ABSTRAK
Nama : Hendra Iskandar
Judul : Struktur, perilaku, dan kinerja industri kaos di jalan surapati-P.H.H Mustopa kota bandung.
Industri kaos merupakan salah satu industri yang sangat potensial dan dapat memberikan pendapatan yang cukup besar bagi pemiliknya dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dalam tiga tahun terakhir jumlah unit usaha kaos di jalan Surapati-P.H.H Mustopa cenderung meningkat rata-rata sebesar 6,54%. Bertambahnya jumlah unit usaha tentunya dapat berdampak pada tingginya persaingan. Persaingan yang dirasakan oleh industri kaos masih sangat ketat, indikasi ini terlihat dari tingkat persaingan harga diantara para produsen. Maraknya tawaran dengan potongan harga sampai 50% untuk jenis kaos tertentu yang memiliki kualitas bahan relatif baik menunjukkan bahwa persaingan dalam merebut pembeli sangat tinggi. Melihat adanya persaingan dalam usaha kaos di daerah tersebut, maka menjadi penting untuk memperkukuh struktur industri kaos agar dapat bersaing dengan industri lainnya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk struktur, perilaku dan kinerja industri kaos di jalan Surapati-P.H.H Mustopa Bandung. Metode pengolahan dan analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif untuk menggambarkan, menganalisis, dan menarik kesimpulan tentang objek yang diteliti berdasarkan pada data yang diperoleh dari lokasi penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur pasar industri kaos Suci berbentuk pasar persaingan sempurna. Hal ini terlihat dari jumlah pelaku usaha industri kaos suci banyak, dengan jenis produk yang homogen serta hambatan untuk masuk industri mudah dan tingkat penguasaan pasar yang rendah. Sedangkan perilaku industrinya adalah persaingan monopolistik, hal ini terlihat dari strategi harga yang hanya bersifat penyesuaian dan strategi promosi yang lebih memfokuskan pada persaingan non-harga yang ditunjukan untuk membangun nama merek. Sementara itu kinerja industri kaos di dilihat dari indikator efisiensi adalah sedang dan keuntungan yang diperoleh pelaku usaha normal.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan industri kecil termasuk industri rumah tangga yang bersifat informal merupakan bagian dari perkembangan industri dan ekonomi nasional secara keseluruhan. Industri kecil mempunyai peranan yang strategis dalam hal pemerataan penyebaran lokasi usaha yang mendukung pembangunan daerah, pemerataan kesempatan kerja, menunjang ekspor non migas serta melestarikan seni budaya bangsa (Safnita, 2003 : 203).
Dilihat dari banyaknya usaha maupun penyerapan tenaga kerja, golongan industri kecil dan rumah tangga ini mempunyai kontribusi terbesar dalam hal penyerapan tenaga kerja yang hampir sekitar 58% tenaga kerja yang ada di sektor industri (BPS, 2005). Pada waktu krisis ekonomi menunjukkan bahwa unit usaha koperasi dan industri skala kecil dan menengah ternyata lebih mampu menahan dampak krisis ekonomi yang sedang berlangsung. Kondisi ini semakin menunjukkan bahwa perhatian pemerintah daerah khususnya terhadap unit kegiatan ini perlu ditingkatkan baik secara kualitas maupun kuantitas dalam rangka mendorong peningkatan skala usaha dari industri kecil tersebut.
Salah satu industri kecil yang sangat potensial berkembang di kota Bandung adalah industri kaos. Industri kaos merupakan salah satu industri yang sangat potensial dan dapat memberikan pendapatan yang cukup besar bagi pemiliknya dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Disamping itu, industri ini juga memberi nilai tambah dengan mengenalkan kota Bandung sebagai kota mode kepada masyarakat luar Bandung.
Salah satu sentra industri kaos di kota Bandung ada di jalan Surapati. Produk industri kaos di jalan Surapati-P.H.H.Mustopa ini menjadi trend mode, khususnya untuk perlengkapan olah raga (training, jaket dan kaos) tidak saja di kota Bandung bahkan diluar Jawa, yaitu Sumatra dan Kalimantan. Pemesanan selain banyak dilakukan oleh perusahaan ada juga dari beberapa Universitas. Untuk lebih jelasnya Tabel 1.1 menunjukkan profil industri kaos di jalan Surapati-P.H.H.Mustopa.
