Perubahan gradasi pada agregat dalam hal ini persentasi gradasi sangat berpengaruh terhadap kriteria Marshall khususnya rongga udara dalam campuran (Void In Mix / VIM) dan oleh karena itu perbedaan komposisi gradasi akan menghasilkan nilai-nilai kriteria Marshall yang berbeda pula.
Sasaran yang diteliti adalah pengaruh dari perubahan variasi gradasi terhadap kriteria Marshall khususnya nilai VIM ditinjau terhadap campuran aspal panas jenis AC-BC. dengan menggunakan agregat dari sumber yang sama.
Rancangan campuran yang dibuat terdiri dari lima variasi gradasi agregat gabungan. Untuk menentukan variasi gradasi agregat gabungan dilakukan dengan cara coba-coba (trial and error) yang mengabaikan batas-batas titik kontrol dan daerah larangan (Restriction Zone) yang disyaratkan oleh Dep. Prasarana dan Permukiman Wilayah (spesifikasi 2003)
Berdasarkan hasil evaluasi terhadap nilai VIM maka didapat nilai VIM yang memenuhi hanya pada variasi 1 dan variasi 2 pada kadar aspal 5%, variasi 3 pada kadar aspal 5% sampai dengan 6%, untuk dibawah lengkung fuller variasi 4 pada kadar aspal 7% sedangkan lainnya tidak memenuhi. Gradasi yang berada diatas lengkung fuller memiliki nilai VIM yang kecil sedangkan gradasi yang berada dibawah lengkung fuller menghasilkan nilai VIM yang besar.
Jadi perubahan gradasi agregat gabungan sangat berpengaruh terhadap VIM.
Perubahan gradasi pada agregat dalam hal ini persentasi gradasi sangat berpengaruh terhadap kriteria Marshall khususnya rongga udara dalam campuran (Void In Mix / VIM) dan oleh karena itu perbedaan komposisi gradasi akan menghasilkan nilai-nilai kriteria Marshall yang berbeda pula.
Sasaran yang diteliti adalah pengaruh dari perubahan variasi gradasi terhadap kriteria Marshall khususnya nilai VIM ditinjau terhadap campuran aspal panas jenis AC-BC. dengan menggunakan agregat dari sumber yang sama.
Rancangan campuran yang dibuat terdiri dari lima variasi gradasi agregat gabungan. Untuk menentukan variasi gradasi agregat gabungan dilakukan dengan cara coba-coba (trial and error) yang mengabaikan batas-batas titik kontrol dan daerah larangan (Restriction Zone) yang disyaratkan oleh Dep. Prasarana dan Permukiman Wilayah (spesifikasi 2003)
Berdasarkan hasil evaluasi terhadap nilai VIM maka didapat nilai VIM yang memenuhi hanya pada variasi 1 dan variasi 2 pada kadar aspal 5%, variasi 3 pada kadar aspal 5% sampai dengan 6%, untuk dibawah lengkung fuller variasi 4 pada kadar aspal 7% sedangkan lainnya tidak memenuhi. Gradasi yang berada diatas lengkung fuller memiliki nilai VIM yang kecil sedangkan gradasi yang berada dibawah lengkung fuller menghasilkan nilai VIM yang besar.
Jadi perubahan gradasi agregat gabungan sangat berpengaruh terhadap VIM.
