POLA HIDUP SEHAT BUAT BALITA ANDA
Oleh: Dr. Handrawan Nadesul
Masa balita itu masa emas tumbuh-kembang anak. Bukan cuma jasmani, melainkan juga jiwa, dan kehidupan sosialnya. Salah asuh, salah asah, salah asih, bisa
buruk akibatnya. Kecerdasan ibu dalam membesarkan anak, bagian penting dari jaminan bakal normalnya tumbuh-kembang anak. Apa sajakah kiatnya?
UNTUK memperoleh pola hidup sehat perlu dibentuk. Mengubah pola hidup yang telanjur tidak sehat jauh lebih pelik ketimbang membentuknya. Dan ini menjadi
urusan rumah dan sekolah. Jika anak luput memperolehnya di sana, pola hidup tak sehatnya bisa menggagalkan pembentukan hari depan sosok sehatnya. Kita tahu,
peran tangan ibu amat dominan di sini.
Mengacu pada formula ”seven habits” membangun hidup sehat Nadra B Ballcok & Lester Breslow (kebersihan diri; cukup tidur; makan tiga kali; wajib sarapan; berat badan ideal; bergerak badan; dan jauhi rokok, alkohol, narkoba),
pola seperti itu yang hendaknya sudah ditanamkan sejak bayi.
Bayi yang dibiasakan bersih, akan merasa risih jika bagian badannya terpapar kotoran. Membiasakan menyeka mulut, hidung, dan tangan dengan lap, atau saputangan, membentuk cara membersihkan diri yang benar. Termasuk kebiasaan mencuci tangan setiap kali kotor dan sebelum makan. Hidup bersih itu dididik, bukan hanya diajarkan. Mendidik berarti panutan yang benar dan konsisten.
Demikian pula dengan waktu makan, waktu tidur, waktu jeda yang sudah terjadwal. Segala sesuatunya ada waktunya. Bila sudah terbentuk kebiasaan hidup
tertib dan teratur, menyimpang dari kebiasaan itu, anak merasa risih. Dengan cara itu mesin tubuh juga dibuat terbiasa tertib kerjanya, sehingga optimal fungsinya.
Selain waktu makan terjadwal, cara makan, mengunyah, menyuap, dan etika di meja makan, sudah tertanam pula sejak bayi. Keteraturan yang sudah terbentuk menabukan keserampangan hidup kelak setelah anak dewasa. Disiplin pada jadwal dan cara hidup, membangun rasa risih bila menghadapi hidup yang sembrono, dan cara hidup yang kacau, atau seenaknya.
Setelah pola hidup sehat terbentuk dan menjadi kebiasaan, mestinya tidak boleh ada satu pun yang mengalahkan untuk mengacaukannya, atau melanggarnya. Tugas setiap ibu menjaga dan memelihara kebiasaan sehat sejak balita. Sikap tegas dijadikan pegangan, agar tak ada satu pun yang bisa mengalahkan untuk menyimpang dari pola hidup sehat harian. Termasuk bila sedang dalam kegiatan di luar rumah, waktu makan, waktu tidur, dan jedanya, masih tetap terjaga.
SATU yang tak boleh luput dari sikap mendidik yang diperankan ayah dan ibu. Bahwa membangun jiwa anak sama pentingnya dengan memberinya kecukupan gizi.
Salah asuh, salah asah, salah asih bisa membangun jiwa yang kerdil, tak tahan banting, atau menyimpang (deviasi).
Tak sedikit kasus gangguan dan kelainan jiwa bermuasal dari kesalahan orangtua dalam membesarkan anak. Mungkin benar tumbuh sempurna badannya, namun belum tentu sehat perkembangan jiwanya. Anak demikian berisiko berkembang abnormal.
Masa balita merupakan masa vital dalam perkembangan jiwa. Selama fase perkembangan jiwa ini orangtua perlu arif menghadapi anak. Sejumlah kelainan jiwa, termasuk penyimpangan seksual kelak berpotensi terjadi jika jiwa anak terpaku (fixation) melewati fase balitanya, atau orangtua salah menyikapinya. Termasuk tindak kekerasan orangtua yang bikin rasa aman anak hilang, rasa rendah
diri terbentuk, dan bibit agresivitas tumbuh, selain sikap hostilitas dibawa anak sampai dewasa.
