Teknologi Pertanian

RANCANG BANGUN DAN UJI TEKNIS ALAT PENYAMBUNG SERAT NENAS DENGAN SISTEM PEMANAS

abstraks: 

SUMMARY

RICKZON S. The Construction Design and Technical Testing of Pineapple Leaf Fibre Connecting Equipment Using Heater System (Supervised by AMIN REJO and ENDO ARGO KUNCORO).
The research objective was to design and to test the pineapple leaf fibre connecting equipment using polyvinyl alcohol and electrical element heater as well as to determine the draw force of the resulting pineapple leaf fibre.
This study was consisted of five stages. The first stage was preliminary study, the second was equipment construction, the third was technical analysis, the fourth was equipment testing, and the fifth was fibre testing.
The results showed that the connecting process using pineapple leaf fibre connecting equipment with heating system had produced relatively good quality fibre which in turn helped the local craftsman in production of pineapple leaf fibre having good draw force value for weaving venture.
The pineapple leaf fibre connecting equipment with heating system had capacity of 0.02124 kg/Hour which was operated by two operators. It had maximum operating temperature of 800C which reached an evenly distributed temperature within 45 minutes period, whereas the power requirement was 317.3 W.
The dry test result on draw force of fibre showed that connecting process with polyvinyl alcohol produced better yield than that of knot connection. Draw force value of fibre for connecting process with polyvinyl alcohol was 0,595 1010 N/m2, whereas draw force value of fibre for knot connection was 0,136 1010 N/m2. The draw force of fibre using wet test showed that draw force value of fibre for connecting process with polyvinyl alcohol was 0,066 1010 N/m2 , whereas draw force value of fibre for knot connection was 0,083 1010 N/m2.
The curly test of fibre showed that connecting process with polyvinyl alcohol had lower curly value with magnitude of 1.182 %. This value was less than that of knot connection with magnitude of 1.792 %. The latter value was bigger than that of curly value before connection with magnitude of 1.284 %.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

PENGGUNAAN METODE FUZZY DALAM PENENTUAN KEKRITISAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI DAERAH SUBDAS CIPELES

abstraks: 

Hingga tahun 2000, luas lahan kritis di seluruh Indonesia mencapai ± 8.136.646 ha untuk kawasan hutan dan ± 21.944.595,70 ha untuk lahan di luar kawasan hutan. Dalam mengembalikan fungsi hutan dan lahan, memerlukan RHL yang harus didukung informasi obyektif dan teridentifikasi secara menyeluruh, yaitu dengan bantuan SIG.
Penentuan kekritisan dengan SIG saat ini, diatur berdasarkan Peraturan Direktur Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial - DEPHUT, SK.167/V-SET/2004. Dalam aplikasinya, tiap parameter diolah menggunakan metode skoring/WLC untuk mendapatkan nilai kualitatif kekritisan lahan.
Metode skoring mengidentifikasi kriteria himpunan tiap parameter kekritisan lahan kedalam skor dan bernilai kualitatif, yang merupakan klasifikasi Boolean, dimana batasannya dinyatakan secara diskrit. Hal ini menimbulkan ketidakpastian identifikasi, ketidakpastian kualitatif, dan meta-ketidakpastian.
Salah satu cara untuk mengurangi ketidakpastian adalah dengan menggunakan pendekatan metode fuzzy. Logika Fuzzy adalah peningkatan dari logika Boolean/klasik, dengan menggantikan istilah binari Boolean dengan tingkat kebenaran/derajat keanggotaan yang diperkenalkan oleh Dr. Lotfi Zadeh pada tahun 1965. Dalam aplikasi metode fuzzy, manipulasi data menggunakan klasifikasi fuzzy dengan fungsi keanggotaan Kainz, sedangkan analisis data menggunakan FIS Mamdani.
Tujuan dari penelitian ini, adalah menghasilkan informasi kekritisan lahan yang lebih mendekati keadaan sebenarnya kekritisan lahan dilapangan, dengan cara mengatasi permasalahan ketidakpastian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif komparatif, dengan membandingkan kekritisan lahan hasil pengolahan metode skoring dan metode fuzzy dengan data di lapangan yang diambil secara random sampling purposif, menggunakan uji peringkat-bertanda Wilcoxon, untuk mendapatkan metode terbaik yang paling mendekati keadaan sebenarnya..
Berdasarkan hasil penelitian, metode fuzzy dengan fungsi keanggotaan Kainz dan FIS Mamdani dapat meminimalisasi masalah ketidakpastian identifikasi dan ketidakpastian kualitatif, dan meta-ketidakpastian. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon, aplikasi metode fuzzy dengan defuzzifikasi COG (center of gravity) lebih optimal dalam menentukan kekritisan lahan dibandingkan metode lainnya. Karena metode ini, merupakan satu-satunya metode yang lolos dalam 4 analisis uji Wilcoxon.