Tabel 1.1
Profil Industri Kaos
Jalan Surapati–P.H.H. Mustopa
Periode 2005 - Juni 2007
Uraian 2005 2006 2007*
Jumlah Unit Usaha (Buah) 237 251 269
Jumlah Tenaga Kerja (Orang) 711 753 807
Jumlah Produksi (lusin) 2.844 3.012 3.228
Nilai Penjualan (rupiah) 528.984.000 560.232.000 600.408.000
Pertumbuhan Penjualan (%) 5.91 7.17
Sumber : Koperasi Pengrajin Sentra Kaos (KOPSENKAOS)
Keterangan * : Sampai bulan Juni 2007
Dalam tiga tahun terakhir jumlah unit usaha kaos di jalan Surapati-P.H.H Mustopa cenderung meningkat. Pada tahun 2005, jumlah unit usaha kaos hanya tercatat sebanyak 237 buah dan sampai bulan Juni 2007 telah tercatat sebanyak 269 buah. Dengan melihat jumlah unit usaha tersebut di mungkinkan akan terjadi persaingan yang sempurna. Adapun jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 711 orang pada tahun 2005 dan sampai tahun 2007 meningkat dengan tajam menjadi 807 orang atau naik sebesar 7,17%. Sedangkan produksi yang dihasilkan sampai Juni 2007 sebanyak 3.228 lusin yang mampu menghasilkan omset penjualan sebanyak Rp. 600.408.000.
Bertambahnya jumlah perusahaan dalam industri kaos Surapati tidak terlepas dari dinamisnya permintaan hasil produksi industri tersebut. Selain itu pula dapat mencerminkan tidak adanya hambatan masuk dalam industri ini. Sesuai dengan teori ekonomi industri, perkembangan pasar (permintaan) akan mendorong perusahaan-perusahaan baru untuk masuk ke pasar guna memenuhi perkembangan pasar yang terjadi. Namun yang patut diperhatikan dampak dari meningkatnya jumlah unit usaha adalah munculnya tingkat persaingan yang tinggi di antara mereka.
Persaingan yang dirasakan oleh industri kaos di jalan Surapati-P.H.H.Mustopa masih sangat ketat, indikasi ini terlihat dari tingkat persaingan harga diantara para produsen. Melihat persaingan dalam usaha kaos di daerah tersebut, maka menjadi penting untuk melihat kondisi-kondisi yang mempengaruhi kinerja unit usaha tersebut, misalnya dilihat dari nilai tambah atau harga pasar. Kondisi harga pasar dalam usaha kaos mencerminkan nilai yang diterima dalam satu tahun. Oleh karena itu harga pasar mencerminkan dari nilai tambah di industri kaos.
Kondisi harga pasar dari suatu industri dapat dijadikan salah satu ukuran yang ideal dalam menganalisis kinerja suatu industri, oleh karena peningkatan harga pasar menunjukkan kemajuan dan kemampuan suatu industri tak terkecuali industri kaos dalam meningkatkan outputnya.
Dengan melihat uraian permasalahan di atas maka penulis tertarik untuk meneliti masalah tersebut dengan judul: Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Kaos di Jalan Surapati-P.H.H Mustopa Kota Bandung.
1.2 Identifikasi Masalah
Sebagaimana yang telah di uraikan di atas, sangat menarik untuk mengamati dan mengembangkan lebih lanjut mengenai struktur, perilaku dan kinerja industri kaos di Jalan Surapati-P.H.H Mustopa Bandung.
Adapun permasalah yang ingin penulis ketahui adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Bentuk struktur pada industri kaos di jalan Surapati-P.H.H Mustopa Bandung.
