PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENSKORAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

abstraks: 

Pengembangan Instrumen Penskoran Pemecahan Masalah Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), Hosnan, 030210101308, 2007, 47 hlm.

Pemberian skor pada lembar jawaban tes bentuk uraian, khususnya pemecahan masalah, selalu dipengaruhi subyektifitas penilai. Misal, dari sebutir tes yang mempunyai skor maksimal 10, siswa A mendapatkan skor 9, sedangkan siswa B mandapat 7, dengan langkah penyelesaian yang sama. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh yang muncul pada diri penilai, mungkin siswa A tulisannya jelek, tulisannya sulit dimengerti, atau yang lainnya. Untuk itu, dalam pemberian skor diperlukan adanya suatu instrumen penskoran pemecahan masalah matematika guna meminimalkan atau meniadakan pengaruh subyektifitas penilai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengembangan instrumen penskoran dan menghasilkan instrumen penskoran pemecahan masalah matematika yang akan dijadikan pedoman atau pegangan guru dalam pemberian skor terhadap langkah-langkah pemecahan masalah matematika.
Pelaksanaan uji coba instrumen dilakukan pada tanggal 17 April 2007 di SMPN 3 Jember. Subyek coba dalam penelitian ini adalah siswa SMPN 3 Jember kelas VIIIA beserta guru matematika. Siswa diberi tes uraian berkategori pemecahan masalah pada materi lingkaran sebanyak tiga butir, sedangkan guru matematika diberi instrumen penskoran pemecahan masalah matematika yang digunakan untuk memberi skor pada lembar jawaban yang telah dikumpulkan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes, wawancara dan angket. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah instrumen penskoran pemecahan masalah matematika siswa SMP, dengan kategori kesahihan sangat tinggi yaitu 0,8268, kepraktisan 100%, dan keefektifan 75% (untuk tes nomor 1), 71,2% (untuk tes nomor 2), dan 74,8% (untuk tes nomor 3). Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah tercapainya atau terpenuhinya kriteria kesahihan, kriteria kepraktisan, dan kriteria keefektifan instrumen penskoran pemecahan masalah matematika, sehingga instrumen penskoran ini dapat digunakan guru matematika SMP/sederajat untuk dijadikan pedoman atau pegangan dalam memberi skor terhadap langkah-langkah pemecahan masalah matematika yang dilakukan siswa.

Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember.