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

RANCANG BANGUN DAN UJI KINERJA BIODIGESTER PLASTIK POLYETHILENE SKALA KECIL

abstraks: 

Kharistya Amaru, 2004. Rancang Bangun Dan Uji Kinerja Biodigester Plastik Polyethilene Skala Kecil. Di bawah bimbingan Ari Sufyandi dan Mimin Muhaemin.
Potensi kotoran hewan di Desa Cidatar sebagai bahan pembuatan gas bio sebenarnya cukup besar namun belum banyak dimanfaatkan, bahkan dapat menimbulkan masalah pencemaran dan kesehatan lingkungan karena umumnya dibuang di sungai. Penggunaan biodigester dapat membantu pengembangan sistem pertanian dengan mendaur ulang kotoran hewan untuk memproduksi gas bio dan diperoleh hasil samping berupa pupuk organik dengan mutu yang baik. Walaupun demikian penggunaan biodigester konvensional tidak mudah untuk diaplikasikan pada peternak kecil karena biaya pembuatannya yang mahal, kurangnya tenaga ahli dan pemeliharaan yang rumit.
Penelitian ini bertujuan untuk merancang bangun biodigester yang mudah dirakit, murah dan berkinerja baik yang terbuat dari plastik polyethilene untuk peternak kecil (3-5 ekor sapi perah).
Penelitian ini menghasilkan rancangan biodigester yang berbahan dasar plastik polyethilene dengan spesifikasi sebagai berikut: biodigester dengan volume total 11 m3 , volume basah 8,8 m3, waktu proses 40 hari, isian bahan 220 kg/hari, kemiringan lubang 2o, luas lahan 18 m2, dan memiliki penampung gas dengan dimensi tinggi 4,6 m, diameter 0,954 m, volume efektif 2,5 m3.
Berdasarkan hasil uji kinerja, didapatkan temperatur yang bekerja pada biodigester berkisar pada 19 – 20 oC, tingkat keasaman bahan 6,58 – 7,7 masih berada dalam batas yang baik bagi bakteri untuk tumbuh, dekomposisi VS mencapai 34 %. Kapasitas produksi 1,44 m3/hari atau dapat digunakan memasak 3
– 4 jam dan laju produksi 0,16 m3/kg VS.

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dengan meningkatnya populasi manusia dan meningkatnya taraf hidup masyarakat, kebutuhan energi semakin meningkat. Berbagai jenis bentuk energi telah digunakan oleh manusia seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam. Selain itu bahan bakar tradisional, yaitu kayu walaupun masih digunakan, penggunaannya terbatas dengan berkurangnya hutan sebagai sumber kayu. Masalah lingkungan global dan persediaan yang terbatas merupakan masalah penting yang dihadapi oleh manusia saat ini.

