Kimia

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESSMENT AND SATISFACTION (ARIAS) PADA MATERI PEMBELAJARAN REA

abstraks: 

Model pembelajaran ARIAS baik diterapkan pada materi pokok reaksi redoks di SMA Muhammadiyah 4 Surabaya. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas guru yang paling dominan dari putaran I sampai putaran III adalah melakukan latihan terbimbing, memberikan umpan balik dan memotivasi siswa dengan menanamkan sikap percaya diri dan membantu menyadari kekuatan dan kelemahan diri dengan persentase rata-rata waktu aktivitas secara berturut-turut 34.45%; 23.18%; dan 20.23%. Sedangkan aktivitas siswa yang paling dominan dari putaran I sampai putaran III bertanya pada guru, melakukan keterampilan kooperatif dan mengemukakan pendapat dengan persentase rata-rata waktu aktivitas secara berturut-turut 29.99%; 20.43%; dan 22.38%. Dari data dapat disimpulkan pembelajaran berpusat pada siswa dan guru hanya sebagai fasilitator pembelajaran. Ketuntasan klasikal siswa mengalami perkembangan dengan rincian pada putaran pertama sebesar 20% (belum tuntas), putaran kedua meningkat menjadi 95% (tuntas) dan pada putaran ketiga menurun menjadi 85% (tuntas). Respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran ARIAS sudah sangat baik yaitu berkisar 85%-95% memberikan penilaian positif.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring dengan kemajuan zaman, pengetahuan semakin berkembang. Suatu negara bisa lebih maju jika negara tersebut memiliki sumber daya manusia yang mengetahui berbagai ilmu pengetahuan disamping teknologi yang sedang berkembang pesat sekarang ini.

Validasi Metode Penetapan Kadar Besi (Fe) Cara Destruksi Basah dalam Tepung Terigu dengan Spektroskopi Serapan Atom (SSA)

abstraks: 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Zat besi merupakan unsur mikro yang diperlukan bagi tubuh untuk melakukan metabolisme. Penanggulangan defisiensi zat besi di Indonesia dilakukan dengan cara fortifikasi atau penambahan zat besi dalam makanan sehingga mampu meningkatkan asupan besi bagi masyarakat. Salah satu bahan makanan yang difortifikasi zat besi adalah tepung terigu.
Pemilihan Tepung terigu sebagai bahan makanan yang difortifikasi karena bahan makanan tersebut dikonsumsi oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, mudah didapat dan stabil ketika di fortifikasi dengan zat besi.
Dalam rangka menyukseskan kebijakannya maka pemerintah meminta kepada produsen tepung terigu untuk memfortifikasi tepung terigu yang akan dikonsumsi oleh masyarakat dengan kadar minimal besi dalam tepung terigu sebesar 50 miligram per kilogram. Hal ini dipertegas dalam SNI tepung terigu no 01-3751-2006 yang menyatakan salah satu persyaratan tepung terigu yang akan di jual kepada mayarakat harus mengandung kadar besi minimal 50 mg/Kg.
Guna menunjang kebijakan pemerintah, maka BBIA selaku institusi pemerintah mencoba untuk mengembangkan metode uji yang dapat digunakan untuk mengetahui kadar besi yang ada dalam tepung terigu dengan murah, akurat, tepat, dan cepat.
Salah satu metode uji yang dikembangkan pada uji kadar besi dalam tepung terigu adalah metode uji destruksi basah menggunakan Spektroskopi Serapan Atom (SSA).
Uji kadar besi dalam tepung terigu cara destruksi basah menggunakan SSA merupakan metode uji pengembangan laboratorium maka menurut ISO 17025 -2000, metode tersebut harus divalidasi guna mengetahui tingkat keabsahan dan kelayakan terhadap metode uji yang digunakan.