Orangtua juga perlu memberi ruang lebih bebas kepada balitanya. Kuncinya sikap mengasuh dengan hati. Anak perlu lebih banyak belajar ”skill for life”, memberinya kebebasan lebih banyak menjelajahi dunianya. Termasuk kebebasan berani melakukan hal yang baru secara mandiri, sehingga membangun rasa percaya dirinya, dan kelak menjadi anak yang tidak minder.
Kebanyakan orangtua di Timur cenderung bersikap protektif dalam membesarkan anak, sehingga kelak anak kurang berani tampil. Dan memilih tidak bersikap begitu, bagian penting dari membangun pola hidup sehat balita juga.
Hal lain yang perlu ditanamkan pada anak, tentu hidup berdisiplin. Berdisiplin dalam waktu, sikap, dan kebiasaan yang menyehatkan lainnya. Filosofi makna berdisiplin juga termasuk kepedulian orangtua membina sikap anak agar
selalu (1) menjunjung tinggi kebenaran, (2) kesediaan bertanggung jawab, (3) menunda kepuasan (hidup), serta (4) hidup seimbang dunia-akhirat.
Banyak kekacauan tumbuh-kembang bisa dilacak dari masa balita. Maka apa yang ibu-ayah rancang dan tanamkan selama masa balita, akan seperti itu anak kelak menjadi. Balita itu ibarat selembar kertas yang masih kosong (”tabula rasa”). Tugas semua orangtua menuliskannya di lembaran kertas kosongnya itu segala sesuatu yang baik, benar, dan adil, agar kelak anak menjadi insan yang baik, benar, dan adil juga.
MEWASPADAI ALERGI PADA ANAK
Oleh: dr. Handrawan Nadesul
________________________________________
Hanya anak yang berbakat alergi kemungkinan muncul gejala alerginya. Kini semakin banyak saja anak yang mengidap gejala alergi. Bentuk reaksi alergi tidak sama; selain di kulit, reaksi alergi dapat muncul sebagai pilek, batuk, sesak napas, dan mungkin gangguan perut. Perlu diwaspadai, secara tidak langsung anak yang mengalami alergi, laju pertumbuhannya bisa tergganggu.
Alergi adalah reaksi penolakan tubuh terhadap alergen, yang dianggap sebagai benda asing sehingga terjadi mekanisme tubuh menolaknya. Normalnya mekanisme (pertahanan) ini hanya terjadi bila benda asing tersebut adalah kuman; tetapi bagi tubuh yang memiliki "arsip bawaan" (dari orang tua atau moyang) sehingga tubuh "salah-tuduh" terhadap sesuatu misalnya: makanan tertentu, debu, rambut/bulu, tungau, polusi, serbuk sari bunga, cuaca (terlalu dingin/panas); yang bagi orang tidak alergi tak-kan menjadi masalah.
Reaksi alergi dapat terjadi antara lain pada:
• Kulit: gatal, biduran, bercak (ruam) merah hingga bengkak dan melepuh
• Mata: merah, berair, bengkak
• Saluran nafas: pilek, batuk, sesak nafas – hingga berhenti nafas
• Saluran cerna: sari awan, bibir bengkak, mual, muntah, diare.
• Pingsan (anafilaktik)
Anak yang kulitnya sering muncul ruam merah, bisa jadi berbakat alergi. Dokter menyebutnya atopy, yang terjadi sebetulnya reaksi alergi pada kulit. Namun reaksi alergi pada anak tidak hanya pada kulit. Bisa menyerang saluran napas; antara lain anak yang setiap bangun tidur pagi selalu bersin-bersin, lalu ber-ingus, sangat mungkin berbakat alergi juga. Begitu matahari muncul, dan sudah keluar dari kamar tidur, bersin, dan hidung melernya hilang sendiri.
Berbeda dengan gejala batuk-pilek, yang disertai demam, anak lemah, lesu, dan tak mau makan, pada alergi keluhan itu tak ada; anak tampak sehat-sehat saja. Terlihat hanya pilek-pilek saja; yang bisa jadi pilek alerginya berlangsung sepanjang hari.