PENGARUH PUPUK KIESERIT TERHADAP PERTUMBUHAN

abstraks: 

Penelitian tentang “ PENGARUH PUPUK KIESERIT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT ( Elaeis quineensis. Jacg ) AKIBAT DI PEMBIBITAN AWAL ( Pre Nursery ) “ telah dilaksanakan oleh H. BUHARI di Desa Peranap Kecamatan Peranap Kabupaten Indragiri Hulu selama tiga bulan mulai dari bulan Oktober sampai dengan bulan Januari 2008 dibimbing oleh bapak Ir. MURYANTO sebagai pembimbing I dan ibu Dra. SEPRITA LIDAR, M.Si sebagai pembimbing II.
Adapun tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh dan mendapatkan dosis Kieserit yang terbaik terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan awal (Pre Nursery).
Penelitian ini telah dilaksanakan secara eksperimen dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan perlakuan pupuk Kieserit (K) sebanyak 6 taraf yaitu tanpa perlakuan, 0,0 gr/tanaman, perlakuan, 1 gr/tanaman, perlakuan, 1,5 gr/tanaman, 2 gr/tanaman dan perlakuan, 2,5 gr/tanaman. Adapun parameter yang diamati adalah tinggi bibit, diameter batang, jumlah daun, luas daun, jumlah akar dan panjang akar bibit kelapa sawit.
Berdasarkan analisa sidik ragam diperoleh bahwa pemberian dosis pupuk Kieserit memberikan pengaruh terhadap tinggi bibit, diameter batang, jumlah daun, luas daun, jumlah akar dan panjang akar bibit kelapa sawit sedangkan dosis yang terbaik adalah 1,5 gr/tanaman.

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelapa sawit ( Elaeis quineensis. Jacg ) merupakan - tanaman palma yang termasuk komoditi andalan di sektor perkebunan. Hal ini dikarenakan permintaan minyak sawit yang semakin meningkat, selain itu sebagai salah satu komoditi andalan ekspor non migas, perkebunan kelapa sawit juga dapat menciptakan kesempatan kerja dan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Kelapa sawit dapat digunakan untuk pembuatan sabun, minyak goreng, kosmetik dan bahan minyak biodisel.

RANCANG BANGUN PROTOTIPE REAKTOR BIO GAS LIMBAH SAPI DENGAN PENGATURAN TEMPERATUR DAN DERAJAT KEASAMAN

abstraks: 

Bio-gas technology is the transformation of solid waste through anaerobic digestion process to obtain bio-gas such as methane. The bio gas reactor that has been build use the continuous system, it’s mean sludge can floating from inlet tank to outlet pit by gravitation force. the prototype made from unused oil drum with 200 liter volume and designed to fill with cow dung. To maintain an anaerobic treatment system that will stabilize an organic waste efficiently, the nonmethanogenic and methanogenic bacteria must be in a state of dynamic equilibrium. To establish and maintain such a state, this bio gas reactor prototype controlled the pH of the aqueous environment in range from 6 to 7 with presented sufficient alkalinity to ensure that the pH will not drop below 6. Temperature is another important environmental parameter, this prototype also completed with boiler to ensure optimum temperature in range 30 to 40°C. This prototype can produce 15,88 liter bio gas in 30oC and pH 6 environment (A1B1); 17,35 liter bio gas in 30oC and pH 7 environment (A1B2); 18,03 liter bio gas in 40oC and pH 6 environment (A2B1); 18,68 40oC and pH 7 environment (A2B2). If this system applied to fulfill home needed, it must takes a digester with 4,7 m3. This volume is much more efficient if compare with the conventional bio gas digester.

Keywords: cow dung, sludge, digester, fermentation, bio gas, pH and temperature

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Setelah terjadinya krisis energi yang mencapai puncak pada dekade 1970, dunia menghadapi kenyataan bahwa persediaan minyak bumi, sebagai salah satu tulang punggung produksi energi terus berkurang. Bahkan beberapa ahli berpendapat, bahwa dengan pola konsumsi seperti sekarang, maka dalam waktu 50 tahun cadangan minyak bumi dunia akan habis (Pinske, 1993 dalam Salim, 2005).

Untuk dapat melihat dan mendownload file skripsi lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Member Special dapat mendownload SELURUH file content yang ada di website ini. Daftarkan diri anda segera. UNLIMITED ACCESS

Google

INFO STUDENT LOAN CONSOLIDATION
PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI
CARI BEASISWA SKRIPSI / TESIS? KLIK DISINI
FREE JOURNAL - ARTICLE CLICK HERE


Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuan di sini

Design by xactive -