1.2 Perumusan Masalah
Diperlukan sebuah metode uji kadar besi yang lebih cepat, murah dan akurat serta tervalidasi, sesuai persyaratan SNI 19-17025-2000.
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan keabsahan metode analisa yang digunakan dalam penetapan kadar besi cara destruksi basah dalam tepung terigu secara spektrofotometri serapan atom.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah menghasilkan metode alternatif yang lebih cepat dan relatif murah dibandingkan metode yang telah ada.
1.5 Hipotesis
Metode analisa penetapan kadar besi dalam tepung terigu cara destruksi basah menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom layak dan valid untuk digunakan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tepung Terigu
Tepung terigu adalah tepung/bubuk halus yang berasal dari biji gandum, dan digunakan sebagai bahan dasar pembuat kue, mie dan roti. Kata terigu dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Portugis trigo yang berarti gandum. (Wikipedia Indonesia, 2008).
Gandum sendiri terbagi menjadi 2 yaitu gandum keras (hard wheat) dan gandum lunak (soft wheat). Keduanya dibedakan dari kandungan proteinnya. Melalui proses penggilingan, dihasilkan dua jenis tepung, yaitu tepung terigu (wheat flour) dan tepung gandum utuh (whole wheat flour / whole meal).

PENGARUH ASAM BORAT TERHADAP PENGENDAPAN KOBALT PADA SUBSTRAT TEMBAGA DENGAN METODE ELEKTROLISIS

abstraks: 

Logam kobalt (Co) merupakan logam yang bersifat rapuh, agak keras dan magnetis. Berbagai campuran logam kobalt mempunyai kekuatan magnetis yang banyak digunakan untuk berbagai sektor industri, misalnya untuk bahan magnet yang kuat seperti pada loudspeaker atau mikrofon serta bahan baja tahan karat dan baja magnit. Lapisan kobalt diatas substrat tembaga dapat diperoleh melalui pengendapan secara elektrokimia. Penggunaan asam borat (boric acid) dalam proses elektrolisis telah mulai dikembangkan dalam rangka meningkatkan efisiensi pengendapan, meningkatkan penyerapan pada katoda, serta menghalangi pengurangan proton pada proses pengendapan. Adanya penambahan asam borat disini diharapkan akan diperoleh suatu hasil endapan kobalt dengan suatu penggunaan energi yang lebih efisien sehingga akan terbentuk suatu hasil yang memiliki kualitas yang lebih baik. Analisis komposisi endapan kobalt yang dihasilkan akan diukur dengan menggunakan AAS.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Daya antibakteri ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica less) terhadap Escherichia coli secara in vitro

abstraks: 

The aim of this study was to investigate the antibacterial activity of the ethanol extract Pluchea indica less leaves against Escherichia coli by in vitro. The method using broth dilution test was determined Minimum Bactericidal Concentration (MBC) with a broth extract cultures into Eosin Methylen Blue Agar (EMBA) medium. The twice tubes of concentration extract of 25% and 50% was showed no visible turbidity, and then inoculated into Eosin Methylen Blue Agar medium. After 24 h of incubation at 37 oC, Minimum Bactericidal Concentration (MBC) was determined which no viable growth of Escherichia coli at Eosin Methylen Blue Agar (EMBA) medium. The result showed that Minimum Bactericidal Concentration (MBC) of the extract of 25% and 50% had been similar (X2<0.05) on the growth of Escherichia coli. Based on this result, Minimum Bactericidal Concentration (MBC) of the extract was used 25% concentration

Pendahuluan

PENGGUNAAN KAYU FILICIUM SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKU DALAM PEMBUATAN KARBON AKTIF

abstraks: 

Adisti Fajerin dan Indah Aprilliah, 2006. Penggunaan kayu filicium sebagai alternative bahan baku dalam pembuatan karbon aktif. Di Laboratorium Teknik Kimia Politeknik Negeri Malang. Tugas Akhir Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Malang, Pembimbing: Ir. Armanto.