Yang khas pada pilek alergi, hanya muncul bila sedang berada di kamar tidur, atau ketika duduk di sofa-berbalut kain, bergolek di karpet, atau dekat tirai, kemudian mereda setelah menjauh dari tempat-tempat tersebut. Kemungkinan besar karena debu rumah (house dust) yang sering menjadi sumber pencetus alergi. Maka membebaskan ruangan rumah dari debu tempat tungau bertengger, satu-satunya cara mengatasi serangan alergi. Tak cukup disapu, dan dipel saja, karena debu akan terbang saat disapu, lalu hinggap lagi di lantai, meja, kursi, atau tempat tidur. Jadi yang harus dilakukan menyedot dengan penghisap debu secara rutin berkala, mencuci tirai tidak menunggu sampai berdebu, sering mengganti sarung bantal dan alas tidur, singkirkan karpet, usahakan sinar matahari masuk karena tungau tidak suka dan tidak tahan sinar matahari.
Itu saja belum cukup. Semua bahan dan peralatan rumah tangga yang berpotensi menahan debu, seperti karpet, kasur kapuk, tirai, tumpukan koran, majalah, buku, juga harus disingkirkan dari ruangan. Termasuk rutin membersihkan baling-balik kipas angin, dan saringan penyejuk ruangan (AC).
Anak yang berbakat alergi bisa tak cocok terhadap jenis makanan atau minuman tertentu. Setiap habis mengonsumsi makanan-minuman tertentu, terjadi reaksi antara lain, bercak merah, mual, muntah, dan mencret, sesak napas, dan tidak begitu bila tidak memilih makanan itu. Ada yang tak tahan cokelat, kacang, atau buah-buahan tertentu.
Tidaklah berbeda kebutuhan gizi anak alergi maupun tidak. Makanan pencetus alergi memang harus dihindari, namun pilihlah beragam makanan yang tak menjadikan masalah bagi anak demi mendukung pertumbuhannya.
Selain itu, ada juga yang tidak tahan terhadap bahan kosmetik/toiletery tertentu. Setiap memakai bedak, sabun, odol, atau baby oil, pasti jadi gatal-gatal. Atau tak tahan parfum, alkohol, kalau bukan shampo merk tertentu.
Jangan lupa, anak berbakat alergi juga perlu diwanti-wanti bila sedang berobat. Dokter yang belum mengenal si Anak perlu diberi tahu kalau anak berbakat alergi, agar dokter memilihkan obat yang tidak mencetuskan reaksi alergi. Bahkan obat warung sekalipun bisa saja bikin anak alergi. Maka jangan sembarang memberi obat kepada anak yang pernah alergi.
Reaksi alergi bisa bersifat ringan, namun bukan tak mungkin langsung berat yang bukan saja harus masuk rumah sakit, bisa jadi menjadi kasus gawat darurat. Serangan asma berat, atau kelainan kulit hebat (Steven-Johnson syndrome), bisa sampai merenggut nyawa bila terlambat ditolong.
Bagi keluarga yang memiliki anak dan anggota keluarga yang berbakat alergi, sebaiknya selalu sedia obat antialergi yang dianjurkan dokter. Sewaktu-waktu, sering-sering tak terduga, serangan alergi bisa saja muncul. Semakin cepat obat antialergi diberikan, semakin enteng serangan alergi menyerang, dan tidak sampai berakibat buruk.
Namun tentu lebih bijak kalau reaksi alergi tidak sampai terjadi, dengan cara menghindar dari segala faktor pencetus alergi. Karena setiap orang memiliki faktor pencetus alergi yang tidak sama. Untuk itulah orang-tua dan anak sendiri perlu mengenali apa saja yang menjadi faktor pencetus alerginya. Paling sering, ikan laut, penicillin, dan debu rumah, pencetusnya
SI KECIL SEHAT BILA PENCERNAANNYA KUAT
Apa itu mikroflora?
Mikroflora usus umumnya diidentikkan sebagai flora bakteri di dalam usus. Saluran cerna anak sehat bila keadaan mikroflora dalam tubuhnya stabil dan seimbang, dimana komposisi bakteri yang menguntungkan (bakteri-baik) lebih banyak dibanding yang merugikan (bakteri-jahat).
Bagaimana cara mengupayakan pertumbuhan bakteri baik pada mikroflora?
Berikan prebiotik, yaitu suatu karbohidrat yang tidak dicerna sebagai makanan bakteri menguntungkan, ke dalam makanan si kecil sehari-hari. Prebiotik terdapat pada bahan makanan, seperti gandum, pisang, bawang putih. Penambahan prebiotik dalam jumlah yang cukup ke dalam makanan atau minuman (susu) dapat memenuhi kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan bakteri yang menguntungkan.
