IPAL Limbah Tekstil

LIMBAH TEKSTIL

a. Industri Tekstil
Definisi industri seperti tercantum dalam ketentuan umum Keputusan Gubernur Kepala Pemerintahan Propinsi Jawa Tengah Nomor 660.1/02/1997 adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
Industri tekstil mengolah bahan mentah yang berupa serat menjadi kain beraneka motif. Tahan-tahap proses yang biasanya ada dalam industri tekstil antara lain serat menjadi benang, benang menjadi kain (weaving) dan tahap persiapan penyempurnaan. Yang dimaksud dengan proses Persiapan penyempurnaan adalah semua proses ataupun pengerjaan, baik secara mekanika maupun kimia terhadap suatu bahan tekstil sebelum proses pengelantangan, pencelupan, pencapan.
Industri tekstil adalah industri yang bergerak untuk memproduksi barang-barang tekstil, mulai dari industri penghasil bahan baku tekstil, pakaian jadi dan industri barang-barang tekstil lainnya.
Dari uraian di atas, dapat didisimpulkan pengertian industri tekstil adalah industri yang memproduksi atau mengolah bahan mentah, bahan baku dan atau bahan setengah jadi menjadi produk tekstil yang bernilai tinggi.
Industri tekstil di Indonesia menghasilkan berbagai macam produk, baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor. Proses pembuatannya dilakukan secara konvensional maupun secara modern. Industri tekstil konvensional banyak membutuhkan tenaga kerja, sehingga berdampak positif, sebagai upaya meminimalisasi angka pengangguran di Indonesia, dengan adanya lapangan pekerjaan di bidang tekstil. Semakin modern peralatan yang digunakan dalam proses produksi, semakin sedikit kebutuhan akan tenaga kerja. Industri tekstil menyebar di berbagai daerah di Indonesia, baik industri berskala kecil atau berskala besar.
Di Indonesia, industri tekstil merupakan salah satu penghasil devisa bagi negara. Industri tekstil Indonesia, yang memproduksi bahan tekstil dan industri pakaian jadi, merupakan penyumbang devisa nomor satu di sektor non migas dan nomor tiga setelah minyak bumi dan gas alam. Data dari Departemen Perindustrian pada tahun 1996, menunjukkan nilai ekspornya mencapai US $ 6.417,734 juta atau 20 % dari total ekspor kelompok non migas. Pada tahun 1993 jumlah perusahaan tercatat 2.223 buah dengan produksi mencapai 1,2 juta ton (Bapedal dalam Priyo Atmaji, Wahyu Purwanto dan Edi Priyo Pramono: 9).

b. Bahan Tekstil
Bahan-bahan tekstil untuk kebutuhan hidup dipakai secara luas untuk pakaian, seperti kemeja, celana, daster, rok dan lain-lain. Selain digunakan untuk pakaian, tekstil juga dimanfaatkan untuk industri ban mobil dan tali, pembungkus kabel, dan jala ikan. Bahan tekstil juga digunakan untuk keperluan interior bangunan seperti pada kursi atau sofa, permadani, gorden dan lain-lain. Bahan tekstil kebanyakan digunakan dalam bentuk tenunan atau rajutan.
Menurut Sakti A siregar (2005: 85) produk-produk tekstil terbuat dari berbagai bahan dasar yang terdiri atas bahan-bahan alami, dan serat organik. Bahan-bahan alamiah misalnya kapas, wool, linen, dan yute (rami dan goni). Bahan-bahan buatan berupa produk-produk kimia misalnya polyester (PETP), (PA), polypropylene (PP), plyurethane (PU), dan polyvinyl choride (PVC). Bahan-bahan buatan yang merupakan produk-produk selulosa adalah viscose (rayon) dan acetylcellulose. Bahan-bahan anorganik antara lain gelas, batu, karbon, dan logam.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bahan dasar tekstil berasal dari:
a. Bahan alami. Bahan dasar tekstil yang berasal dari tumbuhan, hewan seperti domba, ulat sutera.
b. Bahan buatan. Bahan yang berasal dari bahan kimia yang terbuat dari selulose.
c. Bahan anorganik seperti gelas, batu, karbon dan logam. Contoh penggunaanya antara lain untuk gorden tahan api (gelas), bagian-bagian mobil, perahu motor, bahan bangunan, saringan dan tangkai pancing.

Jenis serat dalam tekstil digolongkan sesuai asalnya sebagai serat alam dan serat buatan. Serat alam dibagi lagi dalam serat hewan seperti wol dan sutera, dan serat tumbuhan seperti kapas, rami (henep) dan guni. Serat buatan dibagi dalam serat sintetis, setengah sintetis, diolah kembali dan inorganik. Serat buatan disebut juga serat kimiawi.
Benang merupakan bahan tekstil yang sering dipakai masyarakat. Untuk menjahit, menambal, mengobras, membordir, dsb. Benang digolongkan menurut cara pembuatannya sebagai: benang pintal yang dibuat dari sabut serat dan benang filamen hasil pelinian (twisting) filamen, yang dibuat dari sutera mentah atau proses produksi filamen.