Kata kunci : Kayu filicium, karbon aktif

Ranting dan cabang kayu filicium yang sudah ditebang merupakan suatu masalah karena selama ini hanya dibuang dan dibakar begitu saja. Kayu merupakan suatu bahan yang mengandung banyak selulosa, oleh karena itu dapat diolah menjadi bahan baku karbon aktif. Pembuatan karbon aktif dari kayu filicium ini menggunakan proses karbonisasi dan proses aktivasi secara fisika dan kimia. Aktifasi kimia dilakukan sebelum karbonisasi dengan menggunakan activator NaCl dan digunakan variable konsentrasi NaCl 15%, 20%, 25%, 30%, 35% serta lama perendaman 12, 18, 24 jam. Proses aktivasi secara fisika dilakukan setelah proses karbonisasi dengan suhu aktivasi 100, 200, 300, 400, 500°C. Dilakukan analisis karbon aktif yang dihasilkan berdasarkan Syarat Industri Indonesia(SII) yang meliputi analisis kadar air, analisis kadar abu, dan daya serap terhadap larutan iod. Berdasarkan tinjauan pengaruh lama perendaman dengan larutan NaCl menunjukkan bahwa pengaruh lama perendaman memberikan pengaruh terhadap karbon aktif yang dihasilkan, yaitu semakin lama perendaman kadar air dan daya serap terhadap larutan Iod semakin besar, dan kadar abu yang dihasilkan semakin menurun. Konsentrasi larutan NaCl terbaik dicapai pada konsentrasi 35% NaCl, dengan lama perendaman 24 jam, suhu aktivasi 500°C, kadar air11.2%, kadar abu 1.6%, dan daya serap larutan iod 18.21%. Suhu aktivasi terbaik dicapai pada suhu 500°C, dengan konsentrasi NaCl 35%, lama perendaman 24 jam, kadar air 11.2%, kadar abu 1.6%, dan daya serap larutan Iod 18.21%.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PERSEMBAHAN ii
HALAMAN REVISI iii
HALAMAN PENGESAHAN iv
KATA PENGANTAR v
ABSTRAKSI vii
ABSTRACT viii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR GAMBAR xi
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR LAMPIRAN xv
BAB I : PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Ruang Lingkup 2
1.3. Batasan Masalah 4
1.4. Rumusan Masalah 4
1.5. Tujuan 4
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA 5
2.1.Kayu Filicium 5
2.2.Karbon Aktif 8
2.2.1.Penggunaan Karbon Aktif 9
2.2.2.Syarat Mutu Karbon Aktif 10
2.2.3.Sifat Adsorbsi Karbon Aktif 10
2.2.4.Proses Pembuatan Karbon Aktif 11

Untuk dapat merequest file lengkap yang dilampirkan pada setiap judul, anda harus menjadi special member, klik Register untuk menjadi free member di Indoskripsi.

Semua Special Member dapat mendownload data yang ada di download area.
NB: Ada kemungkinan data yang diposting di website ini belum ada filenya, karena dikirim oleh member biasa dan masih menunggu konfirmasi dari member yang bersangkutan. Untuk memastikan data ada atau tidak silahkan login di download area.

FREE JOURNAL UNTUK MELENGKAPI REFERENSI KARYA ILMIAH ANDA, FREE? KLIK DISINI
HOT DOWNLOAD MAKALAH, FULL PAPER? KLIK DISINI
PELUANG KERJA UNTUK FRESH GRADUATE, MAHASISWA TINGKAT AKHIR, BARU LULUS KULIAH? KLIK DISINI
BUTUH BEASISWA STUDY, BEASISWA PENELITIAN, INFO BEASISWA TERBARU? KLIK DISINI
INGIN KULIAH S2 JARAK JAUH? KLIK DISINI



Jika tertarik untuk memasang iklan di website ini, silahkan klik menu contact
Silahkan baca syarat dan ketentuannya

Design by xactive -