Apa manfaat pemberian bakteri baik?
Mikroflora usus yang didominasi oleh bakteri-baik bermanfaat untuk memberi pertumbuhan yang optimal pada anak, juga memperlihatkan kejar tumbuh yang baik pada anak yang menderita malnutrisi, serta mengurangi kejadian diare akut secara drastis. Dengan memberikan asupan Prebiotik pada anak dalam jumlah yang cukup diharapkan bisa mendukung keseimbangan mikroflora saluran cerna secara optimal
MENGAJARI ANAK TOLERANSI
Indonesia sebagai negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa tentu menyimpan adapt, tradisi, dan kebiasaan yang berbeda-beda. Mereka yang lahir di tanah Jawa misalnya, berbeda perilaku dan tutur katanya dengan orang yang dilahirkan di Sumatra misalnya. Begitu pula halnya dengan orang Sunda, Manado, atau Ambon.
Selayaknya, perbedaan itu membuat sebuah bangsa justru menjadi kaya oleh budaya, bukannya malah terpecah-pecah. Karenanya, yang membuat setiap orang dapat hidup damai dan menjalankan budaya yang berlainan itu adalah toleransi. Semua ragam perbedaan sosial, baik itu suku, agama, kekayaan, pendidikan, pangkat, ketampanan atau kecantikan, dan semacamnya, tidak harus membuat jurang sosial semakin dalam. Maka itu, orang kaya bisa saja berteman dengan orang miskin, atau orang berpangkat dengan nelayan atau petani.
Mengajari anak bahwa setiap manusia dilahirkan berbeda-beda, adalah tugas semua orang tua. Bergaul dengan segala perbedaan itu, bukan hanya karena perbedaan itu adalah bagian dari Indonesia, tapi juga memberi setiap orang Indonesia kesempatan untuk meraih hidup lebih baik lagi. Pertanyaannya adalah, sejak kapan anak-anak diajari toleransi, dan bagaimana caranya?
Apa itu Toleransi?
Toleransi merujuk pada suatu sikap keterbukaan dan respek terhadap perbedaan yang ada pada setiap manusia. Perbedaan ini tidak hanya mencakup etnis atau agama, tapi juga jenis kelamin, pendidikan, cacat atau tidak, dan sebagainya. Toleransi berarti menghargai dan mempelajari orang lain, memberikan nilai-nilai terhadap perbedaan, memperkecil jarak, dan akhirnya memperkuat ikatan.
Tentu saja, toleransi tidak dimaksudkan untuk menerima semua perbuatan dan perilaku yang tidak baik, seperti berdusta atau mencuri. Toleransi adalah menerima orang lain sebagaimana adanya, memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan.
Memahami toleransi adalah satu hal, tapi mengajarkannya pada anak-anak adalah hal lain. Memang harus diakui bahwa mengajari toleransi pada anak sangat sulit, tapi tetap bisa dilakukan. Kuncinya adalah, ingat bahwa anak-anak – terutama balita – selalu meniru perilaku orangtuanya. Bila orangtua menunjukkan bahwa mereka menerapkan toleransi yang besar terhadap sesama, diharapkan demikian pula perilaku anak-anak.
Tumbuhkan toleransi pada anak
Orangtua dapat mengajari anak-anak toleransi dengan berbagai cara. Misalnya, dengan mengajak mereka berbicara tentang nilai-nilai, memberik kesempatan mereka bergaul dengan orang-orang yang berbeda, dan sebagainya. Dapat pula Anda praktekkan hal-hal ini:
1. Kenali perilaku Anda sendiri. Bila Anda ingin mengajari anak toleransi, mulailah dari diri sendiri. Demonstrasikan sikap menghargai orang lain di hadapan mereka.
2. Ingat bahwa anak-anak selalu mendengarkan. Karena itu, jagalah cara Anda berbicara dengan orang lain, misalnya dengan sopir, pembantu, atau babysitter.
3. Pilih buku, mainan, musik, dan film-film untuk anak dengan hati-hati. Camkan bahwa semua media itu bisa memengaruhi sikap anak.
4. Bila ada berita yang ditayangkan di TV tentang diskriminasi sosial, bicarakan pada anak agar ia memahami duduk persoalannya.