2. Bagaimana perilaku pada industri kaos di jalan Surapati-P.H.H Mustopa Bandung.
3. Bagaimana Kinerja pada industri kaos di jalan Surapati-P.H.H Mustopa Bandung.
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1. Bentuk struktur pada industri kaos di jalan Surapati-P.H.H Mustopa Bandung.
2. Perilaku pada industri kaos di jalan Surapati-P.H.H Mustopa Bandung.
3. Kinerja pada industri kaos di jalan Surapati-P.H.H Mustopa Bandung.
1.4 Kegunaan Penelitian
1. Bahan masukan bagi pemerintah daerah Kota Bandung dalam membuat suatu kebijakan pembangunan perekonomian, khususnya menyangkut peningkatan peranan sektor industri kecil dan menengah atau kerajinan yang memiliki struktur, perilaku, dan kinerja yang sejenis.
2. Manfaat yang dapat diperoleh bagi industri kaos itu sendiri terkait dengan peningkatan kinerja industri kaos dalam sumber daya manusia maupun manajerial agar dapat lebih berkompetisi.
3. Menambah wawasan bagi penulis mengenai perkembangan industri kaos di Bandung serta untuk digunakan pihak lain sebagai bahan referensi untuk melengkapi penelitian dalam bidang ekonomi industri, khususnya yang menggunakan pendekatan struktur, perilaku, dan kinerja.
1.5 Kerangka Pemikiran
Industri adalah kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang menghasilkan barang-barang yang homogen atau barang-barang yang memiliki sifat saling mengganti yang sangat erat. Dalam ekonomi industri akan selalu terkait dengan analisis organisasi industri. Organisasi ini merupakan kaitan antara kondisi pasar, struktur pasar, perilaku industri dan kinerja industri (Hasibuan, 1993).
Perkembangan industri kecil dan menengah atau kerajinan memiliki peranan yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi daerah. Pertama, industri ini berlandaskan pada teknologi tepat guna dengan padat tenaga kerja dan banyak mengandung unsur lokal. Kedua, Perkembangan industri kecil dan menengah atau kerajinan akan membantu usaha pemerintah dalam mengurangi ketidakmerataan pendapatan atau pembangunan. Ketiga, perkembangan industri kecil dan menengah atau kerajinan dapat mendukung usaha pemerintah untuk meningkatkan ekspor non migas dan perkembangan mutakhir menunjukan bahwa pembenahan dan pengembangan sektor industri kecil dan menengah atau kerajinan dipercaya oleh banyak kalangan sebagai langkah yang sangat penting dan tepat untuk mengatasi krisis ekonomi yang berkepanjangan (Sumarjanto, 1999).
Wihana Kirana Jaya (2001 : 3) mendefinisikan struktur sebagai karakteristik organisasi pasar yang mempengaruhi sifat harga dan kompetisi di dalam pasar. Unsur-unsur pasar meliputi konsentrasi dan hambatan masuk ke dalam pasar seperti modal, struktur biaya atau skala ekonomi dan tingkat pengaturan pemerintah. Dalam pembahasan secara ekonomi, klasifikasi pasar lebih memfokuskan pada keadaan jumlah perusahaan dalam industri. Suatu pasar terdiri dari seluruh perusahaan dan individu yang ingin dan mampu untuk membeli dan menjual suatu produk tertentu. Struktur menjadi penting, karena struktur pasar menunjukan kinerja perusahaan.
Analisis ekonomi membedakan struktur pasar menjadi empat kategori yaitu ; pasar persaingan sempurna, pasar monopoli, pasar persaingan monopolistik dan pasar oligopoli. Struktur pasar yang umumnya terdapat dalam dunia nyata adalah jenis pasar yang berbeda diantara dua struktur yang ekstrim, yaitu struktur pasar persaingan monopoli dan pasar oligopoli (Sadono Sukirno, 1994).
