terdiri dari biaya investasi, biaya pertahun, dan pendapatan pertahun. Berikut adalah grafik anggaran kas periode 5 tahun :

Gambar 4.13 Grafik anggaran kas periode 5 tahun

4.4.5 Analisa Strategi Finansial
Strategi finansial yang dapat dilakukan untuk implementasi WiMAX untuk meningkatkan produktivitas dari aspek finansial adalah sebagai berikut:
1. Mengurangi biaya operasional dengan cara mengurangi biaya operasional perangkat.
2. Merencanakan dan mengendalikan anggaran WiMAX, menyelenggarakan perbendaharaan yang meliputi pengelolaan dana.
3. Menyelenggarakan akutansi keuangan dan akutansi manajemen sesuai denagn sistem akutannsi perusahaan.
4. Melakukan pengendalian keuangan yang efektif.
5. Menjalin kerjasama kemitraan dengan pihak lain untuk membiayai strategi pertumbuhan pangsa pasar.
6. Mengalokasikan dana yang lebih besar untuk kegiatan riset dan pengembangan serta pelatihan karyawan.

4.5 Analisa Kelayakan

4.5.1 Analisa Ekonomi Teknik
Untuk mengetahui layak tidaknya suatu proyek ditinjau dari aspek finansial, maka setelah dibuat estimasi aliran kas dilakukan analisis ektek yang terdiri dari :
? Analisa NPV
? Analisa IRR
? Analisa PBP
? Analisa PI
Data mengenai estimasi aliran kas dan proses analisa ektek terhadap aliran kas tersebut dapat dilihat di lampiran. Berikut adalah grafik net cash summary untuk memudahkan analisa ektek :

Gambar 4.14 Grafik net cash summary

Berdasarkan analisa yang telah dilakukan untuk implementasi layanan WiMAX pada lampiran tersebut, didapatkan resume sebagai berikut :
1. NPV = Rp. 169.926.566.612,- NPV > 0
2. IRR = 41.45%, MARR = 20%, IRR > MARR
3. Pay Back Period = 2.44 tahun
4. IP = 1.71, IP > 1
Sehingga dapat disimpulkan bahwa usaha yang dijalankan untuk implementasi WiMAX layak atau feasible ditinjau dari segi finansial.

4.5.2 Analisa Break Even Point
Perhitungan BEP adalah sangat penting karena keunggulannya dapat memberikan penjualan atau kapasitas. Dari pehitungan BEP yang telah dilakukan pada lampiran didapatkan BEP dengan nilai rupiah sebesar Rp. 569.799.236,-.. Penggunaan rumus BEP dengan nilai rupiah dikarenakan layanan yang dihasilkan lebih dari satu layanan. Apabila perusahaan telah dapat mencapai produksi diatas break even point, maka ia dapat memperoleh laba karena biaya tetap telah dapat ditanggulangi. Dengan demikian penjualan diatas break even point merupakan keuntungan bagi perusahaan. Berikut adalah grafik break even point yang didapatkan dari hasil perhitungan break even :

Gambar 4.15 Grafik break even point

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan analisa pasar didapatkan bahwa permintaan pasar WiMAX semakin meningkat setiap tahunnya. Dimana jumlah pelanggan pada tahun pertama adalah 3.190 pelanggan dan pada tahun ke 5 mencapai 11.844 pelanggan.
2. Jumlah sel yang didapatkan berdasarkan perhitungan, untuk daerah urban berdasarkan trafik pelanggan yaitu 21 BTS dan untuk daerah suburban berdasarkan trafik pelanggan yaitu 11 BTS.
3. Dari analisa ekonomi teknik didapatkan:
a. NPV = Rp. 169.926.566.612,- NPV > 0
b. IRR = 41.45%, MARR = 20%, IRR > MARR
c. Pay Back Period = 2.44 tahun
d. IP = 1.71 , IP > 1
4. Biaya capex selama 5 tahun adalah Rp. 83.926.455.764,-
5. Biaya opex selama 5 tahun adalah Rp. 795.409.329.180,-
6. Perencanaan bisnis WiMAX layak diimplementasikan sebab telah memenuhi syarat dari segi finansial.

5.2 Saran
1. Untuk tugas akhir selanjutnya dapat menggunakan perencanaan jaringan berdasarkan coverage untuk melihat apakah masih layak atau tidak dari segi finansial.
2. Untuk pengembangan selanjutnya, analisa kelayakan proyek juga ditinjau dari rencana pemasaran yang lebih lengkap seperti strategi pemasaran dan kondisi persaingan, aspek organisasi dan manajemen, dan analisis SWOT.
3. Untuk pengembangan selanjutnya, teknik forecasting didasarkan pada sisi statistik yang lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Wang, Jialing., “Will WiMAX+WLAN Constitute a Subsitute to 3G?- a Techno Economic Case Study “, Master’s Degree Project, Stockholm-Sweden, March 2004.
[2] Chang, Dean.S.K., “WiMAX Contributing to Deliver Global Broadband Wireless Services”, WiMAX Forum, 2004.
[3] Forum, WiMAX., “Mobile WiMAX – Part I : A Technical Overview And Performance Evaluation”, WiMAX Forum, February 2006.
[4] Indryani. Lidya., “Perencanaan Jaringan CDMA 2000-1x Secara Menyeluruh Meliputi pendimensian Perangkat dan Pemodelan Bisnis”, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro STT Telkom, Bandung, 2004.
[5] Ibrahim, H.M Yacob Drs., “Studi Kelayakan Bisnis”, Binarupa Aksara, Jakarta, 1995.
[6] Umar, Husein Drs,SE,MM,MBA.,“Studi Kelayakan Bisnis, Manajemen, Metode, dan Kasus”, PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1999.
[7] Rangkuti, Freddy., “Business Plan, Teknik Membuat Perencanaan Bisnis dan Analisis Kasus”. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2000.
[8] Forum, WiMAX., ”WiMAX Deployment Considerations for Fixed Wireless Access in the 2.5 GHz and 3.5 GHz Licensed Bands”, WiMAX Forum, May 2005.
[9] Joyoboyo, Sumantri., ”Perencanaan Sistem Wireless Metropolitan Area Network Dengan Menggunakan Teknologi WiMAX Pada Wilayah DI Yogyakarta”, Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro STT Telkom, Bandung, 2005.
[10] Smura, Timo., “Techno-Economic Analysis of IEEE 802.16a-Based Fixed Wireless Access Networks”, Thesis of Master of Science, Helsinki University, 2004.
[11] Porter,Michael E., “Strategi Bersaing: Teknik Menganalisis Industri dan Pesaing”, Erlangga, Jakarta, 1993.


Untuk dapat melihat dan mendownload file skripsi lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Member Special dapat mendownload SELURUH file content yang ada di website ini. Daftarkan diri anda segera. UNLIMITED ACCESS

Google

PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI



Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuannyadi sini

Design by xactive -