5. Selalu menjawab semua pertanyaan anak tentang perbedaan dengan jujur dan penuh respek. Hal ini menunjukkan bahwa pertanyaan ini boleh didiskusikan.
6. Tunjukkan respek dan saling menghargai dalam keluarga Anda. Bila ada di antara anggota keluarga yang berbeda, perlihatkan bahwa perbedaan itu dapat diterima. Bila mungkin, berilah nilai pada keunikan di dalam keluarga Anda.
7. Ingat bahwa toleransi bukan berarti menerima kelakuan yang buruk, melainkan menunjukkan bahwa setiap orang berhak menerima respek dan wajib memperlakukan orang lain dengan penuh respek.
8. Buatlah anak-anak merasa nyaman dengan keadaan dirinya sendiri. Bila mereka merasa tidak nyaman, anak-anak cenderung akan membuat orang lain tidak nyaman pula.
9. Beri anak-anak kesempatan bermain atau berkumpul bersama mereka yang berbeda. Misalnya dengan memilih sekolah negeri, atau mengikutkan anak pada acara kemping, dan semacamnya.
10. Hormati tradisi keluarga dan ajarkan hal tersebut pada anak.
BIASAKAN BERKOMENTAR POSITIF PADA ANAK
Tanpa disadari, kita sebagai orang tua sering memberikan komunikasi negatif terhdapa anak. Bahkan, sebuah penelitian pernah menemukan bahwa kebanyakan anak merasa bahwa komunikasi yang dilakukan orangtua mereka sebagian besar berisi komplain, perintah, kritik, peringatan, dan kata-kata yang menghilangkan keberanian.
Penelitian-penelitian sosial mengenai komunikasi dalam keluarga berulangkali mengungkapkan fakta bahwa orangtua menghabiskan sedikit sekali waktunya untuk benar-benar berbicara dengan anak-anaknya (rata-rata kurang dari 20 menit sehari). Saat berbicara pun, mereka malah menyampaikan komplain, perintah, atau minta bantuan. Sejalan dengan umur anak, rasio atas komentar negatif terhadap komentar positif justru semakin meningkat, dan mencapai puncaknya pada saat umur anak berada di pertengahan atau akhir belasan tahun.
Hasil ini cukup mengagetkan. Tapi, bila Anda cukup jeli mendengar suara hati anak-anak, mungkin pernah juga Anda mendengar mereka mengungkapkan hal ini: “Satu-satunya saat di mana aku mendengar orangtuaku berbicara, adalah ketika aku melakukan kesalahan atau mengacaukan sesuatu.”
Bila hal ini terus terjadi, bisa dibayangkan betapa jauhnya hubungan orangtua dengan anak. Tapi, sebenarnya interaksi yang menyedihkan ini dapat diubah bila kita mencari cara dan alasan yang lain untuk berkomunikasi dengan anak. Memang, anak-anak banyak membuat kesalahan. Namun, sebaiknya fokus kita juga harus berubah. Dari sekadar mengingatkan dan menegur mereka dan menjelaskan rasa kecewa kita terhadap mereka, lebih baik kita tunjukkan kepada mereka seberapa besar mereka dicintai dan dihargai. Bukan berarti kita memberikan pujian palsu – karena mereka pasti bisa melihat kebenarannya. Juga bukan berarti kita tidak memberitahu jika mereka melakukan kesalahan. Tapi, kita tidak membiarkan mereka berpikir bahwa mereka tidak diperhatikan dan tidak terlihat kecuali saat mereka melakukan sebuah kesalahan atau melakukan hal yang tidak menyenangkan kita.
Lakukanlah percakapan yang sesungguhnya, misalnya dengan menunjukkan minat yang tulus terhadap dunia mereka dan berbagi cerita tentang dunia kita. Tak butuh banyak waktu untuk menyuruh mereka membersihkan kamar atau memberlakukan jam malam. Sebaliknya, butuh waktu untuk menjelaskan bahwa kita tahu semua kebaikan yang mereka perbuat. Misalnya, ketika anak 8 tahun menghibur neneknya yang sedang sakit, atau anak 12 tahun mengajari adiknya main basket sepulang sekolah, atau anak 5 tahun yang mengajak adik bayinya tertawa riang.