Menurut Greer (1992 : 297) perilaku adalah tingkah laku apa yang dilakukan oleh sebuah perusahaan terhadap harga, tingkat produksi, promosi, dan variabel operasional lainnya. Sedangkan menurut Nurimansjah (1993 : 16), perilaku adalah tanggapan dan penyesuaian suatu industri didalam pasar dalam mencapai tujuannya. Dari kedua pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa conduct adalah perilaku suatu perusahaan dalam menghadapi persaingan dalam harga, tingkat produksi, kualitas produk, dan promosi. Untuk menunjukan perilaku dapat juga dilihat dari penentuan harga, Apakah secara mandiri atau dengan melakukan kolusi dengan perusahaan lainnya. Promosi dalam hal ini berupa iklan yaitu salah satu upaya untuk meningkatkan atau mempertahankan pangsa pasar.
Perilaku dan struktur pasar yang terkonsentrasi dengan cara membatasi jumlah output dengan tujuan memperoleh marjin keuntungan yang lebih besar. Adanya keuntungan yang besar tentunya memungkinkan suatu perusahaan untuk meningkatkan kinerjanya.
Kinerja pasar adalah suatu cara untuk memperkirakan bagaimana suatu perekonomian mencapai tujuan- tujuannya yaitu mencakup efisiensi, pertumbuhan dan keuntungan. Dalam menerapkan suatu penilaian terhadap kinerja pasar maka harus digunakan ekonomi normatif. Sedangkan bila ingin menilai baik buruknya suatu kinerja industri, terlebih dahulu diterapkan standar nilai normatif secara implisit dan eksplisit.
Dengan demikian kinerja merupakan suatu gambaran kemampuan yang dimiliki suatu perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya. Kinerja perusahaan dipengaruhi oleh struktur dan perilaku, sehingga kinerja industri merupakan hasil tujuan yang dicapai oleh semua perusahaan dalam suatu industri (Hasibuan, 1993). Pengukuran suatu kinerja industri dapat dilakukan dengan mengamati beberapa indikator yang mempengaruhinya. Namun dalam penelitian ini indikator kinerja yang digunakan adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.
Dari penelitian Aswicahyono (2001), yang menguji pandangan “Structur-Conduct-Performance” (SCP), bahwa kekuasaan pasar dapat digunakan untuk mengurangi kompetisi dengan harga yang lebih tinggi dari average cost yang terendah yang mengakibatkan adanya welfare loss. Teori SCP juga menyimpulkan bahwa tingginya konsentrasi pasar mempermudah perusahaan untuk menggunakan kekuasaan pasarnya menghasilkan keuntungan yang tinggi yang menandakan kinerja pasar yang rendah karena konsumen membayar harga yang terlampau tinggi.
1.6 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yaitu suatu metode penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisis data baik primer ataupun sekunder yang mempunyai hubungan erat dengan masalah yang diteliti, untuk kemudian diinterprestasikan secara deskriptif kualitatif guna memperoleh suatu gambaran tentang masalah yang diteliti, kemudian membandingkannya dengan pengetahuan teoritis untuk meneruskan persoalan dan kemungkinan pemecahannya.
Untuk memperoleh hasil seperti yang diharapkan maka penulis melakukan penelitian untuk mendapatkan data serta teori yang dapat digunakan untuk mendukung analisis. Dalam metode deskriptif ini hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa. Dalam metode ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan diantara variabel, tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi. Tujuan penelitian deskriptif adalah:
1. Untuk mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada.
2. Untuk mengidentifikasikan masalah atau memeriksa kondisi-kondisi dan praktek-praktek yang berlaku.
3. Untuk membuat perbandingan atau evaluasi.
4. Untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.
1.6.1 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan salah satu proses yang harus dilalui dalam suatu penelitian. Dengan teknik pengumpulan data, diharapkan penulis akan memperoleh data - data yang diperlukan. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Wawancara (interview), adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung oleh penulis kepada sebagian para pengusaha industri kaos dan para pekerja pada industri kaos di Surapati-P.H.H Mustopa dan lembaga pemerintah yang terkait dengan penelitian ini.
2. Kuesioner, adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden.
3. Studi kepustakaan (Library Research), yaitu mengumpulkan data dengan cara mengkaji dan menelaah buku-buku dan literatur serta ilmu pengetahuan yang bersifat teoritis tentang masalah yang ada hubungannya dengan industri kecil guna mendalami dan memperoleh penjelasan yang lengkap.