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dewasa ini dunia sedang memasuki era globalisasi yang merupakan akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK). Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan IPTEK memerlukan ilmu-ilmu dasar, diantaranya adalah ilmu matematika. Matematika sebagai ratunya ilmu sekaligus pelayan ilmu sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan di era globalisasi. Oleh karena itu, matematika sebagai salah satu ilmu dasar baik aspek terapan maupun aspek penerapannya mempunyai peranan penting dalam upaya meningkatkan pengetahuan sains dan teknologi. Hal ini berarti sampai pada batas tertentu matematika perlu dikuasai oleh segenap warga negara Indonesia baik aspek penerapan maupun penalarannya.
Kondisi pengajaran matematika sendiri saat ini masih menunjukkan adanya peluang yang luas bagi diadakannya upaya perbaikan-perbaikan. Hal ini mengingat perkembangan pendidikan matematika yang sangat pesat. Di sisi lain, kritik dan sorotan masih sering dikemukakan, terutama masih rendahnya nilai mata pelajaran matematika peserta didik dibanding mata pelajaran lain. Apalagi sampai saat ini kesan matematika sebagai mata pelajaran yang sangat menakutkan masih nampak. Dengan demikian upaya yang harus dilakukan sekarang ini adalah menyusun langkah-langkah untuk mencapai kualitas pendidikan matematika yang memadai dan sebagaimana yang diharapkan.
Salah satu cara untuk mencapai kualitas pendidikan matematika yang memadai dan sebagaimana yang diharapkan adalah memperbaiki proses belajar mengajar, diantaranya mengadakan evaluasi/penilaian. Penilaian diartikan sebagai suatu proses yang sistematis dalam memberikan pertimbangan mengenai nilai dalam arti suatu teori atau konsep. Penilaian juga mempunyai pertanggung jawaban kelembagaan, masyarakat, dan profesi kelulusan (Slameto, 1999:19). Keberhasilan mengungkapkan hasil dan proses belajar siswa sangat tergantung pada kualitas alat penilaiannya, disamping pada pelaksanaannya (Sudjana, 1990:12). Kegiatan penilaian merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dengan adanya penilaian, seorang guru dapat mengetahui sampai sejauh mana tujuan pembelajaran telah dicapai siswa, sehingga guru dapat menentukan langkah-langkah selanjutnya untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Selama ini penilaian yang dilakukan guru tidak memberikan suatu gambaran terhadap apa yang sudah diperoleh siswanya, terutama dalam penskoran terhadap hasil penyelesaian soal yang dibuat siswa. Skor yang diperoleh siswa satu dengan siswa lainnya tidak sama walaupun langkah penyelesaiannya sama. Hal ini dimungkinkan karena guru memberikan skor tidak berdasarkan acuan-acuan atau instrumen-instrumen yang distandarkan oleh guru masing-masing atau oleh sekolah.
Berdasarkan pengalaman, yaitu pada saat pelaksanaan olympiade matematika se Jawa Timur di Unej, bahwa hasil penilaian setiap peserta dari lembar penyelesaian soal uraian pada babak semi final tidak berbeda jauh. Artinya skor antara peserta yang satu dengan peserta yang lain selisihnya tidak jauh beda, lebih-lebih skor yang diperoleh peserta yang lolos pada babak semi final tersebut. Hal ini terjadi karena tim pembuat soal menggunakan pedoman penskoran dalam pemberian skor terhadap penyelesaian soal uraian/soal cerita yang berkategori soal pemecahan masalah di babak semi final, sehingga dengan adanya pedoman tersebut pengaruh subyektifitas penilai sangat kecil.
Dalam soal pemecahan masalah, Polya (dalam Tim MKPBM, 2001:84) menyatakan bahwa solusi soal pemecahan masalah memuat empat langkah penyelesaian, yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah sesuai rencana, dan melakukan pengecekan kembali terhadap semua langkah yang telah dikerjakan. Solusi ini masih belum diperhatikan penuh oleh guru dalam memberikan skor terhadap langkah-langkah hasil penyelesaian siswa. Guru hanya sekilas mengoreksi kemudian memberikan skor. Padahal menurut teori belajar yang dikemukakan Gagne (dalam Tim MKPBM, 2001:83), bahwa keterampilan intelektual tingkat tinggi dapat dikembangkan melalui pemecahan masalah.
Menurut Sunardi (1997:52), penguasaan pemecahan masalah matematika berdasarkan taksonomi SOLO siswa SD di Kecamatan Kaliwates Jember adalah 33,35% pada tingkat prestruktural, 30,62% pada tingkat unistruktural, 20,09% pada tingkat multistruktural, 15,31% pada tingkat relasional, dan 3,98% pada tingkat abstrak diperluas. Data persentase tersebut membuktikan bahwa penguasaan pemecahan masalah matematika sangat rendah. Untuk itu, adanya instrumen penskoran pemecahan masalah matematika ini dimaksudkan dapat membantu siswa dalam menguasai pemecahan masalah matematika dan dapat membantu guru dalam memberi skor. Sehingga siswa mengetahui langkah-langkah pemecahan masalah yang belum dikuasai, harus lebih dikuasai dan sudah dikuasai. Begitu pula guru akan memberi skor yang betul-betul sesuai dengan hasil pekerjaan siswanya dengan berdasarkan solusi pemecahan masalah yang ditawarkan Polya.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian yang berjudul “Pengembangan Instrumen Penskoran Pemecahan Masalah Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)”. Pengembangan instrumen ini didasarkan pada langkah-langkah penyelesaian pemecahan masalah matematika yang ditawarkan Polya. Setiap langkah penyelesaian akan dijabarkan dengan indikator-indikator yang harus dicapai dalam menyelesaikan pemecahan masalah matematika sesuai dengan permasalahan yang dihadapkan. Indikator-indikator yang telah dicapai diberi skor sesuai dengan tingkat kesulitannya.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian pengembangan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana proses pengembangan instrumen penskoran pemecahan masalah matematika siswa SMP?
2. Bagaimana hasil pengembangan instrumen penskoran pemecahan masalah matematika siswa SMP?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) untuk mengetahui proses pengembangan instrumen penskoran pemecahan masalah matematika untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP).
2) untuk menghasilkan instrumen penskoran pemecahan masalah matematika untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP).

1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Bagi guru, khususnya guru matematika, dapat dijadikan sebagai pedoman dalam memberikan skor terhadap langkah-langkah hasil penyelesaian soal-soal pemecahan masalah matematika yang dilakukan siswa.
2) Bagi sekolah uji coba dan sekolah lainnya yang sederajat, dapat dijadikan sebagai masukan dan tambahan tentang instrumen penskoran dalam menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah matematika.
3) Bagi pembaca, dapat dijadikan sebagai tambahan wawasan baru dan sebagai referensi pada penelitian yang sejenis.


Untuk dapat melihat dan mendownload file skripsi lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Member Special dapat mendownload SELURUH file content yang ada di website ini. Daftarkan diri anda segera. UNLIMITED ACCESS

Google

PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI



Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuannyadi sini

Design by xactive -