Komentar-komentar positif terhadap tingkah laku positif anak kita, seharusnya menjadi inti dari komunikasi. Hal ini harus menjadi niat utama kita ketika berbicara dengan mereka. Memberitahu dan menunjukkan kepada anak kita betapa kita mencintai dan menghargai diri mereka dapat menjadi kebiasaan sehari-hari. Usahakanlah untuk melakukannya setiap hari.
DENGARKAN DAN HARGAI PENDAPATNYA
Layaknya seorang pengacara, Si Kecil tidak mau kalah dalam berbicara. Ia selalu ingin pendapat atau ceritanya didengar.
Jika anak Anda suka berbicara dan tidak bosan bercerita, Anda tak perlu khawatir dengan julukan ‘si cerewet’ yang diberikan kepadanya. Justru sebaliknya, ‘kesukaannya’ ini menunjukkan keberanian dan rasa percaya dirinya yang tinggi. Anda juga patut berbangga hati karena Si Kecil yang tidak malu-malu berpendapat merupakan hasil didikan demokratis yang Anda terapkan di rumah.
Kita semua tahu bahwa komunikasi yang baik merupakan inti dari hubungan yang harmonis. Jika sedari dini Anda sudah mendorong Si Kecil untuk menyuarakan pendapatnya, ia akan terlatih untuk berpikir kritis dan rasa percaya dirinya pun akan tumbuh.
Tapi, sebaiknya Anda menerapkan prinsip dasar dalam berpendapat atau berdiskusi di rumah. Karena Si Kecil yang cerewet , jika tidak dibimbing dengan benar dapat menjadi Si Kecil yang tak mau kalah dan egois. Agar tidak terlalu kaku dan mudah dipahami oleh anak-anak, jangan segan untuk menunjukkannya secara langsung pada mereka dengan:
• Menjadi pembicara yang baik
Saat berbicara dengan si kecil, rendahkan volume suara Anda dan kurangi kecepatannya. Berbicara cepat dengan volume suara yang tinggi akan memberi kesan galak pada anak-anak. Cara bicara seperti ini juga akan menyulitkan Si Kecil untuk memahami dengan cepat maksud dari ucapan Anda. Pada akhirnya, Si Kecil pun akan terpengaruh untuk berbicara dengan suara keras.
Karena sering mencontek sikap dan ucapan Anda, pilihlah kata atau kalimat yang sopan saat berbicara di hadapan mereka. Dahului dengan kata “tolong” jika Anda memintanya untuk melakukan sesuatu dan ucapakan “terima kasih” setelahnya. Ini juga akan mencegah Si Kecil menjadi si tukang perintah.
• Menjadi pendengar yang baik
Berikan perhatian saat Si Kecil berbicara dengan tidak memotong kalimatnya. Selain kontak mata, gunakan bahasa tubuh positif yang menunjukkan kesediaan Anda untuk mendengarkannya. Misalkan, membungkukkan badan agar sejajar dengan tinggi tubuh si kecil. Perlihatkan pula sikap positif Anda dengan menanggapi pembicaraannya secara serius dan tidak mengolok-oloknya.
• Menjadi pembimbing untuk Si Kecil
Lingkungan dan teman juga dapat mempengaruhi sikap dan cara bicara Si Kecil. Meski banyak contoh baik yang dapat ditiru dari orang tua atau saudaranya, kata-kata kasar mungkin saja keluar dari mulutnya karena ia meniru teman atau orang dewasa lain. Tegurlah secara halus dan terangkan bahwa menggunakan kata kasar dapat berakibat buruk, tidak hanya pada orang lain tetapi juga pada dirinya sendiri.
Biasakan Si Kecil untuk berpikir dahulu sebelum berbicara. Caranya dengan mendiskusikan hal-hal sederhana yang sering dilihat dan dialaminya. Luangkan pula waktu di pagi atau malam hari untuk bercakap-cakap dengannya.
Sederhananya, kehidupan demokratis dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Disini, peran orang tua sangat dominan karena mereka adalah contoh nyata dan panutan bagi anak-anaknya. Anda tidak perlu mengadakan family meeting setiap minggu untuk membiasakan Si Kecil aktif berbicara. Sering mengajaknya ngobrol di waktu luang juga akan membuatnya terbiasa untuk mengutarakan pendapat atau hanya sekadar bercerita tentang segala hal. (nas)