Data yang telah diperoleh dari perusahaan yang menjadi objek penelitian diolah kembali. Setelah data tersebut diolah, maka dilakukan suatu analisa dan suatu interpretasi sehingga data tersebut menjadi lebih dapat dimengerti. Hasil akhir dari data yang telah diolah dan dianalisis tersebut akan dapat menggambarkan dengan jelas kondisi perusahaan yang diteliti, khususnya dalam hal analisis struktur, perilaku, dan kinerja industri kaos.
1.6.2 Metode Penentuan Sampel
Untuk menentukan besarnya sampel yang akan dijadikan responden dalam industri kaos ini menggunakan rumus Dolpin Cosuello G. Servilla dalam bukunya Husein Umar (2002:140).
N
n = ??????
1 + N.e 2
Dimana :
n = Jumlah sampel yang diambil
N = Jumlah populasi pengusaha kaos
e = Error (persentase kesalahan yang dapat ditoleransi terhadap ketidaktepatan penggunaan sampel sebagai pengganti populasi).
Selanjutnya untuk pengambilan sampel yang diambil dari jumlah industri kaos di Jalan Surapati-P.H.H Mustopa di kota Bandung ada 269 unit usaha dan ditetapkan tingkat kepercayaan yang dipakai sebesar 90% sedangkan tingkat kesalahan pengambilan sebesar 10% dengan demikian perhitungan yang diperoleh adalah:
269
n = ??????? = 73
1 + 269 (0.1)2
Dari perhitungan diatas didapat jumlah responden yang akan menjadi sampel dalam penelitian ini sebanyak 73 unit usaha.
1.6.3 Teknik Penarikan Sampel
Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel dengan cara random (random sampling). Teknik random sampling memungkinkan setiap unit yang menjadi anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel penelitian karena teknik ini pada dasarnya merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan mengundi setiap anggota populasi, dan yang masuk pada undian itulah yang dijadikan anggota sampel. Alasan menggunakan teknik random sampling yaitu :
1. Ukuran populasi harus terhingga. Besarnya ukuran populasi yang akan diambil sampelnya harus diketahui.
2. Anggota populasi harus homogen. Anggota populasi mempunyai karakteristik yang dianggap sama atau pada umumnya sama atau homogen (Ali: 1993).
1.7 Operasional Variabel
Variabel Definisi Indikator Kriteria
Struktur
Penggolongan produsen kepada beberapa bentuk pasar berdasarkan ciri-cirinya
1. Jumlah perusahaan 1. Monopoli murni
satu perusahaan menguasai 100% pasar.
2.Perusahaan dominan
satu perusahaan memiliki 50-100% pasar tanpa pesaing yang sepadan.
3.Oligopoli ketat penggabungan 4 perusahaan besar yang memiliki pangsa pasar 60-100%. Kesepakatan dalam menetapkan harga relatif mudah.
4.Oligopoli longgar
Penggabungan 4 perusahaan besar yang memiliki 40% atau kurang dari pangsa pasar. Kesepakatan dalam menetapkan harga diantara mereka sebenarnya tidak mungkin.
5. Persaingan Monopilistik
Ada banyak pesaing yang efektif. Tetapi tidak ada satupun yang memiliki pasar lebih dari 10%.
6. Persaingan Murni
Ada lebih dari 50 perusahaan atau pesaing, namun tidak satupun dari mereka yang memiliki pangsa pasar yang berarti.
2. Jenis produksi
3. Barrier to entry
(Hambatan untuk masuk)
4. Market Share
(Penguasaan Pasar) :
5. Consentration Ratio :
Ket : m= jumlah
Perusahaan terbesar
Perilaku
Pola tanggapan dan penyesuaian suatu industri di dalam pasar untuk mencapai tujuannya
Strategi harga
Strategi produk
Strategi promosi
Kinerja
Prestasi perusahaan yang dicapai dari tujuan perilaku dan struktur industri
Efisiensi produk
Laba