c. Proses Produksi Tekstil
Seperti diuraikan pada pengertian industri tekstil bahwa tahan-tahap proses yang biasanya ada dalam industri tekstil antara lain serat menjadi benang, benang menjadi kain (weaving) dan tahap persiapan penyempurnaan.
Menurut Sakti A Siregar (2005: 86), proses pembuatan tekstil dibedakan menjadi dua, proses kering dan proses basah.
1) Proses kering
Proses kering sangat penting meliputi pemintalan yarn pada spinning mill, pelilitan benang pada kumparan (gulungan), penenunan pada weaving mill, knitting (pekerjaan rajutan).
2) Proses basah
Proses produksi tekstil dengan proses basah meliputi langkah-langkah sebagai berikut.
a) Pencucian
Pencucian adalah proses pengeluaran kotoran-kotoran organik dan anorganik yang dapat mengganggu proses-proses selanjutnya. Pencucian dilakukan dengan menggunakan bahan pencuci yang dilarutkan ke dalam air, misalnya surfaktan.

b) Pemrosesan (processing)
Dalam industri tekstil, processing adalah pemberian bahan pelapis pada permukaan produk-produk tekstil atau pemindahan bahan-bahan dari serat (fiber) secara kimia. Proses-proses yang penting antara lain sebagai berikut.
a) Caustic scouring, yakni proses pemasakan untuk memindahkan kotoran. Proses ini dibantu dengan penambahan surfaktan. Pemasakan untuk memindahkan kotoran memberikan hasil yang lebih baik daripada pencucian dengan air dingin.
b) Sizing, yaitu proses yang dilakukan untuk menyiapkan serat sebelum processing dan mencegah hancurnya serat. Sizing terutama dilakukan sebelum proses knitting. Weaving agent yang digunakan adalah starch, polyvinyl alcohol (PA), dan carboxymethyl cellulose (CMC).
c) Bleaching yaitu pemutihan atau pemucatan kain. Proses ini dilakukan dengan menggunakan larutan peroxide hypochlorite atau khlorin dikombinasikan dengan sodium silikat dan soda kaustik.
d) Mercerization, yakni mencelup kain ke dalam larutan soda (NaOH 20%-25%) dalam tekanan. Proses ini bertujuan untuk mengembangkan serat sehingga memperbaiki penampakan, kemampuan untuk menyerap warna, dan kekuatan.
e) Dyeing yaitu proses pemberian warna atau pewarnaan. Beberapa bahan kimia penting yang digunakan dalam proses ini adalah vat dyes, sulfur dyes, reactive dyes, disperse dyes, acid dyes, metal complex dyes, dan basic dyes. Beberapa jenis bahan kimia lain yang ditambahkan adalah surfaktan, asam basa, dan garam.
f) Printing yaitu proses di mana catatan-catatan berwarna diletakkan pada kain menggunakan roller atau mesin pencetak dengan screen. Warna-warna dilekatkan dengan menggunakan proses penguapan atau cara pengolahan yang lain. Dalam proses ini, air limbah dihasilkan dari pencucian mesin, kira-kira sekali sehari
c) Rinsing
Rinsing yaitu proses pencucian. Proses ini diperlukan setelah salah satu proses di atas dilaksanakan, terutama setelah caustic scouring, bleaching, mencerization, dan dyeing. Air limbah yang dihasilkan dari proses ini cukup banyak.
d) Finishing
Finishing yaitu proses akhir yang meliputi seluruh proses memasukkan atau melapiskan bahan-bahan tertentu pada tekstil sehingga diperoleh kualitas tertentu. Proses ini dapat berupa proses kering maupun basah.
Karakteristik kualitas meliputi sentuhan, ketahanan liputan (cross resistant), anti-air (waterproofing), penyusutan awal (preshrinking), ketahanan terhadap bakteri (bacteria resintant), ketahanan terhadap api (fireproofing), ketahanan terhadap oli atau minyak (oil resitant), dan anti ngengat.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa proses produksi tekstil meliputi pencucian, pemrosesan. Pemrosesan terdiri dari pemasakan atau pemindahan kotoran, kemudian menyiapkan serat sebelum proses, lalu bleaching, kemudian mercerisation, dyeing, printing. Setelah pemrosesan selesai dilakukan rinsing, kemudian langkah terakhir finishing.
Proses yang diuraikan di atas adalah proses industri tekstil dari awal. Beberapa industri kecil tidak memproduksi kain sendiri, tetapi membeli kain putih, untuk kemudian diproses lebih lanjut. Jika sudah berbentuk kain putih, maka proses awal yang harus dilakukan adalah pemutihan atau bleaching.

Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Special Member dapat mendownload data yang ada di download area.
NB: Ada kemungkinan data yang diposting di website ini belum ada filenya, karena dikirim oleh member biasa dan masih menunggu konfirmasi dari member yang bersangkutan. Untuk memastikan data ada atau tidak silahkan login di download area.

CARI CONTENT WEB :

FREE JOURNAL UNTUK MELENGKAPI REFERENSI KARYA ILMIAH ANDA, FREE? KLIK DISINI
HOT DOWNLOAD MAKALAH, FULL PAPER? KLIK DISINI
PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI
INGIN KULIAH S2 JARAK JAUH? KLIK DISINI



Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuannya

Design by xactive -